What A Married?!

What A Married?!
Kamar Untuk Yuto



"Apa? Mindahin Yuto di kamar sebelah?"


Yuta mengangguk. "Iya, udah waktunya Yuto tidur di kamarnya sendiri."


Imarasti tidak menjawab. Ia hanya menatap Yuta dalam diam. Di atas tempat tidur, mereka masih duduk dengan punggung yang sama-sama bersandar pada bagian kepala ranjang. Di antara mereka, Yuto tampak terlentang sambil menikmati susu formulanya. Balita itu tampak tenang sembari sesekali menggerak-gerakkan kakinya di permukaan ranjang, dan dia akan mengoceh pelan setelah itu.


Imarasti menatap Yuta tak percaya. "Yut, Yuto masih dua setengah tahun dan kamu tega ngebiarin dia tidur di kamar sendiri? Gimana kalo dia nangis dan kita nggak denger?" Imarasti mendengus. "Ck! Kamu bener-bener Papa nggak berperasaan!"


"Imarasti, dengerin aku dulu." Yuta mencoba menjelaskan. "Kamu tau sendiri kan? Tempat tidur seluas ini kayaknya masih kurang buat Yuto. Dia tidur udah kayak baling-baling helikopter dan.. Ya, di sini."


Yuta tiba-tiba menarik satu tangan Imarasti dan menempelkan telapak tangan Imarasti ke permukaan dadanya. Lalu ia menunjukkan ekspressi sedih dibuat-buat dan melanjutkan, "Yuto nendang aku lagi semalem. Di sini sakit banget. Kamu nggak ada niatan buat nyembuhin?"


Kemudian Yuta mendekatkan wajahnya pada Imarasti. Sedikit menelengkan kepala, melirik bibir istrinya sekilas sebelum akhirnya menutup mata. Namun sayangnya Imarasti justru cepat-cepat memundurkan kepalanya.


"Yuta!"


Yuta membuka kelopak matanya. Menunjukkan wajah tanpa dosa dan menjawab, "Kenapa?"


Imarasti tidak menjawab. Ia justru menoleh ke arah Yuto yang entah sejak kapan balita itu sudah memperhatikan mereka.


Dengan botol susu yang tersisa sedikit yang tergeletak di sisi tubuhnya, dan dengan senyuman lebar, Yuto tiba-tiba terkikik pelan sembari menggoyang-goyangkan kedua tangannya.Yuta mendesis pelan melihat itu. "Ya ampun, dia mau ngintip.."


πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Karena Yuta yakin istrinya tidak akan pernah menyetujui rencananya tentang memindahkan Yuto di kamar sebelah, jadi Yuta memutuskan untuk mencari solusi lain. Hari selanjutnya, Yuta membelikan Yuto sebuah kasur lantai dengan lebar yang sama seperti tempat tidurnya. Dan yang terpenting, kasur lantai itu bergambar Masha and The Bear tokoh kartun favorit Yuto dan tentu saja Yuto sangat menyukainya.


"Papa! Papa!" Yuto memekik sembari menunjuk-nunjuk gambar wajah beruang yang ia duduki saat ini.


Yuto kemudian mengoceh tidak jelas. Lalu tengkurap dan mendekatkan wajahnya pada gambar wajah beruang, dan tertawa senang setelah itu.


Di bagian tepi tempat tidur, Yuta duduk sembari melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum puas. Sementara di sampingnya, Imarasti hanya bisa memperhatikan Yuto dengan tatapan takjub. Ah Yuto benar-benar tumbuh dengan baik.


Bahkan ketika Yuta baru datang dengan membawa kotak besar berisi kasur lantai itu, Yuto sudah antusias. Balita itu memekik sambil meloncat-loncat girang saat Yuta membuka kasur lantai itu dan meletakkannya di sisi tempat tidur mereka. Sejak saat itu, Yuto hanya sibuk dengan kasur lantai pemberian papanya. Berbicara juga hanya pada papanya dan mengabaikan mamanya begitu saja.


Dan sepertinya Imarasti mulai cemburu 😏


Imarasti pun berdeham pelan.


"Yuto," panggilnya, lalu turun dan tengkurap di atas kasur lantai Yuto, di sisi tubuh balita itu. "Ayo kita makan malam, sayang. Yuto laper?"


Yuto menggeleng cepat.


"Mama!" Yuto menatap Imarasti kemudian menunjuk-nunjuk gambar beruang itu dan kembali mengoceh, lalu terkikik senang. Yuto tampak senang sekali dan itulah yang membuat senyuman penuh kemenangan kini terukir di bibir Yuta.


Sepertinya Yuto benar-benar sudah jatuh cinta pada kasur lantai bergambar beruang dan anak kecil berbaju pink pemberian papanya. Yuto bahkan mengabaikan makan malamnya. Ia memilih menetap di atas kasur lantainya saat kedua orang tuanya menikmati makan malam di dapur. Yuto juga mengabaikan susu formula yang mamanya bawakan untuknya. Ia lebih senang bermain dengan bantal, guling, selimut, serta sebuah mobil-mobilan yang juga Yuta belikan untuknya.


Pada akhirnya, Yuto tertidur di atas kasur lantai itu dengan wajah yang damai. Memeluk guling kecilnya, di samping mobil-mobilan dan diselimuti selimut yang juga bergambar Masha and The Bear hingga batas dadanya.


