
"Imarasti, kamu tunggu sini ya? Aku mau ke minimarket situ bentar."
Imarasti hanya mengangguk lalu Johan mulai turun dari mobilnya, menuju sebuah minimarket yang ada di tepi jalan.
"Yuto, maafin Mama," ujar Imarasti dengan suara pelan, lalu mengelus lembut pipi Yuto membuat bayi itu langsung tersenyum melihatnya.
"Mama nggak akan ceroboh lagi. Nggak akan bawa kamu main seharian dan..." Ia mendekap Yuto lalu melanjutkan, "Mama sayang kamu, Yuto."
Yuto marah ketika Imarasti mendekapnya semakin erat, membuat Yuto merasa panas hingga kemudian ia menarik-narik rambut mamanya disertai ocehan tidak jelas.
"Oke, maafin Mama," kata Imarasti sambil tertawa pelan lalu mendaratkan kecupan hangat di pipi Yuto.
"Sudah malam sayang, kamu harus bobo," ujar Imarasti.
Yuto meletakkan kepalanya di dada Imarasti sembari melontarkan ocehan-ocehan ala bayinya.
"Kok Johan lama banget ya?" gumam Imarasti lalu mengedarkan pandangan ke segala arah hingga akhirnya terdiam ketika pandangannya menangkap sesuatu di depan sana.
Imarasti bukanlah perempuan bodoh yang tidak mengenali mobil suaminya sendiri, mobil yang hampir setiap hari selalu ia tumpangi. Keberadaan mobil Yuta di depan sebuah café benar-benar membuat raut wajahnya langsung berubah.
Imarasti memutuskan untuk keluar dari mobil dan berjalan pelan menuju café dengan tatapan yang terus tertuju pada mobil Yuta.
"Apa yang lo lakuin di sini, brengsek?" gumam Imarasti pelan.
Langkah Imarati terhenti ketika ia tiba di depan pintu café, menatap Yuto selama beberapa saat sebelum akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam café. Hingga akhirnya langkah Imarasti terhenti ketika bola matanya mendapati Yuta tengah duduk di salah satu kursi café, berhadapan dengan seorang perempuan dengan tangan mereka yang saling menggenggam.
Sebenarnya hanya Sonia yang memaksa untuk tetap menggenggam tangan Yuta.
Semenjak hari itu, Imarasti tidak akan lupa dengan Sonia yang mengatakan bahwa Yuta masih menyayanginya. Lalu pemandangan di depan Imarasti saat ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan segalanya.
Imarasti menunduk ketika merasakan Yuto memainkan rambutnya. Ia tersenyum tipis ketika bayi itu juga tersenyum sembari menarik-narik rambutnya. "Yuto, kita harus pulang. Kamu harus istirahat, sayang."
Imarasti menatap Yuta sekali lagi. Dan tatapan Imarasti bertemu dengan tatapan Yuta.
"Imarasti?" gumam Yuta. Namun Imarasti lebih dulu melangkah pergi.
Yuta langsung bangkit dari duduknya, berniat mengejar Imarasti namun Sonia menahan tangannya.
"Kak Yuta tunggu!" seru Sonia, kemudian ikut berdiri sembari mencengkram tangan Yuta semakin erat. "Tetep di sini, kak."
Yuta mendengus, menepis kasar tangan Sonia kemudian berlari mengejar Imarasti.
"Kak Yuta!"
Imarasti merasakan dadanya sesak bersamaan dengan langkah kakinya yang semakin cepat. Ketika mobil Johan hanya tinggal beberapa langkah lagi tiba-tiba Yuta mencengkram lengannya.
"Imarasti, tunggu!" seru Yuta sembari menarik tangan gadis itu dan memaksa gadis itu menghadap ke arahnya. "Lo ngapain di sini?"
Imarasti menatap Yuta selama beberapa saat kemudian menepis tangan Yuta kasar.
"Lo tanya ngapain gue ke sini?" sahut Imarasti dengan nada ketus. "Lo Yuta! Lo yang ngapain di sini? Kenapa lo malah di sini di saat gue kebingungan di rumah? Kenapa lo ada di sini saat.. Yuto lagi sakit?"
"Ap-apa? Yuto sakit?"
Yuta mencoba mendekat ke arah Yuto tapi Imarasti menepis tangannya. Bersamaan dengan Sonia yang muncul di belakang Yuta dan Johan yang baru saja keluar dari minimaeket yang terletak di samping café.
"Imarasti?" gumam Johan pelan lalu berjalan mendekati Imarasti. Langkah Johan langsung terhenti ketika suara Imarasti kembali terdengar.
