Will You Marry Me??

Will You Marry Me??
Bab 15 Pembuktian Cinta part 3



Terjebak sendirian di gudang membuat Nayla ketakutan, yang lebih mengerikan lagi tak ada penerangan disana. Tiba2 terdengar derap suara langkah kaki, ia mulai memincingkan telinganya untuk dapat mendengar lebih jelas.


Ada yang berjalan kesini. Siapa itu? tapi suaranya bukan dari arah luar tapi di dalam gudang. Apakah itu hantu? tapi hantu tak mungkin berjalan dia pasti akan melayang. Oh sial bagaimana kau bisa berpikir seperti itu saat ini. Batin Nayla


Terdengar suara itu semakin jelas dan kini sepasang kaki jenjang ada didepannya. Matanya mulai berani melihat, namun wajahnya tak terlihat jelas karena di ruangan itu gelap gulita.


"Aleeeexxx toloooong" teriak Nayla tanpa sadar.


Pria di depannya menangkap kedua bahu Nayla. Kaget mendapatkan sentuhan dari pria dihadapannya membuat Nayla menyundul wajahnya dengan kepalanya.


"Auuu sakitt..." ujar pria dihadapannya.


"Aku sepertinya kenal suara ini" ujar Nayla kebingungan.


"Jelas kau kenal, aku orang yang kau panggil tadi" ucap Alex dengan tangan yang memeriksa sudut bibirnya yang sedikit berdarah.


"Alex? terima kasih tuhaaan..." ujar Nayla sambil memeluk Alex yang tanpa sadar perlakuannya membuat Alex senang bukan main.


Flashback...


Alex mengecek gudang yang ada di lantai 3 karena ia mendapatkan laporan bahwa gudang itu tidak terawat.


Kreeeekkkk... terdengar suara pintu gudang yang dibuka Alex


"Oh My Good... uhuuuk... uhuuuk..." suara batuk Alex menggema disana.


"Apa ini? lampu penerangan tak ada, banyak debu, kotor, uuuh dan ada tikus dan kecoa" omel Alex dengan tangan yang melipat didada.


Alex kemudian melihat2 sekitar gudang dengan senter, 5 menit kemudian terlihat seorang wanita yang dia kenal masuk kedalam gudang.


"Nayla? ngapain dia disini?" tanya Alex pada dirinya sendiri.


Saat akan menghampiri Nayla, Alex menghentikan langkahnya ketika melihat seorang karyawan perempuan dengan wajah tersenyum licik menutup pintu gudang dan mengunci Nayla dari luar. Terdengar gedoran Nayla dan suara ketakutannya.


Segera Alex melangkah mendekati Nayla.


Flashback End


Mereka kini bersandar pada tembok.


"Kau baik2 saja?" tanya Nayla cemas


"Bagaimana aku baik2 saja setelah kepala kerasmu itu menyundulku, aauu bibirku berdarah" ujar Alex sengaja membuat Nayla kasihan kepadanya


"Sungguh? maafkan aku, di sini gelap jadi aku tidak tahu itu kamu" ujar Nayla


"Aku rela disundul bidadari, tunggu sepertinya td aku melihat lampu di meja" ujar Alex sambil meraba2 meja yang ada di samping Nayla. Lampu itu kemudian dipasangkan dan kini ruangan sudah terang.


Hal pertama yang dilihat Nayla adalah luka dibibirnya Alex.


"Kenapa kau melihat bibirku? kau menginginkannya?" tanya Alex dengan memonyongkan bibirnya ke depan wajah Nayla.


"Kau gila" ujar Nayla sambil berdiri dan mencari sesuatu.


"Apa yang kau cari?" tanya Alex penasaran


tapi tak ada jawaban dari wanita di depannya. Ternyata Nayla sedang mencari kotak p3k yang kini telah dijinjingnya.


"Aku orang yang bertanggung jawab" ujar Nayla sambil memegang dagu Alex dan mencoba untuk mengobati lukanya.


"Bagaimana dengan sesuatu di sini apa kau akan bertanggung jawab juga?" tanya Alex sambil memegang hatinya


"Sudah selesai" jawab Nayla


"Kau tidak menjawab pertanyaanku" ujar Alex merajuk.


"Oke aku akan memperbaiki hatimu juga, perlukah aku bedah hatimu di sini?" tanya Nayla


"Waaah... kau menakutkan" ujar Alex dengan tersenyum.


Nayla lalu menyimpan kembali kotak p3knya di samping meja, tapi tiba2 ada sesuatu yang menjalar di bajunya.


