What A Married?!

What A Married?!
Jangan ambil Yuto



Imarasti semakin mendekat pada Yuta, merangkul lengan Yuta membuat lelaki itu langsung menoleh padanya. Menggenggam telapak tangan Imarasti dengan satu tangannya yang terbebas ketika Yuta merasakan Imarasti mencengkram lengannya sangat erat.


“Yut, mereka siapa?” tanya Imarasti, dengan nada pelan dan tatapan bingung yang terus Ia tujukan pada seorang pria dan wanita usia tiga puluhan yang berdiri di hadapannya.


Di koridor depan ruang rawat Yuto juga berdiri nenek Tanu, Ayah dan Ibu Imarasti yang berada tak jauh di belakangnya.


“Mereka orangtua kandung Yuto—bukan Nama asli Yuto adalah Aiden Moeis,” jawab Yuta akhirnya.


Imarasti langsung menatap kedua orang itu dalam diam. Sementara hembusan napas berat terdengar dari Yuta sebelum akhirnya Ia kembali bersuara, “Karena kedua orangtua kandung Yuto sudah ada di sini, jadi mereka yang berhak untuk menandatangani surat persetujuan tentang operasi itu.” Yuta kemudian menatap kedua orang itu sembari tersenyum tipis, “Dan mereka sudah melakukannya. Jadi sebentar lagi Yuto akan dioperasi.”


Ibu kandung Yuto mengangguk. “Ya, dokter sudah menyiapkan ruang operasi untuk Aiden. Dan maaf jika selama ini dia merepotkan kalian. Kami sangat berterima kasih karena kalian sudah bersedia menjadi orang tua angkat selama kepergian kami ke Jepang.”


Imarasti benar-benar tak mengerti. Kata-kata seperti orangtua kandung dan orangtua angkat benar-benar membuat kepalanya mendadak pening.


Dan belum sempat kebingungan Imarasti terjawab beberapa dokter dan perawat lebih dulu mendekat ke arah mereka. Meminta ijin pada dua orang asing di depannya lalu masuk begitu saja ke dalam ruang rawat Yuto mengabaikan Imarasti dan Yuta yang berdiri tak jauh dari pintu.


“Yut, kenapa jadi kayak gini?” Imarasti bergumam lirih ketika para dokter itu mengeluarkan tempat tidur Yuto beserta balita itu dari kamar. Membawa tempat tidur itu menjauh dari hadapan Imarasti bersama kedua orang asing yang mengikuti mereka di belakang. “Yut, kenapa mereka bawa Yuto? Yuta.”


“Imarasti.” Yuta kembali memeluk Imarasti ketika wanita itu kembali menangis. Menyisakan nenek Tanu dan kedua orang tua Imarasti yang saling memandang dalam diam.


“Yuta kenapa mereka bawa anakku pergi? Yuta kenapa kamu diem aja!” Imarasti mulai memukul-mukul pinggang Yuta sementara lelaki itu memeluknya semakin erat.


“Yuto akan baik-baik aja Imarasti, kamu percaya sama aku yah..”


“Mereka bohong Yut! Mereka akan nyakitin Yuto! Mereka akan bikin luka Yuto dan..” tenggorokan Imarasti tercekat. Pukulannya di tubuh Yuta mulai melemah, kedua tangannya kini beralih melingkar di pinggang Yuta, mencengkram baju Yuta erat-erat. “Yut, apa yang harus aku lakuim.. aku harus gimana Yuta. Aku harus gimana..”


***


“Setelah Aiden selesai dirawat, kami akan membawanya bersama kami, ke Jepang.”


Kalimat itu bagai tamparan amat keras bagi Imarasti. Membuat wanita itu semakin membenci dua orang asing yang beberapa saat lalu Ia temui, dan kalimat itu juga yang membuat Imarasti langsung angkat kaki dari ruang tunggu di depan ruang operasi Yuto.


Wanita itu memilih menyendiri. Duduk dalam diam di antara deretan kursi yang ada di ruang tunggu bagian depan rumah sakit.


“Imarasti.” Yuta baru saja duduk di sebelahnya, meletakkan bungkusan berisi makanan di kursi yang ada di sebelahnya. “Kamu harus makan sayang,” kata Yuta, merangkul pundak istrinya dan mengelusnya.


“Siapa mereka berani-beraninya ngomong kayak gitu ke aku?” Imarasti mendengus, dengan tatapan kesal yang terus tertuju ke depan. “Setelah ninggalin Yuti gitu aja selama dua tahun lebih dan sekarang mereka mau merebutnya dari aku? Mereka sama sekali nggak pantas disebut orangtua!” Imarasti tiba-tiba berseru. Menghadapkan tubuhnya pada Yuta lalu menggenggam tangan Yuta erat-erat. “Yut, bilang sama mereka aku nggak akan pernah biarin mereka nawa Yuto? Aku nggak mau Yuta. Aku nggak mau!”


“Imarasti dengerin aku.”


“Nggak! Aku nggak akan nyerahin Yuto apapun yang terjadi!” Imarasti menangis, mata nanarnya menatap Yuta dengan tatapan dalam. “Aku emang bukan wanita yang melahirkan Yuto tapi.. Yut, aku tetap mamanya. Aku udah merasa jadi bu Yuto dan.. Yut, bilang sama mereka aku nggak akan ngasih Yuto ke mereka. Aku mohon Yuta.. aku mohon..”


