
"Yuto, Mama ngumpulin tugas dulu. Yuto sama papa dulu di sini. Yang pinter oke?"
Yuto terkekeh pelan ketika Imarasti mencium salah satu pipi gembulnya. Imarasti tersenyum sembari menarik kepalanya menjauh setelah mencium pipi Yuto.
"Buat gue mana?" tanya Yuta dengan tersenyum sembari menunjuk pipi kanannya lalu melanjutkan, "Kiss?"
Senyum Imarasti memudar seketika lalu menatap datar ke arah Yuta yang berdiri tepat di depannya. "Kita ada di depan kampus Yuta, lo bercanda?"
Yuta melihat sekeliling, beberapa mahasiswa terlihat berjalan memasuki gerbang dan beberapa di antara mereka tengah menatap Yuta dan Imarasti dengan tatapan bingung.
Oh ya, mereka membawa bayi.
"Ouwh... Oke. Gue kecewa," ujar Yuta sembari menunjukkan wajah melas yang dibuat-buat yang dibalas cibiran pelan oleh Imarasti.
Imarasti mendengus pelan lalu mengelus pipi Yuto sebelum akhirnya berbalik, "Jangan sampai Yuto nangis ya, Yut!"
Yuta hanya diam sembari memperhatikan punggung Imarasti yang mulai menjauh. Lalu ketika Imarasti sudah hilang di balik pintu gerbang, Yuta menunduk dan menggoyangkan tubuh Yoto pelan yang dalam gendongannya lalu berucap, "Oke jagoan.. Kita tunggu Mama di toko dekat sini. Ayo!"
Yuta baru saja menjauh beberapa langkah ketika tiba-tiba suara Imarasti kembali terdengar.
"Yuta, tunggu bentar!"
Yuta pun menoleh. "Iya? Kenapa? Ada yang ketinggalan?"
Imarasti tidak menjawab. Ia terus berlari ke arah Yuta lalu..
.. membuat Yuta mematung sesaat ketika Imarasti mencium pipinya.
"Aku nggak akan lama. See you!" Imarasti tersenyum setelahnya. Kemudian kembali berlari dari hadapan Yuta dan sosoknya hilang di balik pagar.
Jadi Imarasti kembali hanya untuk itu? Bukankah itu manis?
Dan benar, rasanya memang manis membuat Yuta bahkan tersenyum tanpa sadar.
"Yuto, kamu tau sayang? Yang tadi itu.." Yuta tersenyum. "Manis sekali. Ya, manis sekali dan Papa suka."
Yuto ikut tersenyum meskipun tidak mengerti perkataan papanya.
"Kamu juga kan, Yuto?" Yuta menunduk sembari mencubit kecil hidung Yuto. "Kamu selalu senyum kalau Mama cium kamu dan Papa rasa kamu juga suka. Yaudah, kita harus pergi sayang."
Yuta kembali melanjutkan langkah menuju toko tadi. Baru beberapa langkah menjauh, tiba-tiba Yuta berhenti.
Kali ini bukan karena suara Imarasti yang kembali terdengar. Melainkan karena ia melihat Sonia yang berdiri tak jauh darinya. Sebenarnya Sonia sudah berada di sana selama beberapa saat yang lalu. Bahkan Sonia melihat Imarasti berlari ke arah Yuta dan memberikan ciuman di pipi mantan kekasihnya itu.
"Sonia.." gumam Yuta pelan.
Tapi Sonia justru melanjutkan langkah dengan langkah kasar setelah Yuta tersenyum tipis ke arahnya. Yuta memperhatikan kepergian Sonia hingga Sonia hilang dibalik pintu pagar.
Yuta menghembuskan napas berat lalu tersenyum tipis. "Wajar Yuto, wajar dia liatin Papa kayak gitu dan.." Yuta menunduk, memperhatikan Yuto yang kini sibuk bermain dengan kancing kemejanya. "Itu lebih baik daripada dia nampar papa lagi."
🍓🍓🍓
"Johan, thanks ya.. Lo emang paling bisa diandelin!"
Imarasti menghentikan langkahnya tepat di tengah tangga ketika mendengar suara itu. Ia terdiam selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk menaiki anak tangga dengan langkah hati-hati. Sedikit memajukan kepalanya untuk mengintip apa yang terjadi di atas tangga sana.
"Iya, sama-sama.."
Johan terlihat tersenyum pada Mia yang berdiri di hadapannya. Bahkan Johan tampak tenang ketika Mia merangkul satu lengannya, mengajaknya pergi menaiki anak tangga menuju kelas mereka.
Imarasti menghentikan langkahnya bersamaan dengan helaan napas berat yang keluar dari mulutnya. Ia menatap lurus ke depan, tersenyum tipis.
