What A Married?!

What A Married?!
Guling Kecil



"AAAA!!!"


Setelah terdengar teriakan dari Imarasti, Yuto yang tengah duduk bermain mobil-mobilan di lantai kamar langsung menoleh ke belakang, ke arah tempat tidur dan mendapati kedua orang tuanya masih duduk di atas ranjang dengan punggung yang sama-sama bersandar pada bagian kepala ranjang.


Ada yang menarik perhatian Yuto, yaitu ketika mamanya memukul papanya menggunakan bantal. Melihat itu membuat senyuman Yuto kemudian mengembang. Batita itu pun segera bangkit, meninggalkan mainan mobil miliknya lalu berlari ke arah tempat tidur, naik ke atas tempat tidur kemudian mendekati papanya dan ikut memukuli papanya menggunakan kedua tangan mungilnya.


Ya, kini Yuto sudah bisa berjalan. Usianya sudah hampir dua tahun.


"Cukup! Udah berenti!" seru Yuta sambil melindungi kepalanya dengan kedua tangan.


Imarasti meletakkan kasar bantal itu di sampingnya lalu menatap Yuta dengan tatapan geram.


"Yuto!" tegur Yuta saat Yuto masih terkikik geli dengan kedua tangannya yang terus memukuli papanya.


Yuto pun perlahan menghentikan pukulannya, namun masih menyisakan tawa sembari menatap papanya.


"Nggak boleh pukul Papa, kamu ngerti sayang?" ujar Yuta dengan nada geram.


Yuto tersenyum lebar sembari mengangguk. "Um!"


"Yuta, kamu keterlaluan!" omel Imarasti membuat Yuta dan Yuto kini menoleh ke arahnya.


Imarasti melanjutkan, "Kenapa kamu gigit aku? Coba liat nih!" Imarasti menunjukkan lengan atas bagian kanannya pada Yuta, menunjuk bekas gigitan Yuta yang meninggalkan tanda gigitan di sana. "Kamu pikir ini nggak sakit? Kamu mau aku gigit balik?"


Yuta hanya tersenyum kecil. "Salah sendiri, kenapa hp mulu yang diperhatiin?"


"Aku lagi chat sama anak OSM. Ini loh Inggit jarang muncul, nah kita lagi ledekin dia. Takutnya entar balik-balik dia udah jadi istri orang karena dijodohin. Hahaha jadi keinget kita dulu," ujar Imarasti sembari terkekeh.


"Kasian Keenan dong kalo dia beneran dojodohin.." respon Yuta.


"Iya juga sih. Hmmmm aku jadi inget Johan. Kemaren ibunya dia whatsapp aku lagi masa?!"


"Kemaren aku ketemu sama mamanya Sonia, masih baik banget sama aku mamanya," sahut Yuta tidak mau kalah.


Imarasti langsung menatap Yuta dengan mata memicing.


"Tapi..tapi ak-aku udah jelasin kok kalo aku udah putus sama Sonia dan udah nikah."


Imarasti mengabaikan ucapan Yuta. Ia bingung ketika tiba-tiba Yuta menggeser duduknya. Kemudian Yuta merebahkan tubuh, meletakkan kepalanya di atas paha Imarasti dan mendudukkan Yuto di atas perutnya. Hingga Yuto tersenyum senang setelahnya.


"Kamu tau Yuto? Yang ada di bawah kepala Papa sekarang adalah bantal yang paling nyaman di dunia sayang," kata Yuta kemudian mendongak menatap istrinya dan tersenyum. "Dan Papa sangat menyukainya."


"Cih!" Imarasti tersenyum mengejek. "Kamu pikir dengan ngerayu aku terus aku maafin kamu gitu aja." ujarar Imarasti dengan nada setengah kesal. "Tunggu aja, pasti aku bales!"


Yuta tersenyum miring. "Balas dendam? Yang gigitan tadi? Okay, nanti malam. Aku tunggu, sayang."


Yuta kemudian menahan senyuman. "Jangan lupa, aturannya nggak boleh pakai baju."


Imarasti hanya mendesis pelan lalu berucap, "Dasar pervert!"


Yuta tidak menjawab, ia malah menatap Yuto dan menggenggam kedua tangan Yuto lalu menggerakkannya ke atas dan ke bawah membuat Yuto terkikik senang.


"Kamu dengar, sayang? Mama mau balas dendam sama Papa." Yuta menunjukkan senyuman penuh kemenangan.


"Liat aja, apa yang bisa Mama lakukan kalo menghadapi cowok tampan dan mempesona kayak Papa?" lanjut Yuta, kembali mendongak menatap Imarasti, lalu tersenyum miring. "Mama nggak akan bisa berkutik, sayang. Pada akhirnya dia akan menyerah. Dan kalah."


Tawa Yuto pecah saat Yuta menggelitiki perutnya.


Sementara itu, Imarasti menatap Yuta tak habis pikir. Demi Tuhan, ingin rasanya ia menjambak-jambak rambut suaminya.


