Veronica

Veronica
KELUARGA KAFKA



"Ekhem ekhem."


Kafka yang saat ini akan berjalan menuju kamarnya langsung menghentikan langkahnya saat mendengar suara deheman dari adik perempuannya yaitu Katya, gadis remaja yang baru duduk dikelas VIII SMP itu tersenyum menggoda ke arah kakaknya, pasalnya, Katya melihat abangnya senyum-senyum sendiri sepanjang dalam perjalanan menuju kamarnya.


"Katya, kamu mengagetkan kakak saja."


Katya yang tadinya tengah duduk diruang tamu kini berdiri dan mengampiri kakak tercintanya, "Abang Kafka sepertinya tengah bahagia nieh, senyum-senyum sendiri begitu, ada apa kak, bagi-bagi donk bahagianya sama adik tercinta abang ini, jangan dipendam sendri saja."


"Apa sieh Katya, siapa yang lagi bahagia coba, perasaan abang biasa saja pada saat ini."


"Idihh sik abang, pakai bohongin Katya segala, sama adek sendiri masak gak mau dibagi sieh bang berita bahagianya, apa ini ada hubunyannya dengan perempuankan abang" sik Katya ternyata meskipun masih kecil tidak mudah untuk dikelabui.


"Apa sieh yang mau dibagi sayang, abangmu ini dalam suasana hati yang B aja paham."


Terdengar sebuah langkah yang berjalan mendekat ke arah ruang tamu dimana saat ini Kafka dan Katya berada, dua kakak adik itu menoleh ke arah datangnya sumber suara yang ternyata datangnya dari langlah kaki mami mereka, mami Mahima.


"Lho, kamu sudah pulang ternyata Kafka."


"Iya mi."


"Adek, jangan ganggu abangmu, sana masuk kamarmu dan belajar." tegur mami Mahima.


Namun Katya tidak mengindahkan kata-kata maminya, dia malah memberitahukan kepada mami Mahima tentang abangnya yang sejak masuk senyum-senyum sendiri, "Mi, abang sepertinya lagi jatuh cinta." lapornya.


"Oh ya, sama siapa abang jatuh cintanya, kenalin donk ke mami." wajah mami Mahima berbinar saat mendapat informasi dari putrinya kalau putra sulungnya tengah jatuh cinta.


Sebenarnya mami Mahima bukanlah ibu kandung Kafka, mami Mahima adalah ibi tirinya, wanita yang dinikahi oleh almarhum ayahnya setelah ibu kandungnya meninggal, dari wanita itu Kafka mendapat dua saudara, yaitu Kevin yang saat ini tercatat sebagai mahasiswa kedokteran semester III disalah satu universitas di Jakarta, dan yang kedua adalah Katya, gadis remaja yang saat ini tengah mengadukannya sama mami Mahima, dan meskipun hanya ibu tiri dan saudara tiri, tapi Kafka sudah menganggap Mami Mahima sebagai ibu kandungnya sendiri, begitu juga dengan kedua adik tirinya, Kafka menyayangi keduanya seperti adik kandungnya dan tidak segan-segan memberikan apapun yang diinginkan oleh adik-adiknya tersebut.


Kafka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia jadi bingung sendiri mau memberikan jawaban apa kepada maminya.


"Mami jangan dengarkan Katya mi, aku tidak sedang jatuh cinta kok."


"Abang bohong mami, tadi Katya lihat abang senyum-senyum sendiri." bantah Katya.


"Emang kalau abang senyum-senyum sendiri apa itu sudah pasti artinya jatuh cinta."


"Menurut teman Katya sih gitu abang."


Kafka terkekeh, "Kamu itu termakan omongan teman kamu ternyata hah."


"Terus abang senyum-senyum sendiri karna apa coba."


"Masalah pekerjaan sayang." bohongnya.


"Kamu itu ya Katya, mami fikir benar tadi abang kamu jatuh cinta, tahunya kamu hanya mengambil kesimpulan sendiri saja."


"Maaf mami."


"Sudah sana kamu lebih baik masuk ke kamar kamu dan belajar."


"Oke abang." Katya berjalan meninggalkan Kafka dan mami Mahima.


