What A Married?!

What A Married?!
Chaos!



"Yuta! Jangan lama-lama!" seru Imarasti.


Imarasti merasa semakin kesal karena Yuta bahkan tidak menanggapinya. Kini Yuta mulai menyeberang jalan dan semakin jauh dari pandangan Imarasti.


Imarasti mendengus kesal kemudian berjalan dan berdiri di depan sebuah toko. Ia memakan es krimnya dengan nada kasar dan bergumam, "Astaga, kenapa gue ada di sini? Gimana kalo ada temen gue yang liat? Dan gue..."


Seiring kalimat Imarasti yang menggantung, ia kemudian menunduk, menatap Yuto yang kini sibuk memainkan rambutnya yang menjuntai di bagian dada dengan bibir mengerucut, "Yuto, gimana kalo ada temen mama yang lihat kita?!"


Imarasti mulai memperhatikan sekitar dengan wajah tidak tenang.


"Gue harus bilang apa ke mereka? Masa iya gue harus jujur kalo gue udah nikah dan... astaga, gimana gue jelasin ke mereka tentang Yuto?"


Imarasti kemudian menunduk, menatap Yuto sembari sesekali memasukkan es krim ke dalam mulutnya membuat Yuto kini menatapnya dengan mulut terbuka sembari mencoba meraih mulut Imarasti dengan kedua tangannya.


"Oh, Yuto mau es krimnya juga?"


Imarasti langsung tersenyum ketika Yuto juga tersenyum padanya. Dan raut wajah Yuto berubah menjadi antusias ketika Imarasti mendekatkan es krim itu pada mulut Yuto.


"AA! Yuto buka mulut kamu sayang, AA—"


"Imarasti?"


Imarasti langsung menjauhkan es krim itu dari mulut Yuto ketika merasakan seseorang menyentuh bahunya. Ia pun menoleh, kemudian langsung terdiam ketika mendapati Keenan dan Inggit kini berdiri tepat di hadapannya. Disusul Joana, Johnny, Rara dan Chakra di belakang Inggit dan Keenan yang membuat Imarasti tanpa sadar menjatuhkan es krimnya.


"Ah sial! Kenapa gue baru inget kalau tadi mereka juga ngajakin gue sama Johan ke cafe di daerah sini.." batin Imarasti.


Yuto mulai menangis dengan gusar karena gagal mendapatkan es krim. Imarasti menepuk-nepuk tubuh Yuto pelan agar batita itu bisa tenang. 


"Yuto ssst.. Tenang sayang.. cup cup anak mama tenang ya.." gumam Imarasti pelan.


"Ma-ma??" Johhny menatap Imarasti bingung.


Keenan dan Chakra juga tengah menatap Imarasti bingung. Sedangkan Inggit, Joana, dan Rara memasang wajah cemas.


Imarasti kembali mendongak menatap teman-temannya, "Gu-gue sebenarnya mau cerita ke kalian tapi nggak hari ini. Gue—" Imarasti tidak melanjutkan kalimatnya ketika Johnny menyentuh bahunya.


Ya, Johnny sahabat Johan. Pikiran Johnny sekarang pasti sudah ke mana-mana melihat pacar dari sahabatnya tengah menggendong bayi, padahal ia tahu bahwa Imarasti ini anak tunggal. Tidak mungkin juga bayi itu adalah keponakan Imarasti karena Imarasti tinggal jauh dengan keluarganya yang lain.


"Sekarang. Sebaiknya lo ceritain semuanya sekarang," sahut Johnny dengan wajah yang serius.


Pada akhirnya Imarasti hanya menurut ketika Johnny menarik tangannya, membawa mereka semua untuk pergi bersama Yuto yang masih menangis dalam gendongan mamanya.


🍓🍓🍓


.


"Nikah?? Kakak udah nikah??"


Hanya helaan napas berat yang terdengar dari Yuta. Ia bahkan tidak lagi menatap Sonia yang duduk bersebrangan di hadapannya dan memilih menundukkan pandangan dengan satu tangan yang memainkan cangkir berisi coffe latte yang beberapa menit lalu tiba di meja yang mereka pesan.


"Kak, kakak lagi becandain aku kan? Kakak bilang kalau kakak udah nikah itu bohong kan? KAKAK PIKIR INI LUCU?!" Suara Sonia mulai meninggi di akhir kalimat membuat Yuta beralih menatapnya.


"Aku serius," sahut Yuta akhirnya, "Nenek yang bikin pernikahan ini terjadi. Dia yang jodohin aku.." Yuta kembali menunduk.