Mereka akhirnya berbaring di atas tempat tidur dengan selimut yang menutupi hingga batas perut mereka. Imarasti berada di tengah-tengah, menghadapkan tubuhnya pada Yuto sementara Yuta memeluknya dari belakang.


Mata Yuto masih terlihat terbuka, anak kecil itu mengoceh pelan sembari satu tangannya memainkan baju mamanya.


"Mama.. Mama.."


Imarasti hanya tersenyum, lalu mengelus punggung Yuto.


"Yuto, kamu belum tidur sayang?" tanya Yuta sambil mengangkat sedikit kepalanya untuk menengok Yuto.


Senyuman Yuta mengembang, kemudian menyangga kepala nya dengan satu tangan sementara tangan yang lain masih berada di atas pinggang istrinya. "Yuto, Papa mau tanya."


Yuto mulai menatap Yuta penasaran.


"Apa kamu tau guling yang paling nyaman di dunia?" tanya Yuta.


"Jangan bilang kalo guling itu aku," komentar Imarasti sembari melirik Yuta dengan wajah tanpa ekspressi.


Yuta langsung tersenyum melihatnya. "Astaga, istriku pintar sekali," ujar Yuta, kemudian mendekap Imarasti erat-erat, mendaratkan kecupan di pipi perempuan itu.


"Yuta!" geram Imarasti.


"Papa!!!" seru Yuto sembari berusaha menyingkirkan wajah Yuta dari Imarasti.


"Papa!!!" bahkan Yuto menarik-narik rambut Yuta saat Yuta tidak kunjung melepaskan ciuman di pipi mamanya.


Melihat mamanya bergerak risih, Yuto akhirnya duduk, berusaha melepas tangan Yuta yang melilit perut Imarasti meskipun sebenarnya tenaganya tidak memberi dampak apapun.


"PAPAAAAA!!!"


Setelah pekikan melengking itu terdengar dari Yuto, Yuta akhirnya melepas ciumannya. Yuta mengabaikan Imarasti yang kini menatapnya geram, kemudian Yuta menatap Yuto dengan senyuman tanpa dosa sembari berucap, "ada apa, sayang?"


Yuto tidak menjawab, ia malah naik ke atas tubuh mamanya lalu menjatuhkan diri di tengah-tengah kedua orangtuanya. Yuta menatapnya tak percaya. Saat Imarasti menghadapkan tubuh ke arahnya, Yuto langsung memeluk mamanya dengan tangan dan kaki mungilnya.


"Yuto! Apa-apaan ini?" tanya Yuta dengan mengangkat setengah tubuhnya. Ia tertawa tidak terima. "Mama harusnya di tengah, Yuto!"


"Nooo!" tegas Yuto.


Imarasti menahan senyuman, lalu mendekap Yuto erat-erat sementara Yuta kembali merebahkan tubuh sambil menatap punggung Yuto disertai senyuman frustasi.


"Hei, Mr. Tanubrata Junior!" panggil Yuta.


Kemudian Yuta menggelitiki belakang kepala, belakang tubuh, bahkan pinggang Yuto namun Yuto tetap memeluk mamanya erat-erat meskipun terkikik geli.


"Yuto, udah berapa malem kamu kayak gini terus, huh? Mama juga punyanya Papa, Yuto. Kamu nggak boleh rakus," ujar Yuta.


Yuto menggeleng cepat. Menyingkirkan tangan Yuta dari pinggangnya lalu kembali memeluk mamanya erat-erat. Yuta pun ikut mendesak, memeluk tubuh Yuto dan Imarasti bersamaan sembari mengecup puncak kepala Yuto dalam-dalam.


"Dasar guling kecil!" ujar Yuta dengan nada geram.


"Papaaa!!!" Yuto kembali berteriak saat merasa tubuhnya terhimpit oleh kedua orang tuanya.


Melihat itupun Imarasti langsung mendorong tubuh Yuta agar menjauh dari Yuto. "Yut, kamu ngehimpit Yuto."


Yuta tidak peduli, ia malah mengangkat kepalanya untuk kemudian mendaratkan kecupan di bibir istrinya, lalu mengecup pipi gembul Yuto dalam-dalam membuat batita itu kembali memekik.


"Papaaa!!!"


Imarasti hanya tersenyum melihatnya.


Kemudian Yuta melepas ciumannya lalu menaikkan selimut hingga batas dada mereka. Memberikan pelukan pada Yuto dan Imarasti bersamaan sebelum akhirnya kembali bersuara, "oke, papa akan ngalah lagi malam ini, Yuto."


Yuta menatap Imarasti dan melanjutkan, "Good night..."


Imarasti membalas tatapan Yuta disertai senyuman. "Hmm, good night..."


Yuta melirik Yuto. "Yuto, kamu nggak mau bilang good night sama Papa?"


"Nooo!" sahut Yuto.


Yuta hanya memutar bola matanya dengan malas lalu berucap, "oke, terserah."


Yuta mempererat pelukannya, begitu juga Imarasti. Dan Yuto tetap berada ditengah-tengah sembari diam-diam menahan senyuman.


FIN