"Kecoaa... yaaakkkkkkk..." teriak Nayla dan mengibas2kan bajunya agar kecoanya hilang. Tapi kecoanya tetap berputar di baju Nayla. Reflek Nayla membuka bajunya dan membuangnya ke tumpukan barang yang penuh dengan debu.


"Huufffftttt kecoa sialan..." ujar Nayla. Namun yang membahayakan kini bukan kecoa tapi tatapan menggairahkan Alex yang tertuju padanya. Nayla lalu melihat dirinya yang kini hanya memakai tanktop putih dengan dalaman yang tercetak jelas.


OMG aku dalam bahaya. Batin Nayla


Dengan kikuk Nayla berjalan melewati Alex yang kini berdiri dihadapannya karena insiden kecoa tadi. Nayla berjalan kearah bajunya dilempar tadi, namun naasnya ia tersandung dan Alex mencoba menolongnya namun mereka kini terjatuh dengan posisi Alex ada dibawah dan Nayla di atasnya.


Suasana berubah menjadi sangat canggung. Alex terus menatap mata Nayla dengan lekat. Merasa malu ditatap oleh Alex, Nayla langsung beranjak namun ditahan oleh kedua tangan kekar Alex.


Alex lalu mendekap bahu Nayla dengan tangan kanannya dan berguling sehingga posisi mereka sekarang terbalik dengan Nayla ada di bawahnya.


"Bukankah kau orang yang bertanggung jawab?" tanya Alex


"Apa maksudmu?" tanya Nayla dengan suara bergetar


Alex membisikkan sesuatu ke telinga Nayla yang membuat Nayla terdiam membisu.


"Kau harus bertanggung jawab" ujar Alex sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Nayla.


Cup... Alex mengecup bibir Nayla, namun tak ada respon dari si empunya bibir. Nayla masih kaget. Alex melanjutkan ciumannya dengan perlahan, tanpa disadari Nayla menerimanya walaupun tak ada balasan dari bibirnya. Mereka berhenti sejenak untuk menghela nafas, lalu Alex mencium Nayla lagi. Sekarang ciumannya terkesan menuntut untuk lebih lagi. Tangannya mulai nakal mengerayangi tubuh bagian atas Nayla. Kaget dengan sesuatu yang dilakukan tangan Alex di dadanya membuat Nayla sadar dan mendorong tubuh Alex. Namun tak semudah itu, ciumannya tetap berlanjut. Untuk menghentikannya Nayla menggigit lidah Alex.


"Auuu... kau harus bertanggung jawab, lihat lidahku berdarah" ujar Alex dengan meringis kesakitan.


"Itu salahmu" jawab Nayla dengan sedikit malu atas kejadian tadi.


"Kurasa aku akan babak belur kalau melakukan itu bersamamu" ujar Alex


"Jaga mulutmu" jawab Nayla dengan kesal.


Alex lalu membuka kemejanya, Nayla yang melihat itu menutup mukanya dengan tangan.


"Kau gila?" ujar Nayla


"Apa yang kau pikirkan, huh?" ujar Alex dengan memakaikan kemejanya ke badan Nayla dan mengancingkannya namun Nayla menghentikkannya dan berkata bahwa ia bisa melakukannya sendiri. Mendengar itu membuat Alex tersenyum sendiri.


"Aku ngga mau tubuhmu dilihat orang lain, cukup aku saja yang bisa melihatnya. Oke?" ujar Alex. Tiba2 pintu terbuka terlihat sekertaris Alex disana.


"Kau terlalu cepat kesini" ujar Alex dengan berlalu pergi bersama Nayla yang tangannya masih digenggamnya.


"Apakah itu sindiran? Bukankah seharusnya boss bilang kemana saja kau sudah 8 jam aku menunggumu" gerutu asistennya dengan bingung dan berlalu pergi menyusul Alex.


Alex dan Nayla kini berada di mobil dalam perjalanan pulang, mereka tak menyangka bisa keluar dari gudang semalam ini. Alex menelpon Asistennya dan menyuruhnya untuk membersihkan gudang dilantai 3 sebersih mungkin.


Selama perjalanan Nayla merasa malu dengan kejadian tadi di gudang, Alex mencoba mencairkan suasana dengan mengajaknya mengobrol dan bermain tebak2an. Suasana diantara mereka mulai mencair kembali dan terdengan suara gelak tawa di mobil sepanjang perjalanan.


Bersambung...


Tunggu kelanjutannya diBab 16, jangan lupa like biat author tambah semangat lagi 😉😊😊😊