
WELCOME TO XIA XI THE LADYLOVE 2..
FLASHBACK.. Masa lalu Xia Xi dan Ye Han..
Happy reading.
➡➡➡
Gadis cantik berusia lima belas tahun itu terlihat tengah menarik koper di bandara Beijing seorang diri.
Tidak ada ayah, ibu ataupun keluarga yang terlihat menemaninya.
Semua selalu saperti ini.
Hidup sendiri dan mandiri adalah dua hal wajib yang selalu menemani Xia Xi sepanjang harinya.
Tidak ada air mata dan tidak ada kesedihan. Tidak ada kebahagiaan dan juga tidak ada keceriaan.
Semua seakan sirna semenjak Xia Xi harus menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri saat ibunya terkubur di dalam tanah empat tahun yang lalu. Proses pemakaman yang selalu Xia Xi ingat di setiap detiknya. Membuat Xia Xi mati rasa dan bahkan telah menewaskan hati serta nuraninya.
Xia Xi menjalani hidup tanpa menggunakan perasaannya, semua serba datar dan sangat hambar.
Xia Xi melihat kembali ke belakang, kemudian mengucapkan salam perpisahan di dalam hatinya.
"Bu, aku berjanji akan sering mengunjungimu dan aku juga berjanji akan secepatnya pulang serta membuatmu bangga."
➡➡⬅⬅
Xia Xi tiba di Dallas pada sore hari, dan segera menaiki taksi untuk menuju apartemen yang telah Xia Ming siapkan selama Xia Xi berada di Dallas.
Sebuah Apartemen sederhana, yang hanya berisi dua kamar tidur, ruang tamu, dapur, serta dua kamar mandi yang masing masing berada di dalam kamar.
Kehidupan gila apa lagi ini?
Xia Xi bahkan sudah cukup tertekan selama hidup di Beijing, dan kehidupan baru di sini justru semakin membuatnya depresi.
Xia Xi menghela nafas panjang.
Sejak awal Xia Xi sudah mengetahui dengan sangat jelas jika Xia Xi harus hidup mandiri bahkan sangat mandiri di sini. Namun siapa sangka, jika Xia Ming tidak hanya membekukan Mastercardnya, Tua bangka itu juga memberikan apartemen kumuh untuk Xia Xi tinggali.
Ayah macam apa dia? Apa tua bangka itu bahkan masih pantas untuk di sebut sebagai seorang Ayah??
Xia Xi menggelengkan kepalanya.
Mengeluh tidak akan berarti untuk sekarang. Xia Xi mencoba memikirkan cara untuk bertahan hidup selama berada di Dallas, meskipun itu hanya sekedar pekerja paruh waktu, jika mengingat Xia Xi juga harus melanjutkan Sekolah Menengahnya.
Xia Xi merapikan barang barangnya, juga membersihkan apartemen yang tidak hanya berdebu, tapi juga sangat kotor sebelum Xia Xi dapat menempatinya dengan nyaman.
Tidak tahu apa yang telah meracuni pikiran Tua bangka itu sampai dia tega membuang Xia Xi ke tempat seperti ini. Ditambah kehidupan keras dan liar di Amerika, cukup membuat Xia Xi merasa tertekan karena harus tinggal seorang diri di sini, di tambah Xia Xi hanya seorang gadis kecil yang polos dan lugu.
Mungkin Xia Xi akan mencari pekerjaan besok setelah pulang dari sekolah.
Keesokan harinya.
Xia Xi berangkat menuju sekolahnya pada pagi hari. Sengaja berangkat sangat pagi karena Xia Xi tidak mengetahui rute pasti untuk sampai ke Sekolah barunya. Ditambah, Xia Xi baru pertama kali menginjakan kakinya ke Dallas.
Xia Xi bahkan tidak mempunyai cukup uang untuk sekedar naik taksi, membuat Xia Xi terpaksa berjalan kaki bermodalkan GPS pada ponselnya. Untunglah, jika apartemennya berada di pusat kota yang dekat dengan minimarket juga restoran cepat saji, yang tentunya akan memudahkan Xia Xi dalam segala hal karena harus mengurus dirinya sendiri sekarang.
