
Hari-hari Imarasti dan Yuta berjalan dengan normal. Imarasti dan Yuta semakin terbiasa menjalani kehidupan mereka sebagai sepasang suami istri dan orang tua yang baik untuk Yuto.
Tapi tidak untuk pagi itu. Ya, ada yang aneh dengan pagi itu.
"Maamaaa atit maamaaa.. ni ini tatiit maaa.. Paa yuto atit papaa.."
Yuto terus menangis sembari bilang kalau dadanya sakit dan sulit bernafas setelah bangun dari tidurnya, bahkan ketika Yuta dan Imarasti memandikannya dan ketika mereka memberikan sarapan bubur untuk Yuto, balita itu tidak mau memakan sarapannya dan terus menangis.
“Yut, kenapa Yuto kayak gini?” rasa cemas tersirat jelas dalam nada bicara Imarasti. Wanita itu sudah berusaha berulang kali untuk menenangkan Yuto tapi tangis Yuto justru semakin memilukan.
"Mama... atit mama atiiit."
Kedua matanya amat basah, wajahnya memerah dan suaranya bahkan mulai serak.
“Gimana kalau kita telfon Ibu atau kita bawa aja dia ke rumah sakit?”
“Ke rumah sakit Yut, lebih baik bawa Yuto ke rumah sakit.”
Yuta mengangguk, langsung turun dari ranjang dan mengambil jaketnya di lemari. Disusul Imarasti yang kemudian berniat turun dari atas ranjang, tapi belum sempat kedua kaki Imarasti menginjak permukaan lantai, tangis Yuto tiba-tiba berhenti.
Imarasti langsung menoleh ketika merasakan tubuh Yuto melemas dalam pelukannya, “Yuto? Sayang?”
Yuto tak bergerak, kedua matanya bahkan tertutup. Dan itu membuat tubuh Imarasti bergetar tiba-tiba.
“Yu-yuto.. sayang? Yuto?” Imarasti menggoyang pelan pipi anaknya. Tapi tetap saja, tidak ada respon dari balita itu.
"Yuto kenapa kamu..” dada Imarasti terasa sesak. “Yuto.. Yuto!”
Yuta langsung menoleh, “Im? Ada apa?”
“Yuta kenapa Yuto kayak gini?!” tangis Imarasti mulai pecah. Lalu kembali menepuk-nepuk pipi Yuto dengan tangan yang semakin bergetar, “Yuto bangun sanyang! Yuto! Yuto bangun! Yuto! Yuto sayangnya mama bangun, nak.."
Yuta langsung berlari ke arah Imarasti, mengambil Yito dari pangkuan Imarasti sembari berucap, “Imarasti, kita harus ke rumah sakit sekarang. Ayo cepet!”
Imarasti masih menangis, lalu ia segera turun dari tempat tidur dan berlari di belakang suaminya.
“Yuto.. bangun sayang..”
.
.
.
.
.
.
.
.
Imarasti menatap seorang dokter laki-laki paruh baya di hadapannya dengan pandangan kabur, air semakin menggenang di pelupuk mata hingga dua detik setelah itu, air itu mengalir dengan sendirinya setelah Imarasti mengedipkan mata.
“Operasi?” sahut Imarasti, dengan nada pelan yang terdengar bergetar.
Yuta langsung menggenggam erat telapak tangan istrinya. Ia sendiri tidak mampu berkata-kata, hanya bisa menatap sisi wajah istrinya itu dengan mata memerah.
“Ya, operasi. Hanya itu satu-satu cara agar dia bisa selamat. Meskipun.. tingkat keberhasilannya hanya tiga puluh lima persen.”
Imarasti diam selama beberapa saat, tertawa pelan lalu medengus, “Apa maksud dokter mengatakan bahwa itu hanya satu-satunya cara agar anak saya bisa selamat?!”
"Imarasti..” Yuta menarik tangan Imarasti setelah mendengar suara istriny yang tiba-tiba mulai meninggi.
Tapi istrinya itu justru menepis kasar tangan Yuta dan beranjak dari kursinya. “Jarum suntik bahkan terlalu menyakitkan untuk tubuh kecilnya dan Anda mengatakan operasi adalah jalan satu-satunya?!”