"Kamu juga sebaiknya istirahat abang, agar tubuh kamu saat bangun besoknya fress." mami Mahima juga sudah menganggap anak tirinya itu sudah seperti anak kandung sendiri, dia penuh perhatian sama Kafka seperti kepada dua anak kandungnya yang lain."


"Iya, mami juga istirahat ya."


"Iya."


"Oh ya mi."


"Ada apa abang."


"Om Amar nitip salam untuk mami."


"Oh ya, bagaimana kabar sahabat almarhum papi kamu itu Kafka."


"Beliau sehat mami, hanya saja anak perempuannya yang tengah dalam keadaan tidak baik."


"Oh astaga, kasihan sekali."


"Tapi sekarang kondisinya sudah membaik mami, jadi mami tidak perlu khawatir."


"Syukurlah kalau begitu, mami lega dengarnya."


"Ya sudah kalau begitu mami, aku ke kamar dulu."


Mami Mahima mengangguk dan membiarkan Kafka berjalan menuju kamarnya.


Begitu menutup pintu kamarnya, Kafka kembali tersenyum, apa yang dikatakan oleh Katya memang benar adanya, dia memang tengah jatuh cinta, jatuh cinta sama siapa, tentu saja sama sik cantik Veronica Salim, putri tunggal Amar Salim.


Sejak awal melihat gadis itu ngaca dikaca mobilnya, Kafka sudah terpesona sama gadis bermata lebar itu, dan dia sangat beruntung ternyata gadis itu ternyata adalah putri dari rekan bisnisnya sehiingga fikirnya akan lebih mudah baginya untuk mendekati Vero.


Tapi untuk saat ini, tentu saja dia menyembunyikan kenyataan ini sama maminya, dia pasti akan memberitahu maminya itu kalau dia berhasil mendapatkan cinta dari gadis tersebut.


"Vero Vero, kenapa selama beberapa hari ini kamu selalu mengganggu fikiranku, itu membuat tidak konsentrasi bekerja." gumamnya dan kembali senyum-senyum sendiri saat menyebut nama gadis itu, hanya menyebut nama saja hatinya bergetar.


"Rasanya malam ini aku tidak akan bisa tidur nyenyak."


Saat tengah melamun begitu, pintu kamarnya terbuka.


"Abanggg." itu suara rengekan adik perempuan kesayangannya.


"Ada apa lagi Katya, kamu itu kalau masuk kamar abang tidak ada permisinya, kalau abang lagi ganti baju gimana."


Katya tidak mengindahkan protes Kafka, dia langsung menyuarakan inti kedatanganya menghampiri kakaknya, "Abang, ajarin Katya donk, Katya tidak bisa mengerjakan PR katya."


"Iya iya, abang nanti akan ke kamarmu, tapi biarkan abangmu ini berganti pakaian dulu."


"Oke abangku tersayang, mmuahh." Katya mencium pipi abangnya, "Katya tunggu ya abang."


Saat kembali menuju kamarnya, Katya berpapasan dengan Kevin kakak kandungnya yang baru kembali dari dapur, tangannya membawa cangkir berisi kopi.


"Kamu habis gangguin abang lagi."


"Siapa yang gangguin abang, Katya hanya minta tolong sama abang untuk bantuin Katya ngerjain PR."


"Dihh, kamu anaknya papi bukan sieh, dari kita bertiga, hanya kamu yang otaknya bebal." ledek Kevin, Kevin memang begitu, sangat senang meledek adik perempuannya itu, berbeda dengan Kafka yang selalu memberikan kasih sayang kepada Katya, Kevin sayang, tentu saja, hanya saja caranya saja yang berbeda.


"Kak Kevin nieh, suka banget deh ngata-ngatain Katya, Katya aduin sama abang nanti."


Kevin mengacak-ngacak puncak kepala Katya, "Dasar tukang adu."


"Ihh abang, jangan acak-acak rambut Katya."


"Kevin, jangan ganggu Katya." tegur Kafka yang baru keluar dari kamarnya.


"Ehh abang."


"Abangg." Katya yang sangat manja dengan Kafka langsung berlari ke arah Kafka dan memeluk kakaknya itu dan mengadu, "Kak Kevin nakal tuh abang."


"Aku tidak ganggu Katya abang, Katyanya saja tuh baper."


"Tadi kak Kevin ngatain Katya bebal abang."


"Hehe, maaf abang."


"Marahin dia abang." kompor Katya.


