
"Imarasti, tunggu bentar." Yuta menarik pergelangan tangan Imarasti ketika gadis itu baru memasuki rumah.
Imarasti menghembuskan nafasnya malas kemudian menoleh dan menatap Yuta dengan tatapan kesal. "Apa?"
Yuta mendekat, melepaskan tangan Imarasti dari genggamannya lalu menjawab, "Maafin ak- ah gue. Gue bener-bener minta maaf."
Imarasti hanya diam sembari menatap Yuta.
Imarasti masih saja diam ketika Yuta kembali bersuara, "O-oya, mau makan? Gue siapin buat lo ya?" Yuta tersenyum kikuk.
Imarasti menatap wadah makanan yang berada di tangannya, lalu kembali mendongak dan menjawab, "Nggak perlu. Gue nggak laβ"
Terlambat.
Bunyi aneh yang berasal dari dalam perut Imarasti lebih dulu menyela. Hal itu membuat Yuta menahan tawa.
"Yaudah, gue siapin makanannya di meja makan ya?" kata Yuta sembari mengambil alih wadah-wadah makanan dari tangan Imarasti lalu berjalan menuju dapur sembari sesekali bercanda dengan Yuto yang berada di gendongannya.
Sementara Imarasti masih terdiam di tempat.
"Sial! Kenapa sih lo pake bunyi di saat yang nggak tepat?!" gumam Imarasti geram, memukul perutnya sekali kemudian melangkah cepat menyusul Yuta.
Imarasti memang belum sempat makan tadi. Ditambah menghadapi keadaan Yuto yang sakit untuk pertama kali benar-benar membuatnya sangat cemas. Kini gadis itu bahkan masih bisa bersikap pura-pura tenang setelah menghabiskan dua piring makanan yang dibawakan ibunya.
"Gue udah selesai," kata Imarasti yang membuat Yuta yang duduk di sebelah langsung menoleh.
"Yuto juga udah selesai," sahut Yuta sembari meletakkan mangkuk bekas bubur ke tengah meja. "Yuto sudah kenyang, sayang?" tanya Yuta sembari mengangkat tubuh Yuto dan mendirikan bayi itu di pangkuannya.
"Kalau nanti malem Yuto bangun atau nangis lo yang harus bangun dan urus Yuto!" kata Imarasti sembari menatap lewat ujung matanya.
Yuta mendekap Yuto, menatap wajah Imarasti dengan tatapan serius lalu menjawab, "Lo tenang aja. Gue akan jaga Yuto dan nggak akan biarin Yuto sakit lagi. Gue akan jadi papa yang baik buat Yuto dan lo nggak perlu hubungin mantan lo kalau terjadi sesuatu sama Yuto."
Imarasti langsung menoleh, menatap Yuta dalam diam.
"Jadi lo nggak perlu lagi malu sama dia," tambah Yuta kemudian menundukkan padangan dan melanjutkan, "Dan gue rasa sebaiknya lo jangan hubungin dia lagi."
Setelah mengucapkan kalimat-kalimatnya Yuta beranjak dari kursi lalu ia menuju tempat pencucian untuk mengambil air dan membersihkan mulut Yuto dari sisa-sisa bubur. Imarasti hanya terus menatap punggung Yuta dalam diam.
πππ
Memikirkan beberapa kejadian yang sudah terjadi hari ini benar-benar membuat tubuh dan pikiran Yuta lelah. Namun anehnya rasa kantuk tak kunjung datang. Yuta kini tidur terlentang, kepalanya sedikit bergerak untuk melirik Imarasti yang terlihat meringkuk membelakangi tubuhnya, dan jangan lupakan dua buah guling yang selalu berada di tengah-tengah mereka.
Yuta tidak tahu pikiran seperti itu datang dari mana. Tiba-tiba satu tangannya tergerak untuk mengambil satu guling yang ada di sebelahnya. Yuta mendekap guling itu sesaat, lalu menjatuhkannya ke lantai. Ia menahan napasnya ketika satu tangannya kembali menyentuh satu-satunya guling yang tersisa di antara dirinya dan istrinya. Yuta pun menariknya, namun ia baru saja akan mendekap guling itu ketika ujung matanya lebih dulu menyadari Imarasti bergerak yang membuatnya langsung melemparkan guling itu ke lantai dan cepat-cepat meringkuk membelakangi gadis itu dan pura-pura tidur.
"Lhah?! Ini batas sucinya pada ke mana?"
