What A Married?!

What A Married?!
Their Feeling



Suara alarm ponsel terdengar nyaring hingga memenuhi setiap sudut kamar. Bukannya bangun, Yuta justru menutup kepalanya dengan bantal.


Hingga tiga puluh menit kemudian..


"Sial! Gue telat!!!"


Yuta berlari dengan gopoh menuju pintu kamar mandi. Memutar kenopnya tapi pintu itu tidak terbuka. "Imarasti? Lo di dalem?!" serunya, menggedor pintu itu beberapa kali.


"IMARASTI!" suara Yuta semakin meninggi ketika tidak ada jawaban dari dalam sana.


Yuta bahkan menggedor pintunya semakin kuat, "Boncel, Nyet! Cepetan weh! Gue ada kelas pagi nih!"


"Hey Imarasti? Kalau lo masih lama paling nggak lo ambilin lah alat mandi gue biar gue mandi di kamar mandi luar."


Selama beberapa saat, Yuta terus menggedor pintu dengan gerakan gopoh. Beruntung Yuto masih saja terlelap di dalam tempat tidurnya.


"Imarasti?! Heh lo tuhβ€”" kalimat Yuta terhenti ketika kenop pintu itu setengah berputar.


Yuta semakin mendekat saat pintu sudah terbuka, menampakkan Imarasti yang berdiri dengan kepala tertunduk.


"Heh, lo sengaja kan nggak cepet keluar dari kamar mandi biar gue telat ngampus?"


Imarasti hanya diam, kakinya baru saja akan melangkah namun keningnya lebih dulu menyandar di dada Yuta, kemudian tiba-tiba tubuhnya ambruk membuat Yuta langsung mendekapnya.


"Imarasti?"


Tubuh Imarasti terlihat semakin lemas. Lalu Yuta berusaha memperhatikan wajah gadis itu, mata Yuta membulat ketika mendapati wajah Imarasti yang sangat pucat.


"Imarasti?"


Helaan napas berat terdengar dari mulut Imarasti, bahkan terasa panas di dada Yuta yang kini masih mendekap Imarasti . Hingga membuatnya mendadak cemas. Lalu Yuta segera mengangkat tubuh Imarasti dan menidurkannya di atas tempat tidur.


"Imarasti, lo nggapapa kan?" tanya Yuta kemudian mendekatkan wajahnya sembari menepuk-nepuk pipi Imarasti. "Imarasti, jawab gue.."


Imarasti tidak merespon, matanya masih tertutup dan wajahnya tampak semakin pucat.


Yuta segera naik ke atas tempat tidur, mengambil selimut lalu menutupkannya ke tubuh Imarasti hingga batas leher.


"Imarasti?" Yuta kembali mendekat, menyentuh kening Imarasti dan merasakan panas di kening Imarasti. "Dia demam," gumam Yuta.


"Ini gue harus gimana?" Yuta menatap sekitarnya dengan tatapan panik. "Ah iya! Kompres!" serunya.


Yuta baru saja akan berbalik ketika tiba-tiba Imarasti mencengkram lengannya, terasa panas dan kuat membuat Yuta kembali mendekat. "Hm? Kenapa?" tanya Yuta lembut.


Imarasti memiringkan tubuhnya, memeluk lengan Yuta dengan helaan napas berat yang sesekali keluar dari mulutnya, membuat Yuta menatapnya dalam diam.


Dan pada akhirnya, Yuta ikut tidur berbaring di samping Imarasti. Memasukkan tubuh mereka ke dalam selimut dan membiarkan Imarasti memeluk tubuhnya. Menyandarkan kepala Imarasti yang masih terasa panas di dadanya.


Imarasti sedikit bergerak, tangannya semakin erat melingkar di pinggang Yuta sementara keningnya kini berhadapan dengan bibir Yuta yang membuat Yuta menahan napas selama beberapa saat.


Entahlah, Yuta merasakan jantungnya berdetak lebih cepat tiba-tiba. Hingga akhirnya tangan Yuta bergerak perlahan, melingkar di tubuh Imarasti dan menariknya. Memejamkan mata dan membiarkan bibirnya menyentuh kening Imarasti.


