What A Married?!

What A Married?!
Who's Stupid?



Imarasti terlihat mengenakan kaos lengan pendek berwarna kuning gambar wajah Spongebob, dipasangkan dengan celana pendek berwarna hitam sementara rambut panjangnya disanggul asal ke belakang, menyisakan beberapa anak rambut yang terjuntai di sisi wajahnya. Pemandangan itu sukses membuat Yuta terdiam melihatnya.



"Gue udah selesai ganti baju, sini kasihin Yuto ke gue," kata Imarasti sembari mendekat ke arah Yuta dengan kedua tangan yang terulur ke arah Yuto.


"Iy-ya, ini."


Yuta juga sudah melucuti semua pakaian Yuto, hanya membalut bagian bawah tubuh Yuto dengan handuk kecil berwarna putih membuat Yuto terkadang merasa risih dan berusaha melepasnya. Tapi kemudian senyum Yuto langsung mengembang saat Imarasti mengambilnya dari gendongan Yuta.


"Yuto, Mama mau ajarin kamu berenang hari ini," ujar Imarasti sembari menggelitiki perut gembul Yuto yang membuat bayi itu terkikik geli.


Yuta memutuskan untuk duduk di kursi panjang yang berada tak jauh dari kolam renang, bersama beberapa ayah yang juga terlihat menunggu istri dan anak mereka bermain di kolam renang khusus untuk balita itu.


Yuta menjaga tas Imarasti dan beberapa perlengkapan Yuto sembari memperhatikan Imarasti dan Yuto yang terlihat menikmati waktu mereka di depan sana. Yuta terkekeh pelan ketika melihat Imarasti memasukkan Yuto ke dalam pelampung berbentuk donat. Seperti balita-balita yang juga bermain di kolam renang bersama ibu mereka di sana, Yuto tak kalah senang, ia terus menggerakkan kedua tangannya, menepuk-nepuk permukaan air membuat mata Imarasti mengerjap cepat.


"Kamu lagi ngapain di sini?"


Yuta menoleh, mendapati seorang lelaki yang kira-kira berusia tiga puluh tahunan tengah menatapnya intens.


"Kalau diperhatikan, kamu laki-laki paling muda di sini," ujar salah seorang yang duduk di samping orang tadi.


Yuta terdiam selama beberapa saat. Apalagi dua orang laki-laki dewasa yang duduk di sampingnya terus menatapnya seolah tak berkedip.


Yuta memaksakan senyum kemudian menjawab, "Aa- itu saya sedang-"


"Yutaaaa!!"


Yuta dan orang itu langsung menoleh. Melihat Imarasti yang kini melambaikan satu tangan ke arah mereka, ke arah Yuta lebih tepatnya.


Yuto masih berada di dalam pelampung berbentuk donat. Terkikik geli ketika Imarasti sedikit mengangkatnya, menghadapkan tubuh Yuto pada papanya sembari melambaikan satu tangan Yuto, "Papa!!! Papa nggak mau ikut berenang?! Ayo sini!"


"Papa?!!" kedua laki-laki itu berseru bersamaan, menatap Yuta dengan tatapan tak percaya sementara Yuta sendiri tengah menatap Imarasti dengan mata membulat.


"Dia istrimu?!"


"Dan bayi itu anak kalian?!"


Yuta langsung menoleh, "Ah- itu.."


"Di mana kalian melakukannya?!"


Yuta mendelik, "A-apa?"


Seorang laki-laki yang duduk tepat di samping Yuta mendekatkan wajahnya ke arah Yuta, menatap Yuta dengan mata memincing lalu berbisik, "Kalian melakukannya pas masih sekolah? Atau udah kuliah?"


Yuta baru saja akan menyela namun laki-laki itu lebih dulu menjauhkan kepalanya dari Yuta, "Ck ck! Anak muda jaman sekarang."


"Ma-maf.. Tapi kami tidak-"


"Tapi tidak apa-apa kalau kalian mempertanggungjawabkan perbuatan kalian," laki-laki yang satunya lagi bersuara. Kemudian ia mengedipkan satu matanya lalu melanjutkan, "Kalian terlihat seperti pasangan muda yang lucu."


Membuat Yuta langsung menatapnya dalam diam.


"Yuto, udah cukup ya sayang. Kamu nggak boleh lama-lama di dalam air."


Tangis Yuto pecah, berusaha berontak ketika Yuta mengangkatnya dari kolam renang secara paksa.


"Apa dia masih mau main air ya, Yut?" tanya Imarasti yang masih berendam di dalam kolam renang sembari mendongak, menatap Yuta.


Yuta mendengus, "Cepet naik! Habis ini kita masih harus belanja. Lo sendiri kan yang bilang kalau susu Yuto di rumah udah abis."


Imarasti tersenyum lebar, "Ah iya! Lo bener." Lalu ia bangkit, naik dari kolam renang dan berdiri di hadapan Yuta.


Yuta langsung melotot ketika melihat kaos basah Imarasti menerawang, memperlihatkan lekuk tubuh gadis itu. Bahkan Yuta bisa dengan jelas melihat bra berwarna hitam yang Imarasti kenakan saat ini.


"Ayo, gue mau ganti baju dulu," Imarasti baru saja akan mengambil langkah untuk pergi tiba-tiba Yuta menahan lengannya.


"Nggak dalam kondisi kayak gini, Imarasti."


Imarasti menatap Yuta dengan tatapan bingung lalu Yuta kembali melanjutkan, "Liat badan lo. Lo nggak malu?"


Imarasti memperhatikan tubuhnya. Mulutnya langsung terbuka lebar ketika melihat kondisi tubuhnya saat ini.


