Will You Marry Me??

Will You Marry Me??
Bab 17 Menikah



Hari ini adalah hari bahagia bagi kedua insan yang kini duduk di kursi pelaminan. Terdengar ijab qabul sedang berlangsung di hotel Alexander.


“Ananda Alexander Davidson Bin James Davidson Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Nayla Putri Permata Binti Hendra witjaksono dengan maskawin 500 gram emas, tunai.”


“Saya terima nikah dan kawinnya Nayla Putri Permata Binti Hendra Witjaksono dengan maskawin 500 gram emas, tunai.”


"Bagaimana saksi?"


"SAH"


Pernikahan yang sudah dipersiapkan dalam waktu satu bulan akhirnya berjalan dengan lancar dan penuh keharuan.


Pesta pernikahan telah usai, pengantin beserta keluarga telah pulang ke rumah. Setelah berbincang2 di ruang keluarga, kini mereka beristirahat di kamar. Ayah dan ibu tahu betul bahwa anak dan menantu mereka pasti lelah setelah seharian bersalaman dengan tamu.


Saat ini Nayla berada di kamar megah milik Alex dengan baju pengantin yang masih melekat pada tubuhnya. Kamar baru ini membuatnya canggung, apalagi kini statusnya sudah berubah menjadi seorang istri, istri dari Alexander.


Nayla kini tengah duduk di pinggir kasur besar milik Alex dengan perasaan gugup dan sedikit malu menunggu suaminya selesai mandi.


Flashback


"Kau mau kemana?" tanya Alex saat Nayla akan berbelok ke ruangan kamarnya.


"Ke kamar" jawabnya dengan polos


"Bukankah seharusnya kau pergi ke kamarku?? kau sekarang istriku" ujar Alex


"Heeemmmm... nanti aku menyusul, aku akan mandi dlu" ucap Nayla dengan wajah malu.


"Kau pikir di kamarku tak ada kamar mandi?" tanya Alex


"Kau pasti akan memakainya" jawab Nayla


"Kita bisa pakai bersama" ujar Alex dengan wajah nakalnya.


"Kau gila" ujar Nayla dengan senyum kikuknya.


"Tak usah malu, sebentar lagi tidak akan ada rahasia diantara kita. Aku akan tahu setiap inci bagian tubuhmu" Ucap Alex dengan mata yang melirik ke bagian atas dan bawah tubuh Nayla kemudian menarik tangan Nayla hingga masuk ke kamarnya.


Flashback End...


Beberapa menit kemudian Alex keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di bagian tubuh bawah sedangkan dadanya ia biarkan terbuka sehingga terlihat badannya yang six pack. Nayla hanya bisa melongo melihat pemandangan di depannya, ia tak menyangka Alex mempunyai badan sebagus ini.


"Kau melihatku seperti ingin segera memakanku, ternyata kau sangat agresif" goda Alex


Nayla yang ketahuan memandang tubuh Alex langsung malu dan pipinya seketika merona merah.


"Baiklah, aku akan menunggumu" goda Alex.


Nayla langsung berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam kamar mandi. Sialnya Nayla kesusahan saat akan membuka gaun pengantinnya, ia tak bisa mencapai resletingnya.


Bagaimana ini? Batin Nayla


"Alex bisa tolong panggilkan ibu" teriak Nayla di dalam kamar mandi.


"Kau kenapa?" jawab Alex sambil memakai piyamanya.


"Aku tidak bisa membuka gaun pengantinnya, bisakah panggilkan ibumu untuk membantuku??" ucap Nayla dengan sedikit malu.


"Kau bercanda? bisa2 ibu menertawaiku, Buka pintunya, biar aku yang buka... sekarang aku adalah suamimu, tak usah malu" seru Alex sambil berjalan ke arah kamar mandi.


Nayla lalu membuka pintu kamar mandi dengan wajah memerah dan membelakangi Alex agar ia bisa membuka resletingnya. Alex pun membuka resletingnya, terlihat punggung Nayla yang putih membuat binatang buas yang sudah terpendam dalam diri Alex terbangun.


Sial... aku terangsang. Batin Alex


"Sudah... cepatlah mandi, aku sudah tak sabar" ujar Alex sehingga membuat pipi Nayla tambah merona.


Nayla pun selesai mandi dan telah memakai piyama. Ia sengaja berpakaian di kamar mandi karena takut Alex akan langsung menerkamnya terlebih hari ini mendadak ia datang bulan.


Alex menarik Nayla yang sudah mandi untuk duduk di sampingnya. Alex berbincang2 dengan Nayla sambil memegang tangannya.


"Bukankah seharusnya kita mempunyai panggilan kesayangan? bagaimana kalau papih dan mamih? atau honey? sayang? atau kau punya ide?" ujar Alex.


"Sepertinya papah dan mamah lebih cocok" ujar Nayla dengan malu2.


"Oke... oh iya mah, Rangga sudah lama kesepian sepertinya dia butuh seorang adik" bujuk Alex sambil merapatkan tubuhnya pada Nayla.


"Haruskah secepat itu?" tanya Nayla dengan gugup.


"Lebih cepat lebih baik" ujar Alex sambil mendekatkan tubuhnya hingga Nayla mundur dan punggungnya menyentuh kasur seketika Alex langsung menciumnya dengan perlahan hingga ciuman menuntut. Ciuman itu dibalas perlahan oleh Nayla. Mereka berhenti sejenak untuk bernafas, kemudian Alex melanjutkannya dengan mencium leher jenjang Nayla hingga memberi bekas kepemilikannya di sana. Perbuatan Alex membuat Nayla mendesah dan itu semakin membuat gairahnya meningkat. Lama kelamaan, tangan nakal Alex mulai meraba" bagian atas tubuh Nayla dan membuka semua baju hingga dalaman Nayla, kini tersisa bagian bawah tubuh Nayla yang masih tertutupi oleh celana piyama. Tangan Alex langsung meraba ke sana dan mulai membuka celana piyama Nayla, namun tangan Nayla menghentikannya.


"Aku sedang datang bulan" ujar Nayla dengan berbisik


"Shiiit sial sekali..." ujar Alex sambil menghentikan aktivitasnya. Alex kemudian memunguti baju Nayla.


"Oke aku akan menunggumu" ujar Alex sambil memakaikan baju Nayla dan merebahkannya di kasur. Mereka tidur dengan saling berpelukan, namun sepertinya hanya Nayla yang bisa tidur nyenyak sedangkan Alex harus meredakan gairahnya setelah tadi mulai terangsang.


Bagaimana dia bisa tertidur disaat seperti ini? Aku harus berpuasa seminggu untuk bisa melakukannya... Batin Alex


Bersambung...