What A Married?!

What A Married?!
Kunjungan Nenek



Pagi-pagi sekali di hari Minggu Nenek Tanu sudah berada di rumah Yuta dan Imarasti. Kini pasangan suami istri itu sedang menatap nenek Tanu dengan tatapan tak mengerti ketika Nenek Tanu sibuk dengan botol minuman di tas yang ia bawa.


"Jadi gimana kalian udah berencana ngasih adik buat Yuto?"


"Apa?! Adik?!" seru Yuta dan Imarasti bersamaan.


Nenek Tanu mengangguk sekali, sementara Yuta dan Imarasti kini saling memandang dalam diam, dengan mata yang sama-sama terbuka lebar. Bagaimana tidak? Mengurus Yuto saja mereka sudah kuwalahan.


"Imarasti, ayo bantu nenek bawa ini ke dapur," ujar Nenek Tanu sembari mengangkat botol minuman yang ia bawa.


Imarasti pun bangkit dari duduknya, menyerahkan Yuto yang sebelumnya ia pangku kepada Yuta kemudian ia pergi ke dapur bersama Nenek Tanu.


"Nenek bikin minuman ini sendiri. Ini terbuat dari gingseng sama jahe yang sangat bagus buat stamina kamu."


Imarasti menelan samar salivanya. "J-jahe?" tanyanya, mendadak cemas karena yang ia tahu minuman jahe rasanya pedas. Dan ia tidak terlalu suka dengan rasa yang pedas.


Nenek Tanu tidak menjawab dan malah tersenyum puas setelah selesai menuangkan minuman yang ia bicarakan ke dalam gelas.


"Ayo, Imarasti. Kamu harus habiskan."


Imarasti mendelik. Terkejut dengan minuman yang Nenek Tanu sodorkan.


"Ta-tapi Nenek.." Imarasti mencoba menolak. Tapi Nenek Tanu justru semakin mendekatkan minuman itu pada mulutnya.


"Ayo sayang, kamu harus habiskan." Nenek Tanu tersenyum, "Kamu tahu? Setelah pernikahan kalian Nenek merasa sangat sehat dan.." senyumnya semakin mengembang, "Nenek merasa bahwa Nenek akan bisa hidup untuk seratus tahun lagi."


"Ya, Nenek juga pengen lihat kalian punya anak yang lucu-lucu. Anak kalian pasti akan sangat lucu," tambah Nenek Tanu.


Imarasti membalas Nenek Tanu dengan senyum yang terkesan dipaksakan.


"Ah! Ayo Imarasti cepat habiskan minumannya."


"Be-bentar Nek. Tapi..."


Tak jauh dari sofa yang berada di depan televisi, Yuta berdiri bersama Yuto. Yuta tersenyum miring sembari mengarahkan ponselnya ke Imarasti.


"Yuto lihat? Nenek maksa mama kamu minum ramuannya dan.. ewh! Wajahnya jelek sekali sayang."


Yuta menahan tawa setelah kamera ponselnya berhasil menangkap gambar Imarasti yang tengah meringis ketika nenek Tanu memaksanya menghabiskan seluruh minuman itu.


Dan tawa Yuta yang mulai pecah kemudian mengalihkan perhatian Yuto. Bayi itu tersenyum dengan kedua tangannya yang berusaha merampas ponsel dari tangan Yuta. Menatap gambar mamanya selama beberapa saat, Yuto kemudian menggerakkan ponsel itu ke atas dan kebawah sembari menatap Yuta dengan senyuman yang semakin lebar.


Tawa Yuta memudar, "Ya, itu mama kamu. Wajahnya jelek kan? Yuto kenapa kamu senyum gitu sayang? Kamu suka? Yuto suka sama mama?"


Yuto tertawa pelan, satu tangannya masih sibuk bermain dengan wajah Yuta sementara matanya memperhatikan gambar Imarasti yang memenuhi layar ponsel Yuta.


"Yuta?" panggil nenek Tanu.


Yuta menyingkirkan tangan Yuto dari wajahnya, kemudian menoleh, mendapati neneknya tengah tersenyum senang sembari melambai ke arahnya.


"Sini, Nenek punya sesuatu buat kamu."


Yuta terdiam selama beberapa saat hingga melihat Imarasti tersenyum miring ke arahnya.


"Tapi Nek..." Yuta memaksakan senyum, "Yuta nggak-"


"Hey! Cepetan sini!"


Nenek Tanu beralih duduk di kursi yang ada di meja makan.


"Yuta, kamu harus minum ini. Istri kamu juga sudah—"


"Bentar, Nek." Imarasti menahan tangan Nenek Tanu yang berniat menuangkan minuman ke dalam gelas untuk Yuta.


Imarasti menatap Yuta sejenak, lalu membalas tatapan bingung Nenek Tanu dengan senyum manis yang dibuat-buat. "Biar Imarasti aja nek, ya? Biar Imarasti aja yang ngasih ini buat suami Imarasti." Lalu Imarasti menatap Yuta dengan senyuman manis. "Sayang, kamu pasti suka."


"Imarasti, lo ya.." gumam Yuta.


Pada akhirnya Yuto duduk di pangkuan Nenek Tanu. Bayi dan nenek itu terlihat begitu senang ketika memperhatikan Imarasti yang mulai mendekatkan gelas berisi minuman aneh itu di hadapan Yuta.


"Lihat Yuto, mereka romantis sekali," gumam Nenek Tanu, dan Yuto yang tidak tahu apa-apa hanya tersenyum senang sembari menggerak-gerakkan kedua tangannya.


