
Bara duduk didepan Vero, mengeluarkan taperware dari tasnya dan mendorongnya didepan Vero.
"Lo menghabiskan kue yang gue berikan." tanya Vero saat melihat taperware itu kosong melompong.
"Gue sedekahkan ke temen-temen kelas gue yang kelaparan." Bara menjawab acuh tak acuh.
Jawaban Bara membuat Vero manyun.
"Gue juga makan kok, tuh kuekan banyak, gak mungkinkan gue habiskan sendiri, kuenya enak seperti ya lo bilang."
Mendengar hal tersebut membuat bibir Vero yang tadinya manyun kini melengkung sempurna, "Benarkah, apakah besok-besok lo mau gue bawakan lagi."
"Gak usah, gue bukan fakir miskin yang perlu lo kasih makan tiap hari."
"Guekan bukan nganggep lo fakir miskin Bar."
"Iya gue tahu."
"Mengenai yang barusan, gue minta maaf."
"Mengenai yang mana." pancing Vero.
"Ya yang tadi."
"Yang tadi mana, kesalahan lokan buuaaannnnyak sama gue, lo suka ngata-ngatain gue bodoh, lo suka bersikap kasar sama gue, lo suka nyuekin gue, dan lo juga barusan nepis tangan gue dengan kasar." Vero mengabsen semua daftar tidak mengenakkan yang telah Bara lakukan kepadanya.
Bara menarik nafas dan menghembuskannya, fikir Bara, dia tidak punya kesalahan sebanyak yang Vero absen tadi, kesalahannya hanya menepis tangan Vero dengan kasar, itu saja, tapi karna berhubung saat ini dia tidak dalam mode berdebat, Bara akhirnya memilih untuk meminta maaf saja daripada urusan jadi panjang, "Oke, gue minta maaf atas segala kesalahan yang telah gue lakukan ke elo."
"Gue gak mau maafin elo, gue sangat sangat marah tahu gak sieh sama lo, lo telah membuat gue malu didepan teman-teman lo."
"Iya maaf, gue reflek saja nepis tangan lo, habisnya lo maksa sieh, guekan bukan anak kecil yang harus disuapin segala."
"Hmmm."
"Jadi, lo maafin guekan."
"Gak."
Bara mendesah berat.
"Tapi gue bakalan maafin lo kalau lo mau nemenin gue jalan-jalan seharian, gimana."
"Gak bisa, guekan harus kerja."
"Ya sepulang lo kerjalah."
"Setelah pulang kerja, gue kerja ditempat lain."
"Rajin amet sieh lo, emang berapa banyak sieh tempat lo kerja "
"Orang miskin kayak gue yang memang harus rajinlah, kalau gak bakalan mati kelaparan deh gue."
"Ya udah, bawa gue ikut ke tempat kerja lo aja kalau gitu."
"Gak bisa."
"Kok gak bisa sieh, gue gak akan ganggu kerjaan lo." Vero nyolot.
"Lo ngapain sieh ingin ikut gue ke tempat kerja gue segala, lo akan bosan disana."
"Gak akan, percaya deh, gue akan kalem dan tidak akan bosan, jadi Bara, gue ikut sama lo ya ke tempat kerja lo." rengek Vero.
Bara hanya diam mempertimbangkan.
"Iya Bara ya gue ikut lo, plisss, kalau lo bawa gue ikut, gue bakalan maafin lo."
Menarik nafas panjang dan menghembuskannya, "Hmmm."
Hmmm itu masih ambigu, bukan berarti iya atau tidak, tapi Vero menganggap itu sebagai jawaban 'iya' sehingga membuatnya tersenyum senang, "Ahh beneran gue boleh ikut."
"Gue belum bilang iya."
"Tadi lo bilang hmmm, hmmm berarti iyakan."
"Belum tentu, bisa saja tidak."
"Ya udah, gue gak bakalan maafin lo kalau gitu." manyun
"Baiklah, lo boleh ikut sama gue."
Bibir manyun itu berubah menjadi senyum manis, "Beneran." antusiasnya.
"Hmmm, tapi lo gak boleh menggrecoki gue saat gue kerja nanti."
"Iya, gue berjanji tidak akan menggrecoki elo, gue janji."
Bara kemudian berdiri dan berbalik pergi.
"Baraaa, lo mau kemana."
"Kerjalah."
Vero meraih tasnya dan bergegas mengejar Bara, "Tunggu Baraa."
