Will You Marry Me??

Will You Marry Me??
Bab 11 Kebenaran Terungkap



Suara berkas yang terjatuh membuat Alex sadar kehadiran Nayla, berdiri di ambang pintu dengan wajah syok dan tangan gemetar.


"Nayla" seru Alex


Nayla berlari keluar dengan air mata yang membanjiri pipinya disusul oleh Alex.


"Nay dengerin kakak" ujar Alex berlari dan segera menangkap tangan Nayla.


"Kau bukan kakakku" tangis Nayla dengan melepaskan genggaman tangan Alex.


Alex mengejar dan memeluknya, berusaha untuk membuatnya tenang. Tapi Nayla malah memukul dada Alex. saat ini Nayla belum bisa berpikir jernih. Nayla masih shock dengan apa yang terjadi.


"Tinggalkan aku sendiri" ujar Nayla sambil mencoba melepas pelukan Alex dan berlalu pergi meninggalkannya.


Sudah larut malam namun Nayla tak kunjung pulang, sudah beberapa kali Alex menelpon namun tak ada jawaban bahkan hpnya sekarang sudah tidak aktif. Bahkan Alex sudah menelpon Reski untuk menanyakan keberadaan Nayla, namun Reski tak mengetahui keberadaannya.


Alex tak bisa hanya duduk berdiam diri, akhirnya ia keluar rumah untuk mencari Nayla dan meminta orang tuanya untuk berada di rumah menjaga Raga dan menunggu rumah karena bisa saja Nayla pulang.


Alex mengendarai mobilnya dan menyusuri jalan, tak lupa ia menelpon teman Nayla namun hasilnya nihil. Kemudian terpikir olehnya satu tempat yang mungkin akan didatangi oleh Nayla, Alex kemudian memacu mobilnya menuju tempat itu dan benar saja Nayla ada disana.


Nayla duduk termenung sendirian dengan mata sembap. Emosinya lebih tenang daripada sebelumnya, sepertinya ia sudah bisa berpikir jernih. Alex menghampirinya dan memakaikan jaketnya ke badan Nayla kemudian duduk di sampingnya.


"Maafkan aku" mengawali pembicaraan dengan wajah menunduk karena menyesal.


Nayla melihat wajah Alex dan sedikit tersenyum.


"Bisakah kau ceritakan kebenarannya kepadaku?" ujar Nayla dengan senyum yang dipaksakan.


Alex menceritakan semuanya dan Nayla mendengarkannya dengan mata berkaca2. Alex memberikan amplop coklat yang berisi semua informasi dirinya dan latar belakangnya. Tapi Nayla frustasi karena ia tak dapat mengingat siapa dirinya, Alex menenangkannya. Alex berjanji akan membantu Nayla hingga ia bisa ingat kembali.


"Jangan terlalu memaksakan, kita lakukan dengan perlahan. Aku berjanji akan membantumu karena bagaimana pun aku yang harus bertanggung jawab disini" ujar Alex


"Terima kasih untuk semuanya dan maafkan sebelumnya karena Nayla meneriaki dan memukul Kak"


"Nayla tak bisa membayangkan jika itu bukan kakak, mungkin Nayla sudah ditinggalkan di tempat kejadian atau di rumah sakit. Terima kasih sudah menjaga dan merawat Nayla, tidak ada kata lain selain ucapan terima kasih" ujar Nayla


"Itu sudah tanggungjawabku, terima kasih sudah memaafkanku" ucap Alex


Mereka berdua kembali ke rumah, di rumah ibu dan ayah memeluk Nayla. Mereka meminta maaf sudah berbohong kepada Nayal. Nayla memaafkan mereka dan senang bisa dianggap sebagai anak mereka. Semenjak kejadian itu Nayla dan Alex semakin dekat, mereka bahkan sering menghabiskan waktu berdua.


Di kantor Alex


Ketukan terdengar dari pintu ruangan Alex dan masuklah Nayla ke ruangan Alex.


"Anda memanggil saya pak?" tanya Nayla


"Ya, tadi saya menerima telpon dari manajer hotel di jepang sepertinya kita harus kesana" ujar Alex


"Kita? kau akan mengajakku?" tanya Nayla dengan antusias.