Jarak sekolah juga tidak terlalu jauh, hanya sekitar dua mil dari apartemennya, membuat Xia Xi bisa menghemat uang jika Xia Xi memilih untuk berjalan kaki untuk berangkat ke Sekolah.
"Sial, memiliki orang tua kaya namun sama sekali tidak berguna."
Xia Xi merutuk dalam hati karena harus mengalami kehidupan serba hemat seperti sekarang ini.
Beberapa menit berjalan kaki, akhirnya Xia Xi tiba di depan Sekolah bergaya abad pertengahan, dengan design classic.
"Namun setidaknya, tua bangka itu masih memiliki rasa simpati dengan memilih sekolah favourite untukku."
Xia Xi sama sekali tidak mengalami kesulitan saat harus berbaur dengan orang lain, bagaimanapun Xia Xi sangat fasih dengan bahasa Inggris, bahkan Xia Xi bisa menghilangkan aksen Mandarin dengan sempurna.
Sejak Xia Xi menginjakkan kaki di Dallas, Xia Xi bahkan belum pernah sekalipun berbicara dengan bahasa Mandarin. Semua tentu karena di Dallas mayoritas adalah warga Amerika asli dan minoritas China sangat minim, jadi tidak akan berarti jika Xia Xi menggunakan Bahasa Mandarinnya di sini.
Beruntung Xia Xi berada di kelas dengan para siswa yang ramah serta menghargai kehadirannya, namun Xia Xi sama sekali tidak ingin menghabiskan banyak waktu dengan mereka.
Kesibukan telah memaksa Xia Xi untuk menyingkir dari keramaian, karena Xia Xi harus mencari pekerjaan paruh waktu secepatnya sebelum uang tabungannya habis bulan ini.
Mempunyai orang tua kaya yang sama sekali tidak membantu.
Xia Xi kembali berjalan kaki untuk pulang menuju apartemennya, namun siapa sangka saat baru beberapa menit berjalan kaki, Xia Xi menemukan lowongan pekerjaan sebagai pelayan di sebuah cafe.
Tidak perlu menunggu lagi, Xia Xi segera menemui Manager Cafe.
Untunglah, jika Xia Xi di izinkan bekerja di sini sebagai pelayan dengan waktu kerja sekitar sembilan jam, dari pukul dua siang hingga sebelas malam dengan gaji yang sangat rendah, namun Xia Xi tidak mempermasalahkan itu untuk sekarang, karena yang terpenting adalah Xia Xi harus berjuang untuk hidup dan hidup untuk berjuang.
Xia Xi selalu melakukan hal yang sama setiap hari selama enam bulan terakhir. Selalu berangkat pagi kesekolah, dan pulang sekolah langsung menuju cafe tempatnya bekerja.
Tidak ada kata libur atau apapun.
Xia Xi terus bekerja dan bekerja. Hidup sendiri tidaklah mudah, apa lagi jika tinggal di negara orang yang entah berantah dengan hanya orang asing di sekitar, serta hanya mengandalkan diri sendiri untuk segala sesuatunya.
Malam ini, Xia Xi pulang lebih larut yaitu pada tengah malam, jalanan mulai sepi. Sama sekali tidak ada pejalan kaki yang lewat, juga hanya ada satu atau dua kendaraan yang lewat di jalanan.
Sejujurnya, Xia Xi takut dengan situasi seperti ini. Bukan Xia Xi takut dengan hantu, namun Xia Xi lebih takut dengan segala hal yang menyangkut pelecehan yang kabarnya rawan terjadi di distrik ini.
Jika itu hanya perampok, Xia Xi tidak perlu takut karena tidak mempunyai apapun untuk di curi, namun jika itu seorang Fedof*l, psyco, ataupun sejenisnya, Xia Xi tidak bisa berbuat banyak untuk itu.
Xia Xi tidak bisa bertarung ataupun berlari dengan cepat. Xia Xi tidak bisa membayangkan jika kejadian seperti itu sampai terjadi kepadanya. Xia Xi hanya bisa berdoa, agar Lord selalu melindunginya.