
Didalam kamar yang megah nan luas ini hanya ada kami berdua yang masih terduduk tanpa satu katapun. Ku lirik ke arah Tae yang masih sibuk dengan ponselnya ntah apa yang akan ia lakukan kali ini. Sedikit cemas memang karna ini pertama kalinya aku bertemu orang gila seperti Tae. Kadang aku sungguh menyesal kenapa saat itu aku langsung setuju dengan tawaran darinya. Yah memang penyesalan akan slalu datang belakangan.
Tapi kalau di pikir-pikir bukankah sangat lumayan untuk aku tinggal disini? Ya.. benar aku bisa membalaskan dendamku pada keluargaku yang tega menjualku pada Tae walaupun memang tak ada pilihan lain yang harus kulakukan saat itu tapi bisa di bilang aku masih beruntung di pertemukam dengan Tae mungkin jika bukan Tae aku sudah tidak bernafas lagi di dunia ini.
Di dalam keheningan ini ku coba kembali melirik Tae yang masih di sibukkan ponselnya..Sedangkan aku masih belum menemui cara untuk membujuknya lagi.
'Tidak... aku tidak bisa seperti ini.. tapi bagaimana caranya agar aku bisa mengelabui TaeHyung untuk supaya ia bisa melonggarkan sedikit perintah darinya.'
'ahh... aku punya ide..'
"Tae-ah.." panggilku pelan namun agak ragu. Dan yang benar saja tak ada jawaban darinya.
" Tae-ah" panggilku sekali lagi. Ia Masih terdiam
"Taehyung-ah" panggilku sedikit tidak sabar. Kini ia melirikku tajam membuatku menelan ludahku.
" Ya.. apa kau sungguh tak bisa bicara? apa salahnya menjawab panggilanku" tanyaku kesel sembari mengalihkan pandanganku ke arah lain. Tentu saja aku tak ingin melihat tatapannya yang menakutkan
" apa yang kau katakan tadi?" tanya Tae memastikan
" anniii..hmmmm.. Ya.. Taehyung-ah" panggilku sekali lagi kali ini dengan lembut
" yaa.. kau dari tadi hanya memanggilku saja..apa yang sebenarnya yang ingin kau katakan?"tanyanya jengkel
" baiklah aku langsung to the poin.. begini hmmm.." ucapku sejenak
" Bisakah kau tak terlalu berlebihan untuk memperlakukan ku seperti itu?. jadi maksudku adalah yaa.. bisakah kau meregangkan sedikit untuk perintahmu yang tadi? Tae-ahh aku juga butuh pekerjaan, butuh refresing,butuh teman bisakah kau regangkan sedikit? kumohon" pintaku padanya sedikit memohon
" memang kau punya teman? bahkan kau keluarga saja tak punya.. mmm.. maksudku ada tapi mereka menjualmu padaku. lalu refresing, bukankah rumahku ini cukup luas untuk kau jelajahi? Terakhur pekerjaan bukankah sudah jelas aku memberimu pekerjaan disini?" tanyanya berturut turut padaku membuatku berpikir sejenak
" kau memberiku pekerjaan apa memangnya? melayanimu? ya.. itu bahkan bukanlah pekerjaan kau tahu. dan memang benar rumahmu cukup luas hanya saja aku tak suka ada disini di tambah kau sudah menyuruh kepala pelayan untuk mengikutiku kemanapun aku pergi bukankah itu hal yang paling menyebalkan?" jelasku kembali.
" Baiklah aku mengerti maksudmu" ucapnya sembari menaruh ponselnya di sampingnya
"lalu? bolehkan?" tanyaku memastikan jawaban yang benar darinya.
" ya.. boleh.. aku mengijinkanmu untuk bekerja. Tapi bekerja dari rumah bagaimana? Contohnya kau bisa menulis novel? membuat komik? atau membersihkan rumah ini kalau perlu." ujarnya lagi.
" ya..!!" teriakku kesal padanya.
" kenapa? sudahlah kau kembali menulis novel lagi saja, aku akan membelikanmu laptop yang kau inginkan bagaimana?" tanyanya kembali
" nulis novel lagi? maksudmu? tunggu dulu kau tau dari mana aku terkadang suka menulis novel? kalau ku ingat-ingat aku sudah lama sekali tak menulis novel mungkin saat aku masih sekolah dulu sekitar umur 15tahun." tanyaku aneh padanya. yang benar saja bagaimana ia tahu aku kadang suka menulis novel. walaupun hanya sekedar membuat cerita saja tapi tak mempunyai keberanian untuk mempublik tulisanku.