
Hari ini adalah minggu ke dua pernikahan Yuta dan Imarasti. Tidak jauh berbeda dengan hari-hari sebelumnya, masih sering berdebat dan bertengkar.
"Jaga Yuto, gue harus pergi." Yuta berkata sembari turun dari ranjang dan berjalan cepat menuju lemari meninggalkan Imarasti yang menatapnya dengan tatapan bingung.
"Lo mau pergi? Maksud lo.. pergi keluar? Ninggalin gue di rumah sendiri? Sama Yuto?"
Yuta mendengus pelan, berbalik dan menatap Imarasti dengan tatapan yang masih kesal lalu menjawab, "Iya, gue mau pergi dan lo tetep di rumah. Jaga Yuto baik-baik, ngerti?"
Ketika Yuta kembali sibuk dengan pakaian di dalam lemarinya, Imarasti menidurkan Yuto di ranjang.
"Sayang habisin dulu susunya ya.." ujar Imarasti sembari memasukkan dot botol itu ke dalam mulut Yuto.
Imarasti beranjak turun dari ranjang, berjalan cepat menghampiri Yuta lalu berdiri di hadapannya, menghalangi Yuta yang sibuk dengan lemarinya.
"Lo apa-apaan sih?! Minggir!"
Imarasti justru menyandarkan punggungnya di permukaan lemari sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Gue ikut!"
Yuta menatapnya tak percaya.
"Apa?"
Imarasti mendengus kesal.
"Gue ikut. Gue nggak mau di rumah sendiri! Gimana kalau Yuto kenapa-kenapa? Apa yang harus gue lakuin? Udah pernah gue bilang kan gue nggak pernah pegang bayi dan.." Imarasti mendekat ke arah Yuta sembari menunjukkan wajah memelas. "Gue ikut lo, boleh kan? Please..."
Yuta memejamkan mata disertai helaan napas panjang yang keluar lewat hidungnya.
Seharusnya Imarasti sudah tahu reaksi apa yang akan Yuta berikan padanya. Tapi tetap saja, ia kaget ketika Yuta dengan mudah menyingkirkan Imarasti dari hadapannya, mendorongnya, membuat tubuh Imarasti terhuyung.
"Jangan ikut. Gue mau ketemu sama seseorang," kata Yuta yang kembali sibuk memilih baju di dalam lemarinya.
"Terserah! Gue bakal aduin ini ke Nenek!"
Mendengar neneknya disebut Yuta langsung berbalik dan menatap Imarasti dengan mata membulat.
"Gue bakal bilang kalo lo nelantarin gue! Gue bakal bilang ke Nenek kalo lo—"
"Cepet ganti baju!" ujar Yuta.
Yuta berusaha bersikap dengan tenang meskipun sungguh, jika bisa, ia ingin sekali menelan Imarasti detik ini juga.
Dan Yuta memilih mengalihkan pandangan ke arah lain ketika Imarasti menghadap ke arahnya, menatapnya dengan senyuman mengembang sembari berucap, "Uunch! Suamiku baik sekali!"
Imarasti berlari kecil menuju lemari, mengambil beberapa pakaian dan kembali menghadap Yuta. "Oiya, lo bisa keluar selagi gue ganti baju."
Yuta malah duduk di ujung tempat tidur dan menghadap Imarasti dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, membuat Imarasti langsung menatapnya dengan tatapan tak percaya.
"Cepetan ganti baju atau lo gue tinggal," gertak Yuta.
Imarasti mencibir, lalu berjalan kasar menuju kamar mandi dan menutup pintu dengan cara membantingnya.
Ya, Imarasti tidak mungkin ganti baju di hadapan Yuta bukan?
Seperginya Imarasti, Yuta beralih pada Yuto. Ia baru saja akan mengangkat tubuh Yuto ketika tiba-tiba suara Imarasti terdengar dari dalam sana.
"Yuta?! Lo masih di sana kan? Jangan tinggalin gue!"
Yuta hanya memutar bola matanya malas. Lalu mengangkat Yuto sembari bergumam, "Mama kamu udah gila. Dia bener-bener..."