Yuta diam selama beberapa saat, memasang wajah pura-pura mengantuk lalu berbalik.
"Batas suci apa huh?" sahut Yuta dengan suara parau yang dibuat-buat.
Imarasti langsung duduk. "Gulingnya? Elo yang jatuhin?"
Yuta cepat-cepat bangun dan menutupi pandangan Imarasti agar tidak melihat guling yang jatuh ada di sisinya.
Imarasti menatap Yuta dengan tatapan kesal. Semakin kesal ketika Yuta kembali merebahkan tubuhnya lalu meringkuk membelakanginya.
Imarasti menggerutu pelan sembari membetulkan selimut dengan ogah-ogahan. Ia baru saja akan merebahkan tubuh ketika tiba-tiba cahaya kilat masuk melalui jendela kaca kamar, membuatnya langsung memeluk Yuta.
"AAAA!!!" Imarasti bahkan berteriak ketika mendengar suara petir yang menggelegar sampai membuat jendela kaca kamar mereka bergetar. Hal itu membuat pelukannya pada tubuh Yuta semakin erat sementara Yuta tengah menatap lurus ke depan dengan kedua bola mata yang membulat. Yuta terdiam selama beberapa saat. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat.
"Heh, apaan sih lo?!" Yuta berusaha melepas tangan Imarasti yang melingkar di perutnya.
Imarasti pun tersadar hingga kini ia langsung menjauhkan kepalanya dari belakang leher Yuta lalu menatap belakang leher Yuta dengan mata membulat. Gadis itu baru saja akan menarik tangannya dari pinggang Yuta ketika tiba-tiba lampu rumah mendadak mati.
"AAA!!"
Disusul suara petir yang kembali menggelegar membuat Imarasti kembali memeluk Yuta.
"Yutaaaa.. Ini kenapa?! Kenapa jadi gini?!" seru Imarasti frustasi.
Dada Yuta terasa semakin tidak karuan ketika Imarasti terus mendesak ke arahnya. Ia merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh punggungnya membuat Yuta menelan samar salivanya sendiri.
"Yuta, gue takut! Kenapa semuanya menjadi gelap? Kalau tiba-tiba ada kuntilanak gimana? Kalo tiba-tiba ada yang goyang-goyangin ranjang kita dari bawah terus dari bawah keluβ"
"Boncel, nggak usah lebay!" Yuta melepas paksa tangan Imarasti dari pinggangnya. Sungguh, Yuta sudah tidak tahan. Napasnya bahkan tersengal ketika ia terlentang sementara Imarasti langsung mendekatinya dan mengarahkan kepalanya ke arah Yuta.
"Yuta, hidupin lilin," ujar Imarasti dengan nada berbisik.
Beruntungnya kondisi kamar sedang gelap saat ini, meskipun cahaya kilat sesekali masih bisa masuk jendela kaca kamar jadi Imarasti tidak dapat melihat wajah Yuta yang terasa memanas.
"L-lo apa-apaan sih?!" Yuta mendorong tubuh Imarasti. "I-ini udah malem dan.. ng-nggak perlu nyalain lilin," ujarnya gagap.
"Nanti kalau Yuto kebangun gimana? Kasian kalau gelap."
"Yuto udah tidur nyenyak. Nggak mungkin dia kebangun. Udah ah gue mau tidur." Lalu Yuta kembali meringkuk membelakangi Imarasti dan menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya.
Imarasti memperhatikan sekitar, jendela kamar mendadak terlihat sangat seram ketika angin yang masuk menggoyang tirai warna putih itu, ditambah cahaya kilat yang sesekali masuk di susul hujan yang kemudian turun dengan deras. Akhirnya Imarasti mendekat perlahan, masuk kedalam selimut dan menghadapkan wajahya pada punggung Yuta.
"Yuta, gue takut."
Yuta berusaha menahannya, tapi bibirnya seperti melengkung ke atas di luar kendalinya hingga menciptakan senyuman tertahan ketika Yuta merasakan Imarasti mencengkram kaos belakangnya.
Ketika suara petir kembali terdengar, Yuta tidak bisa lagi menahan senyumnya ketika merasakan Imarasti membenamkan wajah di punggungnya disertai pekikan tertahan. Meskipun rasa kantuk belum juga menghampiri, tapi sepertinya malam ini akan menjadi malam yang indah bagi Yuta.
Ya, sepertinya.
..
..
..
TBC