
Happy reading.
➡➡➡
Keesokan harinya.
Sejak siang hari, anggota Absolute Asia yang di siagakan telah di sibukkan dengan berbagai macam persiapan untuk menghancurkan Five Syndycate yang rencanya akan di lakukan pada malam hari nanti.
Mereka menyiapkan banyak hal, termasuk senjata hingga amunisi yang telah tertata rapi dalam puluhan Helikopter yang sengaja di siapkan untuk membawa mereka ke masing masing kota yang terdapat markas Five Syndycate untuk di hancurkan.
Xira juga menyiapkan semuanya dengan teliti. Ada pistol hingga senapan laras panjang semi otomatis yang sengaja Xira bawa jika sewaktu waktu di butuhkan.
An Yossi sudah menginstruksikan untuk mengecek kembali semua persiapan, dan mengatur kembali strategi untuk setiap kotanya.
Bagaimanapun, markas Five Syndycate berada pada lima tempat yang berbeda dan dengan design yang berbeda pula. Membuat leader tim harus bertanggung jawab untuk menyusun strategi yang berbeda untuk tim mereka lakukan nantinya.
Xira mendengarkan instruksi Leonard dengan cermat. Karena ini adalah misi kedua yang di tugaskan untuknya, membuat Xira memilih untuk mengeksekusinya dengan penuh perhitungan.
Xira tidak ingin gagal.
Ataupun kehilangan nyawanya.
Apalagi, Leonard turun tangan secara langsung sebagai leader tim. Yang berarti tim tiga akan mendapat bagian paling berat sebagai penyerang utama di Philadelphia.
Leonard bertanggung jawab untuk membawa lima puluh bodyguard terbaik untuk misi kali ini, juga Xira adalah satu satunya wanita pada Tim tiga yang bertugas untuk menyerang Cherry Hills sebagai markas utama Sindikat Obat Bius.
Ini menjadi amanat dan harapan besar untuk organisasi ke depannya. Jika misi ini sampai gagal, maka bisa di pastikan jika Pemerintah tidak akan menaruh kepercayaan lagi kepada Organisasi.
Xira mengangguk mengerti dengan strategi yang Leonard jabarkan dengan nyata sebagai awal untuk misi ini.
"Kalian semua cepat ganti pakaian dan bawa perlengkapan yang telah kalian siapkan. Kita akan bertemu satu jam lagi di sini. Lets Go.. go.. go..."
Ucap Leonard memberi perintah sekaligus semangat untuk Tim Tiga.
"Yes, Sir."
Jawab semua anggota secara serentak sebelum membubarkan diri dan mulai bersiap siap.
Satu jam kemudian.
Sore hari di depan organisasi cukup ramai, dengan ratusan orang yang telah bersiap siap untuk masuk ke dalam Helikopternya masing masing sebelum meninggalkan Base Absolute Asia untuk menjalankan misi level B di Chicago, Boston, Cherry Hills, Phoenix serta Louisville.
Cheng Mian dan An Yossi tetap berada di Base untuk meretas sistem keamanan Five Syndycate dan bertugas untuk mematikan sinar inframerah untuk memudahkan misi kali ini.
"Baik, saya sangat berterima kasih kepada kalian semua atas partisipasi untuk misi level B kali ini. Selamat berjuang dan semoga tidak ada nyawa yang tumbang, dan semoga kalian semua dapat kembali dengan selamat."
An Yossi mengangguk, seakan memberikan penghormatan untuk para pejuang Absolute Asia.
"Ya, Tuan An."
Jawab semua orang serentak.
Semua orang membubarkan diri dan pergi dengan timnya masing masing.
Leonard menggiring Tim tiga untuk segera masuk ke helikopter masing masing untuk terbang meninggalkan Base.
➡➡➡
Helikopter mendarat pada sebuah tanah lapang di belakang sebuah pabrik tekstil yang merupakan base kecil yang di samarkan oleh Organisasi.
➡ Visual An Xi Ra ⬅
Xira mengenakan kacamatanya kembali dan segera membawa perlengkapannya menuju lokasi menggunakan jeep.
Pastinya juga akan membutuhkan waktu selama beberapa menit untuk sampai di Cherry Hills.
"Apa yang kamu pikirkan?"