"Yuta?! Kok lo nggak jawab sih? Lo nggak kabur kan? Awas aja lo pergi tanpa gue?! Gue bakal bener-bener laporin lo ke nenek!"
Yuta menatap pintu kamar mandi dengan tatapan geram. Melepas sandal rumahnya lalu...
Dug!
"O-oh, oke. Lo masih di situ ternyata."
Ketika Imarasti keluar dari kamar mandi Yuta sudah mengganti baju Yuto. Ia juga sudah menyiapkan gendongan yang tadi ia ambil dari lemari pakaian Yuto.
Imarasti menatap Yuto yang terduduk di atas tempat tidur dengan senyuman yang mengembang. "Yuto, kita jalan-jalan hari ini. Ayo kita pergi." Lalu Imarasti berbalik dan pergi begitu saja.
Yuta segera bangkit dari duduknya, berjalan cepat menghampiri Imarasti lalu menarik lengan Imarasti kembali mendekati ranjang.
"Sini lo!" ketus Yuta.
"Apa sih?!" seru Imarasti, berusaha menyingkirkan tangan Yuta dari lengannya.
Yuta mendengus pelan, mengambil gendongan yang kemudian ia sampirkan ke pundak Imarasti. "Gendong dia," kata Yuta sambil menunjuk Yuto dengan dagunya.
Imarasti terdiam selama beberapa saat. Lalu ia mengerjap pelan.
"Gendong Yuto?"
Yuta mengangguk sekali.
"Yut, tapi lo kan papanya!"
"Dan lo mamanya!" seru Yuta.
"Gendong Yuto atau lo tetap tinggal di rumah."
"Ta-tapi.."
Yuta tidak peduli. Ia langsung pergi meninggalkan Imarasti yang menatap punggungnya cemberut.
Seperginya Yuta Imarasti beralih menatap Yuto, memasang gendongan di tubuhnya lalu mengangkat tubuh Yuto.
"Yuto, kita akan jalan-jalan hari ini, hm? Oh ayolah, kenapa kamu malah senyum-senyum gitu sayang? Mama lagi kesel tau nggak!? Mama pengen banget narik telinga papa kamu sampai—"
"Imarasti, cepet!"
"I-iya!"
"....."
"... sampai telinganya lebar kayak telinga gajah dan—"
"Iya! Gue udah jalan Yuta!!"
"...."
"... dan nyakar mukanya, ya mama pengen nyakar muka papa kamu!"
🍓🍓🍓
Imarasti bersumpah jika ia sudah bisa mengurus bayi ia lebih memilih tinggal di rumah bersama Yuto. Bermain dan menonton televisi bersama bayi itu, bukannya seperti ini.
Setelah mobil yang mereka naiki mogok di tengah jalan, mereka terpaksa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki karena sialnya tidak ada satu taksi pun lewat. Imarasti terus-menerus melangkah dengan cepat, berusaha menyejajarkan langkahnya dengan langkah Yuta, ditambah beban Yuto dalam gendongannya semakin membuatnya benar-benar ingin menangis detik ini juga.
"Yuta! Tungguin! Jangan cepet-ceprt!" seru Imarasti.
Yuta seolah tak menggubrisnya dan malah berjalan semakin cepat sembari sesekali melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Rahang Imarasti mengeras, ia melangkah semakin cepat sembari mengulurkan satu tangannya ke arah Yuta. Mencengkram kerah baju Yuta bagian belakang lalu menariknya, membuat leher Yuta tertarik dan langsung menghentikan langkah.
"Akh! IMARASTI!"
Imarasti kemudian mendorong tubuh Yuta dan memaksanya agar menghadapnya. "Kenapa lo tega banget sama gue hah?!" napas Imarasti tersengal.
"Seenggaknya jangan jalan terlalu cepet! Apa lo nggak lihat? Gue gendong Yuto! Terus lari ngejar elo, GUE CAPEK?!" Suara Imarasti semakin meninggi.
Karena teriakan Imarasti, pejalan kaki yang lewat kini menatap mereka dengan tatapan aneh.
"Suami macam apa lo Yuta?!" Imarasti bahkan mulai bersikap seolah ingin menangis.