Vero langsung melilitkan tangannya dilengan Bara begitu dia berhasil mengejar Bara, Bara berusaha melepaskan tangan Vero dari lengannya, namun ternyata belitan tangan Vero sangat kuat sehingga Bara tidak bisa melepaskan tangan tersebut begitu saja.
"Ini bisa gak sieh lepasin tangan lo." risih Bara.
"Gak bisa, ntar lo malah ninggalin gue lagi."
"Gak akan, ayok lepasin, malu tahu dilihat sama orang-orang."
"Biarin aja dilihat, gue gak peduli."
"Tapi gue peduli, guekan gak kayak lo yang kulitnya tebal kayak badak."
"Ishhh, mulai deh, bisa tidak lo tidak menghina gue sehari saja."
"Habisnya lo bebal, susah diajak ngomong baik-baik, ayok lepasin."
"Gak mau, gue mau tetap kayak gini."
Bara hanya mendesah pasrah dan pada akhirnya dia terpaksa membiarkan Vero memeluk lengannya sampai parkiran, tentunya sepanjang perjalanan dari perpustakaan sampai parkiran mereka jadi pusat perhatian para mahasiswa yang berlalu lalang, Vero sieh cuek saja, tapi Bara berusaha untuk menahan rasa malunya.
Para mahasiswa yang melihat hal tersebut tentu saja berfikir kalau Vero dan Bara adalah sepasang kekasih.
Dan kini Vero sudah duduk dengan manis diboncengan motor Bara, seperti kemarin, Vero kembali melingkarkan tangannya diperut Bara.
"Bara." panggil Vero saat motor sudah melaju meninggalkan parkiran kampus.
Bara tidak menyahut.
"Baraaa."
"Apaa."
"Lo bisa bawa mobil gak."
"Kenapa lo nanyain hal itu."
"Besok-besok kalau kita jalan, kita pakai mobil gue saja ya, lebih nyaman dan gak panas."
"Gak ada besok-besok, gue gak akan pernah mau jalan sama lo, ini gue ngajak elo ke tempat kerja gue karna terpaksa."
"Isshh, lo mah suka gitu, ngambek nieh aku."
"Dasar manja, dikit-dikit manyun, dikit-dikit ngambek."
"Habisnya lo itu menyebalkan."
Selama sisa perjalanan, tidak terjadi percakapan lagi sampai Bara menghentikan motornya di bengkel tempatnya bekerja.
"Lo bekerja di bengkel Bar."
"Hmmm."
Beberapa teman kerja Bara langsung memusatkan perhatian mereka saat melihat gadis cantik yang saat ini datang bersama dengan Bara.
"Busett, cantik banget itu cewek."
"Sama siapa itu sik Bara, masak pacarnya sieh."
Teman-teman sekerja Bara pada kepo.
"Lo duduk disana deh ya selama gue kerja" tunjuk Bara pada bangku panjang.
"Oke."
"Ya udah, gue ganti baju dulu, lo tungguin gue."
Vero mengangguk dan berjalan menuju bangku yang ditunjukkan oleh Bara barusan.
Saat Vero duduk sambil memainkan ponselnya, salah satu rekan kerja Bara bernama Malik mendekati Vero dan duduk disebelah Vero.
"Haii, aku Malik, kamu..."
"Gak nanya." tandas Vero tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang ada ditangannya.
"Gila, sombong banget nieh cewek mentang-mentang cantik." dengus Malik dalam hati, namun dia kembali mengajak Vero bicara.
"Kamu datang kesini bersama Bara ya, kamu..."
"Lo lihat sendirikan tadi, ngapain lo pakai nanya segala." belum saja Malik kelar bicaranya Vero main potong-potong saja, ya memang begitu sieh sifatnya Vero, gak suka jika ada cowok asing bersikap sok akrab kepadanya.
"Galak amet sieh nieh cewek, duhh niatnya kenalan malah kena mental gini."
"Mmmm, kalau boleh tahu, nama adek siapa ya."
"Adek-adek, emang gue adek lo."
Oke sampai sini, Malik kayaknya menyerah deh hanya sekedar untuk mengajak Vero kenalan, oleh karna itu, dia berniat kembali melakukan pekerjaannya saja, dan tanpa ngomong sepatah katapun dia berlalu meninggalkan Vero.
Gak lama, Bara keluar dari ruang ganti dan menghampiri Vero.
"Selama gue kerja, lo duduk disini deh ya."
"Iya."
"Lo gak apa-apakan nungguin gue disini."
"Iya."
"Tumben banget dia kalem." heran Bara, namun dia bersykur juga, kalau tetap kalem kayak ginikan Vero tidak akan mengganggu pekerjaanya.
"Iya."
