
Seperti pagi-pagi biasa, kebiasaan Imarasti ketika bangun tidur adalah langsung berjalan menuju box bayi Yuto. Ia berjalan dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya dan tentu saja sembari sesekali menabrak apapun yang ada di depannya.
"Yuto, bangun sayang. Mama hari ini ada kuliah pagi." Imarasti mendekatkan wajahnya sembari tersenyum lalu melanjutkan, "Kamu harus mandi sekarang sayang."
Namun ketika mata Imarasti sudah benar-benar terbuka, senyumnya langsung memudar. Kemudian matanya melotot dan mulutnya setengah menganga.
"Yuto?! Yuto, kamu di manasayang?!" Imarasti langsung berdiri tegap ketika tidak mendapati Yuto di box bayinya.
Ya, Yuto tidak ada.
"Yuto!" seru Imarasti panik sembari mengalihkan padangan ke segala arah sebelum akhirnya berlari menuju kamar mandi dan membuka pintu kamar mandi.
"Yuto?!"
Lalu pintu kamar mandi terbuka.
"Yutoo—" Imarasti tak melanjutkan kalimatnya ketika menyaksikan pemandangan yang emmm.. di dalam kamar mandi Yuta tengah berdiri dengan kondisi tubuh yang basah, hanya mengenakan boxernya yang super pendek, mendiamkan sikat gigi di mulutnya sembari menatap Imarasti dengan tatapan bingung.
Dan jangan lupakan Yuto yang berada dalam dekapan Yuta. Bayi itu tengah telanjang lalu menengokkan kepalanya ke arah Imarasti sembari memainkan sikat gigi di tangannya dan tersenyum lebar ke arah mamanya.
Hingga tiga detik kemudian...
"AAAA!!!!" pekik Imarasti.
BRAK!
Imarasti langsung menutup pintu kamar mandi dengan kasar setelah teriakannya yang melengking memenuhi seluruh sudut ruangan. Kemudian ia menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu, mengatur napasnya yang tersengal sembari mengelus dada dan menutup matanya.
"Dasar Yuta bodoh! Sinting! Kenapa dia nggak ngunci pintunya sih?!" gerutu Imarasti sembari mempoutkan bibirnya sebal.
"Apa-apaan ini pagi-pagi mata gue udah ternodai."
Gerutuan Imarasti tentu saja tidak bisa terdengar oleh Yuta yang berada di dalam kamar mandi. Yuta menatap Yuto yang juga menatapnya. Lalu bayi itu tersenyum lebar ketika matanya saling bertatapan dengan papanya.
"Kenapa mama kamu teriak, sayang?"
Yuto terkekeh pelan ketika menatap pantulan dirinya di cermin, menggerak-gerekkan sikat gigi di tangannya sementara Yuta hanya mengangkat bahu tak peduli dengan sikap Imarasti.
"Ayo Yuto, Papa akan ajarin kamu bagaiamana cara gosok gigi yang benar, kayak gini sayang." Lalu Yuta kembali menggosok gigi bersama Yuto yang terlihat antusias menyaksikannya.
Ayolah padahal gigi Yuto baru tumbuh dua dan itu baru terlihat sedikit. Benar apa yang dikatakan Imarasti, sepertinya Yuta memang sinting -___-
🍓🍓🍓
"Yuto, kamu tunggu di sini ya sayang. Papa mau ganti baju sama ambilin baju ganti buat kamu. Jangan bergerak, oke?"
Yuto tersenyum, mengemut jarinya lalu segera berbalik ketika Yuta mulai berjalan menuju lemari. Bayi itu kemudian merangkak, bola matanya membulat lucu ketika mendapati sesuatu di dekat bantal. Di dekat bantal ada sebuah buku tebal dengan sampul merah tua yang terlihat menarik di mata Yuto.
Hingga akhirnya senyum Yuto semakin mengembang bermsamaan dengan dirinya yang merangkak semakin cepat menuju buku itu. Ia sangat semangat ketika hendak mengambil mainan barunya itu.
Ketika Yuto asik dengan mainan barunya tiba-tiba pintu kamar dibuka, menampakkan Imarasti di ambang pintu dengan secangkir cokelat panas di tangannya. Pada awalnya ia berniat berjalan dengan santai menuju tempat tidur, namun bola matanya lebih dulu mendapati sesuatu hal yang membuat jantungnya serasa pergi dari tempatnya dan jatuh ke perut.
