What A Married?!

What A Married?!
Shy



Setelah malam yang panjang dalam hidupnya Imarasti tetap harus bangun pagi seperti biasanya, aktivitasnya sebagai mama muda membuatnya harus selalu bangun pagi. Pagi itu ia baru selesai memandikan Yuto. Sembari bersenandung lagu anak-anak untuk Yuto, Imarasti menggendong Yuto yang ia bungkus lucu badannya dengan handuk.


"Satu-satu Yuto sayang..."


"Amamama.. Ama.." celoteh Yuto sembari tertawa. Membuat Imarasti ikut tertawa juga.


"Dua-dua Yuto sayang? Sayang siapa sayang?"


"Ppepaa papa.."


"Tiga-tiga sayang siapa lagi sayang?"


"Ppepaa papa pa.."


"Kok papa lagi?" tanya Imarasti. Dan di depannya ternyata memang ada Yuta yang tengah berdiri di depan mereka. Imarasti menunduk dan berniat langsung melipir pergi namun Yuta menghalangi langkahnya.


"Kamu kenapa sih ngalangin jalan aku? Minggir!" ujar Imarasti sembari terus menundukkan pandangannya. Ia benar-benar tidak berani menatap Yuta. Mungkin karena dia malu.


Bukannya menyingkir, Yuta justru mengikuti langkah Imarasti yang ada di depannya sambil tersenyum jahil. Karena sungguh melihat Imarasti salah tingkah seperti ini menjadi hiburan tersendiri bagi Yuta. Bahkan Yuto yang ada di gendongan Imarasti pun ikut terkekeh ketika papanya menghalangi langkah mamanya.


"Aaa.. Yutaa aku harus pakein Yuto baju. Aku nggak mau kita telat ngampus ya, mana kita harus nganter Yuto ke rumah Ibu dulu."


Tangan Yuta terulur menyentuh pipi istrinya, mencubitnya gemas lalu berucap, "Istriku lucu banget sih kalo lagi salting gini?! Apa lagi sambil ngomong aku kamu."


Imarasti menghela napas sebal, mendorong Yuta membuat suaminya itu sedikit menyingkir lalu berjalan begitu saja melewati Yuta. Sementara Yuto samkin terkekeh dan melonjak-lonjak kesenangan ketika mamanya berhasil melewati papanya.


"Tadi malem kamu cantik banget."


"BODO AMAT YUTA!!!"


Yuta tersenyum sambil geleng-geleng melihat istrinya yang semakin salah tingkah. Saking salah tingkahnya gadis itu, ah bukan, maksudnya perempuan itu sampai salah memasangkan popok Yuto, yang harusnya gambar kodoknya di depan jadi di belakang. Hal itu membuat Yuta tersenyum gemas melihatnya.


"Kenapa bisa kebalik gini sih?!" gumam Imarasti.


Percayalah, pipi Imarasti sekarang sudah merah bukan main.


Setelah mengantar Yuto ke rumah ibu Imarasti, Yuta dan Imarasti langsung berangkat ke kampus. Selama di perjalanan Imarasti terus saja terdiam, menghadap ke arah jendela mobil.


"Kamu kenapa sih? Kamu hari ini aneh banget," tanya Yuta, tersenyum lembut sembari melirik istrinya yang ada di sampingnya.


"Nggak apa-apa.."


"Nggak usah malu, lagian.." Yuta menoleh ke arah Imarasti sejenak  kemudian melanjutkan, "Kita akan sering melakukannya."


Imarasti langsung menoleh, membulatkan matanya menatap suaminya dengan pandangan tak percaya. "Kamu gila? Yang tadi malem aja masih sakit?!" sungutnya.


Ah Imarasti memang sepolos itu.


Yuta tertawa melihat reaksi Imarasti. Satu tangannya yang bebas terulur mengacak gemas rambut istrinya.


"Emang sakit banget ya?"


Imarasti mengercutkan bibirnya lalu mengangguk. Membuat Yuta semakin gemas dengan istrinya sendiri.


"Oke, maafin aku, hm?" tangan Yuta masih di kepala Imarasti dan mengelusnya lembut menggunakan ibu jarinya.


Tangan Imarasti terulur memegang tangan Yuta yang ada di kepalanya, menurunkannya lalu menggenggamnya kemudian tersenyum ke arah suaminya. Membuat Yuta menarik kedua sudut bibirnya ke atas, ikut tersenyum.