"Baraa."
Otomatis Bara berbalik saat mendengar namanya dipanggil oleh Vero.
Vero mengepalkan tangannya memberi semangat pada Bar, "Fighting Baraaa."
Wajah Bara sih masih datar, tapi begitu berbalik, diluar kemauannya kedua sudut bibirnya melengkung sempurna.
****
Vero memfoto Bara yang tengah sibuk-sibuknya memperbaiki salah satu mobil, setelah itu dia memposting gambar tersebut di insta storynya dan diberi caption.
Nemenin abang Bara kerja
Begitu melihat insta story Vero, kedua sahabat Vero yaitu Tiar dan Rara berlomba-lomba mengomentari.
Tiar : Itu beneran Bara, lo ngapain sama Bara Ver
Rara : Lo sama lagi Bara sekarang Ver
Vero dan Tiar ketar ketir doank saat melihat postingan Vero tersebut, mereka berfikir kalau Vero sudah jadian dengan Bara, dan itu artinya mereka kalah taruhan dan harus siap mengerjakan tugas-tugas Vero selama satu semester.
Vero : Iya, gue saat ini lagi sama Bara, nemenin do'i kerja
Tiar : Kok bisa
Rara : Gimana ceritanya lo sampai nemenin Bara kerja.
Vero : Bisa donk, kan untuk ngasih vitamin agar abang Bara semangat kerjanya.
Vero : Waktu taruhannya tinggal lima harikan, siap-siap saja lo berdua mengambil alih ngerjain tugas-tugas gue selama satu semester
Vero memperingatkan tentang taruhan tersebut.
Baik Tiar ataupun Rara hanya mendesah berat membaca pesan tersebut.
"Akhhh, gue gak mau ngerjain tugas-tugasnya Vero." keluh Rara yang saat ini berada dikamarnya.
"Gue juga." Tiar juga berteriak frustasi.
Setelah berbalas pesan dengan sahabat-sahabatnya, kini Vero memfokuskan perhatiannya sama Bara yang tengah serius memperbaiki mobil salah satu pelanganggan bengkel tempat dia bekerja, rambut Bara berantakan, bahkan beberapa bagian wajahnya tercoreng oli dengan tangan kotor karna sejak tadi mengutak atik mesin mobil, intinya penampilan Bara saat ini kucel dan dekil, tapi kok Vero agak gimana gitu saat melihat Bara, ada rasa getaran-getaran yang timbul dihatinya saat melihat Bara bekerja dengan penampilan berantakan dan kotor begitu.
"Bara kok terlihat seksinya saat bekerja begitu." gumamnya, "Gue gak pernah menyangka kalau cowok akan terlihat menarik saat bekerja dan kotor-kotor begitu, gue fikir mereka akan menjijikkan."
"Aihhh, apa yang gue lakukan, kenapa gue jadi terpesona sieh sama sik batu bara itu, gak boleh gak boleh, gue gak boleh terpesona sama dia, dia yang seharusnya terpesona sama gue." Vero mengingatkan dirinya, fikirnya bisa bahaya kalau dia suka beneran sama Bara.
"Kok gue haus ya."
Karna desakan kerongkongannya yang kering sehingga membuat Vero mencari warung terdekat hanya untuk membeli air mineral, setelah membeli sebotol air mineral ukuran tanggung dia kembali ke bengkel, bukannya kembali duduk ditempatnya barusan, dia malah mendekati Bara.
"Baraaa."
Bara mah kalau dipanggil sekali sudah pasti gak bakalan nyahut.
"Baraaa."
"Apa sih."
"Ini minum dulu." Vero menyodorkan botol air mineral yang tadi dibelinya diwarung depan.
Tanpa membantah, Bara mengambil botol air mineral yang disodorkan oleh Vero, membuka tutupnya yang tersegel dan kemudian meneguknya.
Bibir Vero sampai terbuka saat melihat jakun Bara turun naik saat air bening itu mengaliri tenggorokan Bara, dia sampai menelan ludahnya sendiri saking terpesonanya melihat pemandangan tersebut, "Gue tidak pernah menyangka kalau cowok bakalan terlihat seksi kalau tengah minum begini, tapi sebelum-sebelumnya gue juga pernah lihat mantan-mantan gue saat minum, tapi biasa saja tuh gak kelihatan seksi sama sekali, apa mungkin karna ini Bara ya."
Air dalam botol itu kini hanya tersisa tinggal setengahnya saja, dan begitu Bara selesai minum, Vero merebut botol plastik tersebut dari tangan Bara dan langsung meneguk sisanya.