"Get well very soon, Imarasti.."


πŸ“πŸ“πŸ“


Mata Imarasti perlahan mulai terbuka, melenguh kecil. Ia menyentuh kepalanya yang masih sedikit pusing, kemudian tangannya mendapati kompresan di keningnya. Ia menoleh kanan dan kiri lalu bola matanya menangkap Yuta yang tengah berada di karpet sedang bercanda bersama Yuto.


"Ayo Yuto sini sayang liat Papa.."



"Ck, dia keliatan bodoh kalau kayak gitu," Imarasti tertawa kecil. "Apa dia yang ngelakuin ini semua? Gue pikir dia bakal biarin gue gitu aja.." gumam Imarasti pelan, memperhatikan Yuta yang mengajak bicara Yuto.


"Yuto, Mama lagi sakit.. Kamu nggak boleh rewel ya sayang, hm?" ujar Yuta yang disambut ocehan ringan bayi itu.


Melihat interaksi Yuta dan Yuto membuat Imarasti tanpa sadar menarik kedua sudut bibirnya ke atas. Ada perasaan hangat yang menjalar di dadanya.


Yuta mengangkat tubuh mungil Yuto, menggelitiki perut batita itu menggunakan hidungnya. Yuto terus terkikik geli sembari tangannya mencoba meraih kepala Yuta ketika Yuta terus menggelitikinya. Sampai tiba-tiba Yuto menangis keras karena tidak sengaja dagu Yuta membentur kening Yuto.


"Ssst.. cup sayang.. Maafin Papa ya Papa nggak sengaja.." ujar Yuta pelan sembari mendekap Yuto dan mengelus kepala bayi itu.


"Yuto, jangan nangis ya.. Mama lagi tidur, nanti mamaβ€”" Yuta menggantungkan kalimatnya ketika menoleh ke arah ranjang dan mendapati Imarasti yang sudah terbangun.


Lalu Yuta berjalan mendekat ke arah ranjang dengan Yuto yang ada di gendongannya.


"Tu kan Mama jadi bangun.." ujar Yuta.


Yuto masih menangis sembari menatap sendu Imarasti seolah mengadu kepada mamanya bahwa papanya lah yang membuatnya seperti ini. Imarasti tersenyum kecil, lalu bangun dan menyenderkan tubuhnya di kepala ranjang, tangannya terulur ke arah Yuto. Bayi itu langsung mencondongkan tubuhnya ke arah mamanya.


"Yuto mau ikut Mama?" tanya Yuta sembari menatap wajah Yuto, kemudian ia menyerahkan gendongan Yuto ke Imarasti. "Lo jagain Yuto dulu, gue ambilin makan buat lo. Dari pagi lo belum makan."


Tanpa menunggu jawaban dari Imarasti, Yuta sudah berlalu pergi ke luar kamar mereka. Imarasti tertegun memandangi pintu setelah Yuta keluar kamar.


Tidak lama kemudian Yuta sudah kembali dengan nampan yang berisi satu mangkok bubur dan satu gelas air putih. Yuta meletakkan nampan itu di meja dekat ranjang, kemudian mengambil alih Yuto yang kini sudah tenang.


"Lo harus makan.." ujar Yuta ke Imarasti.


"Nggak usah rewel, gue nggak bisa nyuapin elo. Gue lagi gendong Yuto." Yuta mengambil mangkok bubur itu menggunakan satu tangannya sedangkan tangannya yang lain ia gunakan untuk menahan Yuto di gendongannya.


Imarasti hanya diam menatap bubur itu dan Yuta bergantian.


"Ini lo yang masak?" tanya Imarasti.


"Di sini nggak ada orang lain selain kita bertiga kalo perlu gue ingetin," jawab Yuta dengan ekspresi datar.


Imarasti mengercutkan bibirnya sebal menanggapi jawabam Yuta. Sejujurnya tingkah Imarasti membuat Yuta gemas sendiri melihatnya.