Adalah suara pertama yang memecah keheningan di dalam mobil.
Xira lantas menoleh ke arah Leonard yang tengah menyetir, namun Leonard juga menoleh padanya seakan menunggu jawaban Xira atas partanyaan yang Leonard tanyakan.
"Tidak, tidak ada."
"Apa kamu gugup? Kenapa tanganmu sangat dingin?"
Ucap Leonard yang hanya menyetir dengan satu tangan dan tangan yang lainnya mengenggam tangan Xira yang sedikit berkeringat dan juga dingin.
"Kamu tidak perlu khawatir karena ada aku di sampingmu. Aku janji, kamu akan baik baik saja dan tidak akan mati. Hm??"
"Aku percaya."
Ucap Xira seraya melepaskan tangannya dari genggaman Leonard.
"Baguslah, Kamu terlihat lebih dewasa dengan penampilan mu saat ini?"
Leonard mencoba untuk menghilangkan kegugupan yang tengah Xira rasakan dan berharap jika Xira akan lebih santai dan juga tenang.
"Ayolah, apa yang terlihat dewasa dengan penampilan seperti ini?"
Ucap Xira seraya meneliti penampilannya yang hanya mengenakan kaos kedodoran berwarna abu dan juga celana armi dengan banyak saku di sampingnya. Juga dengan rambut lurus yang tergerai begitu saja membuat Xira merasa seperti akan menjadi seorang perburu malam ini.
"Percayalah? Aku tidak bohong? Kamu memang tampak lebih dewasa dari biasanya jika berpenampilan seperti ini? Berjanjilah kita akan berkencan jika misi ini berhasil?"
Xira melebarkan matanya mendengar ini. Kencan?? Kata laknat yang bahkan tidak pernah sedikitpun terlintas dalam benak Xira di sepanjang hidupnya bahkan sampai detik ini.
"Apa??"
Leonard mengangguk.
"Iya, aku akan mengajakmu berkencan dan aku ingin melihat penampilan An Xi Ra versi dewasa, deal??"
Xira berpikir sebentar, namun kemudian menggeleng.
"Tidak, aku tidak tertarik."
"Ayolah, ku mohon? Kali ini saja, ya ya ya? Aku berjanji akan memberikan semua yang kamu minta?"
Xira menghembuskan nafas panjang, merasa tidak di untungkan dengan situasi semacam ini.
"Baiklah, hanya jika kita berhasil dalam misi ini, dan ingat jika ini juga bukan kencan. Deal?"
"Okey, deal."
Jawab Leonard bersemangat setelah mengetahui jika Xira menyetujui usul ini.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku adalah pria yang baik."
Xira mengangkat bahu.
"Siapa yang tahu?"
"An Xira, aku sungguh pria yang baik? Apakah kamu menganggapku buruk karena An Zee selalu menempel padaku seperti gurita?"
"Mungkin?"
"Kamu salah paham, aku sungguh tidak pernah mencintai ataupun menaruh perasaan kepada wanita lain"
"Benarkah? Kamu tidak pernah mencintai wanita tapi hanya menidurinya? Okey?"
"Tidak, aku.."
"Apa kamu juga tidur dengan An Zee?"
Leonard menelan ludah, lidahnya kelu dan bahkan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Okey, kamu tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah tahu kebenarannya."
"Tapi aku tidak pernah mencintai An Zee, dan itu hanya sebuah kesalahan."
"Tidak ada salah dan benar di dunia ini, tapi karena kamu sudah tidur dengannya maka kamu juga harus belajar untuk mencintai adik kecilku itu."
"An Xira.."
"Tidak ada tapi lagi, hm? Ingat kata kataku, jangan pernah mempermainkan adik kecilku, karena aku tahu jika An Zee sangat mencintaimu."
Leonard hanya menghembuskan nafas panjang, merasa menyesal karena telah menjalin hubungan dengan seorang An Zee, dan sekarang Leonard bahkan harus kehilangan cintanya atas kesalahan yang telah di perbuatnya.
"Apakah kamu akan mencintaiku jika aku tidak pernah melakukannya dengan An Zee?"
"Tidak juga," Xira berucap yakin tanpa berpikir terlebih dahulu.
"Mungkin aku hanya akan mencintai seorang pria yang bisa membuat hatiku berdebar."