
Yuta tengah memposisikan tubuhnya terlentang di atas tempat tidur. Dengan mengenakan celana pendek diatas lutut serta kaos rumahan berwarna putih polos, laki-laki itu meletakkan kedua tangannya di atas perut, menahan senyuman seraya menutup matanya ketika mendengar suara pintu kamar dibuka.
Yutq yakin suara derap langkah yang kini mendekati tempat tidur adalah milik istrinya. Tidak lama kemudian, ia merasakan tempat tidurnya bergerak pertanda seseorang—yang Yuta yakini adalah istrinya—naik ke atas tempat tidur. Yuta masih menahan senyuman sekuat tenaga. Hatinya berbunga-bunga. Ia berharap sang istri akan membangunkannya dengan kecupan cinta, pelukan hangat atau hal-hal manis lainnya. Bukan malah pukulan bantal yang tiba-tiba mendarat tepat di wajahnya.
Setelah bunyi bubh terdengar, Yuta mengerang, senyumnya memudar, kelopak matanya pun terbuka menampakan sorot mata yang bingung bercampur kesal yang kini Ia tujukan pada sang istri yang duduk di samping tubuhnya.
“Imarasti! Kenapa kamu mukul aku sih?!”
Imarasti meletakkan bantal yang Ia pegang di atas pangkuan, mendengus kesal. “Kamu ngomong apa ke Yuto, huh?”
Yuta langsung duduk menghadap istrinya, menunjukkan wajah tanpa dosa sembari menjawab. “Emangnya aku ngomong apa? Aku cuma nyuruh dia tanya kamu udah selesai datang bulan apa belum? Cuma itu. Nggak ada yang lain lagi yang kita omongin. Tapi.. kenapa kamu tiba-tiba mukul aku?”
Imarasti menatap Yuta tak habis pikir. “Astaga.. Yuta! Dari pada kamu sibuk ngurusin masalah datang bulanku, lebih baik urus aja perut kamu yang mulai buncit itu!”
Yuta terbelalak.
“Dan kamu nyuruh Yuto buat nanyain hal-hal semacam itu?” Omel Imarasti. “Arthayuta, apa kau bener-bener nggak ngertu? Udah aku bilang berapa kali sama kamu, jangan ngomong ke Yuto hal-hal yang belum seharusnya dia tau. Anakmu itu masih terlalu kecil Yuta! Tapi kamu malah—“
“Tunggu! Tunggu!” Yuta menyela, setelah Imarasti menghentikan bicaranya, Yuta melanjutkan. “Apa tadi? Buncit? Kamu bilang perutku buncit?!” Yuta tak terima, Ia merebut bantal dari pangkuan Imarasti lalu membuangnya ke sembarang arah. “Hei Imarasti! Lemakku hanya sedikit bertambah bukan berarti kamu bisa dengan seenaknya bilang perutku buncit!”
Imarasti baru saja akan berucap namun Yuta lebih dulu mendorong tubuhnya, membuat Imarasti jatuh terlentang lalu Yuta segera mendindih tubuh istrinya seraya menahan kedua tangan istrinya itu di sisi kepala.
“Yuta!!” Pekik Imarasti tertahan.
Yuta malah nyengir lebar. “Jadi gimana? Kamu udah selesai datang bulan ‘kan? Ayolah sayang..” Yuta menunjukkan wajah memelas. “Ini sudah lebih dari satu minggu! Eum.. aku rasa aku kurang olahraga lemak lemak di tubuhku jadi tertumpuk. Hihi! Aku bener ‘kan?” Yuta menunjukkan senyuman penuh arti sementara Imarasti menatapnya tak percaya.
“Ya Tuhan..”
“Emangnya kamu nggak kangen aku, hm?” Bisik Yuta seraya mendekatkan wajahnya ke arah Imarasti secara perlahan. “I Miss you so bad baby..”
Saat wajah Yuta semakin dekat, Imarasti menelan samar salivanya. Jika sudah seperti ini, Imarasti tidak tahu apa yang harus Ia lakukan. Tatapan Yuta yang seperti saat ini seolah mampu membuat jiwa dan raganya lumpuh seketika.
Yuta menutup mata saat jarak diantara wajah mereka semakin dekat. Perlahan, Imarasti pun menutup kelopak matanya.
Saat semakin dekat….
“Mama.”
Mata Yuta dan Imarasti sama-sama terbuka. Mereka langsung menoleh ke arah pintu dan mendapati putra kecil mereka tengah berdiri diambang pintu kamar sembari memeluk guling kecil bergambar choco train.
“Mama papa napain?” Tanya Yuto polos.
“H-huh?” Sahut Imarasti. Saat Ia memandang Yuta dan menyadari suaminya itu masih berada di atas tubuhnya, sekuat tenaga ia berusaha melepas tangannya, lalu mendorong tubuh Yuta membuat suaminya itu ambruk di sisi tubuhnya.
