What A Married?!

What A Married?!
Divorce



Masih melekat dalam ingatan Imarasti ketika Sonia meninggalkannya begitu saja di ujung koridor setelah mengatakan sederat kata yang jujur, membuat jantung Imarasti terasa tertohok setelah mendengarnya. Sedari tadi Imarasti memperhatikan Yuta dalam diam yang sedang sibuk dengan laptopnya. Bahkan Imarasti sampai mengabaikan ocehan Yuto.


"Yut, lo sibuk?" tanya Imarasti pada akhirnya.


Dari awalnya sibuk berkutat dengan laptop di pangkuannya, kemudian Yuta mendongak melihat Imarasti baru saja duduk di tepi ranjang bersama Yuto yang berada dalam dekapan gadis itu.


"Kenapa?" sahut Yuta dengan suara pelan, lalu kembali berkutat dengan laptop di hadapannya.


"Ini, coba lo liat deh!" Imarasti menyodorkan selembar kertas brosur di hadapan Yuta, ia tersenyum lebar sembari melanjutkan, "Kemarin pas gue jemput Yuto di rumah orangtua gue, Ibu ngasih ini ke gue."


Yuta memandang Imarasti selama beberapa saat, mengambil kertas brosur itu dan membolak-baliknya.


"Mereka baru aja buka tempat permainan baru khusus buat keluarga. Di sana ada kolam renang, kolam bola, seluncuran dan masih banyak lagi," kata Imarasti, kemudian membetulkan gendongan Yuto dalam dekapannya dan kembali bersuara, "Gue pengen banget ke sana sama Yuto."


Yuta menoleh, menatap Imarasti selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Tapi di sini ditulis kalau bukanya hari ini."


"Iya emang hari ini." Imarasti mengangguk. "Apa lo juga mau ikut pergi sama gue sama Yuto?"


Yuta memandang Imarasti selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Tapi..."


"Nggakpapa kalau lo sibuk gue bisa pergi sendiri sama Yuto, boleh kan?"


Yuta hanya diam, bahkan sampai Imarasti beranjak dari duduknya.


Sebenarnya Imarasti berharap Yuta bisa menemaninya dan Yuto pergi supaya setidaknya Yuto bisa punya kenangan yang indah dengan papa dan mamanya. Namun gadis itu juga tidak ingin terlalu berharap karena ia yakin ini akan berujung kecewa.


'Tidak apa-apa Imarasti. Ini bisa buat lo latihan gimana nanti kalau lo benar-benar sudah pisah sama Yuta. Lo harus bisa merawat Yuto sendiri!' batin Imarasti.


"O-oh ya udah kalau gitu gue mau bikin bubur buat Yuto dulu."


Lalu gadis itu berjalan menuju pintu. Ketika Imarasti baru saja menjauh beberapa langkah dari Yuta, ia menghentikan langkah tiba-tiba, berbalik dan menyunggingkan senyum tipis pada Yuta.


"Sorry, udah ganggu," kata Imarasti yang membuat Yuta langsung menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Yuta merasa ada sesuatu yang lain dari gadis itu. Hanya saja Imarasti terlihat tidak seperti hari-hari sebelumnya.


"Oiya, Yut?" Imarasti kembali bersuara, "Kalau kita udah benar-benar pisah nanti, bolehkan gue yang rawat Yuto?"


Imarasti membetulkan posisi Yuto dalam gendongannya, kembali menoleh pada Yuta dengan senyuman semakin mengembang.


"Gue tau nenek lo yang ngambil Yuto dari panti asuhan, tapi kalau kita udah pisah, bolehkan gue yang rawat Yuto? Kayaknya gue udah mulai bisa menerima Yuto. Lo tenang aja, gue akan menyayangi dan merawat Yuto sebaik mungkin."


Yuta terdiam sembari menatap Imarasti dengan tatapan kosong.


"Jadi gimana? Apa lo setuju?"


Yuta tidak langsung menjawab, melainkan hanya menundukkan pandangan, menatap layar laptop tapi pandangannya jelas terlihat kosong.


"Yut?"


"I-iya, boleh. Lo boleh rawat Yuto," sahut Yuta.


Senyum Imarasti memudar perlahan, menatap Yuta selama beberapa saat sebelum akhirnya bergumam, "Thanks ya, Yut."


