WHO YOU

WHO YOU
episode 5



" Taehyung-ah." ucapku tak percaya dengan apa yang ia katakan membuatku sangat terkejut.


" kenapa? Kau kaget dengan ucapan yang aku berikan?" ucapnya kembali dengan mata yang melotot dan emosi yang membara


" bukankah aku sudah katakan padamu. kalau itu semua hanyalah kesalahpahaman. aku dan pria itu bahkan tak saling mengenal satu sama lain dan aku bahkan .. " ucapku lagi-lagi terpotong saat Taehyung mulai mencekik leherku.


" apa? kesalah pahaman kau bilang.. Ya.. darimana jalannya itu hanya kesalahpahaman saja ahh.. aku melihatnya dengan kepala mataku sendiri kau dan pria itu tanpa mengenakan busana sama sekali." ucapnya dengan marah dan semakin memperkuat tangannya mencekik leherku membuatku susah bernafas.


" Tae..uuuhhh.. aku mohon.. lepp... " ucapku terpotong-potong memohon agar ia melepaskan tangannya dari leherku.


" apa kau ingat saat itu kau katakan padaku bahwa kau merasa tak enak badan dan ingin tidur di kamar kita. namun anehnya beberapa saat kau tinggalkan aku setengah jam aku merasa ada yang tak beres denganku aku merasa resah saat kau ada di dalam kamar sendiri. saat aku di kamar aku melihat kau sedang melakukan hal tak sewajarnya dengan pria lain di kamar kita.uhhh.." ucanya menceraikan semuanya yang mungkin ia liat. dengankan tanganku masih meremas tangannya meminta untuk melepaskan tangannya yang masih mencekikku semakin keras. tanpa sadar mataku mengeluarkan air mata..


"C....hh..aa.. nggii."ucapku sebisaku mengeluarkan kata-kata dengan air mata yang semakin deras menetes..


" Tuann... lepaskan.. nona ... nanti bisa mati jika kau semakin memperkuat cengkraman tanganmu.." ucap Sekretaris Kim menghentikan Taehyung yang masih emosi dengan amarahnya padaku..


ntah kenapa tanganku seketika lemas tak berdaya dan penglihatanku mulai perlahan buram..


Taehyung POV


sudah satu semalaman dirinya tak sadarkan diri tanpa ada perubahan sama sekali darinya. waktu sudah menunjukan pukul 12 siang aku masih mendudukan diri di atas bangku dekat kasur tempat ia berbaring...


" sekertaris Kim bisakah kau panggil dokter Choi untuk datang kesini lagi untuk memeriksa keadaannya."tanyaku dengan suara dingin tanpa mengalihkan pandanganku padanya


" Baik." ucapnya lalu pergi meninggalkanku sendirian yang masih memandangi dirinya yang terbaring lemah dengan inpus yang masih ada di tangannya. dan seketika aku menyadari ternyata banyak bekas luka dan lebam di lehernya. terlihat sekali itu bentuk tanganku mungkin itu baru ada hari ini..


tanpa ada rasa sedikit bersalah aku tersenyum melihat bekas luka itu berharap dirinya kapok dengan apa yang ia lakukan kemarin malam. tak lama terdengar suara ketukan pintu yang terdengar


" Ya.. Taehyung kau sudah memanggilku 20 kali dalam setengah hari untuk memeriksa keadaanya. bukan kah aku sudah katakan padaku keadaanya tetap saja seperti setengah jam lalu kukatakan padamu." ucap seorang yang ku kenal tanpa memperdulikan jawabannya.. aku hanya memandang wajah wanita ini...


" jika kau merasa bersalah padanya seharusnya kau tak menyakitinya lagi.. apa kau tak sadar kau hampir saja membunuhnya kali ini.. dan apa kau tak liat banyak luka di tangannya dan lebam . apa kau tak kasihan dengannya." ucapnya kembali.. sekali lagi kata-kata itu tak membuatku menjawabnya.


" Taehyung-ah aku ini. temanmu aku sarankan untuk kamu berhenti menyiksanya, mau sampai kapan kau seperti ini padanya uhh? apa kau sungguh ingin membunuhnya? jika kau ingin membunuhnya maka bunuh lah langsung dia tanpa perlahan seperti ini.. jika seperti ini orang lainpun akan kasihan melihatnya. Dia itu istrimu Taehyung"ucapnya lagi kali ini membuatku menoleh sekilas melihat dokter Choi.


"istri? sejak awal aku menikahinya aku bahkan tak menganggapnya Istri .. dia hanyalah mainanku untuk melampiaskan rasa marahku dan nafsuku itu saja." ucapku kembali sembari berdiri menghadapnya.


" woah . kau sungguh-sungguh kejam Taehyung.. aku yang temanmu saja sungguh kesal padamu..melihatmu menyakitinya." ucapnya padaku sembari memeriksa inpus yang tergantung.


" Dia yang lebih menyakitiku lebih dulu" ucapku dan melangkah menuju pintu.


" apa kau yakin yang kau lihat saat enam tahun lalu itu dia? atau kau melihat orang lain yang kau kira dia?" tanyanya kembali membuat ku menghentikan langkahku.