"Gue tau kok kalau sejak awal lo nggak pernah setuju sama pernikahan kita. Apalagi waktu lo tau nenek jodohin lo sama cewek **** macem gue." Imarasti merasakan sesuatu yang basah baru saja mengalir di pipinya.
Imarasti mengelap air matanya dengan gerakan cepat lalu kembali melanjutkan, "Iya, gue tau. Bahkan dari awal lo nggak pernah suka sama gue tapi..." Suara Imarasti tercekat. "Seenggaknya tolong bisa nggak lo jadi papa yang baik buat Yuto?"
"Im.."
"Cukup!" Imarasti menepis tangan Yuta dari hadapannya. "Gue sempet sedih kenapa gue harus menjalani pernikahan kayak gini. Tapi apa lo tau, Yut? Yuto selalu senyum kalo gue senyum ke dia. Mungkin lo nggak akan pernah ngira seberapa banyak kami pernah ketawa bareng. Dan kalau gue inget itu semua, satu-satunya hal yang bikin gue sangat sedih sekarang adalah kenapa Yuto hidup kayak gini? Gue nggak tau dan nggak pengen tau kenapa orangtua Yuto ninggalin dia gitu aja. Tapi Yuta.." Suara Imarasti mulai melemah, air matanya semakin mengalir begitu saja membuat tangis Yuto mulai pecah dalam gendongannya.
"Sebelum lo bener-bener pengen kita pisah, bisakah lo... jadi papa yang baik buat Yuto? Ngelindungin Yuto dan selalu ada di waktu kita butuh lo, sampai gue nggak harus manggil mantan pacar gue cuma buat nganter ke rumah sakit, apa lo tau betapa malunya gue?"
Lidah Yuta mendadak kelu. Ia hanya bisa diam menatap Imarasti lekat-lekat.
"Gue tau gue sering nyusahin lo. Gue minta maaf," gumam Imarasti sembari menunduk menepuk-nepuk pelan punggung Yuto membuat tangis Yuto perlahan mereda.
"Tapi, Yut.." Imarasti kembali mendongak. "Gue nggak akan maafin lo karena ini menyangkut Yuto. Karena sekarang, Yuto masih anak kita." Lalu Imarasti berbalik dan berjalan menuju mobil Johan dan masuk ke dalamnya.
Johan menatap Yuta selama beberapa saat, sebelum akhirnya segera masuk ke dalam mobil dan menatap Imarasti dengan tatapan cemas. "Imarasti, sebenernya ada apa?"
Imarasti menenangkan Yuto dalam pelukannya, menatap lurus ke depan kemudian menjawab, "Kamu bisa anter aku pulang? Ke rumah orangtuaku. Aku mau ke rumah orangtuaku."
Johan menatap Imarasti dalam diam.
Di sisi lain Yuta masih terdiam di tempatnya meskipun mobil Johan sudah mulai menjauh. Setelah mobil Johan sudah benar-benar tidak terlihat lagi ia berjalan cepat menuju mobilnya tapi Sonia menahan tangannya.
"Kak Yuta!"
"Sonia lepasin aku," sahut Yuta dengan nada ketus sembari menepis tangan Sonia.
Yuta kembali berjalan menuju mobilnya, ia baru saja akan membuka pintu ketika tiba-tiba Sonia bersuara, "Kenapa cewek itu keliatan marah padahal aku udah bilang yang sebenernya ke dia?"
Yuta terdiam sejenak lalu menoleh, "Bilang sebenernya apa maksud kamu?"
Sonia mendengus.
"Seharusnya dia bisa terima kalau memang dia merasa juga terjebak dalam perjodohan itu. Aku bilang sama dia kalau kakak masih sayang sama aku, dan kakak akan segera ceraiin dia."
Yuta langsung menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Sonia kamu—"
"Kenapa kak?! Kakak sendiri yang bilang kayak gitu ke aku kan?"
Yuta mendengus kasar. "Lupain Sonia! Lupain kalau aku pernah bilang itu... Lupain kalau aku pernah bilang masih sayang sama kamu." Lalu Yuta masuk ke dalam mobil, menutup pintunya dengan nada kasar dan langsung melajukan mobilnya untuk mengejar mobil Johan.
"Kak Yuta!" Sonia berusaha mengejar Yuta namun akhirnya terhenti setelah beberapa langkah.
"Kak Yuta!" Sonia berteriak sembari menatap kesal jejak kepergian mobil Yuta. "Arthayuta Tanubrata! You bastard!"
..
..
..
TBC