
"Yuta, gue sama Yuto mau jalan-jalan di taman deket kompleks ya?" Imarasti sedikit teriak karena Yuta ada di dalam kamar mandi.
"Gue nggak bisa nganter kalian. Kan udah gue bilang gue ada kuliah sore," jawab Yuta dari dalam kamar mandi.
'Lagian siapa juga sih yang mau minta anter?!'
"Gue nggak minta anter kok, cuma mau pamit aja," sahut Imarasti.
Walaupun hubungannya dengan Yuta masih sering ada cekcok, tapi Imarasti masih paham bagaimana adab sebagai seorang istri. Seperti halnya ini, ia pamit ke suaminya sebelum pergi ke luar. Ah bukan, itu hanya agar tidak jadi bahan mereka berdebat. Sungguh Imarasti benar-benar lelah.
"Oh yaudah.. Hati-hati, kalau pulang jangan kesorean," kemudian suara Yuta digantikan suara gemircik air dari dalam kamar mandi.
"Siap Papa!" seru Imarasti dengan menirukan suara anak kecil seolah mewakili Yuto yang tengah tertawa memamerkan gusi polosnya.
Imarasti beralih menatap Yuto, kemudian tersenyum lebar. "Yuto mau jalan-jalan sama mama?" tanya Imarasti sembari menggelitiki perut Yuto yang membuat bayi itu semakin terkikik.
Ketika Yuta keluar kamar mandi suasana rumahnya sangat sepi. Imarasti dan Yuto baru saja keluar rumah.
Yuta berjalan menuju lemari pakaiannya sembari mengeringkan rambutnya menggunakan handuk. Tiba-tiba mata Yuta melirik meja yang ada di sisi ranjangnya, di meja itu ada kunci rumah dengan gantungan boneka beruang kecil milik Imarasti. Ya, Imarasti meninggalkan kunci rumahnya.
Yuta tersenyum kecil lalu mendecih, "Dasar ceroboh! Bisa-bisanya dia ninggalin kuncinya. Kalau nggak lagi sama Yuto udah gue kerjain dia biar nggak bisa masuk rumah."
🍃🍃🍃
Imarasti dan Yuto kini tengah berada di taman. Karena ini sore hari jadi banyak pengunjung yang datang. Banyak berbagai penjual di pinggiran taman, mulai dari mainan anak-anak, makanan kecil, sampai aksesoris. Yuto terlihat sangat antusias ketika melihat balon yang sedang dibawa oleh anak kecil yang usianya sekitar dua tahunan.
Imarasti mengikuti arah pandang Yuto, lalu tersenyum sembari menunduk menatap Yuto. "Yuto, mau balon juga sayang?" Bayi itu merespon dengan senyum sembari menggerak-gerakkan tangannya ke arah wajah mamanya. "Nanti ya kalau Yuto sudah bisa pegang balonnya dan bisa jalan mama beliin. Ok sayang?" Imarasti mengajak tangan mungil Yuto untuk highfive.
Mereka berdua pun melanjutkan jalan-jalan mereka ke arah air mancur yang baru dibangun di taman ini. Yuto lonjak-lonjak di gendongan Imarasti ketika Imarasti berjalan semakin mendekati air mancur itu.
Melihat betapa antusiasnya Yuto membuat Imarasti tersenyum. "Iya sayang kita ke sana ya.. Nanti di dalam kolamnya juga ada ikannya say—"
Dan ucapan Imarasti terpotong ketika ada seseorang yang menepuk bahunya pelan.
Imarasti menoleh. Seketika ia merasa jantungnya sudah jatuh sampai ke perutnya saking terkejutnya.
Imarasti mendapati Johan yang sedang mengalungkan kameranya. Ya, Johan hobi fotografi. Sudah jelas bahwa tujuan Johan ke taman ini adalah untuk hunting.
"Imarasti," Johan menyunggingkan senyuman tipis membuat Imarasti tanpa sadar langsung mengatupkan bibirnya, kemudian menunduk dengan perasaan sangat cemas.
Johan masih tersenyum ketika Imarasti menundukkan pandangan. "Kamu kenapa bisa ada di sini?"
"Aku.."
Ketika Imarasti masih menggantungkan ucapannya, mata Johan beralih ke arah Yuto. "Ini bayi siapa?"
"Nggg.. Ini..."
