What A Married?!

What A Married?!
Childish



Ibunya Imarasti tampak kebingungan ketika melihat putrinya tiba-tiba ada di depan pintu. Apalagi ketika ia belum sempat bertanya, putrinya lebih dulu berjalan melewatinya, menuju kamar lalu menutup pintunya dengan gerakan kasar. Dan yang membuat ibunya semakin bingung adalah adanya sisa-sisa air mata di pipi Imarasti.


"Tadi ada sedikit masalah, Bu," kata Johan yang berdiri di ambang pintu dengan senyuman maklum.


"Sama suaminya," tambah Johan ketika ibunya Imarasti menatapnya dengan tatapan tak mengerti.


"Yuta?"


Johan mengangguk. "Saya tidak bermaksud ikut campur tapi.. sebaiknya Ibu biarkan Imarasti istirahat dulu."


Ibunya Imarasti masih saja diam ketika Johan membungkuk singkat di hadapannya, lalu kembali bersuara, "Saya pamit pulang dulu, Bu. Selamat malam."


Dengan wajah bingung ibunya Imarasti mengangguk pelan. "I-iya. Selamat malam."


Johan tersenyum lembut pada ibunya Imarasti sebelum akhirnya benar-benar pergi.


Ibunya Imarasti menatap jejak kepergian Johan, lalu menatap jejak Imarasti di ambang pintu kamar. "Ck! Ini anak bener-bener."


🍓🍓🍓


"Imarasti! Imarasti!"


Suara Yuta terdengar meninggi bersamaan dengan pintu rumah yang ia dorong hingga menimbulkan bunyi brak cukup keras. Yuta langsung berlari menuju kamar lalu membuka pintu dengan keras dan kembali berseru, "Imarasti!"


Yuta mendengus kasar ketika bola matanya tidak mendapati Imarasti di dalam kamar, bahkan ketika Yuta mencari di dalam kamar mandi, hingga akhirnya di dapur.


Yuta menghembuskan nafasnya kasar. Sekali lagi Yuta mengedarkan pandangan ke segala arah sebelum akhirnya berjalan cepat menuju ruang televisi.


"Lo di mana sih, Imarasti?" gumam Yuta pelan.


Yura pun berinisiatif mengambil ponselnya untuk menghubungi Imarasti.


"Huh? Kenapa HP gue bisa nonaktif?" monolog Yuta ketika mendapati ponselnya tidak aktif. Dan betapa terkejutnya Yuta ketika ia mulai mengaktifkan lagi ponselnya ada saeouluh panggilan dari Imarasti.


"Astaga pantesan lo semarah itu sama gue," ujar Yuta lalu mengusap wajahnya frustasi.


Tak lama kemudian tiba-tiba ponselnya bergetar. Ada pesan masuk dan ternyata itu dari mertuanya, ibunya Imarasti.


'Imarasti sama Yuto ada di rumah Ibu. Sebenernya Imarati melarang Ibu buat ngasih tau kamu. Tapi, Ibu rasa kalian harus bicara.'


Yuta tidak sempat menutup pesan itu dan langsung memasukkannya ke dalam saku celana begitu saja kemudian berlari menuju mobilnya.


"Kita emang harus ngomong, Imarasti."


🍓🍓🍓


"Yuta bodoh!" umpat Imarasti bersamaan dengan ujung jari telunjuknya yang menekan gambar wajah Yuta di layar ponselnya.


"Cowok macem apa lo ha?! Anak lo lagi sakit dan istri lo kebingungan tapi lo malah pacaran sama cewek lain di luar?! Brengseeeeeeekk!!!"


Imarasti membanting ponselnya di permukaan tempat tidurnya, "Yutakoyaki! Lo bener-bener suami yang..." kalimat Imarasti mengambang bersamaan dengan munculnya ingatan tentang pertemuannya dengan Sonia tadi.