"Sudah sudah, ayok sebaiknya kita ke kamar kamu, abang bantu mengerjakan PRmu." lerai Kafka.


"Baik abang."


"Weekkkk." Katya mengejek Kevin.


"Dasar bocah."


****


Meskipun dengan kaki masih terpincang-pincang, tapi Vero memutuskan untuk masuk kuliah hari ini, dia merasa bersemangat karna ingin bertemu dengan Bara.


Dan setibanya dikampus dengan diantar oleh sopir, Vero bukannya langsung ke kelasnya tapi berjalan ke kelasnya Bara, namun sayangnya, saat dia tiba, dia tidak menemukan Bara dikelasnya, hal itu membuat Vero jadi kecewa mengingat dia bela-belain datang pagi-pagi hanya untuk melihat Bara, eh tahunya orang yang ingin dia lihat gak ada.


Vero mendesah kecewa, "Padahal gue sudah bela-belain datang pagi-pagi begini, ehh tahunya orang yang ingin gue lihat belum datang."


Karna dia tidak menemukan Bara dikelasnya, Vero kini melangkah menuju kelasnya, saat dalam perjalanan menuju kelasnya itulah, Vero tidak sengaja melihat Saga, kondisi laki-laki itu tidak bisa dibilang baik, bahkan wajahnya memar-memar dan membiru dibeberapa bagian.


Vero ingat dengan chat yang dikirim oleh Bara kemarin, oleh karna itu Vero berjalan menemui Saga.


Karna posisi Saga saat ini membelakangi Vero, jadinya dia tidak mengetahui kedatangan Vero, temannya yang saat ini tengah ngobrol bersamanyalah yang memberitahunya.


"Saga, Vero tuh." temannya mengedikkan dagunya ke arah kedatangan Vero, "Kayaknya sik cantik itu mau nyamperin elo deh."


Saga langsung berbalik ke arah yang ditunjukkan oleh temannya, melihat mantan kekasihnya itu membuat Saga tersenyum, dia fikir Vero nyamperin dia untuk meminta balikan kali sama dia.


"Hai Ve..."


Plak


Belum saja kalimatnya keluar dengan sempurna, Vero sudah memberikannya sebuah tamparan, tamparan yang cukup keras karna berhasil membuat wajah Saga sampai oleng ke samping.


"Lo ngapain hah nyerang Bara kemarin, lo gak ingat apa kalau hubungan kita sudah berakhir."


Saga tersenyum sinis dan memegang pipinya yang ditampar oleh Vero barusan, "Ternyata sentuhan kamu masih sama ya sayang, lembut." Saga memandang Vero dengan pandangan melecehkan.


Hal itu membuat Vero meradang sehingga dia mengangat tangannya untuk kembali memberi pelajaran sama Saga, tapi sebelum tangannya menyentuh pipi Saga, Saga lebih dulu menahan pergelangan tangan Vero, Saga kemudian mendekatkan tangan Vero ke pipinya dan mengelus-elus pipinya dengan tangan halus Vero.


Vero merasa jijik melihat apa yang dilakukan oleh Saga, dia berusaha menarik tangannya, "Lepasin tangan gue brengsek, dasar najis lo."


Keributan yang dibuat oleh Vero di pagi itu membuat para mahasiswa berhenti untuk menyaksikan drama live dipagi hari.


"Hmm, sekarang saja kamu bilang jijik, padahal aku sudah menyentuh semua milikmu dan kamu begitu sangat menikmatinya saat aku melakukan hal tersebut kepadamu."


"Laki-laki brengsek, lepasin tangan gue sebelum lo menyesal telah dilahirkan ke dunia ini." tentu saja Vero makin meradang oleh ulah Saga tersebut, apalagi Saga pakai berbohong segala lagi, padahal selama berpacaran dengannya selama kurang lebih satu mingguan, Vero tidak pernah tuh membiarkan dirinya disentuh oleh Saga meskipun hanya satu centipun.


Tahu dirinya saat ini menjadi tontonan, Saga malah semakin menjadi-jadi dengan mengarang cerita bohong, "Aku merindukanmu sayang, apa kamu juga merindukan sentuhan-sentuhanku." Saga mengedipkan matanya.


Vero sangat jijik mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Saga, ingin rasanya dia menampar bibir kotor Saga.


"Lo lepasin tangan gue atau...."