Yuta mulai panik karena semakin banyak orang yang memperhatikan mereka. Kemudian ia mencoba mendekat ke arah Imarasti, mencoba menutup mulut Imarasti tapi gadis itu justru langsung menepisnya.
"Lo tega bikin anak istri lo kayak gini! Yuto juga capek?! "
"Imarasti jangan teriak, banyak orang yang ngeliat kita. Lo nggak malu huh?!" seru Yuta dengan nada tertahan.
Imarasti menatap Yuta semakin kesal. "Lo pikir gue peduli?!"
"Imarasti.."
"Biar aja semua orang tau kalau lo-"
"Gue gendong Yuto, oke?"
Imarasti langsung diam. Mengerjap pelan, lalu menatap Yuto yang tengah tersenyum padanya.
"Yuto dengar sayang? Papa mau gendong Yuto.." ujar Imarasti yang langsung tersenyum sembari mengelus pipi Yuto yang membuat bayi itu terkikik senang.
Yuta mencibir pelan ketika Imarasti mengangkat Yuto dari gendongannya. Lalu menyerahkannya pada Yuta sementara gendongan kain itu masih melekat di tubuh Imarasti.
Imarasti kemudian semakin mendempet ke arah Yuta, "Yut?"
"Apa?" sahut Yuta galak.
Imarasti menarik-narik lengan kemeja Yuta, menunjukkan senyum manisya lalu bergumam, "Beliin gue es krim? Gue aus dan—"
"Nggak ada es krim!" tegas Yuta lalu menepis tangan Imarasti.
Imarasti melayangkan tatapan kesal pada Yuta. Menarik napas dalam-dalam lalu berteriak, "YUTAAAAAAA!!!"
Beberapa pejalan kaki kembali memperhatikan mereka. Dan Yuta langsung berbalik, berjalan cepat menghampiri Imarasti.
"Yaudah gue beliin lo es krim. Dan jangan teriak lagi oke? Please!" ujar Yuta dengan nada geram.
Imarasti membalas tatapan kesal Yuta dengan tatapan tak kalah kesal, "Kalau gitu jangan pelit, gue ini istri lo!"
Yuta baru saja akan membalas namun Imarasti lebih dulu melangkah pergi.
"Hadeeeeeeh, Yuto.. Mama kamu bener-bener..!" Kemudian Yuta berjalan menyusul Imarasti.
🐮🐮🐮
"Aaah.. Terimakasih suamiku!" ujar Imarasti senang setelah mendapatkan es krimnya.
Yuta hanya mencibir pelan melihat senyuman mengembang istrinya. Sampai tiba-tiba raut wajah Yuta berubah panik ketika ada seorang perempuan datang menghampiri mereka.
"Kak Yuta!" panggil perempuan itu.
"Sonia?"
Imarasti ikut menoleh ke arah perempuan itu. Perempuan itu memperhatikan Imarasti dan Yuta secara bergantian. Ia sedikit shock ketika melihat Yuta tengah menggendong Yuto, sedangkan gendongan kain milik Yuto masih tersampir di pundak Imarasti.
Oke, Yuta tentu ingat betul bahwa tujuan ia keluar adalah untuk bertemu perempuan itu, Sonia Rahmaniah.
"Siapa cewe sama bayi itu?" tanya Sonia sembari menatap Imarasti sinis.
"Sayang, aku bisa jelasin"
"Papa papa paa.." celoteh Yuto sembari memukul-mukul dada Yuta.
"Papa??? Bahkan dia manggil kamu papa? Jangan bilang bayi itu manggil cewe itu mama?!"
"Mama mama maa maa.." celoteh Yuto lagi sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah Imarasti seolah minta digendong oleh mamanya.
"Son, aku bisa jelasin semuanya—"
Namun Sonia langsung melenggang pergi dengan wajah yang sangat merah karena amarah.
Yuta menyerahkan gendongan Yuto ke Imarasti. "Tetep di sini. Jangan pergi kemana-mana sampai gue balik, ngerti?" Kemudian Yuta berlari menyusul Sonia.
Imarasti menatap punggung Yuta yang mulai menjauh dengan mulut setengah terbuka. Satu tangannya mendekap Yuto dalam gendongan sementara satunya lagi masih memegang es krim yang tersisa setengah.
..
..
..
TBC