What A Married?!

What A Married?!
Deal!



Imarasti kini tengah duduk di hadapan teman-temannya. Johnny, Keenan, dan Chakra menatap Imarasti penuh tanya dan tidak habis pikir, sedangkan pacar mereka menatap Imarasti cemas.


"Iya, jadi gue udah nikah karena dipaksa," akhirnya Imarasti kini buka suara setelah hening dalam waktu yang cukup lama.


"Soal bayi itu.." kini Imarasti beralih menatap Yuto yang tengah dipangku Inggit sembari memainkan kunci mobil milik Keenan. "Dia Yuto, Nenek juga yang paksa gue sama Yuta buat rawat Yuto. Dia bilang buat hadiah pernikahan."


"What??? Hadiah pernikahan?" tanya Chakra shock kemudian tertawa keras. "Ada-ada aja sih hadiah pernikahan bayi, kenapa nggak honeymoon trip?"


Chakra masih terus tertawa sampai akhirnya cubitan Rara di pinggangnya berhasil membuatnya terdiam.


Imarasti masih terus menunduk. Ia tidak berani menatap teman-temannya. Yuto yang ada di pangkuan Inggit terus mengoceh memanggil-manggil mamanya sembari tangannya berusaha meraih Imarasti yang duduk berseberangan dengan Inggit.


"Terus mau sampai kapan lo sembunyiin ini semua dari Johan?" tanya Johnny, menatap Imarasti serius.


Imarasti menggeleng pelan. "Gue nggak tau, John.."


"Lo harus kasih tau Johan, Im. Gimana pun juga Johan emang harus tau. Kalo gue di posisi Johan, gue pasti merasa dihianatin kalo lo ngga cerita," ujar Keenan mencoba memberi nasihat.


"Aku juga udah bilang gitu ke dia, yang. Imarasti aja yang emang dasar batu," timpal Inggit.


"Apa perlu gue yang kasih tahu Johan?"


Mendengar perkataan Johnny barusan, Imarasti langsung mendongak panik. "No Johnny! Gue nggak mau putus sama Johan. Gue masih sayang sama dia."


Kemudian Imarasti memasang ekspresi seolah mau menangis.


"Tapi lo udah nikah, Imarasti! Itu namanya lo php Johan," sergah Johnny.


"Gue akan cari cara biar gue bisa pisah sama Yuta!"


"Imarasti, ini pernikahn loh. Nggak bisa buat main-main," kata Keenan pelan tapi mengena.


"Orang bilang tujuan menikah adalah untuk bahagia. Gue nggak bahagia sama Yuta." Imarasti terlihat benar-benar frustasi.


"Belum Imarasti," potong Keenan. "Lo baru nikah dua minggu kan? Semuanya pasti bisa berubah seiring berjalannya waktu."


"Nggak akan ada yang berubah! Bahkan tadi dia tega ninggalin gue sama Yuto dan malah ngejar cewenya. Dia juga udah punya pacar!" ujar Imarasti sembari mengercutkan bibirnya sebal.


"Terus lo cemburu?" tanya Joana.


"Sembarangan! Enggak lah! Hati gue isinya cuma Johan doang."


"Kalo gitu kenapa lo jadi bete?"


"Ya kan gue..." Imarasti menggantungkan kalimatnya ketika Chakra bersuara.


"Im, Yuto beneran bukan anak lo sama Yuta? Dia mirip banget sama kalian," ujar Chakra sembari memainkan tangan Yuto yang menggenggam jemarinya.


"Lhah iya mirip!" timpal Rara yang kini ikut memperhatikan Yuto dan Imarasti bergantian.


"Bukan lah! Lagian kapan gue hamilnya?" sungut Imarasti sembari melipat kedua tangannya di atas dada.


"Ya kan siapa tau lo sama Yuta ikut program bayi tabung terus kalian pinjem rahim orang buat ngandung Yuto."


"Kayaknya sekarang otak lo deh Ra yang nyangkut di sisir," ujar Imarasti sebal sembari mengambil Yuto dari pangkuan Inggit karena Yuto mulai meringik.


Kini Yuto tengah berada di pangkuan mamanya. Bsyi itu terkikik senang ketika Imarasti menggelitiki perutnya menggunakan hidungnya. Teman-teman Imarasti tertegun melihat interaksi Imarasti dan Yuto. Mereka tidak menyangka bahwa sahabatnya yang sebenarnya masih sering berlaku seperti anak kecil ini sudah memiliki seorang bayi.


"Im, beneran dia bukan anak lo?" interupsi Johnny.


"Bukan Johnny... Astagaaaa. Lo tau sendiri kan kalau hubungan gue sama Johan udah tiga tahun. Gue nggak mungkin hianatin dia. Kalian juga pada tau sendiri sebucin apa gue kalau udah sayang sama orang."


