
Cahaya silau matahari langsung menyambut Imarasti ketika Ia barusaja sedikit membuka kelopak matanya. Disusul suara berat Yuta yang kemudian terdengar. “Selamat siang sayang.”
Imarasti mengerjap pelan setelah Yuta menghadiahkan kecupan hangat di bibirnya. Lalu menoleh dan mendapati lelaki itu tersenyum padanya.
“Kata dokter kamu kelelahan, jadi kamu pingsan kemarin," jelas Yuta meskipun Ia tahu Imarasti tidak berminat untuk mendengar hal itu di saat seperti ini.
“Yuto, di mana dia?”
Senyum Yuta pudar dari wajahnya. Lelaki itu bahkan tidak mampu lagi menatap mata istrinya itu dan memilih untuk menundukkan kepalanya.
“Yut, kenapa kamu nggak jawab?” Imarasti menggoyang lengan Yuta, menatap Yuta dengan mata yang mulai memanas disertai bibir yang bergetar. “Yut, jawab aku. Di mana Yuto? Aku mau ketemu sama anak aku Yuta!”
“Imarasti, Yuto udah..” Yuta menggenggam telapak tangan Imarasti dan menatap wanita itu lekat-lekat. “Aku udah bilang sama mereka buat nunggu kamu tapi.. mereka bersikeras buat tetap pergi bawa Yuto dengan alasan pesawat mereka akan menjalani penerbangan pagi ini.”
Imarasti merasakan seperti ada sesuatu yang besar dan keras menghantam dadanya. Menimbulkan rasa sakit dan sesak yang luar biasa hingga membuat Imarasti tidak menyadari bahwa air bening baru saja muncul dari sudut matanya.
“Nggqk.” Imarasti menggeleng pelan. Menarik tangannya dari genggaman Yuta lalu mencabut selang di pergelangan tangannya. “Yuto nggaj boleh pergi,” gumamnya, segera bangkit dan turun dari ranjang rawat.
“Imarasti kamu mau ke mana?”
Imarasti tak mengindahkan pertanyaan Yuta. Ia berjalan cepat menuju pintu dengan kondisi yang masih lemah, hingga membuat jalannya sedikit limbung.
“Imarasti tunggu!”
Imarasti membuka pintu dengan nada kasar. Setibanya di tengah koridor wanita itu mengarahkan pandangannya ke segala arah. “Yuto..” lalu mengambil langkah untuk pergi menuju salah satu koridor di sisi kirinya. “Yuto.. mama mau ketemu sama kamu. Yuto mama merindukanmu. Yuto mama..” Imarasti tak mampu melanjutkan kalimatnya, terisak sembari terus berjalan menyusuri koridor dan mengabaikan beberapa orang lewat yang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Imarasti.” Yuta masih berusaha mengejarnya.
“Yuto.. Yuto..” Imarasti berhenti di sisi meja resepsionis. Berputar sejenak sebelum akhirnya napas Imarasti terlihat memburu. “YUTO!!!”
Semua orang langsung memandang Imarasti, menghentikan langkah mereka setelah teriakan Imarasti menggema di setiap sudut.
“Yuto mama mau ketemu sama kamu! Yuto!!” tangis Imarasti semakin menjadi. Yuta yang baru saja tiba langsung mendekapnya dan berusaha menenangkan wanta itu dalam dekapannya.
“Imarasti jangan jangan kayak gini aku mohon.” Yuta menangis. Turut terisak ketika Imarasti berusaha berontak dalam pelukannya, memukul-mukul tubuh Yuta sembari terus meneriakkan nama balita itu.
“Kenapa kamu biarin mereka bawa Yuto, Yut? Kenapa?! Yuto itu anak kita dan.. aku merindukannya! Aku cuma mau Yuto!!”
Yuta hanya diam. Namun pelukannya yang semakin erat seolah menguatkan Imarasti dari rasa pilunya. Hingga akhirnya wanita itu bisa tenang dalam pelukan Yuta, membuat beberapa orang yang sempat berhenti kembali melanjutkan langkah mereka.
“Kenapa kamu biarin mereka baws anak kita Yuta?!” Imarasti membenamkan wajahnya di dada Yuta. Memeluk lelaki itu erat-erat lalu bergumam, “Aku merindukannya. Aku merindukan anakku Yuta.”
“Maafin aku Imarasti.. maafin aku..”