"Ke-kenapa jadi kayak gini?!" Lalu ia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Pakai ini!" kata Yuta sembari memasangkan jaketnya di tubuh Imarasti, membuat Imarasti langsung menatapnya dalam diam. "Cepet ganti baju. Gue yang pakein baju Yuto."


Imarasti masih saja diam di tempatnya meskipun Yuta sudah berjalan menjauh. Yuta kembali duduk di kursi panjang yang tadi ia duduki. Memangku Yuto sembari membersihkan tubuh Yuto dengan handuk. Yuto bahkan mulai tertawa ketika Yuta menggelitiki pinggang dan perutnya. Hal itu membuat Imarasti tersenyum tanpa sadar saat melihatnya.


🍓🍓🍓


"Im, lo gendong Yuto bentar ya. Gue mau ke toilet."


"Oh, oke. Sini Yuto sayangnya Mama.."


Setelah Yuto berada di dalam gendongannya, Imarasti memperhatikan punggung Yuta yang menjauh selama beberapa saat. Gadis itu pun kembali memilih-milih beberapa susu untuk Yuto.


"Ah! Yang ini Yuto. Ini kayak susu yang dibeliin Nenek."


Yuto berusaha merebut kotak susu dari tangan Imarasti ketika Imarasti mengambilnya dari rak. Yuto bahkan mulai merengek ketika Imarasti menjauhkan kotak susu itu dari tangannya.


"Yuto, anak cowok nggak boleh cengeng dong sayang," ujar Imarasti sembari mencium pipi gembul Yuto membuat batita itu langsung terdiam, Yuto beralih mengalungkan kedua tangan mungilnya di leher Imarasti, mengoceh sembari memainkan rambut panjang mamanya.


"Oke, kita akan bayar ini di kasir." Imarasti berbalik dan berjalan menuju meja kasir.


Imarasti baru saja menjauh beberapa langkah dari rak susu ketika pandangannya bertemu dengan seseorang di depan sana.


Johaness Ardhiansyah.


Ya, Johan tengah mengambil sebotol minuman dari lemari pendingin, menutup pintunya, lalu berbalik dan turut terdiam ketika tatapannya bertemu dengan tatapan Imarasti.


"Imarasti?" gumamnya pelan, lalu segera berjalan menghampiri Imarasti yang terdiam di tempatnya. "Kamu ngapain di sini?"


Imarasti menundukkan pandangan, sementara Yuto langsung menoleh ketika mendengar suara Johan, menatap Johan dalam diam sembari mengemut jari-jarinya.


"Hai sayang," Johan tersenyum, mengelus lembut pipi Yuto kemudian melanjutkan, "Kita ketemu lagi.."


Tapi Yuto justru menepis tangan Johan dari wajahnya, kembali melingkarkan kedua tangannya di leher mamanya.


"Oh, apa dia nggak suka sama aku, Im?"


Imarasti menatap Johan dengan tatapan yang sulit diartikan. Menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya menjawab, "Mungkin dia lagi capek."


Entahlah, meskipun hubungannya dengan Johan sudah berakhir Imarasti masih merasa dongkol ketika melihat kedekatan Johan dengan Mia. Apalagi ketika ia bertemu Johan dan Mia di kantin tempo hari.


Suara pelan yang terlontar dari bibir Imarasti membuat Johan menyadari, membuatnya mengingat kembali ketika gadis itu menangis di ujung koridor beberapa hari yang lalu. Ia merasa Imarasti sudah benar-benar berubah.


Johan belum menyadari bahwa Yuta baru saja tiba tak jauh di belakang Imarasti. Langkah Yuta langsung terhenti ketika maniknya mendapati Johan yang mulai mendekat pada Imarasti. Lalu Yuta berjalan cepat menghampiri mereka.


Johan baru saja akan meletakkan satu tangannya di atas pundak Imarasti, namun tangan Yuta lebih dulu menahannya, disusul tatapan tajam Yuta yang kini tertuju pada pemilik kulit putih susu itu.


"Yuta?" Imarasti bergumam pelan, sementara Yuto tersenyum lebar menyambut kedatangan papanya.


Johan menatap Yuta selama beberapa saat sebelum akhirnya bersuara, "Ma-maaf, gue nggak bermaksud untuk-"


"Kita pulang," sela Yuta, lalu mengambil alih kotak susu dari tangan Imarasti dan menarik pergelangan tangan Imarasti. Yuta membawa Imarasti pergi meninggalkan Johan yang termangu di tempatnya.


Yuta terus menahan lengan Imarasti, bahkan ketika membayar susu Yuto di kasir. Sampai kemudian ketika mereka tiba di mobil Yuta, Imarasti menepis kasar tangan Yuta.


"Lo kenapa sih?" tanya Imarati dengan tatapan yang tiba-tiba terkesan dingin di mata Yuta.


Yuta diam selama beberapa saat sebelum akhirnya menjawab, "Kenapa gue kayak gini?" Imarasti dan Yuta saling memandang sejenak, "Lo Imarasti. Lo yang kenapa? Lo masih mau ketemu sama cowok yang udah bikin lo nangis tengah malem?"


Imarasti menatap Yuta beberapa saat, ia bingung bagaimana Yuta bisa tahu.


Imarasti membetulkan gendongan Yuto lalu menjawab, "Bukan urusan lo."


Dan Yuta hanya bisa diam ketika Imarasti memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya lebih dulu. Yuta mendengus ketika mendengar Imarasti menutup pintu mobilnya dengan kasar, kemudian bergumam pelan, "You still love him? Di saat dia sama sekali nggak memperjuangkan elo. Lo bener-bener bodoh Imarasti."


..


..


..


TBC