Buk


Seseorang lebih dulu mewakili Vero untuk memberi pelajaran kepada Saga, kerasnya pukulan yang mengenai pipinya itu membuat Saga oleng dan otomatis melepaskan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Vero.


"Baraa." senyum Vero tercetak lebar saat mengetahui kalau laki-laki yang memberikan bogeman mentah sama Saga itu adalah Bara, Vero sangat senang melihat Bara, dia benar-benar merindukan laki-laki yang saat ini berdiri tepat disampingnya yang tengah menatap Saga dengan tatapan membunuhnya.


"Jaga mulut kotor lo itu bajingan, jangan berani-beraninya lo melecehkan Vero dengan bibir lo yang menjijikkan itu." wajah Bara terlihat merah padam, rahangnya mengeras karna menahan emosi, dia paling tidak suka melihat wanita dilecehkan, oleh karna itu dia tergerak untuk memberi sedikit bantuan kepada Vero, (Tapi apakah benar hanya itu alasannya, bukan karna Bara sudah ada sedikit rasa untuk Vero, allahu'alam, hal itu hanya Tuhan dan Bara saja yang tahu.)


"Hah." Saga memandang dengan pandangan menghina, "Sudah dikasih apa saja lo sama gadis murahan itu hah, apa lo sudah tidur denga...."


Buk


Buk


Bara langsung melayangkan bogemannya ke pipi Saga, sumpah kupingnya panas banget mendengar Vero dihina-hina begitu, apalagi didepan para mahasiswa lainnya.


Tubuh Saga terhempas ke lantai dengan keras, Saga berjongongkok dan menarik kerah baju Saga, Bara rasanya belum puas memberi pelajaran sama laki-laki brengsek tersebut.


"Sekali lagi lo gue dengar menghina Vero didepan mata gue, gue pastiin lo gak bakalan bisa menghirup udara besok pagi." ancam Bara.


"Lo camkan itu brengsek."


Buk


Bara memberikan pukulan terakhir sebelum dia menghempaskan tubuh Saga kembali dengan kasar ke lantai.


Hati Vero menghangat mendengar kata-kata yang dikeluarkan oleh Bara, dia benar-benar merasa tersanjung karna Bara membelanya dengan sedemikian rupa.


"Bara benar-benar laki-laki sejati." batinnya.


Bara langusung pergi begitu saja setelah memberi pelajaran sama Saga tanpa sekedar hanya say hai sama Vero.


"Lo camkan itu bajingan, jangan berani-beraninya lo kurang ajar sama gue kalau lo gak mau mati ditangan Bara."


Vero kemudian dengan susah payah berusaha mengejar langkah lebar Bara, "Bara, tungguin gue."


Namun Bara mengabaikan Vero, dia terus berjalan meninggalkan Vero yang susah payah berusaha untuk mengejarnya, Bara sebenarnya sangat marah dengan Saga, dia benar-benar tidak terima Vero dihina didepan umum dengan kalimat-kalimat menjijikkanya, dan kekesalannya itu juga berimbas sama Vero.


"Baraa, tungguin gue."


"Akhhhhh." Vero terjatuh dilantai.


"Baraaa gue jatuh." Vero jadi merasa sedih karna dirinya dicuekin dengan sebegitu rupa oleh Bara, diluar keinginannya air matanya menetes.


"Gitu aja nangis, dasar manja."


Vero mendongak dan menemukan Bara berdiri dihadapannya.


Vero mengabaikan ledekan Bara, air matanya justru semakin deras mengalir, Vero menyadari satu hal, setelah mengenal Bara, dia jadi sangat gampang menangis.


Bara mendesah berat, dia kemudian berjongkok dan menyurukkan tanganya dibawah tumit Vero dan mengangkat tubuh Vero dengan entengnya.


Vero hanya diam digendong oleh Bara, ini sudah keberapa kalinya dia digendong oleh Bara.


Vero menyandarkan kepalanya didada Bara, tempat yang sekarang merupakan tempat paforit dan nyaman untuk bersandar.


Bara hanya diam, dia terus berjalan dengan menggendong tubuh Vero dibawah tatapan para mahasiswa yang berlalu lalang.


"Gue kangen sama lo Bara."


Meskipun berupa desisan, tapi Bara bisa mendengarnya dengan jelas.


*****