Imarasti melanjutkan dengan suara pelan, "I know that you still love her, tapi.. tapi lo.." Tenggorokan Imarasti terasa tercekat hingga kemudian..


"ARTHAYUTA TANUBRATA! LO BODOH!!! ****! STUPID! SIALAN!"


"Imarasti?"


"Hm?" Imarasti langsung terdiam ketika ibunya muncul di ambang pintu, bersama dengan Yuto yang terlihat tenang di dalam gendongan ibunya.


"Malem-malem gini kenapa kamu teriak-teriak sih?" Ibunya Imarasti berjalan mendekat kemudian berdiri di tepi tempat tidur.


"Ibu udah kasih obat buat Yuto. Demamnya juga udah turun, besok pasti dia akan sembuh."


Yuto tersenyum lebar, dengan kedua tangan yang terulur ke arah Imarasti ketika ibunya Imarasti menyerahkannya pada Imarasti.


"Sebenarnya nggak baik kayak gini Im, nggak seharusnya seorang istri langsung pergi dari rumah ketika ada masalah sama suaminya," ujar ibunya Imarasti setelah menyerahkan Yuto di pangkuan Imarasti.


"Tapi Yuta bodoh, Ibu!" seru Imarasti. "Dia malah pergi pas Yuto lagi sakit dan aku kebingungan sendirian di rumah. Dia bahkan nggak angkat telfon aku."


"Yuta udah jelasin semuanya? Alasan kenapa dia pergi dan kenapa dia nggak ngangkat telfon dari kamu, apa dia udah jelasin?" tanya ibunya Imarasti.


Imarasti mengerjapkan matanya pelan, menunduk sembari mengelus-elus puncak kepala Yuto.


"Bahkan dia cuma diem aja Bu waktu aku marahin," jawab Imarati dengan gumaman pelan.


Ibunya Imarasti menghela nafas yang cukup panjang, lalu menggeleng pelan. "Hhhhh kenapa Nenek Tanu nyuruh anak-anak kayak kalian menikah sih?" Lalu ibunya Imarasti langsung pergi begitu saja meninggalkan Imarasti yang menatap jejak kepergiannya dengan tatapan kesal.


Bukan jawaban yang Imarasti dapat, melainkan pintu kamar yang ditutup agak kasar.


"Jelas-jelas Yuta yang salah kenapa Ibu ngomong kayak gitu?!" Imarasti bergumam dengan nada geram.


Ketika Imarasti menunduk, Yuto mendongak ke arahnya, mengoceh sembari memperlihatkan foto pernikahan Imarasti dan Yuta yang masih memenuhi layar ponsel. Yuto bahkan menunjuk-nunjuk wajah Yuta ketika batita itu kembali menunduk, dengan bibir yang mengerucut.


"Kasihin ke Mama, sayang.." kata Imarasti, merampas ponsel dari tangan Yuto lalu menghapus foto itu dari ponselnya. "Buat apa nyimpen ini di sini? hhhhh"


Kedua tangan Yuto terulur ke arah ponsel. Senyumnya kembali mengembang disertai tubuh yang melonjak-lonjak dalam pangkuan Imarasti ketika Imarasti menyerahkan kembali ponselnya pada Yuto. Namun tangis Yuto langsung pecah ketika ia tidak mendapati foto kedua orangtuanya di sana.


Imarasti mencoba menenangkan Yuto dengan mengangkat tubuh Yuto namun bayi itu justru melempar ponselnya ke sudut kasur. "Yuto, tenang ya sayang.. Cup..cup.."


Tangis Yuto semakin menjadi ketika Imarasti berusaha mendekapnya. Yuto malah berusaha berontak sembari mengulurkan satu tangannya ke arah ponsel.


Kemudian Imarasti menatap wajah Yuto dengan kedua alis sedikit terangkat. "Yuto mau liat foto itu?"


Lalu Imarasti mengambil foto pernikahannya dan Yuta yang berukuran besar yang ada di dinding ruang keluarga, lalu meletakkannya di hadapan Yuto hingga membuat tangis Yuto langsung terhenti.


