What A Married?!

What A Married?!
Selingkuh



Beberapa hari ini kebiasaan Imarasti ketika bangun tidur adalah langsung berjalan menuju box bayi Yuto. Meskipun kedua matanya belum benar-benar terbuka ia akan tetap berjalan. Seperti saat ini, Imarasti bahkan sempat menabrak meja yang membuatnya meringis, mengelus-elus paha sembari terus berjalan menuju box bayi Yuto.


"Yuto, bangun sayang. Mama harus kuliah hari ini."


Imarasti mendekatkan wajahnya ke arah box bayi itu.


"Kamu harus mandi sayang.."


Lalu ia tersenyum lebar, Yuto yang sudah terbangun pun ikut tersenyum lebar melihat Imarasti.


Imarasti pun mengangkat tubuh Yuto dan membawanya ke kamar mandi. Yuto terlihat antusias ketika digendong oleh mamanya sampai ia sedikit melonjak-lonjak di gendongan. Bayi itu tersenyum semakin lebar ketika melihat Yuta yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Papa.. Papa.. Paaa..paa.." oceh Yuto.


Bukannya merespon, Yuta justru masih terus fokus pada laptopnya. Melihat respon Yuta membuat Imarasti menjadi geram sendiri.


"Nyet, anak lo manggil nih! Nggak pekaan banget jadi papa.."


"Gue lagi sibuk. Lo nggak liat apa?!"


"Lo punya mulut kan? Jawab kek panggilan Yuto," geram Imarasti.


Yuta menghentikan tangannya yang sebelumnya sibuk dengan keyboard laptopnya, menatap Imarasti dan Yuto sekilas.


"Pagi sayang," sapa Yuta sekilas lalu Yuta fokus kembali ke laptopnya.


Imarasti benar-benar kesal dengan tingkah Yuta. Ia mengambil bantal yang ada di ranjang dan melemparnya tepat mengenai wajah Yuta.


"AW! IMARASTI!!!"


Gadis itu mengabaikan pekikan Yuta dan langsung masuk ke dalam kamar mandi bersama Yuto. Ia mulai melepas pakaian Yuto satu per satu.


"Okee mama lepas baju Yuto ya.."


Bayi itu tertawa ketika Imarasti menggelitiki perutnya.


"Oh, Yuto pup sayang?" Imarasti terlihat panik ketika membuka pampers Yuto.


"YUTAKOYAKI SINI BURUAN BANTUIN GUE! YUTO PUP, GUE NGGAK BISA BERSIHIN SENDIRI."


Teriakan Imarasti memenuhi kamar mandi, beruntungnya tampaknya Yuto sudah terbiasa dengan teriakan mamanya.


"GUE MASIH NGERJAIN TUGAS. DEADLINENYA NANTI SIANG!" sahut Yuta dari luar.


"GUE HITUNG SAMPE LIMA LO NGGAK KE SINI GUE ADUIN NENEK KALAU LO NGGAK BERTANGGUNG JAWAB SAMA ANAK ISTRI LO"


"BERISIK!!!"


"SATU! DUA! TIGA! EM-"


Yuta mendengus kesal. "IYA! IYA! GUE KE SANA."


🍓🍓🍓


Imarasti lari tergopoh-gopoh menuju kelasnya karena hampir terlambat. Dosennya kali ini terkenal disiplin dan killer. Tadi Yuto sempat rewel tidak ingin ditinggal oleh Imarasti, jadilah ia harus menidurkan Yuto terlebih dahulu agar bisa berangkat. Akhir-akhir ini Yuto semakin menempel dengannya dan Yuta.


Ketika Imarasti memasuki kelas ia sempat celingukan mencari Joana. Ia dan Joana memang banyak mengambil kelas yang sama. Ya, mereka mahasiswa sospol semester lima, sedangkan Rara dan Inggit mahasiswa kesmas semester lima juga.


"Kok lo baru dateng sih, Nyet?" tanya Joana.


Imarasti masih sibuk mengatur nafasnya. "Masih ribet tadi di rumah. Yuto rewel."


"Hhhhhh gue nggak mau nikah muda."


"Lo pikir gue mau?" sungut Imarasti dan dibalas juluran lidah oleh Joana.


Ketika Imarasti mulai mengeluarkan buku-bukunya dari tas, Johan menghampiri tempat duduk Imarasti dan Joana.


"Sayang, kok tumben kamu baru datang?"


Johan juga mahasiswa sospol, ia juga mengikuti kelas ini. Dan Imarasti lupa jika kali ini mereka satu kelas.


Imarasti langsung terperanjat ketika mendengar suara lembut Johan. Ia cemas dan takut. Sebenarnya Imarasti paling tidak bisa berbohong pada Johan.


"Ng..ak- aku tadi kesiangan.." jawab Imarasti disertai cengiran khasnya.


Johan mengacak gemas rambut kekasihnya. "Kamu sekarang susah banget dihubungin. Chat juga balesnya lama. Kenapa hm?"


"Maaf..aku sibuk banget akhir-akhir ini.."


'Sibuk ngurus bayi..'


Johan tersenyum maklum sembari menggenggam tangan Imarasti lembut. "Lain kali kalau lagi sibuk kamu bilang ya, jangan main ngilang gitu aja."


