What A Married?!

What A Married?!
Changed



Seharusnya saat ini Imarasti duduk di dalam kelas mengikuti perkuliahan. Namun dosen yang harusnya mengajar berhalangan hadir. Padahal Imarasti tadi sampai mengabaikan Yuto yang menangis ketika ia hendak berangkat ke kampus agar ia tidak terlambat di mata kuliah Prof Tjang yang tetkenal disiplin dan killer.


"Sial! Padahal gue udah bela-belain ke sini sampai ninggalin Yuto yang masih nangis." Imarasti berjalan ke luar kelas bersama Joana sambil terus menggerutu. "Yaudah gue pulang aja lah," lanjutnya.


Imarasti hendak berjalan menuju gerbang, tapi Joana menahan pergelangan tangannya. "Buru-buru amat elah. Ngumpul dulu sama anak-anak di kantin. Yuta kuliahnya masih nanti sore kan?"


Imarasti tediam sejenak, mengangguk sekali. "Iya deh."


Kini mereka tengah berada di kantin. Imarasti dan Joana bergabung dengan teman-teamannya yang lain.


"Tumben Si Imarasti ikut gabung?" tanya Handri yang sedang sibuk mengaduk mie ayamnya, sementara Imarasti hanya senyum sekilas menanggapi pertanyaan Handri.


"Dosennya ngga ada Han," jawab Joana.


Imarasti langsung mendudukkan dirinya di samping Rara. Di saat teman-temannya tertawa terbahak, Imarasti hanya terdiam. Pikirannya masih melayang, teringat Johan.


"Lo kenapa?" tanya Rara yang dijawab gelengan oleh Imarasti.


Imarasti mendongak dan maniknya justru mendapati Johan yang kebetulan juga ada di kantin bersama Mia, tapi mereka hendak pergi. Mata mereka sempat bertemu beberapa saat. Johan mengulas senyum, kemudian mengangguk menyapa Imarasti. Imarasti pun balas tersenyum, senyum miris.


"Lhah.. Lhah.. Si Johan kok malah pergi sih? Tumben ngga nyamper lo, Im?" ujar Ten heboh ketika Johan pergi menjauh.


"Lo berantem sama Johan? Biasanya romantis mele kayak Romeo Juliet." tanya Handri.


Imarasti masih terdiam, menunduk. Romeo Juliet? Ya, mereka sama-sama memiliki akhir cerita cinta yang miris.


"Dia udah tau semuanya," ujar Imarasti pelan. "Dia udah tau.."


"Maksud lo dia tau soal pernikahan lo sama Yuta?" tanya Inggit shock.


"Terus gimana?" timpal Joana.


"Ya nggak gimana-gimana." Imarasti tersenyum samar dengan mata berkaca-kaca, kemudian melanjutkan, "Dia ninggalin gue."


Air mata Imarasti lolos begitu saja. Rara langsung memeluk Imarasti yang ada di sampingnya sembari menepuk pelan bahu gadis itu. Tunggu, benar bukan Imarasti masih gadis terlepas dari statusnya?


"Dia bilang nggak seharusnya dia menjalin hubungan sama istri orang lain," gumam Imarasti yang masih terisak di bahu Rara.


Imarasti masih terus terisak, sementara teman-temannya menatapnya iba. Hanya Handri dan Ten yang memasang wajah bingung. Ya, karena mereka yang paling tidak tahu apa-apa di sini.


"Bentar. Gue bingung sumpah!" raut wajah Ten terlihat frustasi. "Jadi Imarasti udah nikah?"


"Nikahnya sama Arthayuta Tanubrata anak HI itu? Bukannya lo benci setengah ****** ama dia, Im?" sahut Handri.


Imarasti hanya terdiam, sibuk membersihkan air matanya menggunakan tisu dari Inggit.


"Ceritanya panjang. Ribet jelasinnya!" kata Johnny menengahi.


"Tapi gue salut dama Johan, dia bisa ngelepas elo dengan gentle Im," ujar Keenan yang diangguki oleh yang lainnya.


Berbeda dengan yang lainnya, Chakra malah mencebik lalu berkata, "Kalau gue di posisi Johan, udah gue bawa kabur Si Imarasti."


"Sesat lo, Chak!" Inggit melemparkan kerupuk pangsit milik Handri ke arah Chakra.


"Lhah cinta kan emang harus diperjuangkan!"


Perkataan Chakra barusan cukup membuat Imarasti miris.


"Udah sih nggak usah bahas itu lagi. Entar mewek lagi nih anak orang," tutup Rara.


Mereka semua pun mulai membicarakan hal random seperti biasanya untuk mengalihkan pembicaraan yang memicu kesedihan Imarasti. Mulai dari membahas dosen, tugas kuliah, sampai gosip-gosip yang ada di infotaimen.


Di saat mereka semua tertawa, tiba-tiba Joana yang duduk berseberangan dengan Imarasti mencolek lengan Imarasti. "Eh, lo kenal ama itu cewek?" Joana menunjuk perempuan yang ia maksud dengan dagunya, perempuan itu duduk di sisi kiri Imarasti yang lumayan jauh.


Imarasti pun refleks menolah ke arah yang dimaksud Joana.


"Imarastong ****! Jangan noleh!" geram Joana.


"Udah terlanjur," balas Imarasti datar, kemudian melanjutkan, "Emang kenapa?"


