
Suasana canggung menyelimuti seluruh sudut kamar Imarasti dan Yuta. Malam ini tidak ada lagi batas suci yang berupa dua guling di tengah ranjang karena masing-masing guling itu kini tengah dipeluk erat oleh pemiliknya. Imarasti dan Yuta kini tidur saling membelakangi. Keduanya sibuk menenangkan diri masing-masing karena sejak kejadian di depan televisi tadi jantung mereka masih terus bergemuruh, berdegup sangat kencang.
Imarasti menarik napas dalam-dalam lalu berdeham pelan sebelum akhirnya bersuara, "Ke-kenapa tadi..lo ngelakuin itu?"
Imarasti memeluk gulingnya semakin erat lalu melanjutkan, "Gue udah liat spoiler episode terakhirnya di internet dan akhirnya nggak kayak gitu."
Mata Yuta membulat, namun ia lebih memilih untuk diam dan memeluk gulingnya semakin erat.
"Lee Jongsuk emang nyium Han Hyojoo tapi.. dia nggak ada ngomong apa-apa setelah adegan itu. Videonya bahkan berhenti pas mereka masih ciuman," tambah Imarasti dengan takut-takut.
Imarasti memberanikan diri untuk berbalik. Melirik punggung Yuta lewat ujung matanya kemudian melanjutkan, "Jadi.. kenapa lo ngomong kayak gitu ke gue?"
Yuta masih tetap tidak menjawab. Hingga akhirnya ia merasakan Imarasti menusuk-nusuk punggungnya dengan ujung jari berulang kali.
"Yut," panggil Imarasti pelan.
Yuta menghembuskan napas cukup panjang lalu menggerakkan sedikit tubuhnya dan menjawab, "Ngomong apa? Gue lupa."
Jawaban Yuta terkesan tidak peduli. Membuat Imarasti langsung menatap laki-laki yang berbaring membelakanginya dengan mata membulat.
"Apa lo bilang?" Imarasti menatap Yuta tak percaya.
Kini Imarasti beralih duduk dan menatap punggung Yuta selama beberapa saat.
"Lupa lo bilang?!" seru Imarasti dengan suara yang mendadak meninggi sembari memukulkan guling di tubuh Yuta membuat Yuta langsung berbalik menatap gadis itu.
"Ck! Imarasti apa-apaan sih lo?!"
Imarasti diam selama beberapa saat, membalas tatapan kesal Yuta dengan tatapan galak tak kalah kesal.
"Jelasin ke gue Yutakoyaki! Kenapa lo ngomong kayak gitu dan kenapa lo... cium gue?" Imarasti mengucapkan dua kata terakhir dengan suara pelan.
Yuta menghela napas berat. Ia akhirnya duduk, menghadapkan tubuhnya pada Imrasti lalu menatapnya lekat-lekat.
"Apa lo bener-bener nggak ngerti?"
Imarasti menggeleng.
"Lo pengen gue jelasin ke lo?"
Dan kali ini gadis itu mengangguk.
"Lo yakin?"
Imarasti menatap Yuta dengan tatapan bingung. Ia mengerjap pelan dan ia baru saja akan bersuara namun kepala Yuta lebih dulu maju ke arahnya. Dan di detik selanjutnya Imarasti merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Membuat kedua matanya terbuka disusul detakan jantung yang tak beraturan.
Seperti ada ratusan kupu-kupu yang menggelitiki perutnya ketika Imarasti merasakan bibir Yuta bergerak-gerak di permukaan bibirnya. Kedua tangan Imarasti mencengkram ujung bajunya dengan erat, sementara matanya masih terbuka lebar menyaksikan wajah Yuta yang berada tepat di hadapannya dengan kedua mata Yuta yang tertutup.
Setelah beberapa saat, kelopak mata Yuta terbuka perlahan. Perlahan pula memisahkan bibirnnya dari bibir Imarasti.
"I love you, Imarasti." Yuta bergumam tepat di hadapan Imarasti dengan jarak hidung mereka yang hampir bersentuhan sembari menatap Imarasti tepat di matanya. "Hmm.. I think i love you, Imarasti."
Ciuman Yuta benar-benar membuat oksigen dalam paru-paru Imarasti seperti hilang entah kemana. Dan perkataan Yuta barusan berhasil membuat bibir Imarasti tekatup rapat.
