
'PLAK!'
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Yuta hingga menimbulkan bunyi yang cukup keras.
"A-apa? Apa kakak baru aja bilang pengen putus sama aku?" ujar Sonia sembari menatap Yuta tak percaya.
Yuta tersenyum tipis, lalu menatap Sonia yang berdiri tepat di hadapannya. "Maafin aku." Senyum Yuta memudar, kemudian menundukkan pandangan dan melanjutkan, "Aku... Aku nggak bisa pisah sama anak istri aku."
Bagi Sonia perkataan Yuta mungkin lebih sakit dari tamparan yang ia berikan ke lelaki iyu. Hingga kini air mata keluar dari sudut mata Sonia.
"Brengsek!" umpatan itu keluar bersamaan dengan satu tamparan lagi yang mendarat di pipi kiri Yuta.
"Terus kenapa waktu itu kakak janji mau tetap sama aku? Arthayuta Tanubrata lo benar-bener cowok brengsek!"
Sonia langsung berbalik, melangkah kasar menjauhi Yuta yang terdiam di tempatnya.
"Maafin aku, Sonia. Maafin aku." Yuta menunduk kemudian tersenyum tipis. "Aku baru sadar, aku nggak bisa jauh dari dia. Ya, aku nggak bisa ninggalin dia."
🍓🍓🍓
Ketika Yuta pulang ke rumah, ia mendapati Imarasti tengah duduk di depan televisi, ditemani Yuto yang sudah terlelap di pangkuannya. Yuta pun berjalan mendekati mereka lalu duduk di samping Imarasti.
Yuta memandang Imarasti selama beberapa saat, lalu menatap layar televisi yang saat ini menayangkan drama.
"Mana remotnya? Kasihin gue," pinta Yuta yang membuat Imarasti langsung menoleh dan menatapnya dengan wajah tanpa ekspressi.
"Dari mana aja lo seharian ini huh?"
Yuta hanya diam. Dia tidak mungkin jujur pada Imarasti bahwa setelah bertemu Sonia, Yuta menghabiskan waktu di club bersama beberapa teman-temannya. Ya, meskipun tidak sampai mabuk, Yuta sempat menghabiskan satu gelas kecil minuman beralkohol itu.
Yuta mendengus pelan kemudian mengulurkan satu tangannya ke arah Imarasti. "Remotnya.."
Imarasti menyembunyikan remot itu di belakang tubuhnya. Berusaha menghadap Yuta sembari menatap sebal ke arah Yuta.
"Lo sendiri yang bilang kalau lo mau jaga Yuto dan nggak akan ninggalin dia, tapi liat apa yang baru aja lo lakuin ke kami? Lo nggak pulang seharian ini dan setelah pulang lo minta remot ke gue? Apa lo berniat ganti chanel drama favorit gue? Apa lo tau sekarang udah episode terakhir?!"
Imarasti menangis. Ya, bocah itu menangis.
"He-hei, Im.." kata Yuta sembari menatap Imarasti dengan tatapan bingung.
"Lo bodoh!" Imarasti memukul lengan Yuta dengan remot, kemudian melanjutkan, "Apa lo tau pagi ini gue telat masuk kelas pertama karena harus nganter Yuto ke rumah Ibu? Dan kelas kedua Prof Tjang ngusir gue setelah gue nunjukkin jurnal yang dipenuhi dengan bekas pipis Yuto? Gue langsung pulang ke rumah, berniat nangis sepuasnya tapi gue udah janji ke Yuto buat nggak nangis di depannya. Apa lo nggak tau gimana bingungnya gue? Dan sekarang lo mau mindah chanel drama favorit gue padahal ini episode terakhir, huh?!"
Yuta langsung memundurkan kepalanya ketika Imarasti terus mengomel. Tiba-tiba tangis Yuto pecah membuat Imarasti langsung mendekapnya.
"Sayang sst..sst.." Imarasti langsung mendekap Yuto lalu berdiri dan berjalan cepat menuju kamar meninggalkan Yuta yang menatap kepergiannya dalam diam.
Terdengar helaan napas cukup panjang dari Yuta. Ia memperhatikan tayangan drama yang menampilkan aktor korea Lee Jongsuk. Dan laki-laki seperti Yuta adalah laki-laki yang tidak terlalu tertarik dengan tayangan seperti ini, maka Yuta segera memindah channelnya.
