
"Yuto, kamu duduk sini dulu ya sayang.." Imarasti mendudukkan Yuto di atas meja lalu ia memasang apron bunga-bunga di tubuhnya.
"Oke, hari ini Mama akan buatin bubur buat kamu sayang," ujar Imarasti kemudian tersenyum sembari mencubit gemas pipi gembul Yuto.
Yuto tersenyum senang, menggerakkan tangannya antusias ketika Imarasti mulai mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas dan meletakkannya di atas meja.
Gadis itu mulai memasak beras, lalu beralih pada beberapa jenis sayur dan memotongnya. Ia sedikit kerepotan ketika rambut panjangnya terus terjuntai ke sisi wajah, ditambah Yuto yang merangkak mendekatinya membuat Imarasti langsung menghentikan aktivitasnya memotong sayur.
"Yuto jangan ganggu Mama dulu, oke?" kata Imarasti sembari mengangkat dan mendudukkan Yuto ke tempat asalnya lalu memberikan sebuah apel pada Yuto.
Bayi lucu itu langsung menerima apel itu, tapi tiba-tiba ia mengercutkan bibirnya ketika tidak berhasil menggigit apel itu. Imarasti hanya tertawa melihatnya, sembari mengikat rambutnya asal lalu kembali memotong sayur.
Sesekali melihat resep di internet lewat ponselnya, Imarasti bahkan beberapa kali berlari kesana kemari ketika bau gosong muncul dari panci bubur.
"Astaga! Kenapa jadi gini?! πππ"
Tentu saja bisa gosong karena Imarasti sama sekali tidak mengaduk nasinya. Sungguh, Imarasti benar-benar amatir dalam memasak.
Imarasti menatap Yuto dengan tatapan kecewa tapi bayi itu justru menanggapinya dengan senyuman lebar. Hal itu membuat Imarasti memutar bola matanya dengan malas.
"Oke, Mama akan buatin lagi.. Ini demi kamu sayang. Fighting!" ujar Imarasti sembari mengepalkan tangannya di depan Yuto. Membuat bayi itu tertawa sembari menatap mamanya seakan memberi semangat sang mama.
Yuta baru saja keluar dari kamar. Menguap lebar di ambang pintu setelah bangun dari tidur siangnya yang nyaman. Yuta berjalan menuju dapur berniat mengambil segelas air putih di sana, tapi pergerakan kaki Yuta terhenti ketik ia melihat Imarasti.
Imarasti terlihat tengah memasukkan beberapa sayur ke dalam panci, terus berbicara pada Yuto karena bayi itu berusaha mengambil sayur yang hendak Imarasti masukkan ke dalam panci. Tak jarang Imarasti sampai harus berebut dengan Yuto.
"Ini sih bocah yang udah punya bocah namanya.."
Yuto bahkan mulai merajuk dan merengek ketika Imarasti memindahkan tubuhnya. Membuat napas gadis itu tersengal ditengah-tengah kondisi dapur yang lumayan berantakan.
Yuta tersenyum tanpa sadar, menyandarkan tubuhnya di tembok pembatas antara dapur dan ruang tengah kemudian memilih memperhatikan Imarasti dan Yuto di depan sana dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada.
Yuto langsung diam ketika Imarasti menggendongnya, membawa Yuto mendekati panci itu lalu mereka sama-sama tersenyum. Imarasti kembali berbicara pada Yuto, menjelaskan pentingnya makan sayuran. Padahal bayi itu tidak akan paham walaupun ia jelaskan panjang lebar. Sampai tiba-tiba bubur yang ada di panci itu meletup-letup yang membuatnya refleks berteriak sembari memeluk Yuto.
Yuta malah tertawa ketika Imarasti memekik. Imarasti terus memeluk Yuto supaya tidak terkena letupan bubur yang mulai masak. Seperti seorang ibu yang melindungi anaknya di Medan perang agar tidak sampai tertembak.
"Bodoh, lo cuma perlu kecilin apinya," gumam Yuta.
Imarasti kembali mendudukkan Yuto, merutukki kebodohannya setelah berhasil mengangkat panci itu dari kompor. Kemudian ia mendekati Yuto, tersenyum getir sembari mengelus pipi gembul bayi itu.
"Setidaknya mama berhasil buatin kamu makanan sayang.."
Yuta sekali lagi tersenyum tanpa sadar.
.