Imarasti hanya memandang Yuta dalam diam. Gadis itu terus diam bahkan ketika Yuta mendaratkan kecupan singkat di bibirnya, lalu tersenyum. "Udah malem, ayo tidur."
Meskipun sempat ingin menolak ketika satu tangan Yuta merangkul bahunya, tapi kepala Imarasti justru mengangguk. Menurut ketika Yuta menarik tubuhnya dan membawanya untuk tidur berdampingan.
"Im," Yuta menundukkan pandangan, menyembunyikan wajahnya di sela-sela rambut Imarasti yang beraroma vanila lalu bergumam, "Apa gue boleh peluk elo?"
"Kayak gini," tambah Yuta, menyembuyikan senyuman tipis sembari menutup kedua matanya.
Imarasti masih tidak menjawab karena memang ia tidak mampu untuk berkata-kata. Ia terus menatap langit-langit kamar dalam diam. Namun tidak lama kemudian sudut-sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman kecil disusul kedua mata yang tertutup perlahan.
"Good night, Imarasti."
πππ
Yuta tengah memotong beberapa sayur di atas meja yang ada di dapur ketika Imarasti berjalan mendekat.
"Lo mau bikin sarapan? Lo masak apa? Woah! Bahkan lo pakai ini." Imarasti tertawa kecil sembari memainkan apron bunga-bunga yang dikenakan Yuta.
Sementara Yuta tengah menatapnya dengan wajah tanpa ekspresi.
Imarasti kembali mendekatkan kepalanya. "Lo lagi motong sayur? Mau gue bantu? Gue juga bisa motong sayur. Meskipun gue nggak bisa masak tapi waktu kecil ibu pernah ngajarin guβ"
Imarasti tidak melanjutkan ucapannya karena tiba-tiba Yuta meletakkan pisau di permukaan meja dengan kasar. Imarasti langsung mengatupkan bibirnya rapat sementara kepalanya langsung mendongak, mendapati Yuta yang masih menatapnya dengan wajah tanpa ekspressi.
Yuta berjalan mendekat, sementara Imarasti mundur perlahan hingga akhirnya pergerakan tubuh Imarasti terhenti ketika pinggangnya menyentuh sisi meja. Sedangkan Yuta terus mendekat lalu menumpukan kedua telapak tangannya pada permukaan meja di sisi pinggang Imarasti membuat tubuh Imarasti terkunci.
Napas Imarasti seolah tertahan ketika Yuta terus mendekatkan kepala ke arahnya. Hingga kini wajah Yuta hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, walaupun Imarasti sudah memundurkan kepalanya.
"Diem! Jangan berisik ato gue nggak akan segan-segan buat cium bibir lo."
Imarasti mendelik. "A-apa? Heh! Yutakoyaki lo bener-benerβ"
Imarasti langsung terdiam ketika bibir Yuta membungkam bibirnya.
Ya, seharusnya Imarasti menuruti kata-kata Yuta untuk diam dan tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Saat ini Imarasti kembali merasakan sensasi aneh ketika benda lembut itu bermain-main dengan bibirnya. Yuta bahkan mulai menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri, seolah mengerti dengan Imarasti yang mulai kesulitan untuk sekedar mendapatkan oksigen.
Pergerakan bibir Yuta terhenti ketika suara tangis Yuto terdengar samar di dapur. Yuta menjauhkan bibirnya dari bibir Imarasti, kemudian Yuta berucap, "Oh? Lo denger nggak? Anak lo nangis."
Imarasti terdiam, napasnya bahkan masih tersengal ketika Yuta menjauh darinya, kembali memotong sayur dengan wajah tanpa dosa.
"Imarasti?"
Imarasti menoleh. "Hah? Apa?"
"Anak lo tuh!" kata Yuta sembari memutar bola matanya dengan malas lalu melanjutkan, "Kenapa masih di sini? Lo mau lagi?"
Imarasti mendelik, langsung menjauh ketika Yuta menunjukkan seringaian padanya.
Napas Imarasti perlahan memburu sebelum akhirnya Ia berseru, "LO MESUM!" lalu Imarasti berlari meninggalkan dapur dan meninggalkan Yuta yang menatap kepergiannya dengan wajah datar.
"Cih! Ngatain mesum tapi lo nikmatin juga huh?! Si Boncel dasar.."
..
..
..
TBC