What A Married?!

What A Married?!
Yuta's Proposal



"Lo kenapa sih Han liatin gue mulu? Lo naksir sama gue? Gue udah punya suami!" ucapan itu terlontar dari mulut Imarasti ketika ia baru saja mendudukkan dirinya di kursi yang ada di gazebo.


Joana dan Imarasti baru saja bergabung bersama teman-temannya setelah usai memgikiti perkuliahan. Dan semua mata teman-temannya sebenarnya menatap aneh ke arah Imarasti, hanya saja kebetulan Handri yang kurang beruntung mendapatkan omelan Imarasti.


"Dih siapa juga yang naksir elo?! Yang ada gue pusing entar ngadepin lo yang hobinya ngroweng!" sahut Handri yang langsung dihadiahi Imarasti dengan decakan sebal.


"Jalan lo aneh! Habis ngapain lo?" lanjut Handri.


Sungguh, rasanya Imarasti ingin mengumpat. Kenapa pertanyaan itu terlontar lagi.


"Ngapain apaan *****?!" balas Imarasti.


"Soalnya cara lo jalan kayak orang yang habis diapa-apain!" timpal Teano yang langsung disambut tawa oleh yang lainnya.


Imarasti hanya mencebikkan bibirnya sebal. Mengabaikan yang lainnya, dan justru merampas snack kentang milik Rara.


"Dari tadi juga gue tanyain nggak ngaku dia. Padahal keliatan banget dari cara jalannya," kata Joana setelah tawanya reda.


"Yaudah sih mau ngapain juga bebas, udah halal juga kan?" ujar Inggit.


"Emang dia ngelakuinnya sama Yuta?" celetuk Chakra.


"Emang gue cewe apaan *****, kak!" sungut Imarasti.


"Yaiyalah lakinya kan si Yuta yang," ujar Rara sembari mendorong pipi Chakra menggunakan telunjuknya.


"Otak lakinya Rara tinggal separo emang!" seru Teano setelah melemparkan kulit kacang ke arah Chakra.


"Bukannya gitu, kan terakhir kita tau juga hubunga lo sama Yuta lagi nggak baik kan Im.." Chakra mencoba mebela dirinya sendiri.


"Eh tapi berarti bener dong kalo lo udah sama Yuta?" tanya Rara dengan senyuaman jahilnya sembari memainkan dua telunjuknya.


"Kenapa pada kepo sih sama urusan rumah tangga orang?!" ujar Keenan sambil masih menyisakan tawa.


Imarasti mendengus sebal, kemudian berucap, "Gue abis kejengakang di kamar mandi. Puas lo pada!"


"Anjay! Jadi kalian ngelakuinnya di kamar mandi?"


"Otak lo Ten astagaaaaa.. Berdebu banget!" seru Imarasti sambil menggelengkan kepalanya. "Lama-lama kepala lo gue vacum cleanner biar otaknya ikut kesedot sekalian."


"Jahat lo, Im! Si Cabe otaknya udah tinggal seperempat masa mau lo sedot pake vacum cleanner sekalian?" ujar Handri diiringi dengan tawanya yang langsung mendapat toyoran keras dari Teano.


"Makin nggak ngotak entar yang ada!" celetuk Joana.


"***** ya lo semua! Ngapa ujungnya jadi nistain gue?" sungut Teano tidak terima.


"Elo sih minta banget dinis-" ucapan Imarasti terpotong ketika ada seseorang yang menyentuh bahunya.


Imarasti pun mendongak, melihat tangan milik siapa yang menyentuh bahunya. Setelah tau ternyata itu adalah tangan suaminya, senyuman manis langsung terukir di bibir Imarasti.


"Oh, kamu udah selesai kelasnya?" tanya Imarasti dengan senyuman termanisnya.


Yuta membalas senyuman Imarasti sembari mengangguk dengan tangan yang terulur mengelus kepala istrinya ini.


"Oh kamu udah selesai kelasnya?" Teano meniru perkataan Imarasti kepada Joana sembari tersenyum yang sengaja dimanis-maniskan ke arah Joana.


"Najis lo, Be!" Joana refleks menoyor kepala Teano.


"Mampooooosss..." ledek Handri..


"Eh Yut, Imarasti habis kejengkang di kamar mandi?" tanya Chakra masih penasaran.


Imarastihanya merutuk dalam diam.


"Hah? Kamu abis jatoh?" tanya Yuta ke Imarasti dengan nada khawatir, lalu ikut duduk di samping Imarasti.


