What A Married?!

What A Married?!
Yuto, tolong bangun..



Pintu ruangan rawat Yuto dibuka. Bau obat-obatan yang khas langsung menyeruak dalam indra penciuman Imarasti. Sejenak, wanita itu memperhatikan seisi ruangan yang sebagian besar berwarna serba putih. Terdapat beberapa gambar ikan dan tanaman laut di salah satu permukaan dindingnya yang luas.


Di depan sana, tubuh mungil Yuto terbaring tak berdaya di atas tempat tidur. Dengan berbagai selang yang tersambung di tubuhnya membuat Imarasti tidak mampu menahan bendungan di matanya.


Imarasti menutup pintunya perlahan, seolah tidak membiarkan sedikit bunyi pun mengganggu tidur putranya—tidak. Yuto tidak sedang tertidur. Imarasti tahu betul bahwa balita itu tengah berada di ambang kesadaran. Dan itu yang membuat air matanya terus mengalir meskipun sekuat tenaga Imarasti berusaha menaikkan sudut-sudut bibirnya.


Menghapus jejak air matanya dengan gerakan kasar, Imarasti kemudian berjalan mendekati Yuto, duduk di kursi yang tersedia di sisi tempat tidur lalu menatap wajah Yuto lekat-lekat.


Tenggorokan Imarasti tercekat, Ia menunduk sembari menggerakkan kedua tangannya perlahan. Mengelus punggung telapak tangan Yuto selama beberapa saat sebelum akhirnya bersuara dengan suara pelan, “Oh? Apa sentuhan mama nyakitin kamu?”


Imarasti menatap wajah Yuto, lalu menarik kembali tangannya dan meletakkan di pangkuan. “Yuto, kamu lagi tidur sayang?” Imarasti mencoba tersenyum meskipun air mata yang mengalir seolah menepisnya. “Kamu pasti lagi mimpi. Kamu mimpi apa sayang? Apa kamu liat mama sama papa di mimpi kamu? Kenapa kamu nggak bangun sayang, apa kamu mimpi lagi main—berenang, kamu suka berenang. Yuto pasti lagi mimpi berenang, jadi kamu belum mau bangun kan sayang?”


Imarasti mendekat perlahan, lalu meletakkan kepalanya di sisi kepala putranya yang terbaring lemah kemudian menatap sisi wakah balita itu lekat-lekat.


Selama beberapa saat, Imarasti membiarkan suasana hening menyelimuti ruangan itu. Hanyut dalam perasaan bahagia yang bisa membuatnya sedikit tersenyum ketika mengingat masa-masa pertemuan pertamanya dengan Yuto.


Ketika pertama kali melihat wajah Yuto. Ketika pertama kali Ia berani menyentuh kulit halus Yuto. Ketika pertama kali Ia memandikan Yuto. Ketika pertama kali Ia memasak untuk Yuto dan membuat dapur berantakan juga bersama Yuto. Ketika pertama kali Ia terbangun di tengah malam saat mendengar tangis Yuto. Dan Imarasti tentu tidak akan lupa ketika Yuto mencoba menghiburnya ketika Imarasti sedang menangisi hubungannya dengan Johan waktu itu.


Waktu berjalan begitu saja membuat Imarasti kini menyadari, bahwa Yuto sudah menjadi bagian dari separuh jiwanya. Separuh jiwa yang sangat berharga dan Imarasti berjanji akan mempertahankannya apapun yang terjadi.


Karena sungguh, Imarasti tidak akan bisa hidup dengan baik jika separuh jiwanya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


“Yuto sayangnya mama..” Imarasti mengelus pelan lengan Yuto dengan ujung jari telunjuknya, tersenyum tipis sebelum akhirnya melanjutkan, “Kamu mau pergi ke mana setelah bangun nanti, hm? Mau pergi berenang lagi atau main di kolam bola? Ah! Kamu mau berenang ya. Okay, mama akan ngajarin kamu berenang tapi mama janji, mama nggak akan bikin kamu kecapekan biar kami nggak demam lagi. Janji.” Imarasti menautkan jari kelingkingnya pada jari keligking Yuto yang lemah.