πππ
Yuta tengah duduk di atas tempat tidur, menyandarkan punggung di kepala ranjang sementara kedua tangan Yuta sibuk memainkan game di ponselnya.
"Yutakoyaki~"
Pintu kamar dibuka. Menampakkan Imarasti yang tengah menggendong Yuto disertai senyuman lebar di bibirnya. Imarasti langsung berjalan menuju ranjang ketika Yuta menatapnya dengan tampang bingung, lalu menunjukkan mangkuk yang sudah kosong di hadapan Yuta.
"Lo liat deh Yut, gue tadi buatin bubur buat Yuto dan dihabisin dong sama Yuto!" kata Imarasti bangga kemudian mendaratkan kecupan singkat di pipi Yuto membuat bayi itu tertawa senang. "Gue liat resepnya di internet, terus gue masakβ"
"Lo masak?" sela Yuta, kemudian memangku kedua tangannya lalu menatap Imarasti dengan wajah tanpa ekspresi. "Lo yakin dapurnya bakal baik-baik aja setelah lo masak?"
Imarasti terdiam.
"Denger," Yuta mendengus, "Kalo gue pergi ke dapur dan liatβ"
Imarasti mendadak merasa kesal lalu menarik kembali mangkuk di tangannya. Ia meletakkan tubuh Yuto di atas kasur, "Jagain dia!" ujarnya dengan nada ketus. Lalu berbalik dan melangkah kasar menuju pintu.
Imarasti bahkan menutup pintu kamar dengan cara sedikit membantingnya, menimbulkan bunyi brak cukup keras tapi justru membuat Yuta menahan tawa melihatnya.
Yuto merangkak lalu naik ke pangkuan Yuta, menguap lebar membuat Yuta langsung mendekap tubuh mungilnya.
"Oh, anak papa mau tidur ya?" gumam Yuta sembari mengelus pipi Yuto dengan lembut.
Pergerakan tangan Yuta terhenti dan menatap Yuto lembut. "Tadi Yuto makan bubur buatan Mama? Yuto suka?"
Bayi itu mengemut jarinya, menatap Yuta dengan mata yang sayu lalu tersenyum.
"Iya, Yuto.. kamu mulai menyukainya. Kamu mulai suka sama Mama kamu?"
πππ
"Yuta," Imarasti menepu-nepuk pelan lengan Yuta yang tengah tidur.
"......"
"Yuta, Yuto pup nih. Bantuin gue dong."
Kelopak mata Yuta langsung terbuka, lalu ia duduk sekedar mungumpulkan kesadarannya sementara Imarasti lebih dulu berjalan kembali menuju box bayi milik Yuto.
Yuta sudah merasa terbiasa dengan ini. Bangun di pertengahan malam hanya untuk mengganti popok, membuatkan susu bahkan membersihkan kotoran Yuto. Jadi jika Imarasti terkadang membangunkannya hanya untuk sekedar meminta Yuta menemaninya membuat susu untuk Yuto, Yuta tidak lagi merasa keberatan.
Ya, karena Yuta sudah merasa terbiasa melakukannya, bersama Imarasti.
Imarasti tersenyum setelah membuka popok Yuto di dalam kamar mand.
"Yut, lo liat nggak?"
Yuta hanya menatapnya tak mengerti.
"Pupnya Yuto," kata Imarasti sembari menunjuk kotoran di pantat Yuto. "Kayaknya pupnya Yuto udah kembali normal."
"Maksud lo?"
Imarasti menatap Yuta dan tersenyum, "Kata Inggit, gue harus rajin-rajin baca tentang gimana ngerawat bayi dan gue baca di internet, di sana bilang kalo kotoran yang normal untuk anak seusia Yuto harusnya ya kayak gini ini."
Imarasti menundukkan pandangan.
"Berarti pas kemaren Yuto rewel karena pupnya nggak normal, atau perutnya sakit," tambah Imarasti dengan suara pelan.
Kemudian Imarasti mendekatkan wajahnya di sisi wajah Yuto lalu tersenyum sembari berucap, "Kamu tenang saja sayang, mulai sekarang Mama akan bikinin bubur sehat setiap hari biar kamu nggak sakit perut lagi, hm?"
Yuto menguap lebar ketika Imarasti menarik kembali kepalanya. Imarasti mulai mengambil air di dalam gayung dan membersihkan kotoran di tubuh Yuto, sementara Yuta memandangnya dalam diam.
Lalu tersenyum.
..
..
..
TBC