Imarasti menghembuskan nafasnya kasar. Menyibakkan rambutnya ke belakang karena tiba-tiba ia merasa panas.


"Woaaaah gue baru tau kalo kejengkang di kamar mandi bisa menyebabkan leher merah-merah," ujar Ten sembari menahan tawanya.


Dan Imarasti melupakan tujuannya menggerai dan menjuntaikan rambutnya ke depan. Ya, Imarasti melakukannya bukan tanpa alasan. Itu ia lakukan untuk menutupi sesuatu yang bernama hickey.


"Mau alasan digigit nyamuk?"


Baru saja Imarasti akan mengatakan hal itu, namun Joana lebih dulu melontarkan pertanyaan itu.


"Nyamuknya punya rambut Jo!" ujar Rara.


"Punya hidung juga pastinya!" tambah Inggit.


"Waaaaaah itu pasti nyamuk Osaka..." timpal Handri.


Raut wajah Imarasti kini sudah merah padam karena ledekan teman-temannya. Imarasti pun memilih bangkit dari duduknya dan menarik Yuta yang membuat Yuta ikut bangkit juga.


"Kita cabut duluan ya!" ujar Imarasti yang langsung menarik Yuta pergi dari teman-temannya.


Sementara Yuta hanya menatap Imarasti bingung.


"Weh Si Imarastong masih mau nambah kayaknya.."


"Inget tuh jalan aja masih belun bener!"


"Pasangan halal mah beda ya!"


Imarasti mengabaikan ledekan-ledekan dari temannya yang terus terlontar. Ia terus melanjutkan langkahnya. Dan semenjak itu Imarasti dan Yuta mendapati julukan sebagai pasangan halal.


πŸ“πŸ“πŸ“


Imarasti mendengus sebal, lalu melemparkan ponselnya asal di atas ranjang karena obrolan grup. Ya, jadi ledekan teman-temannya masih belum berakhir, dan masih terus berlanjut di grup.


"Kamu kenapa sih marah-marah gitu?" tanya Yuta yang kini tidur terlentang dengan Yuto yang duduk di atas perutnya.


"Anak-anak ngeselin!" ujar Imarasti sembari mengercutkan bibirnya sebal.


"Udah diemin aja, entar juga capek sendiri."


Imarasti tidak membalas perkataan Yuta. Ia ikut berbaring di samping Yuta, lalu memainkan tangan Yuto. Batita itu tertawa senang ketika mamanya menggenggam dan memainkan tangannya.


"Aku ada sesuatu buat kamu," ujar Yuta tiba-tiba.


"Hm? Apa?" Imarasti menoleh ke arah suaminya.


Yuta menunjuk tumpukan hadian yang ada di dekat lemari pakaian.


"Woaaaaah banyak banget! Itu buat aku semuanya???" Imarasti terlihat antusias melihat tumpukan kotak warna-warni yang berhiaskan pita itu.


"Ye kali?! Enggak lah!"


"Lhah terus? Kenapa itu ada banyak banget!"


"Biar kamu ada usaha buat dapetin hadiahnya," ujar Yuta datar, lalu ia menggelitiki perut Yuto yang membuat batita itu terkekeh karena geli.


Imarasti hanya menatap Yuta sambil berdecak sebal. Lalu ia berjalan ke tumpukan kotak itu dengan langkah gontai untuk mencari hadiahnya.


Sudah sekitar sepuluh menit Imarasti berkutat dengan tumpukan kotak itu. Namun ia hanya menemukan kertas koran yang digunting asal.


"Aaaa.. Yutakoyaki kamu ngerjain aku ya? Ini nggak ada semua.." ujar Imarasti, masih mengobrak-abrik isi kotak yang ada di hadapannya.


"Ada kok, cari aja dulu," balas Yuta yang masih sibuk bercanda dengan Yuto.


"Ah bodo ah aku capek!" kesal Imarasti.


Yuta mendesis sebal, menurunkan Yuto dari perutnya dan meletakkannya di ranjang. Lalu ia berjalan mendekat ke arah Imarasti. Mengusap kasar wajah istrinya, sebelum mengambil salah satu kotak kecil yang masih rapi.


Tanpa babibu Imarasti langsung mengambil kotak kecil itu dan membuaknya dengan semangat.


"Woaaaah.. Kalung?" manik Imarasti terlihat berbinar ketika melihat hadiahnya.


