What A Married?!

What A Married?!
Rambut Baru



Imarasti sangat terkejut saat pertama kali melihat sosok suaminya muncul dari balik pintu rumah bersama Yuto yang berada dalam dekapan suaminya.


Ada yang berbeda dari mereka.


Rambut. Ya, sepertinya mereka barusaja memotong rambutnya.


"Selamat sore, Mama." Selesai melepas sepatu, Yuta langsung berjalan mendekati Imarasti yang masih memandanginya dalam diam.


Yuta tersenyum saat ia sudah ada di depan Imarasti, sedikit merapikan rambutnya sembari berkata, "Aku baru aja potong rambut sesuai permintaan kamu, gimana? Suka nggak?"


Imarasti mengerjap pelan, lalu melirik Yuto yang tengah sibuk berusaha melepas kancing jaket di bagian dadanya.


"Oh my God," gumam Imarasti sembari mengambil alih Yuto dari gendongan papanya.


Ketika Yuto tersenyum lebar sembari merangkulkan kedua tangan mungilnya di leher Imarasti, Imarasti kembali menatap Yuta dan berkata, "Yut, kamu apain anak aku?"


Yuta mengerutkan keningnya, "Kenapa?"


Imarasti mendengus, lalu mengelus puncak kepala Yuto yang ditumbuhi rambut tipis. Sebelumnya rambut Yuto cukup tebal dan halus. Tapi sekarang setelah Yuta mengajak Yuto pergi seharian, ia membawa Yuto pulang dengan kondisi rambut yang seperti ini. Bagaimana Imarasti tidak terkejut?


"Kenapa kamu gundulin anak aku?! Harusnya kamu minta izin dulu sama aku, minta pendapat lah seenggaknya," omel Imarasti.


Yuta hanya bisa menghembuskan napas yang terdengar berat sambil melihat Imarasti yang kembali mengelus-elus kepala Yuto dengan wajah yang kecewa.


"Kejutan, sayang. Aku cuma mau kasih kamu kejutan," jelas Yuta.


Yuta tersenyum bangga, "Lagian Yuto keliatan makin ganteng kayak gini. Kayak papanya!"


Imarasti mendengus menatap Yuta. "Kejutan apanya?! Kamu bener-bener nyebelin!"


"Mama..." Yuto mulai merengek sembari berusaha turun dari gendongan mamanya.


Imarasti pun menurunkan Yuto dari gendongannya, kemudian melepas jaket Yuto dan membiarkan Yuto berlari dengan kakinya yang masih dibalut sepatu menuju ruang televisi.


Sesampainya di ruang televisi, Yuto mengambil remot di atas meja, memencet remot itu asal-asalan, ketika televisi berukuran besar di hadapannya kini menunjukkan channel yang menayangkan acara kartun bus biru yang bisa bicara kesukaannya, Yuto melompat-lompat kecil sembari memekik tertahan. Lalu Yuto duduk di karpet kecil depan televisi dan menonton acara kartun sorenya dengan serius.


Masih berada tak jauh dari pintu rumah, Imarasti berniat pergi namun Yuta menahan lengannya. Kemudian Yuta memeluk Imarasti dari belakang dan meletakkan dagunya di atas pundak istrinya itu.


"Kamu marah?" gumam Yuta.


Imarasti mendengus pelan lalu berusaha menoleh ke belakang, ke arah Yuta dan mendapati wajah suaminya itu kini berada tepat di depan wajahnya.


"Kamu nggak tau kan gimana aku ngerawat rambut Yuto sampai sepanjang itu biar mirip anak kecil yang di iklan shampoo? Kamu nggak tau gimana menggemaskannya ketika dia lari terus rambutnya bergerak-gerak.. Ah, Yuta.. Kamu bener-bener keterlaluan. Kamu udah bikin anak aku gundul kayak gini," gerutu Imarasti.


"Nggak bener-bener gundul, Imarasti. Di kepala Yuto masih ada banyak rambut."


"Tapi tetep aja—" Imarasti tidak melanjutkan kalimat karena sesuatu yang lembut lebih dulu menyentuh bibirnya secara kilat.


Kini Imarasti terdiam. Sementara Yuta memutar bola matanya dengan malas sebelum akhirnya kembali berkata,"Iya deh aku minta maaf."


Kemudian Yuta memeluk Imarasti semakin erat, menunjukkan senyuman mengembang dan melanjutkan, "Gimana penampilan baruku? Kamu belum kasih komentar apapun. Kamu suka nggak? Aku makin ganteng kan?"


Imarasti mengerjap pelan, lalu melirik rambut baru Yuta dan memperhatikannya lekat-lekat membuat Imarasti tanpa sadar menelan samar salivanya. Rambut baru Yuta membuat Yuta terlihat semakin sempurna.


"Sayang?"


Imarasti mengerjap cepat. Lalu berdeham pelan sebelum akhirnya menjawab, "Bi-biasa aja. Kamu keliatan biasa aja."


Imarasti menunduk, berniat melepaskan tangan Yuta yang melingkar di perutnya namun Yuta terus saja menahannya. "Yuta! Lepasin aku."


Yuta tidak menjawab. Ia hanya menunjukkan senyuman mengejek sembari menatap Imarasti dengan mata yang memincing. "Kalo biasa aja kenapa kamu harus gugup?"


