
Usai makan dengan kakek dan berbincang-bincang dengannya tentang wanita itu, membuatku ingin memberhentikan omongan kakekku yang tapi sangatlah tak bisa. ntah kenapaa hanya wanita itu saja yang slalu menjadi pembicaraan kakek jika bertemu denganku. apaa yang sangat spesial dari wanita itu?
Selama di perjalanan aku terus saja terpikirkan oleh wanita itu, wanita yang entah kenapa muncul setiap saat dalam pikiran ku tanpa henti membuat ku sangat penasaran siapa diri nya.
" Sekertaris Kim tolong kau carikan informasi mengenai wanita yang ingin di kenalkan padaku secepat mungkin. " perintahku pada seketarisku yang slalu ada kemanapun aku pergi.
"baik Tuan." ucapnya singkat dengan cepat ia mengeluarkan ponsel miliknya menelpon seseorang yang akupun tak tahu siapaa.
Sampainya di rumah tiba-tiba saja aku melihat seorang wanita yang ku kenal. ya siapaa lagi kalau bukan Lee Hyuna. tanpa mendekati nya aku kembali berjalan lurus meninggalkannya. namun seketika aku merasa ada seseorang yang memegang lenganku erat.
"TaeHyung-ah.. bisakah aku bicara denganmu sebentar?" pintanya padaku, aku yang di pinta untuk mendengarkan pintanya menatap matanya yang sendu.
" mmmmm.. bisakah aku keluar dengan seseorang besok, itu sangatlah penting dari dulu aku sangat ingin bertemu dengannya. aku janji aku akan .." ucapannya terpotong saat aku membuka suara.
" baiklah. aku mengerti." ucapnya kembali,ku dengar suara kaki melangkah mendekatiku,dan menggenggam kembali tanganku. kulihat sebuah senyum yang terpasang di wajahnya.. senyum yang ntah kenapa membuatku merasa kesal dan membencinya.
" Changi.." panggilnya padaku yang berada disampingnya dengan rasa risih aku melepaskan pegangannya dari lenganku yang masih sibuk ku sembunyikan di kantong celana.
" apa yang kau katakan tadi?" tanyaku marah dengan ucapannyaa. ya memang benar tidak tahu kenapaa aku sangat membencinya bahkan mendengar suara nya saja akubtak Suka apalagi mendengar ia memanggil namaku dengan sebutan Changia..
"yaa.. Changi.. kau memang suamiku memangnya aku tak boleh mengucapkan hal itu?" tanya kembali dengan tampang pura-pura polos. masih senantiasa memegang tanganku.. aku yang sedikit risih dengan keberadaan nya berjalan menuju tangga baru tiga anak tangga.
" suamimu? kapan aku menikahi wanita ****** sepertimu? sepertinya kau masih belum kapok juga aku beri pelajaran tentang mana yang patut kau ucapkan dan mana yang tidak.
" kenapa? aku bahkan istrimu kenapa kau melarangku untuk ini dan itu? jika kau memang tak setuju aku berkata seperti itu yaudah kau jawab saja pertanyaanku jika aku wanita ****** kenapa kau mau menikah denganku? bukankah jika seseorang yang menikah saling mencintai?" tanyanya kembali. membuatku semakin muak, dengan kasar aku melepaskan genggaman tangannya yang ada di tanganku sejak tadi. membuat dirinya terjatuh ke bawah dengan posisi duduk. tanpa menolongnya diriku berjalan meninggalkannya tanpa rasa bersalah.