
Imarasti memperhatikan penampilan Joana dari atas sampai bawah. Ia merasa heran dengan penampilan sahabatnya ini. Biasanya ia hanya memakai kemeja dan ripped jeans, tapi kali ini ia memakai rok selutut yang terlihat manis. Dan Imarasti baru menyadari itu semua ketika kelas telah usai karena ia tadi datang hampir terlambat.
"Lo knapa sih, Nyet? Gitu amat ngeliatin gue?!" protes Joana sembari merapi-rapikan roknya.
"Joampas, is that you?" Imarasti menatap Joana tidak percaya.
"Bukan. Gue Nana Komtsu!"
Imarasti hanya memutar bola matanya lelah sembari mencibir pelan.
"Orangtuanya Johnny baru dateng dari Chicago. Gue mau dikenalin." Joana mengulas senyum, kemudian melanjutkan, "First impression itu penting, Nyet! Makanya gue sampai dandan kayak gini."
"Tapi gue rasa lebih baik be your self sih, Jo. Daripada entar malah memberatkan diri lo sendiri."
"Tapi gue nggak masalah kok. Dan gue juga nggak merasa keberatan kalo sesekali pake rok." Joana memamerkan cengirannya kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Gue duluan ya, Im. Kayaknya kelas Johnny udah kelar. Bye~ "
Joana berlari kecil menjauh dari Imarasti lalu ia berbalik, "Titip salam ya buat Yuto anakku!"
"Enak aja! Anak gue itu!"
Imarasti tersenyum kecil melihat bagaimana semangatnya Joana yang hendak bertemu orangtua Johnny. Joana dan Johnny sudah menjalin hubungan selama hampir dua tahun dan baru kali ini ia diajak bertemu orangtua kekasihnya itu. Berbeda dengannya dan Johan yang sudah mejalin hubungan selama tiga tahun dan Imarasti mengenal baik ibu Johan sejak bulan pertama mereka menjalin hubungan.
Ibu Johan sangat menyayangi Imarasti seperti anaknya sendiri. Itu semua karena ibu Johan tidak memiliki anak perempuan. Tak jarang pula ibu Johan memberi hadiah Imarasti seperti baju, tas, sepatu, dan lain sebagainya. Bahkan beberapa hari yang lalu ibu Johan menghubunginya via whatssapp. Walaupun hanya sekedar menanyakan kabar, namun itu cukup membuat Imarasti tersentuh.
Mengingat itu semua membuat Imarasti tersenyum, senyum miris.
"Andaikan nasib baik terus berpihak sama kita Johan," gumam Imarasti.
Imarasti berjalan sendirian menyusuri koridor hendak pulang. Ia berjalan dengan kepala yang tertunduk. Sampai tiba-tiba ia menghentikan langkahnya ketika ada sepasang kaki yang berhenti di hadapannya. Imarasti mengangkat wajahnya, melihat siapa pemilik kaki tersebut.
"Kak Imarasti ya?" tanya si pemilik kaki.
"Iya? Kamu siapa ya?" tanya Imarasti bingung.
Si pemilik kaki itu mengangkat alisnya bingung. Oh ayolah, siapa yang tidak mengenal Sonia Rahmaniah runner up duta kampus tahun lalu, anggota UKM seni yang wajahnya memenuhi banner promosi pendaftaran UKM?! Sayangnya Imarasti tidak peduli akan hal-hal semacam itu, jadi wajar jika ia tidak mengenal Sonia.
Sonia memamerkan senyuman manisnya ke Imarasti, memperkenalkan dirinya. "Aku Sonia. By the way ada yang perlu aku omongin sama kakak." Perempua itu menoleh kanan kiri yang keadaannya memang cukup ramai lalu melanjutkan. "Tapi nggak di sini. Kakak bisa ikut aku."
Sonia berjalan terlebih dahulu meninggalkan Imarasti yang masih menatapnya bingung. Setelah sempat beberapa saat Imarasti terdiam, akhirnya Imarasti berjalan mengikuti Sonia. Kini mereka tengah di koridor yang cukup sepi.
"Sonia, kenapa kamu ngajakin aku ke sini? Emangnya apa yang pengen kamu omongin sama aku?"
Sonia mengangguk sekali. "Iya, aku mau ngomong hal penting sama kakak."