Imarasti kembali duduk di depan televisi setelah berhasil menidurkan Yuto di tempat tidurnya. Ia langsung menatap layar televisi dengan tatapan tidak suka ketika layar televisi itu malah menayangkan acara sepak bola.
"Yut," panggil Imarasti tanpa menatap Yuta sembari mengatungkan tangannya berniat meminta remote televisi.
Yuta hanya diam dan itu membuat Imarasti semakin kesal hingga akhirnya ia merebut paksa remote dari tangan Yuta, lalu memindahnya ke acara drama favoritnya.
"Kalau nggak ada berati ya udah selesai. Siniin remotnya!" ujar Yuta.
Imarasti menyembunyikan remote itu di belakang tubuhnya lalu menghadapkan tubuhnya pada Yuta dan berucap, "Yut, liat, gara-gara lo gue nggak bisa liat episode terakhirnya. Apa lo tau pemainnya siapa? Lee Jongsuk! Tipe ideal gue! Gue nggak pernah lewatin satupun dramanya dan kali ini lo..." Imarasti mendengus, "Padahal gue pengen liat adegan ciumannya di akhir episode."
Yuta hampir tersedak setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Imarasti.
"Apa?" tanya Yuta keheranan.
"Iya, gue pengen liat adegan ciumannya di akhir episode. Apa lo tau kalo Lee Jongsuk juga dijuliki good kisser?" Imarasti tersenyum mengejek.
"Ah! Mana mungkin cowok kayak lo tau. Bodoh!" Lalu Imarasti menyandarkan punggungnya dan memencet-mencet asal remotenya.
Yuta menatap sisi samping wajah Imarasti selama beberapa saat.
Hingga kemudian Yuta merasakan jantungnya kembali bedegup tidak karuan ketika Imarasti menggerutu dengan bibir yang sesekali mengerucut.
Membuat kedua tangan Yuta mengepal erat.
"Jangankan good kisser, dia pasti nggak tau Lee Jongsuk itu siapa, ck ck!" Imarasti menggeleng pelan.
Tangan Imarasti baru saja akan kembali terulur untuk memindah channel namun Yuta lebih dulu merampas remote itu lalu membuangnya. Imarasti langsung menghadapkan tubuhnya ke arah Yuta berniat memarahi Yuta ketika tiba-tiba Yuta mendekat, menangkup pipi Imarasti membuat Imarasti menatapnya dengan mata membulat.
"Lo bener-bener mau liat? Liat gimana good kisser itu melakukannya?" tanya Yuta dengan nada serius.
Napas Imarasti terasa tercekat ketika merasakan hidung Yuta menyentuh hidungnya, ditambah tatapan serius yang Yuta tujukan padanya benar-benar membuat jantung Imarasti berdegup tidak karuan.
"Gue mau tunjukkin ke lo." Yuta memiringkan kepalanya dan menatap bibir Imarasti sekilas sebelum akhirnya melanjutkan, "Gimana good kisser itu melakukannya."
Dan di detik selanjutnya Imarasti benar-benar merasakan jantungnya melompat ketika bibir lembut Yuta menyentuh bibirnya. Ia bahkan merasakan kakinya tidak lagi menginjak bumi ketika bibir Yuta menyapu bibirnya, terus bergerak-gerak dipermukaan bibirnya hingga membuat kedua tangan Imarasti tanpa sadar mencengkram erat sisi sofa.
Yuta menarik tengkuk Imarasti, menciumnya lamat-lamat membuat Imarasti pada akhirnya turut memejamkan mata. Merasakan sensasi aneh yang membuat napasnya benar-benar tak beraturan.
Hingga beberapa saat.
Yuta memisahkan bibir mereka secara perlehan. Masih dengan hidung yang hampir bersentuhan, Yuta menatap Imarasti tepat di matanya. "Dia melakukannya kayak gitu. Dia juga bilang ke ceweknya kalo," Yuta menundukkan padangan sejenak, tersenyum tipis sebelum akhirnya kembali menatap mata Imarasti dan melanjutkan, "Dia nggak mau pisah sama cewek itu. Dia mau mereka tetep bersama. Karena cowok itu baru sadar kalo.. He love her, so much."
Imarasti terdiam menatap Yuta.
"Hmm.. Kayak gitu akhir ceritanya," ujar Yuta pelan.
Yuta menarik tangannya perlahan, mengalihkan pandangan ke arah lain sebelum akhirnya memutuskan untuk beranjak dari sofa, lalu berjalan menuju kamar dan meninggalkan Imarasti yang masih terdiam di tempatnya.
..
..
..
TBC