Veronica

Veronica
AKU TIDAK INGIN DIJODOHKAN



Berita tersebut tentu saja membuat Vero seperti terseret air bah dicuaca yang cerah, dia benar-benar tidak menyangka kalau acara makan malam ini merupakan acara untuk membicarakan perjodohannya, sesuatu yang tidak pernah dia inginkan dan dan tidak dia harapkan, apalagi papinya menjodohkannya dengan Kafka, laki-laki yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri.


"Papi, papi gak seriuskan pi, papi tidak benar-benar menjodohkan Vero dengan....."


Amar Salim meraih tangan putrinya yang tergeletak dimeja dan berkata, "Kamu memang harus papi jodohkan sayang, kamu tahu sendirikan, papi sudah tua dan mulai sakit-sakitan, papi ingin, kalau nanti terjadi apa-apa sama papi, ada yang menjaga kamu, dan orang yang tepat yaitu adalah Kafka, dia laki-laki yang baik dan bertanggung jawab, papi yakin, Kafka pasti bisa membahagiakan kamu." Amar Salim menjelaskan panjang lebar dan berharap putrinya memahami keresahan yang selama ini dia rasakan.


"Bagaimana Vero bisa bahagia kalau Vero tidak mencintai kak Kafka papi." kata-kata yang hanya Vero ucapkan dalam hati.


"Saya sangat senang dan tidak sabar untuk menunggu keluarga kita bersatu dan menjadi keluarga besar mas Amar, apalagi nanti ada anak kecil, buah cinta dari Kafka dan Vero, pasti rumah kita akan ramai oleh suara tawa anak kecil." timpal mami Mahima terlihat antusias.


"Iya Mahima, aku juga rasanya tidak sabar ingin menggendong anak kecil."


Kafka tersenyum, dia juga sangat mengharapkan hal itu, dia ingin membina rumah tangga dan memiliki anak dari Vero, gadis yang dia cintai.


Disaat Amar Salim dan Mahima dengan begitu sangat antusias membicarakan tentang bersatunya keluarga besar mereka, Vero menoleh ke arah Kafka, wajah laki-laki itu terlihat cerah, dia seperti sangat menerima perjodohan ini, tidak seperti dirinya yang jelas tidak ingin menikah karna perjodohan, lagipula, dia mencintai Barakan, walaupun menikah nantinya, dia ingin menikah dengan Bara, bukannya Kafka yang sama sekali tidak dia cintai.


Vero ingin menolak mentah-mentah perjodohan yang telah diatur oleh papinya itu, tapi dia masih bisa menahan kata-katanya supaya tidak keluar karna dia masih bisa menghormati papinya dan juga maminya Kafka, fikir Vero, dia akan membicarakan hal ini nantinya dengan Kafka supaya perjodohan yang telah direncanakan oleh keluarga masing-masing bisa dibatalkan, Vero tidak sanggup membayangkan dirinya menikah dengan laki-laki yang tidak dia cintai, Vero berfikir tidak mungkin dia bisa bahagia, oleh karna itu, untuk saat ini Vero hanya bungkam, dia rasanya tidak berselera untuk menyentuh makanan enak yang ada dihadapannya, selera makannya hilang begitu saja.


"Tuhkan benar, bang Kafka yang akan dijodohkan." batin Kevin.


"Wahh, abang gercep banget, tidak pernah terdengar kabarnya punya pacar, eh tahunya langsung nikah saja, tapi ya baguslah, aku akan segera punya keponakan, pasti asyik aku ada teman mainnya." batin Katya menatap calon kakak iparnya yang begitu sangat cantik, "Aku pasti akan memiliki keponakan yang lucu-lucu nantinya, secara bang Kafkanya tampan dan calon istrinya cantik."


****


Acara makan malam yang diadakan oleh keluarga Kafka berjalan dengan hangat, ya setidaknya itu yang dirasakan oleh semua orang kecuali Vero, semua orang terlihat antusias membicarakan tentang perjodohan, sedangkan Vero hanya diam saja, karna dia satu-satunya orang yang tidak menginginkan perjodohan tersebut.


Dan setibanya dirumah, Vero yang sejak tadi diem menyuarakan protesnya sama sang papi.