"Mama mama maa.." Yuto menepuk-nepuk pelan dada Imarasti sembari menggerak-gerakkan tubuhnya ke arah air mancur tadi.
"Mama? Dia manggil kamu mama?" tanya Johan sedikit tidak percaya.
Kini Yuto mulai meringik karena diabaikan oleh mamanya.
"Dek Imarasti, tadi suami kamu titip kunci rumah ke ibu." Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang tak lain adalah tetangga Imarasti dan Yuta.
"Johan, aku bisa jelasin semuanya." Bersamaan dengan itu tangisan Yuto pecah karena tidak dituruti untuk pergi mendekat ke arah air mancur.
🍓🍓🍓
Tangis Yuto tidak lagi terdengar, karena kini bayi itu tengah sibuk bermain dengan mainan berbentuk donat yang Johan belikan beberapa saat yang lalu sebelum mereka pergi dan duduk di kursi taman.
"Tadi aku pergi ke rumah kamu." Johan membuka suara setelah suasana hening selama beberapa saat. "Aku ketemu sama ibu kamu dan beliau udah ceritain semuanya."
Sebenarnya Imarasti merasakan dadanya sesak semenjak pertama kali ia melihat Johan berdiri di hadapannya. Namun sekuat tenaga, ia berusaha menahan air matanya yang semakin terasa mendesak di sudut mata. Ia hanya bisa menunduk, menatap Yuto dengan satu tangan yang perlahan menggenggam punggung telapak tangan Johan.
"Nenek Tanu yang maksa kami nikah. Dia bahkan ngambil bayi dari panti asuhan dan nyuruh kami buat ngasuh. Semua ini karena alasan penyakit yang dia derita." Imarasti kemudian menoleh, menatap Johan dengan mata yang mulai memerah, "Johan, aku nggak ada perasaan apa pun sama dia. Aku bener-bener nggak—"
"Imarasti," Johan tersenyum, mengelus punggung telapak tangan Imarasti dan melanjutkan, "Biar bagaimanapun juga sekarang kamu sudah jadi seorang istri, dan seorang ibu. Dan kamu pasti tau kalau seorang istri nggak seharusnya menjalin hubungan sama laki-laki lain di luar hubungan rumah mereka. Begitupun juga sama aku."
Johan menundukkan pandangan, kemudian melanjutkan, "Nggak seharusnya laki-laki kayak aku menjalin hubungan sama perempuan yang sudah jadi istri orang lain."
Tenggorokan Imarasti serasa tercekat. Ia tidak lagi mampu berkata-kata seiring setitik air mata mulai muncul di sudut matanya.
"Lebih baik kita akhiri saja hubungan kita," ujar Johan, menatap Imarasti dengan mata yang mulai memerah.
"Im, aku sayang banget sama kamu tapi.. aku rasa ini yang terbaik." Johan tersenyum, satu tangannya kemudian terulur ke puncak kepala Imarasti lalu mengelusnya sembari melanjutkan, "Aku akan selalu berdoa buat kebahagiaan kamu."
Lalu tangan Johan turun untuk mengelus puncak kepala Yuto, "Dan buat keluarga kamu."
Johan menarik tangannya. Menatap Imarasti selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak dari kursi panjang yang mereka duduki. Lalu tanpa berkata apa-apa, Johan berbalik, melangkah dengan wajah menunduk, meninggalkan Imarasti yang terdiam di tempatnya.
Imarasti mungkin tidak sadar jika tangannya tengah mencengkram bajunya erat-erat, hingga bergetar.
Dengan pandangan yang masih kosong ke depan, dibtengah-tengah air mata yang semakin membasahi pipi, Imarasti bergumam pelan, "Johan, apa... kamu baru aja ninggalin aku?"
Imarasti mulai terisak, disertai sesenggukan kecil yang mulai keluar dari mulutnya.
"Kamu ninggalin aku? Kamu bener-bener ninggalin aku? Johan.."
Yuto berhenti berkutat dengan mainan donatnya ketika mendapati mamanya yang semakin terisak.
Hingga kemudian satu tangan Yuto terulur ke wajah mamanya yang tertunduk. Tangan mungilnya menyentuh pipi Imarasti dan... Yuto menangis.
Ya, mereka menangis di taman.
Berdua.
..
..
..
TBC