
" ya aku mengenalmu.. kau puas? lalu kau ingin apa?" tanyaku malas dengan basa basi lagi. Tak ada jawaban dari dirinya kembali aku meninggalkan dirinya namun baru aku berjalan beberapa langkah seketika semua pandanganku terbalik.
" TaeHyung Turunkan aku sekarang...!! apa yang ingin kau lakukann ahh..! cepat turunkan aku" ucapku merontak di gendongnya. namun orang yang menggendongku ini tak mengusik omonganku.
" Tae lepaskan kau ingin membawaku kemana.." tanyaku kembali berteriak. kulihat di sekelilingku memandang semua orang yang berada di setiap lorong hanya bisa melihat tanpa menolongku.
Tibalah aku disebuah ruangan yang sepertinya sangat sepi tak ada seorangpun.
Brruukkk....
"aaaaww..." ujarku kesakitan saat merasakan tubuhku di banding ke atas kasur yang agak keras.
" Yaa.... apa yang kau lakukan..!" tanyaku jengkel padanya. Ku lihat TaeHyung yang sedang mengkunci pintu ruangan tempat kami berada..
" Ntahlah" ucapnya denganku sembari melirik ke arahku sekilas dengan senyum yang licik. Kini ia pun menutup semua jendela namun masih tersisa sedikit sinar matahari yang menembus jendela.
"Kau.. apa yang ingin kau lakukan padaku TaeHyung " tanyaku mencoba menenangkan diriku yang melihat Tae berjalan kearahku dengan senyuman yang tak bisa di artikan.
"Kenapa kau acuhkan aku?" tanyanya yang berada di sampingku sangat dekat.
" Menjauhlah dariku.. kumohon.. jangan .. jangan lakukan apapun.. aku .. aku tahu aku salah karna mengabaikanmu.. tapi itu semua sudah lewat .. kejadian minggu lalu aku sudah lupakan dan aku iklaskan.. jadi.. biarkan aku pergi" ucapku terputus-putus mencoba untuk tak membuata semakin marah lagi.
" apa... lupakan? mana mungkin malam pertama kita aku lupakan? heii.. bukankah saat itu kau membutuhkan uangku yang sangat banyak untuk membayar semua hutang keluargamu pada keluargaku. lalu kenapa kau masih bisa bilang lupakan? dasar tahu malu." ucapnya sembari mengeluskan rambutku pelan membuatku terdiam.
Ya.. Memang saat itu aku yang menggodanya untuk tidur denganku supaya semu hutang keluargaku dengan keluarganya lunas terbayarkan Tapi kenapaa ia masih mengikuti bahkan mengancamku sampai sekarang? Bukankah itu semua sudah lunas?
"Ya.. kau jangan pernah berpikir itu semua akan lunas.. bahkan keperawananmu itu tak mampu menutupi semua hutang kau tahu. yang kau lakukan waktu itu hanyalah bunganya saja belum pokok hutangnya. Jadi... bayar semua itu dengan caramu beberapa waktu lalu.. bagaimana?" tawarnya dengan licik..
" yang benar saja.. apa kau gila ahh.. aku bahkan tak menggodamu bahkan kejadian waktu itu kau sendiri yang memaksaku untuk tidur denganmu sama seperti saaat ini.. " ucapku benci terhadap kelakuan liciknya yang memanfaatkan keadaan.
" Hahah... kau benar.. aku bahkan lupa akan hal itu.. jadi.. aku ingin kita melakukan sesuatu yang baru.. bagaimana? dan itu pasti sangat menguntungkan juga untukmu.." tanyanya padaku tak luput juga senyuman liciknya