
Kunaiki satu persatu anak tangga yang menuju ke kamarku kubuka pintu kamar yang sudah terdapat seorang wanita duduk manis di kursi riasnya.
" ini barang yang kau pinta" ucapku sembari menaruh semua barang yang ku pegangi dari tadi
" Gumawo" ucapnya dengan secepat kilat kulihat ia sudah berlari ke kamar mandi. Dan tanpa sengaja aku melihat sesuatu di kursi yang membuatku penasaran. Baru ingin aku coba menyentuhnya otakku kembali berfikir
"aisss.... untung saja aku tak memeganggnya ... sial." gumamku kesal.Dengan cepat aku berjalan keluar kamar guna mencari seseorang.
"Pa kim... pa kim"Teriakku dari luar kamar.
"ya...tuan"teriaknya kembali yang terdengar dari bawah. Tanpa menunggunya aku langsung masuk ke kamarku berdiri tepat di samping kursi yang terakhir ku lihat darah.
"Ya tuan ada apa?" tanyanya yang sudah di ambang pintu.
" cepat buang kursi ini aku tak ingin ada kursi ini lagi disibi dan segera carikan kursi yang baru supaya bisa digunakan Hyuna" perintahku padanya
"baik tuan" ucapnya sembari membawa kursi.
Baru pa Kim keluar dari kamar Hyuna sudah keluar dari kamar mandi
"Kau... ada apa teriak-teriak seperti itu tadi?" tanyanya santai
" bukan urusanmu.. " ucapku cuek
"Ya.. kemana kursiku bukankah tadi ada disini?"tanyanya antusias.
"Kubuang.. aku jijik dengan pemandangan yang tak mengenakan tadi." ucapku ketus sembari menduduki ranjang yang memang tak jauh dari meja rias.
" Mian.. tapi seharusnya tak usah kau buang.. sayang kursinya masih bagus udah di buang. walaupun itu udah kena darah mensku juga kan bisa dibersihkan" ucapnya pelan tapi masih bisa terdengar. Kulihat ia mengambil roti yang kubuatkan tadi untuknya
' apakah tidak enak sampai ia membuat expresi itu? tapi kalai ia komen hal negativ tentang usahaku akan kuhajar'
" Siapa yang buat roti ini?" tanyanya penasaran.
"kenapa memangnya apa tak enak?"tanyaku sedikit penasaran
"tidak.. bukan itu ini aneh.. padahal aku tak meminta buatkan roti isi stawberry bagaimana ia bisa tahu aku suka selai stawberry" tanyanya padaku aku yang merasa di tanya hanya mengangkat pundak saja seolah menganggap pertanyaan tak penting.
"lalu kau ingin roti seperti apa. tadi kau bilang ingin roti tapi kau tak bilang ingin roti apa,jika kau ingin sesuatu harus yang jelas jangan setengah-setengah jadi ga asal main salahin orang lain" ucapkku sedikit kesal. dengan jawaban yang ia berikan
"Tidak tidak bukan itu maksudku. ini enak sangat enak sekali hanya saja aku ingin roti panggang isi telur,sayur,daging,acar dan tomat. Rasanya aku sangat kelaparan sekali pagi ini" Beritahunya lagi sembari duduk di sampingku
" kau semakin melunjak saja ya." ucapku singkat
" Bukan itu yang kumaksud.. ahh sudalah aku tak ingin bahas tentang roti padamu membuatku makin emosi saja" ucapnya kesal
"kau yang buat aku kesal. apa saja yang kau lihat slalu kau komentari tak pernah kau beeterimakasih atau apalah" ujarku lagi
" Gumawo.. untuk hari ini"ucapnya singkat namun terdengar terpaksa.
" Kau sungguh kelaparan sampai tak membagi rotinya denganku?"tanyaku lagi yang melihat roti sudah hampir habis di piring. Hyuna hanya membalas dengan anggukan kepala saja.
' ahh imut sekali' ucapku dalam hati
"bukankah tadi aku sudah mengakatakannya ya?" tanyanya