What A Married?!

What A Married?!
Confuse



Sepulang dari taman Imarasti tidak banyak bicara. Ia hanya diam dan sesekali bicara seperlunya pada Yuta. Tingkah Imarasti benar-benar membuat Yuta bingung.


"Lo kenapa sih, Nyet?" tanya Yuta ke Imarasti yang baru saja menidurkan Yuto di box bayinya, sedangkan ia tengah berbaring di tempat tidurnya.


"Nggapapa," jawab Imarasti datar sembari berjalan mendekati tempat tidur.


"Nggak biasanya lo diem aja, biasanya ngroweng mulu."


"Gue diem lo bingung, gue berisik lo uring. Sebenernya mau lo apa sih?" sungut Imarasti yang membuat Yuta menatapnya bingung.


Imarasti mengabaikan tatapan bingung Yuta dan memilih berbaring di tempat tidurnya, kemudian memejamkan mata. Yuta melirik Imarasti yang berbaring di sampingnya menggunakan ujung matanya. Tangan Yuta terulur menyentuh hidung Imarasti dan mencubitnya gemas.


"AW!" Imarasti refleks memukul tangan Yuta sedangkan Yuta tertawa gemas. "Sakit Yuta!" Imarasti beralih memungungi Yuta.


Yuta tersenyum kecil melihat Imarasti yang merajuk. Entahlah, tidak mendengar omelan atau teriakan istrinya ini sedikit ada yang kurang menurutnya.


Beberapa menit kemudian Imarasti pun tertidur. Imarasti masih memunggungi Yuta, sedangkan Yuta menghadap punggung Imarasti sembari memeluk salah satu guling yang menjadi pembatas mereka.


Yuta terbangun di pertengahan malam. Melenguh pelan sebelum akhirnya berbalik, dan mengerutkan keningnya ketika ia mendapati hanya ada dua buah guling di sampingnya. Guling yang Imarasti letakkan di tengah-tengah tempat tidur sebagai pembatas antara mereka.


Yuta kemudian duduk, memperhatikan tempat tidur Imarasti yang terlihat kosong.


Kemudian memperhatikan sekitar sebelum akhirnya bergumam pelan, "Kemana lagi tuh bocah?"


Baiklah, jadi selama ini Yuta menikahi seorang 'bocah'?


🍓🍓🍓


"Yuto.. Ini susu buat kamu sayang.."


Bayi lucu itu langsung mendekap botol susu pemberian mamanya dan menyesap dotnya.


Imarasti menggendong Yuto dan membawanya menuju meja makan kemudian mendudukkan Yuto di atas sana, sementara Imarasti langsung menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Yuto.


Selama beberapa saat, Imarasti hanya diam. Memperhatikan Yuto yang masih sibuk menyesap dot susunya.


"Yutoo.." Imarasti mengelus kaki Yuto, lalu menunduk, "Dia ninggalin Mama." Imarasti tersenyum tipis, senyuman yang menampakkan kesedihannya.


"Mama udah sama dia selama tiga tahun. Tiga tahun Yuto, dan dia ninggalin Mama gitu aja."


Imarasti tertawa pelan, namun beriringan itu juga air matanya kembali menetes, "Mama sayang banget sama dia.Tapi kenapa semuanya jadi kayak gini?"


Imarasti mendongak, menatap Yuto, "Apa dia sudah nggak sayang sama Mama lagi? Huh? Apa dia nggak.." tenggorokan Imarasti tercekat.


Dari awalnya mengelus kaki Yuto, tangan Imarasti kini mengelus pipi Yuto, "Dia bilang kalau mama sudah jadi istri orang lain, mama bahkan udah jadi seorang ibu. Tapi..."


Tangan Imarasti perlahan turun dari pipi Yuto. Batita itu mulai melepas dot dari mulutnya ketika Imarasti menunduk, menyembunyikan wajahnya di pangkuan Yuto..


"Yuto, Mama sayang dia. Sayang banget!" tangis Imarasti tiba-tiba pecah.


"Yuto, Mama harus gimana? Yuto Mama sayang dia!"


Imarasti semakin terisak, sesenggukan demi sesenggukan terus-menerus terlontar dari mulutnya.


Dan Yuto.. Ia melepaskan botolnya begitu saja, kedua tangannya kini beralih menepuk-nepuk puncak kepala Imarasti yang berada di pangkuannya.


"Yuto, mama harus gimana?! Huh?!" Imarasti mendongak, menatap Yuto dengan wajah yang basah dengan air mata. "Yuto, dia ninggalin Mama.. dia ninggalin Mama Yuto.."



Yuto mencoba semakin mendekat ke arah Imarasti, sedikit merangkak lalu kembali duduk tepat di depan wajah Imarasti. Kedua tangan mungilnya menyentuh wajah Imarasti mulai pipi, hidung, bibir, bahkan mata Imarasti.