***
Imarasti tidak bergerak sedikitpun dari posisinya meskipun suara pintu yang dibuka baru saja mengalun dalam pendengaran. Tidak lama kemudian Ia merasakan ranjangnya bergerak, lalu suara berat Yuta yang kemudian terdengar, “Kamu nggak makan? Aku udah buatin sarapan buat kamu.”
Imarasti hanya menggeleng. Dan Ia akan tetap memberikan jawaban yang sama seperti yang sudah Ia lakukan selama dua hari ini. Bahkan ketika teman-temannya semasa kuliah datang untuk menjenguk pun Imarasti tetap diam dengan pandangan kosong.
“Aku nggak lapar.”
Yuta tentu saja tidak ingin melihat wanita yang Ia cintai seperti ini, karena kondisi Imarasti yang seperti ini benar-benar membuatnya merasa tersiksa—sungguh.
Imarasti tidak mau makan. Terus berbaring di atas tempat tidurnya dan menatap kasur lantai bergambar beruang yang biasanya digunakan Yuto tidur siang di kamarnya, meskipun Yuta sudah memindahkannya di gudang.
Terdengar helaan napas berat dari Yuta. Lelaki itu kemudian berbaring di samping Imarasti, melingkarkan satu tangannya di perut Imarasti dan menyembunyikan wajahnya di belakang leher istrinya itu. “Kalau kamu rindu sama Yuto.. aku juga rindu sama dia. Aku tentu saja merindukan anak kita Imarasti.”
Pandangan Imarasti langsung menunduk. Diam selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik, menghadapkan tubuhnya pada Yuta dan melingkarkan tangannya di pinggang lelaki itu.
“Apa mereka akan menjaga Yuto dengan baik? Apa mereka akan bangun di tengah malam kalau Yuto menangis? Gimana kalau mereka nggak denger tangisan Yuto? Gimana kalau mereka nggak bikinin Yuto susu dan makanan sehat buat makanannya? Gimana kalau mereka nggak kasih baju tebal sama selimut waktu hujan padahal Yuto lagi kedinginan? Gimana kalau—“ Imarasti tidak melanjutkan kalimatnya karena bibir Yuta lebih dulu mendarat di bibirnya.
Lalu lelaki itu tersenyum sembari menyelipkan anak rambut Imarasti di belakang telinga, kemudian mengelus pipinya dengan lembut. “Mereka orangtua kandungnya dan mereka pasti tahu apa yang terbaik buat Yuto.”
Imarasti mempererat pelukannya, menatap Yuta dengan mata yang memerah, “Tapi sekarang ini banyak orangtua yang bahkan nyiksa anaknya sendiri Yuta. Mereka bahkan tega ninggalin Yuto begitu saja di panti asuhan. Mereka pasti akan jadi orangtua yang nggak baik buat Yuto.” Imarasti mengucapkan kata terakhir dengan nada lirih. Kemudian menyembunyikan wajahnya di bawah dagu Yuta dan mulai menangis. “Aku merindukannya Yuta.. aku merindukannya..”
Yuta benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Yang bisa Ia lakukan hanya memeluk Imarasti ketika wanita itu mulai menangis seperti ini. Menenangkan Imarasti dalam dekapan hangatnya sembari berdoa agar Tuhan memberikan keajaiban untuk rumah tangga mereka.
Dan sepertinya Tuhan benar-benar menjawab doa-doa Yuta.
Hari selanjutnya, Imarasti mengalami demam tinggi. Ia menolak ketika Yuta membawanya ke rumah sakit dan memilih untuk tetap berbaring di kasurnya, terus melontarkan nama Yuto disela-sela tidurnya membuat Yuta terkadang harus menangis dalam diam.
Bukan ini keajaiban yang Yuta maksud.
“Sayang, bangun.”
Imarasti malah memiringkan tubuhnya, masih memejamkan mata lalu menjawab dengan gumaman, “Aku nggak lapar Yuta.”
Jika biasanya Yuta akan tetap membujuk dan berakhir dengan memeluk wanita itu, kini Yuta tersenyum. “Ada yang mau ketemu sama kamu.”
Imarasti mendesah pelan, “Aku lagi nggak mau ketemu sama siapa-siapa.”
Imarasti hanya membuka mata sejenak ketika mendengar suara nenek Tanu dari luar kamar. Lalu memutuskan untuk kembali menutup mata sementara Ia kemudian merasakan Yuta turun dari atas kasur.