"Eum.. apa ada sesuatu yang-"
Imarasti baru ingat. Perempuan yang bernama Sonia ini adalah perempuan yang pernah ia temui sewaktu bersama Yuta. Dan perempuan ini marah-marah ketika melihat Imarasti dan Yuto. Ya, perempuan ini adalah kekasih Yuta.
Imarasti tidak dapat berkata apa-apa. Ia hanya merasakan sedikit nyeri di ulu hatinya.
"Apa kakak tau apa hubungan yang aku jalin sama Kak Yuta?" Sonia tersenyum sinis ke arah Imarasti.
"M-maksud kamu?" Bahkan suara Imarasti sempat tercekat di tenggorokannya karena tatapan sinis Sonia.
"Aku pacarnya dari satu tahun yang lalu, bahkan sampai sekarang."
Tentu saja Imarasti tau akan hal itu. Ia bahkan masih ingat betapa paniknya Yuta ketika perempuan itu marah dan pergi meninggalkan Yuta. Namun entah mengapa, Imarasti merasakan sesak di dadanya ketika mengetahui itu semua dari mulut Sonia.
"Kak Yuta udah bilang sama aku kalau kalian cuma dijodohin, dan masing-masing dari kalian sebenernya nggak ada yang menyetujui pernikahan itu. Dan... aku rasa kakak nggak akan terkejut kalau aku bilang Kak Yuta masih sayang sama aku."
Sonia tersenyum ke arah Imarasti yang kini masih terdiam kemudian melanjutkan, "Iya, Kak Yuta bilang dia masih sayang banget sama aku, Kak Yuta bahkan bilang ke aku kalau dia mau bilang yang sejujurnya ke neneknya, dia nggak suka sama perjodohan itu. Kak Yuta mau bilang ke neneknya, dia cuma mau nikah sama orang yang bener-bener dia sayangi. Aku rasa kakak nggak cukup bodoh buat bisa ngerti maksud dari kata-kataku barusan, benerkan kak?"
Imarasti merasa kepalanya seperti dihantam puluhan batu mendengar perkataan Sonia. Ia tidak mengerti dengan perasaannya. Toh dia dan Yuta sudah sepakat untuk berpisah setelah enam bulan.
Sonia menatap Imarasti sekilas, lalu pergi meninggalkan Imarasti begitu saja di koridor.
Seperginya Sonia tiba-tiba air mata Imarasti berjatuhan. Sungguh Imarasti juga tidak tahu kenapa, yang jelas hatinya terasa sakit. Ia sesenggukan sendirian di koridor, bahkan isakannya sampai terdengar.
"Imarasti?" tegur seseorang yang membuat Imarasti mendongak ke arahnya.
Tanpa pikir panjang Imarasti langsung memeluk orang itu sembari terisak pelan. Kemudian ia merasa aneh ketika memeluk orang tersebut, seperti ada sesuatu yang hilang. Biasanya jantungnya berdetak lebih cepat ketika berada di dekat orang itu. Atau paling tidak ada perasaan hangat menyelimuti hatinya ketika memeluk Johan, ya orang itu adalah Johaness Ardhiansyah. Tapi kini begitu terasa hambar. Mungkinkah hatinya yang selama ini ia jaga untuk Johan telah berubah?
"Kamu kenapa, hm?" tanya Johan lembut sembari memeluk Imarasti dan mengelus rambut Imarasti pelan.
"Maafin aku.." ujar Imarasti sembari masih terisak. Tangisannya semakin pecah. Ia menangisi kebingungannya akan perasaannya sendiri. Ia membenci dirinya sendiri, ia membenci perasaannya yang telah berubah.
Imarasti terus menggumamkan kata maaf sembari terus terisak di pelukan Johan. Tangan Johan tak hentinya mengelus lembut rambut Immarasti. Johan sudah paham betul bagaimana Imarasti. Ketika Imarasti menangis, ia hanya perlu memeluknya sembari mengelus rambutnya seperti ini lalu gadis itu akan menceritakan masalahnya dengan sendirinya. Namun kali ini berbeda, ketika tangisannya reda Imarasti justru terdiam membuat Johan menatapnya bingung. Johan merasa ada yang berubah dengan Imarasti. Ada yang berbeda dengan Imarastinya, apa dia memang sudah bukan Imarastinya?
..
..
..
TBC