Yuta langsung menarik Imarasti dalam dekapan hangatnya. Mengelus pundak Imarasti sembari menahan air yang kapan saja siap membobol dinding pertahannya. Tersenyum tipis lalu bergumam. “Bahkan kalau kita bawa masalah ini ke jalur hukum, hak asuh Yuto akan tetap jatuh ke tangan mereka. Sebenarnya saat itu Yuto bukan ditinggakan di panti asuhan, tapi dia di titipkan. Dan kesalah pahaman penjaga panti asuhan itu yang nggak ngerti membuatnya menyetujui waktu nenek ngadopsi Yuto dari sana. Nenek juga nggak tahu kalau sebenarnya Yuto cuma di titipkan.”


Imarasti langsung menarik kepalanya dari dada Yuta, menatap Yuta dalam diam. Wanita itu belum sempat membalas karena ibu Imarasti lebih dulu terlihat berlari ke arah mereka.


“Imarasti, Yuto..” ibu Imarasti berseru dengan nada cemas, membuat Yuta dan Imarasti menatapnya tak mengerti.


“Yuto sudah selesai dioperasi tapi.. dia tidak sadarkan diri.”


Imarasti langsung berdiri, berlari tanpa memperdulikan Yuta dan Ibunya yang berusaha memanggilnya, mengejar Imarasti namun wanita itu terus mempercepat langkahnya.


Di salah satu ruangan gawat darurat, Imarasti melihat beberapa dokter berkerumun mengelilingi satu ranjang rawat. Tak jauh dari ranjang itu ada Ibu kandung Yuto yang tengah menangis dalam pelukan suaminya.


Imarasti merasakan lututnya melemas ketika para dokter terlihat panik dan kacau untuk membangunkan seseorang di atas ranjang rawat itu. Dan Imarasti tahu di sana ada Yuto. Karena Imarasti bisa melihat kaki Yuto tergeletak lemas di atas permukaan kasur.


Menatap para dokter itu dengan tatapan kosong, Imarasti mencoba menahan isakannya sembari berjalan perlahan, mendekat ke arah ranjang lalu menerobos diantara para dokter itu.


“Kamu sudah memeriksanya? Bagaimana hasilnya?”


“Jantungnya masih tidak bergerak.”


Kata-kata yang saling bersahutan di udara itu seolah terdengar ngambang di telinga Imarasti. Bahkan ketika suara tit panjang disertai garis lurus yang muncul di layar komputer kecil di atas kepala Yuto berbunyi, Imarasti sama sekali tak mengindahkannya. Ia mendorong begitu saja seorang dokter yang berdiri di sisi ranjang Yuto, lalu mendekatkan wajahnya pada wajah Yuto.


“Yuto, mama kangen sama kamu sayang.” Kedua mata Imarasti tertutup, membuat genangan air di pelupuk mata kini tumpah membasahi pipinya. Disusul bibirnya yang kemudian membungkam bibir Yuto, dan kedua tangannya mendekap tubuh balita itu dengan hangat.


“Imarasti.” Yuta sudah berdiri tak jauh di belakang Imarasti, menyaksikan bagaimana wanita itu mencoba membangunkan Yuto dengan caranya sendiri ditengah-tengah para dokter yang menatap Imarasti dalam diam.


“Bangun Yuto, kamu harus bangun.. mama kangen sama kamu. Mama kangen banget sama kamu.”


Imarasti terus menyalurkan napasnya pada Yuto, dengan air mata yang terus mengalir hingga beberapa tetes diantaranya turut jatuh dan membasahi wajah Yuto.


“Yuto bangun.. kamu harus bangun..”


Imarasti mendekap Yuto semakin erat. Dengan sisa-sisa harapan yang memenuhi rongga dadanya.


Hingga pada detik kelima kemudian, kedua tangan Yuto tersentak. Disusul bunyi tit yang bersahutan dan garis lurus yang berubah menjadi tidak beraturan.


“Jantungnya kembali normal!” salah seorang dokter berseru. Mereka kembali kalut menyambungkan beberapa selang, sementara Imarasti membuka matanya perlahan. Wanita itu menyunggingkan senyum tipis ketika mendapati Yuto tengah menatapnya, dengan mata bulatnya seperti biasa dan satu tangan yang menyentuh wajah Imarasti.


“Kamu bangun sayang,” gumam Imarasti, mendaratkan kecupan hangat di kening Yuto membuat balita itu langsung menggerakkan kedua tangannya.


"Ma..ma.."


Yuta segera mendekat, menyentuh pundak Imarasti tapi justru sentuhannya membuat tubuh Imarasti limbung. “Imarasti?” Yuta segera menahan tubuh Imarasti dengan kedua tangannya. Mencoba menilik wajah Imarasti dan betapa terkejutnya Yuta ketika mendapati warna pucat tengah melapisi kulit wajah istrinya. “Imarasti!”


Imarasti menatap Yuta dengan pandangan yang mulai kabur..


.. dan semuanya gelap.


.


.


.