Mungkin jika Yuto bisa berbicara, ia akan mengatakan pada mamanya agar tidak menangis lagi. Karena sungguh, melihat mamanya seperti ini membuat Yuto ikut merasa sedih.


"Yuto.." gumam Imarasti pelan. Ia mendekat, lalu menarik Yuto dalam pelukannya.


"Yuto, jangan nangis sayang.." kata Imarasti meskipun ia kembali terisak.


Tangis Yuto semakin menjadi ketika suara isakan Imarasti kembali terdengar, membuat Imarasti langsung menutup mulutnya sembari mengelus-elus kepala Yuto.


"Yuto tenang sayang, Mama nggak akan nangis lagi." Imarasti melepas pelukannya, membersihkan sisa-sisa air matanya dengan gerakan cepat lalu tersenyum di depan Yuto.


"Cup.cup. sayang tenang ya..." Imarasti membersihkan air mata Yuto dengan kedua ibu jarinya.


Yuto berhenti menangis meskipun sesenggukan kadang masih keluar dari mulutnya. Ia mencoba berdiri sembari mengulurkan kedua tangannya pada Imarasti yang langsung di sambut Imarasti dengan pelukan.


Tangis Yuto mereda ketika Imarasti mempererat pelukannya, menepuk-nepuk pelan punggung Yuto sembari bergumam, "Jangan nangis lagi sayang... jangan nangis lagi. Hm?"


Imarasti melepas pelukannya, memperhatikan Yuto yang menatapnya sembari mengemut jemari dengan kondisi mata yang masih basah.


"Yuto.." Imarasti mengelus pipi gembul Yuto kemudian melanjutkan, "Kenapa... kedua orangtua kamu ninggalin kamu? Kenapa mereka ninggalin anak semanis kamu, sayang?"


Tentu saja Yuto tidak akan menjawab.


Bayi itu masih sibuk mengemut jarinya sembari sesekali menyentuh wajah Imarasti dengan satu tangannya yang bebas.


Imarasti tersenyum, "Nggak apa-apa sayang. Ini jauh lebih baik, mereka ninggalin kamu di saat kamu belum ngerti apa itu menyayangi, di saat kamu belum ngerti gimana rasanya sakit ketika orang yang kamu sayangi ninggalin kamu Yuto.. Nggak apa-apa sayang.." Imarasti mendaratkan kecupan hangat di kening Yuto cukup lama.


Lalu Imarasti mengelus puncak kepala bayi itu. "Oke, nggak boleh nangis lagi. Janji?" ujar Imarasti sembari menautkan jari kelingking Yuto pada kelingkingnya.


Yuto bahkan mulai tertawa pelan ketika Imarasti kesulitan menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Yuto yang kecil.


"Berhasil!" Imarasti mengangkat tangan mereka, "Mama janji nggak akan nangis lagi di depan kamu sayang."


Yuto mengangkat kedua tangan sembari berusaha melonjak dalam duduknya. Terlihat menggemaskan membuat Imarasti menatapnya dengan senyum yang semakin mengembang.


"Oh, Yuto bentar sayang." Imarasti melepas tautan tangan mereka, melepas jepit rambut di rambutnya lalu memasangkannya pada kepala Yuto. "Uuuuunch! Anak Mama cantik sekali. Eh? Cakep, maksud mama cakep. Utututu anak mama cakepnyaa.."


Yuto tersenyum lebar sembari mencoba mengambil jepit rambut di puncak kepalanya. Tapi Imarasti langsung menggelitiki perut Yuto membuat bayi itu seketika melupakan jepit rambut yang ada di kepalanya, lalu kedua tangannya beralih mencoba menyingkirkan tangan Imarasti dari perutnya disertai tawa kecilnya yang memenuhi seluruh sudut dapur.


"Gimana? Geli? Geli?" tanya Imarasti ikut tertawa bersama Yuto.


Dan tak jauh dari tempat mereka berada, Yuta berdiri sembari menyandarkan pundaknya di sisi tembok dekat dapur. Yuta tersenyum tipis ketika Imarasti mengambil Yuto dan mendekapnya dalam pangkuan, memasukkan kembali dot susu ke dalam mulut bayi itu.


Yuta menundukkan pandangan. Senyumnya bahkan memudar seiring perasaan ragu yang mulai masuk ke dalam hatinya.


Ya, Yuta mulai ragu.


Ragu apakah ia bisa terus bersama dengan Sonia.


Ragu apakah ia bisa mempertahankan pernikahannya bersama Imarasti.


Ragu apakah ia bisa menjadi papa untuk Yuto.


Yuta menatap Imarasti sekali lagi, sebelum akhirnya memutuskan untuk mundur, berbalik meninggalkan dapur dengan pandangan kosong ke depan. Kemudian ia berjalan ke arah ruang tamu dan mendudukkan dirinya di sofa, Yuta bergumam pelan, "Apa yang harus gue lakukan? Gue harus gimana?"


..


..


..


TBC