Imarasti membalas senyuman lembut Johan kemudian mengangguk. Sebenarnya Imarasti tidak tega jika harus jujur pada Johan, dan lagi ia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Johan.


Sementara Joana yang ada di samping Imarasti hanya menatap lelah interaksi Imarasti dan Johan. Sampai akhirnya dosen mereka datang dan Johan kembali ke kursinya.


"Rumit banget Nyet idup lo, kayak politik di Indonesia.." ujar Joana.


"Mau sampai kapan lo kayak gini sama Johan?"


"Nggak tau, Jo.. Gue bener-bener nggak mau pisah sama dia.."


"Seenggaknya lo harus cerita ke dia."


"Itu terlalu berisiko Joana, dan-"


"MAHASISWA IMARASTI AUREENA DAN CEYCILIA JOANA, JIKA ANDA TIDAK BERKENAN MENGIKUTI PERKULIAHAN SAYA SILAHKAN KELUAR RUANGAN!"


'Shit!'


🍓🍓🍓


Setalah perkuliahan berakhir Johan langsung menghampiri Imarasti. Sehingga kini Imarasti, Johan, dan Joana keluar kelas bersama-sama.


"Aku nanti masih mau kerja kelompok dulu sama Mia, kamu mau nunggu atau gimana?" tanya Johan sembari menatap Imarasti lembut.


"Mia? Selmia Kristiani?" Imarasti menatap Johan dengan tatapan yang sulit diartikan.


Johan menganngguk sembari tersenyum. Menyadari perubahan air muka pada kekasihnya, Johan menangkup pipi Imarasti dan mengarahkan kekasihnya itu untuk menatapnya.


"Dengerin aku, cuma kamu yang ada di hati aku. Mia cuma temen aku."


"Tapi kalian deket banget," rajuk Imarasti.


Membuat Johan sedikit terkekeh dengan tingkah kekasihnya.


"Aku deket sama Mia cuma deket sebatas temen greja doang. Gimana? Apa kamu mau ikut aku ngerjain tugas sekalian?"


"Aku pulang duluan aja deh, yang.. Tadi Ibu nyuruh pulang cepet."


Sebenarnya bukan ibunya Imarasti, tapi Yuta. Iya, karena Yuta ada kelas setelah ini. Imarasti harus segera pulang dan menggantikan Yuta untuk menjaga Yuto.


"Oh gitu.." Johan mengangguk. "Mama aku kangen sama kamu katanya, udah lama kamu nggak main ke rumah."


"Hnggg.. Iya lain kali aku main ke rumah kamu."


"Janji ya?"


Imarasti tersenyum lembut kemudian mengangguk.


"Yaudah, aku pergi dulu," pamit Johan, lalu mengecup kening Imarasti.


Di saat Johan mengecup keningnya, Imarasti merasa aneh. Ia merasa ada sesuatu yang salah, tapi ia sendiri juga tak tahu itu apa.


"Jo, Git, Ra, gue duluan ya!" pamit Johan ke Joana, Inggit, dan Rara yang ada di belakang Imarasti.


Imarasti tidak tahu sejak kapan Inggit dan Rara ada di sini. Lalu Imarasti pun menghampiri mereka bertiga.


"Gue berasa liat orang selingkuh tau nggak!" ujar Inggit sarkas.


"Gue kasian sama Johan. Udah susah dapet restu orangtua lo, eh sekarang ditinggal kewong sama lo," ujar Rara sembari memandangi punggung Johan yang mulai menjauh.


Joana menggelengkan kepalanya cepat. "Pusing gue pusing.."


Sementara Imarasti hanya menggigit bibir bawahnya sembari menundukkan kepalanya kemudian berkata, "Gue nggak selingkuh, gue masih belum putus sama Johan."


"Jangan gitu, Im. Meskipun lo bakal pisah sama Yuta, tapi dia sekarang masih suami lo," ujar Inggit sedikit emosi.


Imarasti memejamkan matanya karena frustasi. "Lo nggak ngerti Git, karena lo nggak ngerasain gimana rasanya ada di posisi gue!"


"Udah-udah! Kenapa malah jadi berantem sih?" Joana mencoba menengahi.


"Daripada ribut kita ke kantin aja deh yuk. Gue yang traktir deh," usul Rara.


"Sorry, gue nggak bisa," ujar Imarasti dengan nada menyesal. "Gue harus gantian sama Yuta buat jagain Yuto."


Ya, sedari tadi Yuta sudah menelfon dan mengirim pesan untuk Imarasti agar cepat pulang karena ia harus kuliah.


"Gue duluan ya.. Bye!" pamit Imarasti sambil berlari kecil. Ia berlari sembari tangannya sibuk menempelkan ponselnya di telinga. "Iya-iya ini gue mau pulang. Bawel banget lo *****!"


Punggung Imarasti pun mulai menghilang dari pandangan Inggit, Rara, dan Joana. Lalu mereka bertiga saling adu pandang satu sama lain.


"Demi apa pun gue nggak mau dijodohin!"


"Gue nggak mau nikah muda!"


"Gue juga nggak mau punya anak di usia semuda ini. Ribet!"


..


..


..


TBC