Yuto menduduki jurnalnya. Tugas akhir semesternya yang seharusnya ia kumpulkan hari ini juga. Ya, mainan baru Yuto yang berwarna merah tua itu adalah jurnal milik Imarasti.
Bayi itu bahkan berhasil merobek bebeapa lembar kertas di dalamnya dan mencoba untuk memakannya.
"Yuto!!!" pekik Imarasti.
Yuta langsung terperanjat karena suara Imarasti yang melengking setelah ia baru saja selesai memasangkan seluruh kancing kemejanya. Lalu Yuta menatap Imarasti dengan tatapan bingung sementara Imarasti berlari menuju tempat tidur, meletakkan cangkirnya di meja dengan kasar lalu menatap Yuto dengan tatapan frustasi.
Bayi itu tersenyum lebar, menjauh dari jurnal itu lalu mengoceh sembari menunjuk-nunjuk jurnal itu berulang kali seperti bermaksud menunjukkan pada mamanya bahwa ia baru saja menemukan mainan baru yang sangat menarik.
"Ya Tuhan..." ujar Imarasti lirih, lalu mengambil jurnal yang terdapat robek-robek di beberapa lembar.
Dan lagi, jurnalnya basah.
"Yuto, kamu.. pipis di sini?" tanya Imarasti dengan wajah seperti mau menangis.
Senyuman Yuto seolah mengatakan 'iya Mama, Yuto pipis di situ'.
"Kenapa Imarasti? Ada apa? Kenapa lo teriak?" tanya Yuta sembari mendekat ke arah Imarasti.
Yuta memperhatikan jurnal di tangan Imarasti sementara Imarasti tengah menatap kosong ke depan.
"Owh! Yuto pipis di sana? Apa itu punya lo?" tanya Yuta tanpa dosa dengan ekspresi masa bodoh.
"YUTAKOYAKIIII!!!"
Yuta langsung mundur dua langkah ketika Imarasti meneriakinya.
"ELO YA!" seru Imarasti selanjutnya.
Yuta langsung mendelik ketika Imarasti menghadapkan tubuh ke arahnya dan mendekat disertai tatapan galak lalu berseru, "Kenapa lo biarin Yuto pipis di sini?!"
"Lo pikir gue tau kalo itu—"
"Ini jurnal gue Yutaaaaa! Prof Tjang yang galak dan dingin itu bilang kalau ini tugas terakhir buat semester ini! Gue udah nulis pake tangan dan lo tau ini tuh tebel banget? Gue udah nyiapin ini bahkan sebelum kita menikah dan..." Imarasti seolah tak mampu berkata-kata karena saking kesalnya. "Dan lo biarin Yuto pipis di atasnya? Merobeknya?!"
Yuta mendorong bahu Imarasti menggunakan ujung jari telunjuknya, lalu menjawab, "Kenapa jadi gue yang disalahin?"
"Apa???" Imarasti mendengus, melemparkan asal jurnal itu ke atas kasur lalu berkacak pinggang di hadapan Yuta. "Terus lo mau nyuruh gue buat nyalahin Yuto? Yuto yang nggak tau apa-apa bahkan dia nggak bisa ngomong, lo mau nyuruh gue buat nyalahin dia ha?!"
Yuta semakin panik melihat Imarasti meledak-ledak seperti itu. Ia rasa bukan ide yang bagus jika ia menimpalinya dengan beberapa pembelaan karena akan percuma. Sepertinya ia harus mencari cara untuk keluar dari masalah ini.
'Habis gue! Gue harus gimana.'
Imarasti kemudian beralih mengahadap Yuto, lalu membungkuk dan berucap, "Yuto, kamu denger? Papa kamu yang bodoh dan sinting itu nyuruh Mama buat nyalahin kamu? Kamu liat sendiri kan sayang betapa krterlaluannya papa kamu yang bodoh itu."
Sementara Imarasti terus berbicara pada Yuto, kesempatan itu digunakan Yuta untuk berbalik dan berlari ke arah pintu.
"Papa kamu bener-bener harus dikasih hukum— YUTAAAA! YUTA JELEK! YUTA MONYET KE SINI NGGAK LO!"
Terlambat, karena Yuta lebih dulu keluar dari rumah dan meninggalkan Imarasti yang terus menggerutu. Sementara Yuto kembali merobek jurnalnya.
"Dia bahkan nggak makein Yuto baju— AAA!! Yuto sayangnya Mama jangan dirobek lagi sayang?!"
"No no jangan dimakan sayang! Nanti perut kamu sakit. Hhhhh Yuta bodoh! Awas aja nanti!"
..
..
..
TBC