Imarasti kembali menatap Yuta.


"Apa?! Gugup?" Imarasti tersenyum mengejek, kemudian ekspresi wajahnya menjadi datar. "Kenapa aku harus gugup? Nggak usah kepedean, Yutakoyaki!"


Yuta mendekatkan wajahnya pada Imarasti, lalu menempelkan bibirnya di pipi dan berbisik, "Kamu yakin kamu nggak gugup, Nona Pendek?"


Yuta mengecup pipi Imarsti, lalu wajahnya turun dan ia benamkan di leher Imarasti, "Aku tau kamu bohong, kamu suka kan?"


Imarasti menggeliat kecil, saat merasakan kedua telapak tangan Yuta mulai menelusup ke dalam bajunya, mengelus perutnya membuat jantungnya bekerja semakin cepat di dalam sana.


"Yut," Imarasti mendesis pelan sembari kedua tangannya berusaha menyingkirkan tangan Yuta dari dalam bajunya, namun suaminya itu seolah tak mengindahkan perlawanannya sedikitpun.


Kini Yuta justru mencium pipi Imarasti dalam-dalam membuat Imarasti memekik tertahan pada akhirnya. "Yuta!!!"


Puas mencium istrinya, kemudian Yuta menarik wajahnya kembali, menunjukkan senyuman jailnya lagi dan berkata, "Nanti malem, kayaknya kita harus ngerayain rambut baruku."


Imarasti menatapnya bingung. "Huh?"


Yuta tidak menjawab, ia hanya memberikan kecupan singkat di bibir Imarasti sebelum akhirnya melepas istrinya itu dari dekapannya. Lalu Yuta pergi menuju ruang televisi meninggalkan Imarasti yang kini menatap punggungnya dengan tatapan yang masih tak mengerti.


"Ngerayain rambut baru?" gumam Imarasti pelan.


Imarasti pun memperhatikan punggung Yuta yang semakin menjauh. Entah mengapa, membayangkan perayaan rambut baru membuat jantungnya semakin berdetak lebih cepat di dalam sana.


🌹🌹🌹


"Yuto?"


Yuto menoleh saat suara papanya terdengar mendekatinya. Senyumnya pun mengembang ketika melihat sebatang coklat di tangan papanya.


"Papa!"


Yuta berjongkok di hadapan Yuto yang masih duduk di atas karpet di depan televisi.


"Kamu mau ini?" tanya Yuta sembari menggoyang cokelat di tangan kanannya.


"Eung!" Yuto mengangguk, lalu menengadahkan kedua tangannya tinggi-tinggi di hadapan papanya.


"Papa..." rengek Yuto.


Yuta menahan senyumnya dan mengangkat cokelat itu tinggi-tinggi membuat Yuto memekik melihatnya.


"Papa!!!"


"Siapa yang paling ganteng di rumah ini?"


"Papa!!!"


"Siapa yang paling dicintai mama di rumah ini?"


"Papa!!!"


"Siapa yang paling jagoan di rumah ini?"


"Papa!!! Papa..."


Sebenarnya Yuto tidak peduli pada pertanyaan-pertanyaan yang diucapkan papanya. Yang Yuto rasakan, ia ingin menangis karena papanya tidak kunjung memberikan cokelat itu padanya.


Yuto pun berdiri dari duduknya, lalu memeluk papanya sembari mendongakan wajahnya ke arah papanya dengan menunjukkan wajah seolah ingin menangis.


"Papa..."


"Satu lagi." kata Yuta. "Siapa yang akan dapat hadiah dari mama malam ini?"


Yuto kesal. Ia pun menarik napas dalam-dalam lalu berteriak, "Papaaaaa!!!"


Yuta tersenyum puas. Ia kemudian membungkuk, mengangkat tubuh Yuto dan membawa balita itu ke dalam dekapannya.


Yuto langsung tersenyum setelah Yuta memberikan cokelat itu padanya. Yuto menggenggamnya dengan kedua tangan dan mendekapnya di dadanya. memandangi cokelat itu sembari mengoceh pelan.


"Yuto.." panggil Yuta.


Yuto hanya menjawab dengan gumaman tanpa mengalihkan pandangan dari cokelat di tangannya.


"Nanti malem.." Yuta mendekatkan wajahnya ke wajah Yuto, mencium pipi gembul Yuto dengan gemas dan kembali bersuara setelah itu. "Yuto mau tidur lebih awal kan?"


Yuto mendongak menatap papanya.


"Yuto harus tidur awal malem ini." Yuta menahan senyumannya. "Ngerti sayang?"


Yuto turut menahan senyuman, lalu menggeleng. Dan tanggapannya yang seperti itu membuat Yuta tertawa pelan melihatnya.


"Hey, Yuto Alvaro Tanubrata!"


Yuto kembali menggeleng. Bahkan ketika Yuta menggelitiki perutnya, Yuto terus saja menggeleng dan tawa mereka mulai pecah bersama setelah itu. Imarasti yang barusaja tiba di ruangan itu hanya bisa mendengus pelan melihat mereka.


"Oh, Ya Tuhan.. Gue berasa punya dua anak 😑"


.


.


.


.


.


.


.


-FIN-