"Aku harap.. dia akan jadi perempuan yang terbaik buat kamu, Johan."
🍓🍓🍓
"Im, eum... sebenernya waktu itu gue sempet liat."
Imarasti mengehentikan tawanya. Ia masih tidur terlentang sementara Yuto duduk di atas perutnya, tertawa karena bekas gelitikan Imarasti di pinggang Yuto masih menyisakan rasa geli.
"Liat apa?" tanya Imarasti sembari menatap Yuta.
Yuta juga masih tidur terlentang di samping Imarasti. Yuta tersenyum sembari menatap langit-langit kamar dengan satu tangan yang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Liat itu.." ujar Yuta.
Imarasti menatap Yuta semakin tak mengerti. "Liat apa sih? Liat—" Imarasti mendelik tiba-tiba ketika Yuta menunjuk dadanya menggunakan matanya.
Ah! Malam itu. Dan pagi itu ketika Imarasti mendapati baju yang ia kenakan dalam keadaan tidak baik-baik saja, tiga kancing teratasnya lepas.
"J-jadi.. Lo beneran.. liat? Lo yang ngelakuin itu semua?" Imarasti menelan samar salivanya.
Yuta masih menatap langit-langit kamar dan tersenyum, kemudian menjawab, "Gue juga pegang, dikit."
Mulut Imarasti setengah menganga. Imarasti menatap Yuta selama beberapa saat sebelum akhirnya menurunkan Yuto dari atas perutnya.
"YUTAKOYAKI!!!"
Yuta langsung menjauh ketika Imarasti mendaratkan pukulan dintubuhnya, bahkan jambakan juga.
"Aw! Aw! Gue kan nggak sengaja! Lagian— aw! Gue nggak sadar dan— Im!"
"Nggak sengaja lo bilang?! Yutakoyaki berani-beraninya lo ya!!!"
"Berhenti Im berhenti! Lagian juga— aw! Lo istri gue!"
Pergerakan tangan Imarasti terhenti. Imarasti kini sudah berada di atas tubuh Yuta dengan kedua tangan tertumpu di dada Yuta.
"Bener kan? Seharusnya nggak apa-apa karena lo adalah istri gue."
"Dan seharusnya juga nggak apa-apa kalau gue minta lebih dari itu."
Napas Imarasti terasa tercekat di tenggorokan. Otak Imarasti tidak terlalu lamban untuk mengerti maksud dari perkataan laki-laki dewasa seperti Yuta. Apa lagi setelah melihat seringaian yang kini Yuta tunjukan di hadapannya.
Dan mungkin mereka tidak menyadari bahwa sedari tadi Yuto tertawa melihat kedua orangtuanya. Bayi itu bahkan sempat bertepuk tangan ketika mamanya menarik-narik telinga dan rambut papanya tadi.
Yuta kemudian melirik Yuto membuat tawa bayi itu terhenti digantikan senyuman lebar sembari mengemut jarinya.
"Yuto," Yuta tersenyum semanis mungkin pada Yuto. "Kamu harus tidur sayang, hm? Kamu harus cepet tidur malam ini," ujar Yuta mengabaikan Imarasti yang mati-matian menahan detak jantung yang menggebu dan wajah yang mulai memanas.
"Ayo Yuto, Papa antar kamu ke tempat tidur. Kamu harus cepet tidur biar— owh! Anak papa udah menguap. Oke, itu artinya kamu sudah mengantuk sayang.."
Yuta berjalan santai menuju tempat tidur Yuto sementara Imarasti membeku di tempatnya.
"Jangan tidur Yuto.. jangan tidur mama mohon—"
"Selamat malam, Yuto. Mimpi yang indah sayang."
Tidak lama kemudian Yuta kembali ke Imarasti yang kini tengah terduduk di pinggiran ranjang. Yuta terus menatap Imarasti sembari tersenyum, sedangkan Imarasti sibuk memandang ke segala arah dengan mata yang kentara akan kegelisahan.
Perlahan tapi pasti Yuta mendekat ke arah Imarasti. Dan kini Yuta sudah duduk di depan Imarasti, menatap gadis itu tepat di matanya. Lalu Yuta mendekatkan wajahnya ke wajah Imarasti, mendaratkan bibirnya. ********** dengan lembut membuat kelopak mata Imarasti tertutup perlahan. Kedua tangan Yuta semakin menarik tubuh Imarasti ke arahnya, mengelus punggungnya dengan gerakan lembut sembari memperdalam ciuman mereka.
Hanya dalam hitungan beberapa detik kemudian, Yuta mendorong tubuh Imarasti. Ciumannya semakin liar sementara kedua tangannya mulai meraba-raba sekitar pinggang dan perut Imarasti membuat Imarasti memejamkan mata rapat-rapat.