“Im, kamu harus tenang dulu oke?” Yuta turut berdiri, berusaha menenangkan istrinya tapi wanita itu terus menepis tangannya.
“Gimana aku bisa tenang Yuta?! Anak aku keadaannya kayak gini, dan mereka bilang mau operasi anak aku,” seru Imarasti, lalu kembali menatap dokter yang duduk bersebrangan di depannya. “Anda pikir saya tidak tahu?! Kalian akan membelah dada anak saya, dengan benda-benda yang tajam lalu..” tenggorokan Imarasti terasa tercekat. Menggeleng, lalu melanjutkan dengan suara pelan, “Nggak. Aku nggak akan biarin Yuto dapat perlakuan itu.”
Imarasti langsung berbalik, berjalan cepat keluar dari ruangan dan menutup pintunya dengan kasar. Yuta yang melihat itu terdiam sejenak, lalu membungkuk singkat sebelum akhirnya mengambil langkah cepat untuk menyusul istrinya itu, meninggalkan sang dokter yang menatap kepergian mereka dengan tatapan maklum disertai hembusan napas berat.
“Imarasti tunggu!”
Imarasti masih berjalan di koridor rumah sakit dengan langkah cepat. Tatapannya terus tertuju ke depan tanpa memperdulikan nasib beberapa orang yang sempat Ia tabrak dan Ia tinggalkan begitu saja.
“Nggak apa-apa. Yuto pasti akan baik-baik aja.” Imarasti bergumam pelan. Berusaha menahan tangisnya namun air mata itu justru terus mengalir dan semakin membasahi pipinya. “Yuto pasti akan baik-baik aja. Yuto pasti akan..” langkah Imarasti tiba-tiba menjadi pelan. Lalu ia berjalan menepi, sendi-sendinya terasa ngilu hingga akhirnya wanita itu menumpukan satu tangannya di permukaan dinding, lalu terduduk begitu saja.
“Imarasti sayang,” Yuta langsung mendekat, berjongkok di hadapan istrinya yang kini menatap kosong ke depan. “Imarasti, lihat aku.” Yuta menangkup pipi Imarasti, merasakan sesak yang teramat sangat melihat kondisi istrinya yang seperti itu.
“Yuto nggak boleh terluka Yut.” Imarasti menggeleng pelan, “Tubuhnya masih terlalu kecil dan.. aku nggak akan biarin orang lain ngelukain dia walau sedikitpun.” Imarasti mendongak, menatap suaminya itu dengan mata nanarnya, “Kamu percaya kan sama aku, hm? Yuto akan sembuh tanpa harus dilukai terlebih dulu. Kamu percaya sama aku kan Yuta? Aku ini mamanya Yuto. Kamu.. percaya sama aku?”
Yuta sudah tidak bisa menahannya lagi. Pertahanan yang Ia bangun susah payah runtuh seketika saat suara istrinya terdengar semakin lirih dalam pendengarannya. Lantas Yuta langsung menarik tubuh istrinya itu dalam pelukannya. Mendekapnya erat dan membiarkan istrinya menumpahkan tangisan di permukaan dadanya.
“Iya, Imarasti.” Yuta mengecup puncak kepala Imarasti. Mendekatkan mulutnya ke telinga Imarasti lalu berbisik, “Aku percaya sama kamu sayang.”
Tangis Imarasti semakin menjadi bersamaan pelukan Yuta yang semakin terasa erat di tubuhnya. Mereka terus terduduk di tepi koridor tanpa memperdulikan tatapan aneh dari beberapa orang yang lewat.
Tidak. Mereka bahkan tidak memikirkan rasa malu untuk saat ini. Hanya Yuto. Hanya kenangan ketika balita itu terlihat senang saat kedua orang tuanya memeluk tubuh mungil Yuto, lalu tersenyum, dan menunjukkan tawanya di depan kedua papa mamanya.
Ya, hanya hal itu yang kini memenuhi kepala Imarasti dan Yuta.
"Yuto anak kita adalah anak yang kuat dan cerdas. Jagoan kecil kita pasti bisa melewati ini semua. Benarkan Yut?"
Yuta sudah tidak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa mengangguk sembari memeluk istrinya semakin erat.
.