"Lo gila? Kenapa banyak banget?! Gue nggak mau!" bisik Yuta geram.


Awalnya Imarasti menahan lengan Yuta, satu tangan Imarasti kini beralih menarik tengkuk Yuta. Mata Yuta membulat, bibirnya terkatup rapat ketika Imarasti mendekatkan wajah mereka, membuat hidung mereka bahkan hampir bersentuhan ketika Imarasti memaksakan senyum. "Cepet. Buka. Mulut. Kamu. Sayang."


Dari baunya saja Yuta membenci minuman itu, sungguh. Tapi ia lebih membenci karena Imarasti tidak segera menjauhkan wajahnya yang membuat jantung Yuta berdetak tak karuan.


Senyum Imarasti langsung mengembang ketika Yuta berhasil menghabiskan satu gelas minuman itu. Kemudian ia segera meletakkan gelas itu di atas meja, lalu kembali menghadap Yuta dan mencubiti pipi Yuta dengan gemas.


"Suamiku pintar sekali," ujar Imarasti yang membuat Nenek Tanu menatap mereka dengan tatapan semakin bangga.


Yuta menepis kedua tangan Imarasti yang ada di pipinya sembari berusaha berdiri.


"Air! Mana air?"


Imarasti menarik lengan Yuta membuat Yuta kembali duduk sementara Imarasti langsung memeluk lengan Yuta erat-erat, ia bahkan menyandarkan kepalanya di pundak Yuta.


"Di sini saja suamiku, hm? Kamu nggak boleh kemana-mana," ujar Imarasti dengan nada geram sembari terus menyunggingkan senyum.


Yuta menatap Imarasti semakin geram, "Imarasti, lepasin gue!"


Imarasti justru semakin mendesak ke arah Yuta dan memeluk lengan Yuta semakin erat.


"Oh Yuto, lihat.. Papa sama Mama kamu," kata Nenek Tanu sembari mengangkat Yuto. "Nenek akan semakin tenang kalau keluarga kalian kayak gini."


Yuto hanya tertawa. Imarasti pun ikut tertawa sembari mengangguk di atas pundak Yuta sementara Yuta menatap puncak kepala gadis itu dalam diam kemudian menyeringai.


"Iya, Nenek nggak perlu khawatir dengan keluarga kami," ujar Yuta yang tiba-tiba menghadapkan tubuhnya ke arah Imarasti dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Imarasti lalu menariknya erat membuat Imarasti langsung menatapnya dengan mata membulat.


"Yut.."


Yuta tersenyum, "Iya, sayang? Apa perlu aku cium kamu di depan Nenek biar Nenek tau kalau keluarga kita adalah keluarga yang bahagia? Hm?"


Imarasti mendelik. "Lo.Gila?" gumam Imarasti penuh penekanan dan mencoba menahan dada Yuta dengan kedua tangan tapi Yuta semakin mendesaknya.


"Iya, aku rasa aku sudah gila karena aku terlalui mencintai kamu istriku," ujar Yuta sembari mendekatkan wajahnya ke arah Imarasti, membuat Imarasti langsung menoleh ke arah Nenek Tanu sembari mendorong kepala Yuta.


"Yuta!"


"Ayolah sayang, kamu nggak usah malu sama Nenek."


Imarasti bahkan mulai memekik ketika Yuta terus mendekatkan kepala ke arahnya, menarik pinggangnya dan mengabaikan kedua tangannya yang terus mendorong dada dan wajah laki-laki itu.


Nenek Tanu memandang mereka dengan mata seolah tak berkedip. Sementara Yuto malah bertepuk tangan sembari terkikik di pangkuan Nenek Tanu.


"O-oke, nenek pulang kalau gitu," kata Nenek Tanu yang langsung berdiri membuat Yuta dan Imarasti langsung menoleh ke arahnya.


Ketika tubuh Yuta berhenti dari pergerakannya, Imarasti langsung mendorong tubuh Yuta dengan sekuat tenaga, membuat punggung Yuta langsung terhempas ke sandaran kursi sementara Imarasti langsung berdiri. Imarasti menatap Yuta dengan tatapan kesal sebelum akhirnya berjalan menghampiri Nenek Tanu untuk mengambil Yuto.


"Apa dia selalu kayak gitu? Ckck! Cucuku benar-benar nggak tahu malu," gumam Nenek Tanu bersamaan dengan kedua tangannya yang menyerahkan Yuto ke Imarasti.


'Dia sinting, Nek! Cucu Nenek emang sinting.'


Yuta dan Imarasti mengantarkan kepergian Nenek Tanu di halaman rumah mereka. imarasti turut melambaikan tangan Yuto ketika mobil berwarna hitam mengkilap itu mulai menjauh dari jangkauannya.


Imarasti menghela napas pelan lalu berkata, "Mengerikan. Wanita tua itu benar-benar mengerikan."


Yuta yang berdiri di samping Imarasti langsung menatap Imarasti dengan mata memincing. Kemudian Yuta sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya ke telinga Imarasti lalu berbisik, "Apa lo baru aja ngatain nenek gue?"


Imarasti menoleh dan langsung membulatkan matanya ketika mendapati wajah Yuta berada tepat di depan wajahnya. Ia mengabaikan pertanyaan Yuta, Imarasti segera mundur lalu berjalan cepat masuk ke dalam rumah.


Yuta menatap punggung Imarasti dengan tatapan sebal. "Berani-beraninya lo ngatain nenek gue? Lo yang mengerikan Imarasti, lo lebih mengerikan."


..


..


..


TBC