
Xia Xi tidak pernah menyangka jika Ye Han akan sangat mudah untuk di taklukkan. Apalagi jika mengingat sifat possessive Ye Han yang selalu berlebihan, sangat ayal jika Ye Han akan melepasnya sendirian untuk pergi ke Kota besar seperti Dallas.
"Kenapa kamu tidak melarangku untuk pergi?" Adalah suara pertama Xia Xi begitu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pertanyaan yang sangat ingin Xia Xi tanyakan pada akhirnya terlontar juga dari mulutnya.
"Entahlah, aku juga tidak mengerti."
Ucap Ye Han seraya membaringkan tubuhnya di samping Xia Xi.
Mendengar ucapan datar Ye Han, membuat Xia Xi lekas menoleh ke arah Ye Han, dan yang di dapatinya adalah wajah yang penuh dengan kelembutan yang juga tengah memandang Xia Xi dengan mata berkaca kaca.
Jujur saja, Xia Xi merasa dilema saat di hadapkan dengan situasi semacam ini.
Di satu sisi, Xia Xi tidak ingin pergi dan tidak ingin meninggalkan pria yang sangat di cintainya meski hanya sedetik. Namun di sisi lain, keinginan hatinya begitu kuat untuk secepatnya berangkat ke Dallas.
Xia Xi bahkan tidak bisa berpikir jernih saat ini. Karena kepanikan justru terjadi saat Xia Xi di hadapkan dengan dua pilihan yang memiliki tingkat kesulitan yang sama.
Antara iya atau tidak, ataupun antara pergi atau tetap tinggal?
Namun, semakin di pikirkan, Xia Xi semakin merasa yakin jika dia tidak bisa untuk menolak keinginan hati kecilnya untuk pergi.
Ye Han segera memeluk tubuh Xia Xi erat, dan menanamkan kepala Xia Xi ke dadanya, serta membiarkan Xia Xi menarik nafas dengan santai serta menikmati waktu istirahatnya.
Ye Han mengusap lembut dahi Xia Xi yang ternyata mulai di basahi oleh keringat dingin dengan tangannya,
Xia Xi mengangguk.
Ye Han yang dapat menangkap maksud anggukan Xia Xi, segera mengerti, namun Ye Han hanya tersenyum lembut dan kembali memeluk tubuh Xia Xi dengan semakin erat.
"Tidak ada yang perlu untuk di pikirkan, semua akan baik baik saja. Hm? Percayalah padaku."
"Aku selalu percaya padamu, aku hanya merasa sedikit tidak enak di sini," ucap Xia Xi seraya menuntun tangan Ye Han ke dadanya.
Ye Han dapat merasakan dada Xia Xi naik turun dengan sangat cepat, pertanda jika Xia Xi mungkin merasa sangat gelisah saat ini, hingga merasakan sesak dan nyeri pada dadanya.
"Sudahlah, kamu harus tenang dan tidak boleh berpikir yang berlebihan, karena itu tidak akan baik untuk kesehatanmu. Dan sebaiknya kamu juga harus menjaga dirimu sendiri dengan baik jika tidak ingin Han Lingyu yang akan menjagamu nantinya."
Xia Xi melebarkan mata saat mendengar ini. Ini hanya kegelisahan yang wajar, okey? Tapi kenapa Ye Han menganggap ini semua dengan sangat serius??
Xia Xi diam dan tidak ingin menanggapi ini lebih jauh jika tidak ingin Ye Han merubah kembali keputusannya.
Xia Xi segera memejamkan mata dalam pelukan hangat Ye Han. Merasakan aroma tubuh Ye Han agar Xia Xi tetap bisa mengingatnya saat berada jauh dari Ye Han. Dan kemungkinan, Xia Xi juga akan sangat merindukan Ye Han selama beberapa hari ke depan.
Di masa Lalu, Ye Han akan selalu mengantar Xia Xi ke alam mimpi setiap malam, dan Xia Xi bahkan akan mengalami susah tidur jika Ye Han tidak ada.
Xia Xi akan menelepon Ye Han untuk waktu yang sangat lama dan terus mendengarkan suara Ye Han lewat sambungan telepon hingga Xia Xi tertidur tanpa sadar dan akan mematikan sambungan telepon setelah Xia Xi terbangun.