Bara hanya menatap Vero tidak percaya, pasalnya gadis itu meminum air bekasnya.
Setelah menghabiskan air tersebut Vero tersenyum, "Ternyata sisa lo rasanya manis Bar."
"Apa-apaan sieh lo Ver."
"Oke Bara." Vero tersenyum tipis dan menepuk lengan Bara, "Semangat kerjanya ya, gue lanjutin untuk nungguin elo sampai selesai." Vero berbalik dan kembali ke kursi panjang tempatnya duduk barusan.
"Apa-apan sieh gadis itu." gumam Bara tapi tidak bisa dipungkiri bibirnya melengkung sempurna dengan kelakuan Vero barusan.
Dan kini sudah saatnya Bara pulang, setelah mengganti pakain kerjanya, dia menghampiri Vero.
"Ayok gue antar balik."
"Udah selesai."
"Iya."
Mereka berjalan beriringan menuju dimana tempat motor Bara terparkir.
"Bara."
Bara gak nyahut.
"Baraaaa."
"Apaan."
"Lo bilangkan lo masih ada kerja lagi setelah ini."
"Iya."
"Gue ikut lo ya."
"Gue antar lo pulang saja, ntar orang tua lo khawatir lagi nyariin."
"Gue udah izin sama papi gue kalau gue bakalan pulang telat, dan beliau ngizinin, jadi boleh ya gue ikut lo." Vero berbohong, dia tidak pernah minta izin sama papinya, bahkan ponselnya saja mati.
"Gue antar lo pulang saja, lagian gue kerjanya sampai malam."
"Mmmm, gue mau ikut lo Bara." merengek manja deh dia.
"Iya Bara ya, gue ikut lo, gue janji deh gak bakalan ngerepotin elo."
"Baiklah." ujar Bara hanya bisa pasrah, pasalnya kalau tidak diturutin, Vero akan terus merengek sampai keinginanya terwujud.
"Yessss, ayok kita meluncur."
Bara menjalankan motornya, setengah jam kemudian dia menghentikan motornya didepan sebuah cafe.
"Lo kerja dicafe ini Bar." tanya Vero saat turun dari motornya Bara.
"Hmmm."
"Lo jadi waitress disini."
"Gak."
"Koki."
"Gak juga."
"Menejer."
"Itu tambah gak mungkin."
"Terus, apa yang lo kerjain disini."
"Gue bekerja sebagai penyanyi cafe."
"Ohh ya." antusias Vero, "Keren donk."
"Apanya yang keren, biasa aja kali."
"Keren donk itu namanya Bara, suara lo pasti bagus banget ya, duhh gak sabar gue ingin denger."
"Jangan berekpetasi tinggi, nanti lo kecewa lagi."
"Gue yakin suara lo pasti bagus, kalau gak bagus tidak mungkinkan lo diterima nyanyi disini."
"Ehhh ayok donk kita masuk, gue sudah gak sabar ingin denger suara elo yang merdu." Vero merangkul lengan Bara dan menariknya memasuki cafe.
Hari sudah mulai gelap, dan disaat hari mulai gelap begitu biasanya banyak pengunjung cafe yang berdatangan hanya untuk melepas penat dan bersantai setelah seharian bekerja.
"Lo tunggu disini."
"Iya, gue sudah gak sabar ingin denger suara elo nyanyi Bar."
"Hmmm."
Bara kemudian pergi meninggalkan Vero untuk bersiap-siap tampil diatas panggung.
Saat Bara tengah berada belakang, rekan kerjanya yang bernama Reno yang bekerja sebagai waitress dicafe tersebut bertanya.
"Siapa gadis cantik yang datang bersama lo Bar, pacar lo ya."
"Teman." jawab Bara singkat.
"Teman ya, masak sieh."
"Hmmm."
"Namanya siapa."
"Vero."
"Nama yang cantik seperti orangnya."
"Ini lo beneran cuma temenankan sama dia."
"Hmmm."
"Kalau gitu, bolehkan gue minta nomernya, siapa tahu gitu bisa jadi sama gue."
Bara mendengus, dia kok rasanya kesal mendengar ocehan Reno, "Sadar diri donk lo, gadis cantik kayak gitu mana mau sama laki-laki yang berwajah ala kadarnya kayak lo." jawabnya ketus.
"Elahhh lo gitu amat sieh Bar menghina teman sendiri." jadi tersinggungkan sik Reno.
Tanpa rasa bersalah Bara menimpali, "Habisnya gimana, itu memang kenyataannyakan."
Reno hanya mendengus kesal.
****