
"Kak,"
"....."
"Kak Yuta!"
Yuta kemudian sedikit mengangkat kepalanya untuk menatap Sonia yang jelas-jelas tengah menatapnya dengan tatapan sebal. Bagaimana tidak sebal? Dari tadi Yuta terus diam mengabaikannya. Mengajak bicara gadis itu pun tidak. Bahkan ia sangat yakin Yuta tadi juga tidak benar-benar menyimak ceritanya.
"Kakak kenapa sih? Kakak dari tadi diem mulu, nggak ngajakin aku ngomong. Kakak sakit? Apa udah terjadi sesuatu?" tanya Sonia sembari mendekatkan kepalanya dan menarik telapak tangan Yuta dari atas meja di samping coffee lattenya.
Yuta menarik tangannya dari genggaman Sonia lalu beranjak dari kursi. "Aku nggak apa-apa. Emm.. Aku mau ke toilet sebentar," ujarnya lalu pergi meninggalkan Sonia yang duduk di meja café yang berada di pojok ruangan.
Seperginya Yuta, Sonia menatap tempat duduk Yuta yang ada di depannya dengan tatapan kesal.
Tiba-tiba Sonia tersenyum miring sebelum akhirnya bergumam pelan, "Kenapa dia jadi gini sih? Atau jangan-jangan Kak Yuta udah—"
Kalimat Sonia terhenti ketika tiba-tiba ponsel Yuta bergetar di atas meja. Tanpa memperhatikan sekitarnya, Sonia langsung mengambil ponsel itu. Ia menatap layar ponsel yang kini menampilkan foto Imarasti yang tengah meringis, foto yang Yuta ambil ketika neneknya mencekoki Imarasti dengan ramuan anehnya, serta ada tulisan 'Mama Yuto' yang tertera di permukaan foto.
Sonia menatap layar ponsel Yuta dengan tatapan semakin kesal. Ia memperhatikan sekitarnya sejenak, lalu Sonia menggeser tombol merah yang tertera di layar. Ia bahkan me-nonaktifkan ponsel Yuta setelah itu.
"Nggak ada yang boleh ganggu kencan gue sama Kak Yuta malem ini," gumam Sonia lalu meletakkan kembali ponsel Yuta ke tempat asalnya.
Di balik sikap tenang Sonia yang menolak panggilan Imarasti dan mematikan ponsel Yuta begitu saja, Sonia mungkin tidak akan mengira bahwa Imarasti tengah panik di rumahnya saat ini.
"Kenapa dia malah matiin telfon gue sih?!" Imarasti berseru, menatap layar ponselnya dengan tatapan kesal.
"Yutaaa lo di mana sih, Nyet?" gumamn Imarasti dengan jemari yang kembali menyentuh layar ponselnya dengan geram. Menempelkan ponselnya di telinga, namun kali ini Imarasti semakin kesal ketika mendengar pemberitahuan bahwa ponsel Yuta tengah tidak aktif. "Yuta lo bener-bener keterlaluan...!"
Di atas tempat tidur, Yuto masih terlentang dengan tangis yang terdengar semakin keras seperti kesakitan. Hal itu membuat Imarasti langsung meletakkan ponselnya begitu saja dan beralih mendekati Yuto, mengangkat bayi itu dan memeluknya.
"Sayang tenang ya sayang.. Cup.. cup.." suara Imarasti terdengar lirih, ia merasa ingin menangis ketika mendapati tubuh Yuto terasa semakin panas dalam dekapannya, wajah Yuto bahkan terlihat sangat memerah.
"Yuto, tenang ya sayang.. Abis ini Mama bawa kamu ke rumah sakit, hm?" kata Imarasti sembari berjalan ke sana ke mari dengan Yuto yang masih ada di dekapannya.
Imarasti sudah mencoba menghubungi orangtuanya tapi ternyata mereaka sedang ada acara di luar kota. Lalu ia berniat menghubungi Nenek Tanu atau mertuanya tapi ia urungkan karena akan memakan waktu lama untuk mereka sampai ke sini. Ia tidak tega terus melihat Yuto menahan sakit.
Yuto berusaha berontak, ia semakin rewel membuat Imarasti bahkan kesulitan untuk sekedar mengambil ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur. Hingga kemudian setelah Imarasti berhasil mengambil ponsel itu, satu nama yang terlihat membuatnya terdiam selama beberapa saat. Setelah mendengar tangis Yuto yang semakin menjadi, tanpa pikir panjang Imarasti langsung memilih nama itu, lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Halo? Kenapa, Im?"