Mendongak dan kembali menatap sisi wajah Yuto lekat-lekat. “Mama yakin kamu akan menjadi anak yang pintar sayang. Kalau kamu bisa bangun nanti.. Mama akan beliin kamu sepatu yang bagus. Kamu tenang aja, sebentar lagi mama sudah mulai bekerja di kantor pemerintahan seperti cita-cita mama sayang. Oya, kalau gajian pertama nanti.. kamu pengen mama beliin apa sayang? Mobil-mobilan? Atau robot? Eum.. Gimana kalau papa yang beliin mobil-mobilan terus mama yang beliin kamu robot?” Imarasti tersenyum bersamaan dengan air matanya yang kembali mengalir. Mengelus lengan Yuto lalu melanjutkan, “Ya, gitu lebih baik. Kamu pasti akan seneng dan langsung meluk mama dengan bahagia, iya kan?”


Pergerakan tangan Imarasti terhenti perlahan. Pandangannya kini kosong dan senyum perlahan memudar dari wajahnya.


“Makanya Yuto sayang...” Imarasti mengucapkan kata itu dengan suara pelan dan bibir yang bergetar. “Kamu harus bangun lebih dulu sayang. Kamu harus bangun Yuto.. Mama kangen sama Yuto. Mama.. kangen banget sama Yuto.” Lalu ia menyembunyikan wajahnya di permukaan kasur dengan isakan-isakan yang mulai keluar dari mulutnya.


“Buka mata kamu Yuto.. Please.. mama mohon. Buka mat kamu..”


Yuta masih berdiri di depan pintu, menyaksikan punggung Imarasti dari balik kaca transparan yang ada ditengah-tengah pintu ruang rawat Yuto.


“Yuta.”


Lelaki itu cepat-cepat membersihkan air mata yang tanpa Ia sadari meleleh begitu saja di permukaan pipi. Lalu menoleh untuk menghadap orang yang beberapa detik lalu menepuk pelan bahunya.


Ibunya Imarasti. Dan juga ada Ayahnya Imarasti di belakangnya.


“Ibu, Ayah.”


“Bagaimana keadaan Yuto?” tanya ibu Imarasti dengan nada cemas.


Yuta tersenyum tipis, “Yuto ada di dalam. Ada Imarasti yang jaga.”


Ibu Imarasti mendekat ke arah pintu, mengintip Imarasti dan cucunya yang berada di dalam sana.


Yuta menatap Ayah mertuanya itu dengan tatapan tak mengerti, “Bicara? Maksud Ayah?”


Sementara ayah mertuanya hanya diam, ibu mertuanya kemudian mendekati Yuta. “Kamu belum ketemu sama mereka?”


Dan kini tatapan bingung Yuta beralih pada Ibu mertuanya, “Mereka?”


Ibu Imarasti mengangguk, “Ya, orangtua kandung Yuto. Mereka sudah datang dari Jepang dan sudah berada di rumah sakit ini sekitar satu jam yang lalu.”


“A-apa?!”


***


"Imarasti.”


Wanita itu membuka kelopak matanya perlahan. Terkesiap ketika menyadari Ia sempat tertidur di sisi Yuto.


“Yuto..”


“Imarasti.” Yuta menyentuh bahu Imarasti, memaksa wanita itu agar menghadap ke arahnya.


“Yut, apa kamu lihat Yuto bangun? Aku lihat Yuto bangun dan dia lagi main..”


“Mimpi? Mungkin kamu sedang mimpi sayang..” sela Yuta. Sementara Imarasti menatapnya dalam diam, helaan napas berat terdengar dari Yuta sebelum akhirnya Ia kembali bersuara, “Kamu harus makan, Imarasti. Kamu belum makan dari pagi.”


Imarasti tak menjawab, menundukkan pandangan lalu kembali menghadap Yuto. “Aku yakin aku lihat Yuto bangun tadi. Yuto juga ketawa waktu lihat aku," ujarnya pelan, membuat dada Yuta kembali sesak ketika harus menghadapi Imarasti yang seperti ini.


Lelaki itu langsung menarik Imarasti dalam dekapannya, menyandarkan kepala Imarasti di dada bidangnya sementara satu tangan Yuta mengelus-elus lembut puncak kepala Imarasti.


“Im,”


Imarasti hanya diam.


Yuta kemudian menunjukkan senyum yang terkesan dipaksakan sebelum akhirnya melanjutkan, “Ada orang yang mau ketemu sama kamu.”


Kedua alis Imarasti sedikit terangkat, lalu menarik kepalanya dari dada Yuta dan menatap lelaki itu dengan tatapan tak mengerti.


Semakin tak mengerti ketika Yuta terus menunjukkan senyum paksaan padanya.


“Mereka nunggu kamu, di luar.”


.


.