"Kau tak mau ikut huh?" tanya Alex


"Mana mungkin, Nayla menolak. Kapan lagi bisa ke Jepang gratis" ucap Nayla dengan senang


"Siapa bilang ini gratis, kau disana harus bekerja keras" ucap Alex dengan mata yang masih tertuju pada laptopnya.


"Ashiiap boss" ucap Nayla semangat sambil memberikan hormat pada Alex


Satu minggu kemudian


Nayla dan Alex sudah tiba di Jepang, selama perjalanan Nayla tak henti2nya mengoceh dan menatap penuh kagum. Alex yang melihatnya ikut senang.


Tidak ada agenda untuk hari ini, mereka berencana untuk istirahat di hotel Alex. Namun ada sedikit masalah semua kamar penuh kecuali satu kamar yang telah disiapkan sebelumnya untuk Alex. Sebelumnya Alex memang telah mengkonfirmasi bahwa yang akan berangkat adalah dua orang, yaitu ia dan adiknya. Pihak hotel menyangka bahwa Alex akan sekamar dengan adiknya.


Alex berjalan menghampiri Nayla yang sedang beristirahat dan mengatakan permasalahannya.


"Apa? satu kamar?" ujar Nayla dengan kaget.


"Iyaa, sepertinya ada kekeliruan. Mereka mengira kita akan sekamar karena kita adik dan kakak" ujar Alex menjelaskan keadaan.


Sejenak Nayla berpikir


Bagaimana ini? akan sangat canggung kalau aku sekamar dengan kakak. Apalagi setelah mengetahui kita bukan adik-kakak. Batinnya


"Bagaimana kalau kakak pesen kamar di hotel lain?" tanya Alex.


"Kau tega meninggalkan aku yang tak bisa berbahasa jepang? Tak apa kita bisa satu kamar, bukankah kita sudah terbiasa satu rumah??" ujar Nayla.


"Baiklah" ucap Alex


Mereka pun menuju kamar hotel. Nayla takjub melihat fasilitas hotel yang sangat mewah, ia tak menyangka bisa menginap di hotel sebagus ini dengan view yang langsung menghadap ke pantai. Nayla berkeliling mencoba fasilitas kamar hotelnya, melihat itu membuat Alex tersenyum kecil. Tak jarang Nayla bertanya fungsi suatu alat yang tampak asing baginya dan Alex menjelaskannya.


Permasalahannya adalah hanya ada kasur dengan ukuran king size. Sebenarnya kasur ini muat untuk dua orang, tapi Alex tak mungkin tidur disana dengan Nayla.


"Kau tidurlah di kasur, aku tidur sofa?" ujar Alex


"Kakak sudah tua tak boleh tidur disembarang tempat, itu akan membuat badan kakak sakit. Biarkan Nayla yang masih muda tidur di sofa" ujar Nayla


"Kakak tidak setua itu, lagian bagaimana seorang laki2 membiarkan wanita tidur di sofa sedangkan ia enak2 an tidur di kasur" ujar Alex


Mereka terus beradu mulut mengenai siapa yang tidur di sofa.


"Mengapa kita memperebutkan tidur di sofa?"


"Bukankah tidur di kasur lebih enak?" tanya Nayla sambil beringsut membawa bantal dan tidur di sofa.


"Bagaimana kau bisa keras kepala seperti ini?" ujar Alex dengan menarik tangan Nayla agar berpindah dari sofa.


Tarik-menarik pun terjadi, mereka kekeh pada pendiriannya masing2 hingga akhirnya Alex yang menarik Nayla terjungkal ke belakang dengan Nayla yang menindihnya di atas. Suasana menjadi canggung, dalam sekejap mereka membisu.


Situasi apa ini? ada apa dengan jantungku? knp berdetak begitu cepat. Batin Nayla


Shiiit udh lama gue tahan, kalau begini caranya gue bisa kebablasan. Batin Alex


Tanpa sadar Alex mendekati Nayla seolah akan menciumnya, melihat itu membuat jantung Nayla berdetak lebih kencang.


Apa yang akan dilakukan Alex?


Tunggu kelanjutannya di part 12 😊😊


Jangan lupa like ya, biar author semangat 😉