Lalu mendengarkan dalam diam percakapan antara cucu dan nenek itu.
“Imarasti masih demam?”
“Tadi pagi demamnya sangat tinggi nek, tapi sekarang udah turun setelah Yuta kompres.”
“Kenapa kamu nggak bawa ke rumah sakit?”
“Imarasti nggak mau nenek.”
“Oh gitu.”
“Oya, itu..”
“Alat bantu pendengaran baru. Supir nenek yang beliin, katanya harganya sangat mahal. Dia janji akan marah kalau nenek menghilangkannya lagi.”
“Ewh! Nenek.”
“Oya, ini. Dia sangat berat.”
Imarasti tidak mendengar suara lagi setelah itu. Hanya kembali merasakan ranjangnya bergerak ketika Yuta naik ke atas ranjang.
Dan tidak lama kemudian Imarasti merasakan tangan mungil menepuk lengannya. Namun yang membuat mata Imarasti kini terbuka dan detakan jantung yang mendadak bergemuruh adalah suara ocehan yang terdengar familiar dalam pendengarannya.
"Mama..."
“Sayang, lihat. Ada seseorang yang mau ketemu sama kamu.”
Imarasti menahan napas sesaat, lalu berbalik dan betapa terkejutnya wanita itu ketika mendapati sosok yang tengah Ia rindukan setengah mati kini duduk di hadapannya.
“Yuto?”
"Mama.. Yuto tangen thama mama thama papa..."
Yuta tersenyum, mengelus puncak kepala Yuto lalu menjawab, “Ya sayang, anak kita kembali.”
Yuto lansung merangkak ketika Imarasti bangkit dan duduk. Langsung memeluk Imarasti dan wanita itu langsung membalas pelukan dari tangan mungil Yuto. “Yuto..”
“Mereka mengembalikan Yuto ke kalian,” kata nenek Tanu, berjalan mendekati sisi ranjang. “Yuto terus menangis di sana, nggak mau makan bahkan menolak untuk minum susu. Ya, sepertinya mereka merindukan seseorang—ah! Dua orang maksud nenek.”
Imarasti menatap nenek Tanu sejenak. Lalu menghadapkan wajah Yuto di hadapannya, mencium kening, kedua mata, kedua pipi dan bibir Yuto dengan gemas. Kembali memeluknya dan menyalurkan rasa rindu yang seolah tak terbendung.
“Mama kangen banget sama kamu sayang..”
Yuto terkekeh pelan dalam pelukan Imarasti. Melingkarkan kedua tangannya di leher Imarasti sembari memainkan rambut panjang Ibunya—seperti biasa.
Lalu Yuta mendekat dan memeluk kedua orang itu secara bersamaan. “Papa juga kangen banget sama kamu sayang,” ujarnya, kemudian mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Yuto.
“Imarasti aku mohon, kamu jangan menangis lagi.”
Imarasti hanya menggeleng, tersenyum sembari menatap Yuta lekat-lekat. “Terima kasih Yuta. Aku sayang kamu.”
Dan nenek Tanu hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika melihat Imarasti mendaratkan bibirnya di bibir Yuta. “Oh, anak muda. Sepertinya aku harus pergi sekarang.” Lalu berjalan menuju pintu dan menutupnya.
Meninggalkan Yuto yang kemudian berteriak sembari menutup matanya menggunakan tangan mungilnya ketika melihat kedua orang tuanya masih saling mempertahankan tautan mereka.
"Euwh, papa mama!!!"
“Oh, ada yang lihat,” kata Yuta, langsung menjauhkan bibirnya dan mengambil alih untuk memeluk Yuto.
Yuta tidur terlentang dan membiarkan Yuto tengkurap di atas dadanya, sementara Imarasti turut berbaring di samping Yuta sembari mengelus-elus puncak kepala Yuto.
“Yuto, mama nggak akan biarin kamu pergi lagi.”
“Papa juga.”
Yuto terkekeh geli ketika Yuta dan Imarasti menciumnya secara bersamaan. Dan balita itu kembali tertawa sembari bermain-main dalam pelukan kedua orang tuanya.
Mulai saat ini, detik ini, Yuta dan Imarasti berjanji akan menjaga anak mereka. Membiarkan rumah mereka dihiasi tawa kecil dan ocehan-ocehan yang terlontar dari bibir mungil anak mereka.
.
.
.
END