"Pi, Vero mau bicara sama papi." ujar Vero menghentikan langkah papinya yang kini tengah berjalan menuju kamarnya.


Amar Salim otomatis menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap putrinya, "Kamu mau bicara apa sayang."


"Vero tidak mau dijodohkan pi, kayak wanita gak laku saja pakai dijodoh-jodohkan segala, Vero bisa cari sendiri pi, lagiankan Vero masih sangat muda, baru 19 tahun, Vero belum ingin menikah, Vero masih ingin menikmati masa muda Vero dan menggapai impian Vero." Vero menyuarakan isi hatinya yang sejak tadi mengganjal yang tidak bisa dia suarakan didepan keluarganya Kafka.


"Apa ini gara-gara laki-laki bernama Bara itu, apa karna kamu menyukai laki-laki itu sehingga kamu menolak papi jodohkan dengan Kafka."


Selain karna faktor penyakitnya yang sering kambuh, Amar Salim juga tidak ingin melihat putrinya menjalin hubungan dengan Bara, itulah kenapa dia ingin menjodohkan Vero dengan Kafka.


"Apa sieh maksud papi, kenapa papi bawa-bawa Bara sieh, ya jelas ini tidak ada sangkut pautnya dengan Bara, Vero hanya tidak ingin dijodohkan pi, itu saja." tandas Vero.


"Jelas ini ada sangkut pautnya dengan laki-laki bernama Bara itu, bukankah kamu menyukainya."


Terjadi perdebatan antara anak dan ayah itu, ini untuk pertama kalinya mereka berdebat.


"Meskipun kamu masih muda, kamu bisa menikmati masa muda kamu Vero dan menggapai semua mimpi-mimpi kamu, Kafka itu bukan laki-laki kolot yang suka mengekang, dia pasti akan mendukung semua hal yang ingin kamu lakukan selama itu bersikap positif."


"Meskipun begitu, Vero tidak mau, Vero tidak mau menerima perjodohan ini titik, dan papi tidak memiliki hak untuk memaksa Vero." setelah mengatakan hal tersebut, dengan langkah cepat Vero meninggalkan papinya.


"Veroo, Veroo." panggil Amar Salim kesal karna putrinya itu pergi begitu sebelum pembicaraan mereka menemui titik terang.


Vero tetap berjalan tanpa menghiraukan panggilan dari papinya, kali ini dia benar-benar sangat marah dengan papinya itu.


"Akhhh." Amar Salim memegang bagian dimana jantungnya berada yang tiba-tiba terasa sakit, akhir-akhir ini penyakit jantungnya sering kambuh.


"Adiiii, Adiiii." Amar Salim berteriak memanggil kepala pelayannya itu.


Ditengah rasa sakit yang mendera, Amar salim berusaha berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya.


Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah yang berderap mendekatinya, suara langkah yang merupakan milik pak Adi.


Pak Adi kaget melihat tuannya yang memegang dada dan terlihat menahan sakit, dia buru-buru mendekati tuannya, "Tuan, astaaga, apa yang terjadi."


"Adi, tolong ambilkan obat saya dikamar."


"Baik tuan." pak Adi dengan langkah setengah berlari berjalan menuju kamar tuannya untuk mengambil apa yang disuruh oleh tuannya.


Obat yang dimaksud berada dinakas samping tempat tidur Amar Salim, pak Adi menyambarnya, dan berlari keluar membawa botol kecil bening itu.


"Ayok tuan minum obatnya." Pak Adi membantu tuannya meminum obat.


Setelah sebutir pil berwarna putih itu masuk ke lambungnya, Amar Salim terlihat lega, rasa sakitnyapun perlahan berangsur-angsur menghilang, laki-laki setengah baya itu menyandarkan punggungnya dan kepalanya disandaran sofa dan memejamkan matanya.


Pak Adi terlihat lega melihat kondisi tuannya yang kini sudah membaik, "Tuan, tuan sebaiknya istirahat dikamar." pak Adi menyarankan.


Amar Salim mengangguk, "Bantu saya ke kamar Adi."


Pak Adi membantu tuannya, kepala pelayan dirumah kediaman keluarga Amar Salim itu memapah tuannya dan membawanya ke kamarnya.


*****