"Halo, Johan aku—"
🍓🍓🍓
"Imarasti, kamu tenang dulu ya.." Johan memutuskan untuk merangkul pundak Imarasti dengan kedua tangannya ketika Imarasti terus berjalan mondar-mandir di depan pintu ruang rawat Yuto dengan raut cemas yang terlihat jelas di wajah.
"Gimana aku bisa tenang?!" seru Imarasti sembari menepis kedua tangan Johan dari tubuhnya dan beralih menatap Johan dengan mata berkaca-kaca. "Dia anak aku Johan! Dan kamu liat? tubuhnya yang kecil itu panas tinggi dan..." tenggorokan Imarasti tercekat, napasnya tersengal karena tangisnya sehingga membuatnya tidak mampu untuk sekedar melanjutkan kalimatnya.
"Imarasti.." Johan mendekat, mengelus pundak Imarasti lalu melanjutkan, "Kamu nggak denger tadi apa kata dokter? Dokter bilang kalau Yuto cuma demam karena kecapekan. Mereka lagi meriksa Yuto, terus mereka akan kasih obat buat Yuto, dan kalau Yuto istirahat beberapa waktu dia pasti sembuh."
Imarasti mendongak, "Yuto pasti akan cepet sembuh kan, Johan?"
Johan mengangguk. "Hm, pasti."
Imarasti kembali menunduk sembari memilin-milin ujung bajunya sendiri. "Hari ini aku ngajak dia pergi main. Kami main sampai sore dan... ya, Yuto pasti kecapekan," kata Imarasti dengan suara lirih.
Johan menepuk-nepuk pelan pundak Imarasti. "Nggak perlu cemas sa- eum, Im, Yuto pasti akan cepet sembuh."
Johan menurunkan tangannya ketika Imarasti terus menunduk dalam diam. Terdengar helaan napas cukup panjang dari Johan sebelum akhirnya ia berbalik berniat duduk di kursi namun tangan Imarasti tiba-tiba menahannya.
"Johan,"
Kemudian Johan kembali menghadapkan tubuhnya pada Imarasti.
"Iya?"
Masih dengan kepala tertunduk, Imarasti semakin mendekat, kedua tangannya bergerak perlahan melingkar di pinggang Johan, disusul kepalanya yang kemudian ia sandarkan di dada Johan.
"Sebentar, biarin aku kayak gini. Cuma sebentar."
Dari awal, berita tentang pernikahan Imarasti adalah berita buruk sekaligus menyakitkan bagi Johan. Menghilangkan rasa cintanya pada Imarasti benar-benar tidak semudah melepas Imarasti dari sisinya. Bahkan sampai sekarang Johan belum berani bilang ke orangtuanya kalau gadis yang selama tiga tahun mengisi hari-harinya ini sudah menjadi istri orang lain.
Bohong jika Johan tidak merasakan jantungnya berdetak lebih cepat ketika Imarasti memeluknya seperti ini. Pelukan Imarasti itu membuat Johan mengingat berbagai kenangan ketika ia masih bersama Imarasti dulu. Seperti video dokumenter kebersamaan mereka terputar kembali di kepala Johan. Sungguh, ini menyesakkan menyadari bahwa gadis yang tengah memeluknya ini tak bisa ia miliki lagi.
Imarasti sempat menutup matanya dalam pelukan Johan. Namun kini kelopak mata Imarasti terbuka perlahan ketika ia merasakan Johan membalas pelukannya sangat erat. Tapi pelukan erat yang Johan berikan justru menimbulkan perasaan aneh bagi Imarasti, hingga akhirnya ia bergumam dalam hati, "Kenapa gue nggak ngerasain itu lagi? Kayak dulu. Kenapa gue nggak ngerasain jantung gue bergetar... kayak waktu Yuta meluk gue?!"
Ya, sebenarnya Imarasti tidak sepenuhnya kehilangan kesadarannya waktu ia sakit minggu lalu. Bahkan ia masih bisa merasakan betapa hangatnya pelukan Yuta dan betapa bergemuruh hatinya ketika Yuta memeluknya dengan erat. Ia juga masih mengingat bagaimana bibir lembut Yuta menyentuh keningnya kala itu.
..
..
..
TBC