"Imarasti?"


Imarasti langsung duduk ketika suara Yuta masuk ke dalam pendengarannya, bersamaan dengan pintu yang dibuka dan menampakkan sosok Yuta yang kini berdiri di ambang pintu. Yuto memekik dan langsung merangkak ke ujung kasur.


"YUTO!"


Membuat kedua orangtuanya sama-sama memekik dan segera mendekat ke ujung kasur.


Yuto tertawa pelan ketika kedua tangan Yuta dan kedua tangan Imarasti bersamaan menyentuh tubuhnya. Batita itu kemudian tersenyum sementara Yuta dan Imarasti hanya saling memandang dalam diam.


"Aku mau gendong Yuto," ujar Yuta setelah suasana hening sempat menyelimuti mereka selama beberapa saat.


Yuto langsung melingkarkan kedua tangan mungilnya di leher Yuta, mengoceh sembari menepuk-nepuk pundak papanya. Sementara Yuta hanya menatap Imarasti yang kini mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Maafin aku," ujar Yuta. "Aku nggak tau kenapa tiba-tiba HP-ku mati. Jadi aku nggak tau kalau Yuto sakit dan kamu juga.. lagi panik di rumah sendirian."


Imarasti masih menatap ke arah jendela kemudian melipat kedua tangannya di depan dada. Ia hanya mendengus setelah mendengar penjelasan dari Yuta.


"Im- oh? Yuta juga di sini?"


Imarasti dan Yuta langsung menoleh ke ambang pintu, mendapati ibunya Imarasti berdiri di sana dengan beberapa wadah makanan yang dibungkus di tangannya.


"Maaf kalau Ibu ganggu," kata ibunya Imarasti tersenyum nyinyir. "Ini, Ibu bungkusin makanan buat kalian."


"Iya, Bu." Yuta mengangguk.


"Ibu ngusir Imarasti?"


Dan sahutan Imarasti benar-benar membuat ibunya menghembuskan napas berat. "Imarasti,"


Tatapan serius dari ibunya sepertinya sudah cukup bagi Imarasti untuk segera turun dari kasurnya. Langsung berdiri sembari menatap ibunya dan Yuta dengan tatapan kesal.


Yuta sedikit menundukkan pandangan ketika Imarasti berjalan cepat ke arahnya. "Jangan pikir ini karena gue maafin elo! Gue melakukan ini karena Yuto, ngerti?"


Yuta hanya menatap Imarasti dalam diam, sementara Imarasti mendengus pelan sebelum akhirnya berjalan ke arah pintu, melewati ibunya begitu saja. Disusul Yuta yang kemudian melirik foto pernikahannnya yang tergeletak di atas kasur. Yuta tersenyum tipis, lalu berjalan menghampiri ibu mertuanya.


"Maaf, Bu. Kami udah ngerepotin Ibu," kata Yuta sembari mengambil wadah makanan dari tangan ibu mertuanya.


"Nggak apa-apa.." ujar ibunya Imarasti sembari mengelus kepala Yuto yang ada di gendongan Yuta. "Jangan diambil hati, Imarasti emang gitu, masih anak-anak."


"Ibu aku denger loh! Aku cuma lebih muda 10 hari dari dia dan ibu bilang aku anak-anak?!"


Ibunya Imarasti langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat. "Ya, kayak gitu," ujarnya kemudian.


Yuta hanya tersenyum maklum. "Kalau gitu kami pamit pulang dulu, Bu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Iya, hati-hati, Nak. Sampai jumpa Yuto!"


Setelah kecupan ibunya Imarasti mendarat di pipi gembul Yuto, bayi itu tersenyum senang ketika Yuta membawanya menuju Imarasti yang ternyata berdiri tak jauh dari mereka. Yuto bahkan semakin senang ketika Yuta mengajak Imarasti berjalan di sampingnya.


..


..


..


TBC