Yuta mengangguk sembari tersenyum lembut lalu berucap, "Gimana? Suka?"


"Suka banget!"


Yuta mengambil kalung itu dan berniat memasangkannya untuk Imarasti.


"Aku kasih kamu kalung, emm karena nggak lucu kan kalau di pernikahan kita ada dua cincin?" Yuta memasangkan kalung itu di leher istrinya.


Imarasti hanya diam menatap suaminya.


Kedua tangan Yuta terulur menyentuh bahu istrinya. Menatap Imarasti dengan tatapan serius.


"Kita udah menikah lebih dari tiga bulan tapi aku belum pernah bilang ini sama kamu. Jadi aku mau bilang sekarang.." Yuta menggantungkan kalimatnya.


Imarasti tampak penasaran dengan apa yang akan diucapkan suaminya.


"Imarasti, would you be part of my life? "


Imarasti mengerjap-ngerjapkan matanya, "jadi ini lamaran?"


"Bisa dibilang gitu.."


"Oh, jadi gitu? Kamu nidurin aku dulu baru kamu lamar aku?"


Yuta langsung melengos, menghembuskan napasnya kesal.


"Kamu tuh perusak momen banget ya?!" Yuta membuang muka.


Imarasti tertawa kecil melihat ekspresi suaminya. Lalu ia mendekat ke arah Yuta, menangkup pipi Yuta, berjinjit dan mendaratkan bibirnya di bibir Yuta yang membuat Yuta kaget hingga membulatkan matanya. Imarasti pun ******* lembut bibir Yuta membuat suaminya ini mengukir senyum di tengah kegiatan mereka.


Imarasti melepaskan pangutan mereka, lalu berucap dengan posisi hidung yang masih saling bersentuhan, "i'm yours, and i will be part of your life Mr. Arthayuta Tanubrata."


Yuta tersenyum mendengar apa yang dilontarkan istrinya barusan. Ia menarik tengkuk istrinya dan melanjutkan ciuman mereka. Ciuman yang lembut dan tidak ada kesan buru-buru yang sarat akan ketulusan.


Sementara Yuto kini tengah bertepuk tangan ketika melihat kedua orang tuanya masih saling mempertahankan tautan mereka.


"Oh, ada yang liat," kata Yuta, langsung menjauhkan bibirnya dan mengambil alih untuk memeluk Yuto.


Yuta tidur terlentang dan membiarkan Yuto tengkurap di atas dadanya, sementara Imarasti ikut berbaring di samping Yuta sembari mengelus-elus puncak kepala Yuto.


"Yuto, Mama sayang banget sama kamu sayang."


"Papa juga."


Yuto terkekeh geli ketika Yuta dan Imarasti menciumnya secara bersamaan. Dan batita itu kembali tertawa sembari bermain-main dalam pelukan kedua orangtuanya.


Mulai saat ini, detik ini, Yuta dan Imarasti berjanji akan menjaga anak mereka. Membiarkan rumah mereka dihiasi tawa kecil dan ocehan-ocehan yang terlontar dari bibir mungil batita ini.


Ya, mereka berjanji akan hidup dengan bahagia, bersama bayi kecil mereka.. Yuto Alvaro Tanubrata. Karena tujuan menikah adalah untuk bahagia, bukan?


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Imarasti, kamu denger? Anak kamu nangis."


"Iya, aku mau tengokin dulu."


"Eh, tunggu bentar."


"Apa?"


"Sebelum turun pakai dulu baju kamu sayang."


"Oh, sorry."


"...."


"Yutakoyaki!!! Kamu ngelakuin itu lagi?! Udah aku bilang aku lagi datang bulanβ€”"


"Kamu bohong."


"Yuta, kamu mesum!"


"Cepet pakai baju kamu atau aku nggak akan biarin kamu pergi satu senti pun dari ranjang."


"Astaga Yutaaa..."


"Cepetan Imarasti, anak kamu udah nangis."


"Ck! Yuto nggak boleh tau ini. Dia nggak boleh mesum kayak-Aa! Yuta!!!"


"Kan aku udah peringatin? Tapi kamu malah terus berisik dan nggak cepet turun dari sini."


"Yuto tolongin Mama!"


"Owh! Kamu denger? Yuto berenti nangis. Anak pintar."


"Yutakoyaki!!!"


"Sini kamu sayang.. Hihihi"


"....."


.


.


.


.


.


.


.