Yuta mendesis disertai ekspresi wajah yang kecewa. “Aish..”
Sementara Imarasti segera duduk menghadap putranya. “Eum.. Papa sama mama ngapa-ngapain kok sayang. Tadi.. tadi kepala mama agak pusing. Iya, pusing. Jadi Papa mau periksa kepala mama.” Imarasti kemudian menoleh ke arah Yuta. “Iyakan, Pa?”
Yuta malah cemberut. Ia tengkurap, membenamkan wajahnya pada permukaan bantal lalu berteriak. “Nggak tau!”
Membuat Imarasti langsung menatapnya dengan tatapan geram.
Sementara itu, Yuto bergegas menutup pintu kembali, lalu berlari mendekati tempat tidur kedua orang tuanya dan naik ke atasnya. “Ma, Yuto boyeh tidu tini? Yuto au tidu tama mama papa."
Mendengar itu, Yuta langsung mengangkat kepala, menatap Yuto dengan tatapan sedih dan berucap. “Yuti sayang.. Bukannya papa udah bilang sama Yuto? Anak laki-laki harus jadi pemberani. Anak laki-laki harus tidur di kamar sendiri—“
“Tentu saja boleh.” Sela Imarasti. Kemudian menangkup pipi Yuto seraya merapikan rambut tipis kecokelatan milik bocah itu. “Malam ini kita akan tidur bersama-sama, oke?”
Yuto tersenyum lebar. “Yeth!"
Imarasti kemudian menata tempat tidur mengabaikan Yuta yang menatapnya dengan tatapan kecewa. Ketika Imarasti berniat menidurkan Yuto di tengah-tengah mereka, Yuta mencegah istrinya.
“Tunggu bentar!”
Imarasti menatap Yuta tak mengerti. Lalu Yuta duduk dan mencondongkan tubuhnya pada Yuto, memegang kedua pundak Yuto sembari berkata. “Karena kita adalah laki-laki, kita harus lindungi mama. Biar mama nggak dimakan monster mengerikan, jadi biar mama tidur di tengah-tengah kita malam ini. Setuju?”
Mendengar itu membuat Imarasti memutar bola matanya dengan malas. Sementara itu, Yuto mengangguk menyetujui perkataan papanya dan mereka melakukan high five setelah itu.
*
*
Pada akhirnya Imarasti berada diantara Yuta dan Yuto. Wanita itu menghadapkan tubuhnya pada Yuto dan membiarkan Yuta memeluknya dari belakang.
“Mama.” Panggil Yuto disertai mata yang mulai sayu.
Imarasti mengelus sisi kepala Yuto dengan lembut. “Hm? Kenapa sayang?”
Yuto mengerjap pelan. “Ma, thekthi itu apa?”
Mendengar itu, mata Yuta yang semula tertutup kini terbuka lebar, senyuman tipis yang sempat terukir diwajahnya bahkan turut memudar.
“Apa? Sek..si?” Tanya Imarasti menatap Yuto tak percaya.
Yuto mengangguk. “Hm, thetsi. Tadi thore, waktu banja thama papa, ada foto yang bethaar, Ante Pevita. Papa biyang, itu foto Ante Pevita.”
Yuta terbelalak, mendadak gugup. Ia segara mengangkat kepalanya untuk melihat Yuto sembari menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan. “He-hei, Yuto. Sudah malam, kamu cepat tidur, ok? Bukannya tadi papa sudah beliin kamu ice cream—Akh!” Yuta meringis, langsung ambruk saat tiba-tiba Imarasti menyikut perutnya cukup kuat.
“Setelah itu?” Tanya Imarasti pada Yuto, nada bicaranya mulai terdengar sangat serius. “Apa lagi yang papa bilang sama Yuto?”
“Papa biyang,” Yuto kembali bercerita. “Ante Pevita thangat tantik, tinggi, dan thetsi.”
Sejenak, Imarasti menoleh ke belakang, melirik Yuta dengan tatapan mematikan yang langsung dibalas Yuta dengan cengiran lebar yang dipaksakan.
Setelah Imarasti menatap putranya, bocah itu kembali bercerita. “Papa biyang Ante Pevita tantik, tinggi, dan thetsi, tapi mama Yuto yang paying tantik di dunia. Thangat thangat taantiik! mama thekalang juga jago mathak. Mathakan mama juga yang paying enak di dunia.”
Yuta kembali mengangkat kepala, mengangguk-angguk sembari mengacungkan jempolnya pada Yuto.
“Oh ya?” Imarasti mendekap Yuto semakin erat. “Apa mama kayak gitu di mata Yuto? Terima kasih, sayang, mama sayang Yuto.” Imarasti menghadiahkan kecupan hangat di pipi gembul Yuto yang membuat Yuta langsung menatap Yuto dengan tatapan iri.