Tangan Yuta terulur menjepit bibir Imarasti menggunakan telunjuk dan jari tengahnya gemas sembari terkekeh kecil, "Udah buruan makan! Walaupun gue nggak jago masak, tapi itu masih layak konsumsi kok."


Perlahan Imarasti pun mulai menyendok bubur itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Imarasti mentap Yuta kemudian tersenyum manis.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Yuta.


Imarasti tersenyum lagi ke arah Yuta, "Enak πŸ˜„"


Yuta tersenyum simpul.


Tidak butuh waktu lama bubur itu sudah disantap habis oleh Imarasti. Yuta meletakkan Yuto di samping Imarasti, membereskan mangkok bekas bubur itu di atas meja. Lalu ia beralih ke Yuto dan menggendongnya lagi.


"Oke Yuto, biarin Mama istirahat. Kita main di luar ya.." baru saja Yuta hendak melangkahkan kakinya ke luar tapi Yuto menangis sembari memanggil-manggil mamanya dengan tangan terulur ke arah Imarasti.


"Biarin Yuto sama gue, Yut.."


"Lo kan lagi sakit?! Istirahat aja udah.."


"Baringin aja Yuto di sini.." Imarasti menepuk ranjang di sampingnya, kemudian melanjutkan, "Cuma nemenin Yuto tidur ngga akan bikin gue capek. Ini jamnya Yuto tidur siang. Makanya dia agak rewel."


Yuta mengangguk sekali lalu membaringkan Yuto di samping Imarasti. Bayi itu tampak senang ketika dibaringakan di samping mamanya, ia tersenyum sembari tangannya ia gerak-gerakkan semangat.


"Yuto, cepet bobo ya..." ujar Yuta kemudian berjalan menjauhi ranjang.


Yuta hendak berbalik memunggungi ranjang dan pergi, tiba-tiba Yuto menangis sembari memanggil-manggil papanya. Yuta pun berbalik, lalu berjalan mendekati Yuto.


"Kenapa sayang? Hm?" tanya Yuta lembut.


"Kayaknya dia pengen lo temenin, dia nggak mau lo tinggal.."


Yuta menatap Imarasti bingung.


"Lo tidur juga sih, temenin Yuto," tambah Imarasti.


Yuta tersenyum, kemudian ikut naik ke atas ranjang dan ikut berbaring. Imarasti dan Yuta kini sama-sama menghadap Yuto yang matanya mulai sayu karena mengantuk.


Di saat perlahan Yuto mulai terlelap, tanpa sengaja mata Imarasti dan Yuta bertemu. Mereka saling tatap cukup lama. Sampai akhirnya mereka sama-sama membuang pandangan ke segala arah karena keadaan jantung mereka yang tidak karu-karuan ketika mata mereka bertemu.


Suasana menjadi hening beberapa saat hingga Imarasti buka suara.


"Yut, maafin gue.."


"Maaf buat apa?"


"Gara-gara gue, lo jadi ngga ngampus hari ini.."


Yuta tersenyum lembut, saking lembutnya sampai bisa membuat perasaan Imarasti menghangat.


"Nggak masalah, yang penting lo cepet sembuh.."


"Harusnya lo tetep ngampus aja tadβ€”" ucapan Imarasti terpotong karena Yuta meletakkan telunjuknya di bibir Imarasti.


"Gue nggak akan nelantarin istri gue yang lagi sakit. Gimana pun juga lo tetep tanggung jawab gue."


Perkataan Yuta barusan membuat Imarasti tertegun.


"Sekarang lo istirahat ya.." tangan Yuta terulur mengelus pelan kepala Imarasti dengan lembut sembari memejamkan matanya.


Imarasti mengulas senyum, lalu perlahan ikut memejamkan matanya.


Ya, mereka bertiga tidur bersama.


Biasanya ada dua guling yang menjadi pembatas antara Imarasti dan Yuta, kini guling itu telah disingkirkan dan digantikan oleh Yuto.


Biasanya mereka tidur saling memunggungi, kini mereka tidur dengan saling berhadapan.


Hari ini semuanya berubah, semuanya tidak berjalan seperti biasanya. Apakah perasaan mereka juga mulai berubah?


..


..


..


TBC