Keenan berjalan mendekati Imarasti dan Yuto.


"Walaupun akhirnya lo pisah sama Yuta dan kembali sama Johan, lo tetep harus kasih tahu Johan tentang semuanya," ujar Keenan sembari mengelus lembut kepala Yuto.


"Gue pasti bilang Ken, tapi gue butuh waktu yang tepat buat ngasih tahu Johan," tutup Imarasti.


🍓🍓🍓


Hari sudah sangat sore ketika Yuta turun dari taksi. Ia langsung berlari menuju sebuah toko temapat di mana Imarasti tadi menunggunya, kemudian ia langsung menghentikan langkah ketika mendapati Imarasti yang tengah duduk berjongkok di depan toko, menatap kosong ke depan dengan Yuto yang terlelap dalam pelukannya.


Rasa bersalah tiba-tiba menghantui Yuta. Entahlah. Tapi akhirnya Yuta berjalan perlahan, mendekati Imarasti lalu berdiri tepat di hadapan Imarasti.


"Imarasti," panggil Yuta pelan.


Imarasti mendongak, menatap Yuta dengan wajah tanpa ekspressi selama beberapa saat. Kemudian ia berdiri, menatap Yuta sekilas dan memutuskan untuk pergi.


Meninggalkan Yuta yang terdiam di tempatnya.


"Sial!" umpat Yuta, segera berbalik dan berlari mengejar Imarasti. "Im, kenapa tadi lo pergi? Bukannya gue udah bilang jangan ke mana-mana? Imarasti!"


Imatasti tetap diam, terus melangkah menuju tepi jalan kemudian mencari taksi.


"Im, Imarasti.." panggil Yuta berdiri di samping Imarati sembari menarik bahu gadis itu, memaksanya agar menghadapnya namun Imarasti langsung menepis tangan Yuta.


"Taksi!"


Sebuah taksi berhenti di depan mereka. Imarasti yang pertama masuk ke dalam taksi, disusul Yuta yang kemudian juga bergegas masuk ke dalam taksi.


"Imarasti," panggil Yuta dengan suara pelan ketika taksi yang mereka tumpangi mulai berjalan.


Namun tetap saja, Imarasti terus diam dan menatap ke luar jendela, mendekap Yuto semakin erat. Sungguh, Imarasti kesal karena Yuta meninggalkannya begitu saja dan membuatnya menunggu berdua bersama Yuto hampir dua jam.


Beberapa menit kemudian mereka sampai di rumahnya. Imarasti langsung masuk rumah begitu saja tanpa menunggu Yuta yang masih mengunci pagar rumah. Kemudian Yuta berjalan dengan langkah lebar menyusul Imarasti yang kini sudah masuk ke dalam rumah.


Yuta menahan lengan Imarasti yang membuat Imarasti mengehentikan langkahnya.


"Gue perlu ngomong sama lo. Penting," ujar Yuta yang terdengar serius.


Imarasti masih tidak berbalik dan tidak mengahadap ke arah Yuta.


"Lo nggak lihat Yuto lagi tidur? Gue nggak mau dia kebangun," kata Imarasti datar, lalu menarik lengannya dari tangan Yuta dan pergi melanjutkan langkahnya menuju kamar.


Yuta duduk di ruang tengah sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya frustasi. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan hidupnya akan serumit ini. Nenek, Imarasti, Yuto, dan Sonia benar-benar membuat kepalanya penat.


"Lo mau ngomong apa?" Imarasti kembali dari kamar, kali ini tanpa Yuto.


Yuta mendongak menatap Imarasti yang kini berdiri di hadapannya. Kemudian Yuta menarik tangan Imarasti untuk duduk di sampingnya.


"Gue nggak bisa terus jalanin pernikahan ini Im," ujar Yuta dengan tatapan serius.


"Lo pikir gue bisa? Gue dari awal udah menentang ini semua Yuta!" seru Imarasti di depan wajah Yuta.


"Iya gue tau, tapi kita harus bertahan selama enam bulan. Setelah enam bulan kita bilang ke Nenek kalo kita nggak cocok dan nggak bisa sama-sama lagi."


Imarasti mengangguk setuju.


"Oke. Oiya lagi, dilarang keras ikut campur urusan pribadi masing-masing dan lo gak boleh sentuh gue walaupun gue adalah istri lo!"


Oh ayolah Imarasti tidak mau mengambil resiko. Ia masih ingat betul di hari pertamanya menjadi istri Yuta ia bangun dengan tiga kancing teratas bajunya yang terbuka.


"Oke deal!"


..


..


..


TBC