Yuta menatap kosong ke arah cangkir kopi di hadapannya, "Kamu sendiri tau kan kalo nenek adalah orang yang paling aku prioritasin. Beberapa hari ini sakitnya semakin parah, nenek selalu bilang kalau ini adalah waktunya. Kalau ini adalah saatnya untuk pergi. itu bikin aku sedih dan.." Yuta menatap Sonia. "Maaf Son, aku nggak bisa nolak permintaan Nenek."


Sonia merasakan dadanya sesak seketika. Matanya mulai memanas, bahkan tidak butuh waktu lama untuk air matanya muncul dari sudut-sudut matanya membuat Yuta turut merasakan sesak di dadanya.


"Sonia,"


Sonia mengangguk beberapa kali sembari menggigit bibir bawahnya. Menunduk karena ia bahkan tidak mampu untuk sekedar menatap mata lelaki yang sudah mengisi hatinya selama satu tahun ini. Hingga akhirnya Sonia memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya dan pergi.


"Sonia!" Yuta berseru kemudian langsung beranjak dari duduknya dan segera mengejar Sonia yang berjalan cepat. "Sonia, tunggu!"


Setelah keluar dari cafe, Yuta berhasil menarik pergelangan tangan Sonia, memutar paksa tubuh gadis itu lalu mendekapnya.


"Maafin aku," bisik Yuta tepat di telinga Sonia. "Sonia, maafin aku.."


"Lepasin aku, kak! LEPAS!"


Yuta menggeleng. Mempererat pelukannya sembari bergumam, "Nggak. Aku nggak akan lepasin kamu walaupun..." Yuta menunduk. "Sumpah, aku nggak ada perasaan apa pun sama dia."


Pergerakan tangan Sonia terhenti.


"Iya, aku bener-bener nggak ada perasaan apa pun sama dia, Sonia..."


Setelah diam selama beberapa detik, Yuta kemudian melepas pelukannya. Menangkup kedua pipi Sonia dengan ibu jari dan menghapus sisa-sisa air mata di pipi gadis itu.


"Jadi.. kakak masih sayang sama aku?" tanya Sonia dengan suara pelan.


Yuta mengangguk.


"Iya, aku sayang banget sama kamu dan.. kamu tenang aja, aku akan cari cara buat bilang ke Nenek biar aku bisa pisah sama dia."


Sonia kini benar-benar merasa lega. Ia tersenyum, lalu memeluk Yuta erat-erat, "Kak, aku sayang banget sama kakak!"


Yuta ikut tersenyum. Ia baru saja akan menjawab namun matanya lebih dulu menyadari bahwa kini Imarasti tidak berada di tempat yang semula ia tinggalkan.


"Imarasti.." gumam Yuta yang sangat pelan.


"Kak," Sonia melepas pelukan mereka, menatap Yuta disertai satu tangan yang mengelus pipi Yuta.


"Kakak mau kan nemenin aku ke toko buku? Ada buku yang harus aku beli, dan aku pengen ditemenin sama kakak."


Yuta menatap Sonia dengan senyuman yang terkesan dipaksakan sembari sesekali mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Imarasti, kemudian ia menyahut, "Ke toko buku yang biasanya?"


Sonia tersenyum manis, lalu mengangguk. "Hu'um. Kakak mau kan?"


Yuta kembali mengedarkan pandangan ke segala arah.


"Kak?"


Yuta menatap Sonia kemudian mengangguk. "Iya, aku anterin kamu."


Sonia tersenyum puas, merangkul lengan Yuta kemudian mereka pergi dengan Yuta yang sesekali memperhatikan tempat Imarasti berdiri tadi.


'Lo di mana sih, Imarasti?'


"Mobil Kak Yuta di mana?"


Yuta tak merespon pertanyaan Sonia. Ia masih memikirkan kemana perginya Imarasti.


"Kak Yuta?"


"Iya kenapa sayang?"


"Aku tanya mobil kakak di mana," jawab Sonya kesal.


"Oh itu, mobil aku tadi mogok di tengah jalan. Tapi aku tadi udah telfon bengkel."


Sonya hanya mengangguk mengerti.


"Pakai mobil aku aja kak nggak apa-apa."


Sonia mengapit lengan Yuta dan membawanya menuju tempat mobilnya diparkir. Semetara Yuta masih sibuk melihat sekeliling mencari keberadaan Imarasti.


'Lo di mana sih?'


..


..


..