Sementara di atas tempat tidur, Yuta dan Imarasti tidur saling berhadapan dengan selimut yang menutupi hingga batas perut mereka. Yuta menjadikan satu tangannya sebagai bantal untuk kepala istrinta dan ia terus menerus menatap istrinya dengan tatapan puas.


Yuta tersenyum tipis sebelum akhirnya ia berkata, "Nggak ada lagi baling-baling helikopter malam ini." Yuta mengeluskan ujung jemarinya di leher istrinya membuat istrinya merasa risih.


"Yut," Imarasti mendesis pelan sembari mencubit sisi perut Yuta membuat Yuta meringis pelan. "Kamu tega banget nyebut anak aku kayak gitu. Kamu keterlaluan!"


Yuta tersenyum ringan. Mendaratkan kecupa di bibir Imarasti sebelum akhirnya menjawab, "Sayang, kamu lupa ya? Yuto bener-bener nggak bisa diem pas tidur."


Imarasti melingkarkan satu tangannya di pinggang Yuta dan memeluk suaminya itu dengan hangat. "Dia mirip banget sama kamu.."


"Apanya?"


Imarasti tersenyum kecil. "Nenek sama ibu kamu juga pernah bilang kalo waktu kecil dulu, kamu sering jatoh dari atas tempat tidur."


Yuta mendengus malas mendengarnya. "Oh, mulai lagi bahas masa lalu. Sebaiknya kamu nggak usah sering gaul sama Nenek sama Ibu."


"Kamu nggak bisa diem waktu tidur sampe akhirnya ayah kamu juga beliin kasur lantai buat kamu. Dan waktu itu bahkan kamu belum sampai dua tahun. Ck! Kamu bener-bener nakal, Yuta."


Yuta turut melingkarkan satu tangannya di pinggang Imarasti dan menarik tubuh Imarasti semakin ke arahnya. "Stop, nggak usah ngungkit masa lalu. Yang terpenting, sekarang aku udah jadi laki-laki keren, seksi, tampan dan berhasil bikin kamu tergila-gila sama aku."


"Kamu yang lebih dulu tergila-gila sama akβ€”" Imarasti tidak melanjutkan kalimat karena bibir Yuta lebih dulu membungkam bibirnya. **********. Menyesapnya dalam-dalam membuat Imarasti akhirnya larut dalam suasana itu.


Setelah beberapa saat, Yuta memisahkan bibir mereka perlahan. Ia tersenyum, kemudian mengecup ujung hidung, pipi, mata, dagu dan kembali mengecup bibir Imarasti sebelum akhirnya bersuara.


"Kapan kita buat Yura? Kita udah sebulan wisuda.." ujar Yuta sembari tersenyum manis ke arah istrinya.


"Eh? Yura?"


"Iya, Yura.. Putri cantik kita, adik Yuto.."


"Maksud kamu?"


"Ayolah sayang..Β  Rara sama Chakra yang belum nikah jugaβ€”"


"Yuto masih terlalu kecil buat punya adik Yut," potong Imarasti.


"Tapi aku pengen punya putri cantikβ€”"


"Iya kalo yang keluar nanti cewek, kalo cowok kamu nggak mau ngakuin anak gitu?"


"Ya nggak gitu juga sayang.. Kalo belum dapet cewek kita buat lagi lah."


"Udah malem, Yuta. Cepet tidur. Aku udah ngantuk."


Yuta hanya mendesis pelan saat melihat Imarasti mulai menutup kelopak matanya.


"Good night, Mrs. Arthayuta," gumam Yuta yang akhirnya ikut memejamkan mata.


"Good night, Mr. Arthayuta."


Imarasti baru saja akan benar-benar tertidur saat tangan besar Yuta tiba-tiba merayap masuk ke dalam kaosnya, membuat mata Imarasti kembali terbuka lebar. Dan kini, ia mendapati Yuta tersenyum dengan mata yang masih tertutup sementara tangannya semakin menjalar naik perlahan.


Terus naik. Semakin naik dan...berhenti di tempat yang ia suka.


Ugh, seperti biasa.


πŸ‘πŸ‘πŸ‘


Saat Imarasti terbangun di pagi hari, ia tidak mendapati Yuta di sampingnya. Imarasti terdiam sejenak, lalu setengah bangkit untuk kemudian bergeser ke bagian tepi ranjang dan memperhatikan keadaan di bawah sana.


Imarasti tidak bisa menahan senyumannya. Lucu sekali, saat ia melihat Yuta dan Yuto tidur saling berpelukan di atas kasur lantai. Sungguh, tidak ada hal lain yang bisa membuat perempuan itu merasa bahagia selain melihat kedua pangerannya menampakkan wajah yang damai seperti saat ini.


Senyum Imarasti semakin mengembang saat ia memutuskan untuk turun dan ikut bergabung bersama Yuta dan Yuto. Ia tidur di belakang tubuh Yuta dan memeluk suaminya itu erat-erat. Tiga detik kemudian, Imarasti merasakan tangan besar Yuta menggenggam punggung telapak tangannya dengan hangat, membuat senyum Imarasti semakin mengembang setelahnya.


Lalu, Imarasti menutup matanya, sembari berdoa dalam hati agar ia bisa menikmati pagi ini sedikit lebih lama dari biasanya.


Ya, karena Imarasti tidak ingin melewatkan saat-saat seperti ini.


Saat-saat yang begitu membahagiakan bersama kedua pangeran tampannya.


.


.


.


.


.


.


FIN