Tak lama kemudian Imarasti dan Yuta sampai di area parkir kampus. Ini kali pertama mereka sama-sama turun dari mobil, biasanya Imarasti akan turun beberapa ratus meter dari area kampus.


"Aku selesai kelas lebih lama satu jam, kamu nanti tungguin aku dulu ya."


Imarasti tersenyun lalu mengangguk sembari melepas safety belt-nya.


"Yaudah aku duluan ya.." ujar Imarasti sembari bersiap keluar mobil.


Belum sempat Imarasti memegang pintu mobil, Yuta menarik pergelangan tangannya cukup kuat hingga ia teduduk lagi. Dengan sigap Yuta mendaratkan bibirnya di bibir istrinya, menyecapnya lembut. Membuat Imarasti membulatkan matanya karena kaget.


"Selamat belajar sayang," ujar Yuta setelah melepaskan pangutannya, lalu berbisik di telinga Imarasti, "Jangan deket-deket sama Johan."


Kesadaran Imarasti masih belum sepenuhnya kembali. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya bingung.


"Kenapa masih di sini? Mau lagi?" tanya Yuta sembari tersenyum jahil.


Imarasti langsung menatap Yuta dengan mata memicing lalu membuka pintu mobil dan bergegas pergi. Meninggalkan Yuta yang masih tersenyum gummy sembari memandangi punggung istrinya yang mulai menjauh.


Johnny tersenyum sekilas ketika melihat Imarasti yang berjalan mulai mendekat.


"Gue duluan ya Im," pamit Johnny kemudian mengacak rambut Joana dan pergi.


"Lo ada apa sama Johnny? Kayaknya tadi lagi ngomong serius," tanya Imarasti.


"Kepo lo njiir.."


Imarasti hanya mencibir mendapati respon dari Joana. Kemudian mereka berjalan bersama menuju kelas.


Tiba-tiba Joana menghentikan langkahnya. Ia memperhatikan Imarasti dari atas sampai bawah. Imarasti yang mendapat pandangan tak mengenakkan dari Joana pun menatap Joana bingung.


"Apa?" tanya Imarasti dengan nada yang sama sekali tidak ada ramah-ramahnya.


"Kok lo jalannya aneh sih?"


Imarasti sedikit tersentak mendapati pertanyaan Joana. Ya, sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama dengan Joana. Rasanya sedikit sakit ketika ia berjalan. Dan ia tentunya juga sudah tau apa penyebabnya.


"Hah? Aneh gimana? Perasaan lo doang kali.." elak Imarasti.


Joana mencebikkan bibirnya.


"Abis ngapain lo?" Joana menunjuk wajah Imarasti menggunakan telunjuknya.


Imarasti menangakap tangan Joana dan menghempaskannya asal. "Apa sih?! Nggak ngapa-ngapain elah.."


"Heleh, bohong!"


Imarasti hanya mencibir.


Langakah Imarasti dan Joana terhenti ketika mendapati Johan dan Mia tengah berjalan berdampingan. Bahkan tangan Mia dengan nyamannya menggandeng lengan Johan.


"Are you okay?" tanya Joana menatap Imarasti khawatir.


"Hmm.." gumam Imarasti sembari mengangguk.


"Lo nggak jealous?"


"Kenapa harus jealous? Gue udah punya suami, Jo." Imarasti tersenyum lalu melanjutkan kalimatnya, "Gue harap Mia adalah cewek yang tepat buat Johan. Bukannya mereka serasi?"


"Woaaaah Imarasti.. Wow.. Jadi, jadi lo udah bisa nerima Yuta?"


"Why not? Yuta itu hot daddy asal lo tau.."


"Hhhhh.. Dasar lo! Belum juga genap seminggu lo ngatain Yuta sinting, bodoh, brengsek, nggak—"


Imarasti mengabaikan perkataan Joana dan melanjutkan langkahnya.


"Woy tungguin gue, Nyet!" seru Joana.


Akhirnya Joana berhasil menyusul Imarasti. Kini mereka berdua berjalan berdampingan.


"Jangan-jangan yang bikin jalan lo aneh kayak gini Yuta.." ujar Joana tiba-tiba.


"Berisik lo *****!"


"Hah?? Jadi bener? Lo udah—" Joana menggantungkan kalimatnya sembari memainkan kedua telunjuknya, lalu melanjutkan, "Sama Yuta?"


Imarasti tidak menjawab dan terus melanjutjan langkahnya.


"Imarasti lo beneran udah???"


"NGGAAAAAKK.."


..


..


..


TBC