🍓🍓🍓


"Sebentar lagi kita akan jalani hari-hari berdua tanpa papa. Yuto tenang aja, Mama akan berusaha membuat Yuto selalu bahagia walaupun cuma sama Mama," lanjut Imarasti.


Yuto masih duduk di atas meja tak jauh dari mangkuk bubur. Bayi itu sedang berusaha mengigiti mainannya yang berbentuk donat sembari menatap bubur itu dengan tatapan antusias.


"Apa.. setelah ini dia akan bahagia, Yuto?" Imarasti tersenyum tipis, beralih menatap Yuto lalu mengelus puncak kepala bayi itu. "Hmm, dia harus bahagia, Yuto. Dan kamu tenang aja sayang, mulai sekarang Mama akan belajar merawat kamu sendiri."


Yuto melemparkan mainan donatnya ke sembarang arah, merangkak ke arah Imarasti sembari berusaha naik ke tubuh mamanya. Dan tentu saja, Imarasti akan langsung menyambutnya. Gadis itu mendekap Yuto sembari mengelus punggung bayinya itu dengan lembut.


"Mama sayang banget sama kamu, Yuto."


🍓🍓🍓


Yuta baru saja masuk ke dalam kamar, tapi langkahnya langsung terhenti ketika melihat Imarasti baru saja keluar dari kamar mandi bersama Yuto.


Imarasti terlihat berbicara, sesekali tertawa ketika mendudukkan Yuto di atas tempat tidur. Kemudian Yuta segera berjalan mendekatinya, "Yuto habis pup?"


Imarasti mendongak, menatap Yuta dengan sisa tawanya, "Iya, Yuto habis pup tadi."


"Kenapa lo nggak manggil gue buat bantuin bersihin Yuto?"


Pergerakan tangan Imarasti terhenti, menatap Yuta selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Gue pikir lo lagi sibuk, jadi gue bersihin Yuto sendiri."


Imarasti tersenyum. "Dan liat deh, badan gue basah semua karena Yuto mainin selang airnya," ujar Imarasti sembari memperhatikan tubuhnya, kemudian melanjutkan, "Bisa tolong jaga Yuto sebentar? Gue mau ganti baju dulu di kamar mandi."


Yuta hanya mengangguk, memperhatikan punggung Imarasti yang kemudian menjauh dari jangkauannya. Hingga kemudian ocehan yang terlontar dari bibir mungil Yuto berhasil mengalihkan perhatian Yuta. Yuta tersenyum ketika Yuto merangkak ke arahnya, mengulurkan kedua tangan, lalu Yuta mengangkat tubuh Yuto, mendekapnya sembari menggoyangkan tubuh bayi itu pelan.


"Oke anak Papa, kamu nggak boleh telanjang kayak gini. Papa akan pakein kamu celana."


Yuta terus membiarkan Yuto dalam gendongannya, sesekali tertawa ketika Yuto menepuk-nepuk wajahnya.


Perhatian mereka kini teralih pada Imarasti yang sudah mengenakan pakaian rapi, berjalan menuju suami dan anaknya lalu mengulurkan kedua tangannya di depan anaknya.


"Yuto, kita mau pergi senang-senang hari ini. Ayo sayang ikut Mama!"


Yuto baru saja akan menerima uluran kedua tangan mamanya ketika tiba-tiba Yuta berjalan mundur, membuat Imarasti mengerutkan keningnya. Sementara Yuta bersuara, "Kalian mau pergi seneng-seneng tanpa Papa?"


Imarasti mengerjap pelan, "Yut, maksud lo? Apa lo--"


"Iya, gue ikut." Yuta tersenyum. Kemudian ia mengambil langkah untuk pergi sembari bergumam, "Yuto, kamu nanti mau berenang dulu apa main bola dulu? Apa main seluncuran aja? Ouwh.. Yuto belum bisa main seluncuran Papa."


Tawa Yuta mulai pecah bersamaan dengan sosoknya yang mulai hilang dari ambang pintu kamar, meninggalkan Imarasti yang masih berdiri menatap jejak kepergiannya dalam diam.


Hingga kemudian sudut-sudut bibir Imarasti mulai tertarik ke atas. Imarasti menghembuskan napas lega, mengambil langkah cepat sembari berseru, "Yuta! Tungguin gue bentar!!!"


..


..


..


TBC