Imarasti terpaksa mendorong dada Yuta dengan kedua tangannya.
"Yu-yutta.." gumam Imarasti sembari menatap Yuta dengan tatapan tak percaya.
Yuta hanya tersenyum tipis pada Imarasti. "Aku mau melakukannya, melakukan itu," sahutnya pelan membuat mata Imarasti semakin membulat sementara kepala Yuta kembali mendekat, bibirnya kemudian membungkam bibir Imarasti dan ********** dengan lembut.
Kemudian ia mendorong tubuh Imarasti ke ranjang dan langsung menindihnya. Menahan kedua tangan Imarasti di sisi kepala dan memperdalam ciuman mereka.
Imarasti ingin menghentikannya, sungguh. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa saat ciuman Yuta kini berpindah pada lehernya.
Yuta mengecupnya, **********, menciumnya semakin dalam membuat Imarasti menggigit bibir bawah untuk menahan sensasi aneh yang ada dalam dirinya. Imarasti merasakan dadanya bergemuruh hingga akhirnya satu desahan lolos tanpa ia sadari. Mata Imarasti membulat, merutuk dalam hati karena setelah desahan itu keluar, ia merasakan bibir Yuta mengukir senyuman dipermukaan kulit lehernya. Setelah itu, Yuta mengangkat kepalanya, menghadapkan wajah mereka dan menatap Imarasti.
Imarasti merasakan tubuhnya memanas saat kedua telapak tangan Yuta menyentuh telapak tangannya, menautkan jari-jari mereka dan menggenggamnya erat-erat.
"Yut, aku nggak mau hamil sebelum wisuda.." cicit Imarasti.
Yuta menanggapinya dengan kecupan di bibir. Kembali mengangkat wajah lalu menatap Imarasti sembari tersenyum tipis.
"Aku nggak akan bikin kamu sampai hamil. Kamu percaya kan sama aku?"
Seperti dihipnotis Imarasti pun mengangguk begitu saja.
"I love you.." ujar Yuta lembut.
Imarasti hanya memandang Yuta dalam diam.
Kemudian Yuta kembali mendekatkan wajah mereka. Mata mereka sama-sama tertutup saat hidung mereka saling bersentuhan. Lalu Yuta menurunkan hidungnya ke pipi Imarasti, mengecup pipinya lembut, kemudian turun dan mendaratkan kecupan di bibir Imarasti.
Pada akhirnya Yuta membenamkan wajahnya di leher Imarasti.
"Aku bener-bener mau melakukannya," gumam Yuta. "Sama kamu." Kemudian Yuta tersenyum, menutup mata dan bibirnya kembali menjelajahi leher istrinya.
Setelah beberapa saat, Yuta mengangkat wajahnya, menatap Imarasti tepat di matanya.
"Yuta,"
"Hm?"
Imarasti tersenyum tipis. Lalu mengecup bibir Yuta membuat senyuman Yuta langsung mengembang.
"I love you..." kata Imarasti, meletakkan kembali kepalanya dipermukaan bantal dan menunjukkan senyuman terbaik yang ia miliki.
Yuta hanya tersenyum. Satu tangannya kemudian melepas genggaman mereka, beralih menyentuh wajah Imarasti. Mengelus pipinya, bibir, leher, dan berhenti sejenak saat Yuta menyentuh kancing piyama istrinya.
Yuta menatap Imarasti dengan tatapan penuh arti. Saat mendapati Imarasti menundukkan pandangan, Yuta meyakinkan diri untuk melepas satu kancing kemeja Imarasti, lalu turun, dan melepas kancing baju Imarasti satu persatu.
Yuta kembali mempertemukan bibir mereka, mencium Imarasti dengan intens seraya kedua tangannya kini sibuk melepas pakaian yang melakat di tubuh mereka.
Hanya dalam beberapa menit mereka saling berhadapan tanpa ada sedikitpun penghalang ditubuh mereka.
Kedua tangan Imarasti menangkup pipi Yuta, mengelusnya dengan lembut sementara satu tangan Yuta sibuk mengelus lengan dan pundak Imarasti.
"Kamu tenang aja, aku nggak akan nyakitin kamu," gumam Yuta mencoba meyakinkan karena Yuta cukup paham ada sedikit keraguan dalam tatapan istrinya.
Imarasti menghembuskan napas pelan. Memperhatikan Yuta yang semakin mendekat, mendekap tubuhnya, lalu mempertemukan bibir mereka kembali.
Imarasti membalas pelukan Yuta, membalas ciuman Yuta dan mereka larut dalam suasana itu.
Mereka menjalaninya.
Menghabiskan malam pertama mereka bersama.
Berdua.
..
..
..
TBC