Yuto tersenyum senang. “Oya, mama. Jadi, thektsi itu apa? Di foto itu, Ante Pevita pegang thabun. Apa itu nama thabunnya?”
Imarasti memaksakan senyuman. “Y-ya, itu nama sabun nya. Itu pasti nama sabun nya, seksi.”
“Ooh.” Yuto mengangguk mengerti.
Yuta memeluk pinggang Imarasti erat-erat, mendekatkan wajahnya di belakang leher Imarasti sembari berbisik. “Im, jangan salah paham. Aku cuma liat poster di toko. Aku nggak bermaksud buat… tolong percaya sama aku. Lagian itu cuma poster, mereka pasti udah ngedit gambar aslinya sedemikian rupa sehingga keliatan seperti itu. Kamu tenang saja, hm? Dimataku kamu tetap wanita paling cantik dan paling seksi sedunia. Meskipun tubuhmu nggak setinggi Pevita Pearce dan—Akh!” Yuta kembali meringis tertahan saat Imarasti—lagi-lagi—menyikut perut Yuta, kali ini bahkan lebih kuat dari sebelumnya.
Imarasti bahkan menyingkirkan tangan Yuta dari pinggangnya, lalu wanita itu semakin mendesak ke arah Yuto dan memeluk Yuto semakin erat.
“Sudah malam sayang, sebaiknya tidur, hm?”
Yuto mengangguk. “Eum.” Lalu menutup mata dan memeluk guling kecilnya semakin erat.
Setelah selesai mengelus perutnya, Yuta kembali mendekati Imarasti. “Sayang..”
“Jangan deket-deket.” Kata Imarasti pelan, namun penuh penekanan.
“Imarasti..” Yuta menunjukkan wajah memelas. Menggigit bibir bawahnya, lalu mendempet ke arah istrinya itu dan kembali melingkarkan tangannya pada pinggang istrinya itu. “I love you.”
“Ish!" Imarasti berusaha menyingkirkan tangan Yuta dari pinggangnya. “Nggak usah pegang-pegang. Lepasin tanga kamu, Yutakoyaki!"
Yuta tahu istrinya pasti tengah marah dan kesal, terlihat jelas bagaimana Imarasti berusaha keras menjauhkan tangan Yuta dari tubuhnya. Namun entah mengapa, semakin lama melihat Imarasti seperti itu justru membuat Yuta semakin gemas. Yuta pun mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di belakang leher Imarasti sembari menahan senyuman gemas.
“Yut, aku lagi marah sama kamu, ngerti?” Ucap Imarasti sembari mencengkram tangan Yuta yang menempel di perutnya.
Yuta kemudian menjawabnya dengan gumaman. “Nggak. Aku nggak ngerti.”
Imarasti mendengus. “Yut, lepasin tangan kamu.”
“Nggakmau.”
“Yuta.”
“I love you.”
Imarasti mendengus pasrah. Merasa lelah, Ia juga tidak ingin tidur Yuto terganggu karena dirinya.
Lalu setelah melihat Imarasti sudah tenang, Yuta mengangkat kepalanya, menilik wajah Imarasti untuk kemudian mendaratkan kecupan hangat di pipi wanita itu. Yuta tersenyum gummy setelah itu. “Kamu udah nggaj marah sama aku?”
Imarasti membalas tatapan Yuta dan menjawab. “Urusan kita belum selesai.”
“Apa?” Sepertinya Yuta menangkap maksud yang lain, karena tiba-tiba saja pria itu menunjukkan senyuman yang terkesan misterius. “Jadi mau mau lanjutin tengah malam nanti? Atau besok pagi? Kalau Yuto masih tidur di sini gimana kalau kita ngelakuimnya di sova depan TV—“
“Heh!!” Pekik Imarasti, membuat Yuto tersentak dan kembali membuka matanya. Imarasti kemudian meminta maaf pada Yuto dan kembali menidurkan bocah itu. Setelah itu, Imarasti kembali menatap Yuta.
“Kenapa, hm?” Tanya Yuta.
“Ah! Ck! Nggak tau! Aku mau tidur.”
Imarasti kembali menghadapkan tubuhnya pada Yuto, mendekap balita itu semakin erat dan menutup matanya setelah itu. Yuta pun kembali merebahkan tubuhnya, memeluk Imarasti semakin erat, menutup mata disertai senyuman yang terukir di bibirnya.
_
_
“Sayang.. jangan lupa besok pagi, hm?”
“Ya, besok pagi. Aku akan bunuh kamu.”
“Maksud kamuu, bunuh dengan cinta kamu?”
“Dasar sinting.”
“Kalau gitu, kamu lebih sinting karena mencintai laki-laki sinting kayak aku.”
“Yutakoyaki!!!”
.
.
.
.
.