"Dia ngeliatin lo mulu dari tadi.. Mana tatapannya nggak enak banget. Pen gue colok matanya," ujar Joana.


"Emang lo kenal Im?" tanaya Inggit.


"Hah? Engg..nggak.." Sebenarnya Imarasti sedikit ragu karena ia familiar dengan wajah perempuan itu. Imarasti memejamkan matanya sejenak untuk mengingat-ingat siapa perempuan itu.


Dan Imarasti ingat siapa perempuan itu. Perempuan itu yang marah-marah ketika melihatnya bersama Yuto dan Yuta beberapa minggu yang lalu.


"Pacar Yuta," ujar Imarasti setelah membuka matanya. "Dia pacar Yuta. Gue baru inget."


Ya, dia adalah Sonia.


"Oalaaah pantesan..!" ujar Rara yang kini balas menatap Sonia dengan tatapan sinisnya.


"Lhah dia kabur baru gue liat gitu doang.." ujar Rara kemudian tertawa.


"Jangankan dia Ra, Chakra aja kicep lo tatap kayak gitu," ujar Ten yang langsung dihadiahi toyoran keras Chakra.


"Im, lo bareng gue sama Keenan aja pulangnya. Gimana? Abis ini kita juga mau balik kok," tawar Inggit.


"Nggak deh, Git. Gue nggak enak gangguin kalian pacaran."


"Elah Im kayak ama siapa aja. Biasa aja kali," ujar Keenan yang diangguki oleh Inggit.


"Bukannya gitu.. Mumpung masih bisa pacaran, nikmatin aja lah."


"Wuiiiihh.. Si Imarastong dalem ya?!" ceketuk Handri.


"Sialan lo, Im! Lo doain gue putus?" sungut Inggit.


"Enggak..enggak gitu maksud gue-"


"Yuta!" seru Joana sembari melambaikan tangan ke arah Yuta. Imarasti menghentikan perkataannya dan beralih menatap Joana seolah bilang 'lo ngapain sih, Jo?'. Namun Joana tak mengindahkan tatapan Imarasti dan malah melambaikan tangannya ke arah Yuta, mengajak Yuta bergabung bersama mereka.


Yuta menghampiri Joana dengan ragu karena ada Imarasti di sana. Imarasti hanya diam sembari memainkan tangannya di meja tanpa menatapa Yuta. Kemudian gadis itu mengingat sesuatu. Yuto.


Imarasti mendongak menatap Yuta. "Kok lo di sini? Yuto gimana?"


Yuta membulatkan matanya. Bisa-bisanya Imarasti membahas Yuto di depan teman-temannya.


"Santai aja, Yut.. Kita semua udah tau kok," ujar Joana dengan cengirannya. "Kita nggak ember kok, eh tapi nggak tau ding kalo Si Cabe Bankok," ujarnya sambil melirik Ten.


"Sampah lo, Jo! Gue ember juga ke kalian doang," sungut Ten yang disambut tawa yang lainnya.


"Yuto siapa emangnya?" tanya Handri bingung.


Namun tidak ada yang merespon pertanyaan Handri. Imarasti justru melanjutkan pertanyaannya ke Yuta. "Yuto gimana kalo lo di sini?"


"Yuto di rumah Nenek. Gue tadi ngumpulin tugas."


"Im, kenalin dong.." ujar Ten berniat menggoda Imarasti.


Ayolah, mereka semua sudah tahu tentang Yuta. Imarasti sering menceritakan betapa bencinya ia dengan Yuta setiap ia menghadiri acara yang di dalamnya juga dihadiri keluarga Tanubrata.


Yuta tersenyum sekilas ke teman-teman Imarasti. "Gue Yuta.."


"Suaminya Imarasti?" sahut Handri.


Yuta hanya tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya. Sementara Imarasti tidak menggubris mereka semua, ia sibuk dengan ponselnya.


"Aku mau pulang, kamu nggak bareng sekalian? Sekalian kita jemput Yuto," ujar Yuta ke Imarasti.


Imarasti mendongak menatap Yuta yang berdiri di sampingnya. "Hhah?"


"Aku mau pulang, kamu udah selesai kuliah kan?"


"Udah.."


"Yaudah ayo kita pulang.." Yuta menyentuh pundak Imarasti.


Seperti dihipnotis Imarasti pun nurut dan langsung bangkit dari duduknya.


"Gue duluan ya, guys.." pamit Imarasti yang diikuti Yuta. Yuta tersenyum ke teman-teman istrinya.


Mereka berdua pun berjalan menjauh dari area kantin. Dengan ragu tangan Yuta terulur menyampir di pundak Imarasti ketika mereka berjalan. Sementara di meja kantin yang tadi, teman-teman Imarasti masih terfokus memperhatikan pasangan itu.


"Gue pikir Imarasti bakal nikahnya sama Johan.." ujar Rara.


"Iya, gue juga ngiranya gitu *****. Mana Imarasti sama Johan udah tiga tahun dan jarang berantem kan," timpal Handri.


"Jodoh emang nggak ada yang tau sih.."


"Iya Jo bener.. Lo sekarang pacarannya sama Johnny, tapi siapa tau entar lo nikahnya sama Ten."


"LHAH NGAPA JADI GUE???" sungut Ten.


"SETAN! SIALAN LO YE GIT!!!!!"


..


..


..


TBC