
Bara naik ke atas panggung dan bersiap untuk menunjukkan bakatnya.
Vero yang sejak tadi duduk dan tidak sabar menunggu ingin melihat penampilan Bara diatas panggung berdiri dan berteriak begitu Bara berada diatas panggung.
"Baraaaa." Vero melambai-lambaikan tangannya dengan antusias untuk menarik perhatian Bara, "Gue disini."
Dan sontak saja, Vero langsung menjadi pusat perhatian para pengunjung cafe yang lainnya karna kehebohannya.
"Ya salam, gadis itu, bisa tidak dia tidak memancing kehebohan seperti ini." Bara jadi malu sendiri.
"Baraaa, nyanyiin lagu khusus untuk gue ya."
Lewat matanya, Bara meminta Vero untuk duduk dan tenang.
Vero patuh, dia kembali duduk dan sudah tidak sabar untuk mendengar suara emas Bara.
Diatas panggung, Bara mulai memetik senar gitarnya yang berada dipangkuannya, suasana syahdu mulai tercipta saat Bara mulai mengeluarkan suara emasnya yang melantunkan lagu cinta, para pengunjung cafe menikmati merduanya suara Bara.
Vero mendengarkan dengan khusyuk dan menyangga dagunya, dia benar-benar terhipnotis mendengar suara lembut dan merdu Bara, suara Bara itu bisa dipastikan membuat gadis manapun klepek-klepek termasuk adalah Vero.
Vero memegang area dimana jantungnya berada, jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya, "Apa yang terjadi dengan jantung gue, kenapa tiba-tiba jadi berdetak cepat seperti ini." Vero jadi bingung sendiri dengan dirinya.
Mata Vero fokus menatap Bara, senyum tersungging manis dibibirnya, "Kenapa dalam setiap situasi dia keren banget sieh, saat memperbaiki mobil, saat nyanyi dia juga tambah keren, bikin gue ngeces saja."
Saat Bara mengakhiri lagu yang dia bawakan, Vero berdiri dan menjadi orang yang bertepuk tangan paling kenceng.
****
Setelah membawakan tiga buah lagu, Bara kembali ke belakang untuk istirahat sejenak.
Saat tengah duduk, dua orang gadis berjalan mendekatinya.
"Hai Bara." salah satu gadis berambut hitam panjang menyapa.
"Hmmm." respon Bara karna dia sama sekali tidak mengenali gadis-gadis itu.
"Aku Melani, dan ini sahabat aku Sasa, kami adalah fansnya kamu Bara." gadis bernama Melani itu menjelaskan.
"Ohh." Bara merespon dengan oh doank, dia tidak pernah menyangka ternyata dia punya fans.
"Bara, suara kamu bagus banget deh, bikin hati adem saat mendengarnya." Melani memuji.
"Terimakasih."
"Ohh ya Bara, ini untuk kamu." gadis satunya yang bernama Sasa menyodorkan coklat pada Bara.
Bara tidak langsung mengambil pemberian dari gadis tersebut, dia bergantian melihat coklat itu dan Sasa, Bara seolah-olah curiga kalau coklat itu ada racunnya.
"Ambil Bara, ini gak ada racunnya kok." Sasa seperti bisa membaca apa yang difikirkan oleh Bara.
Bara kemudian mengambil coklat tersebut dari tangan Sasa tanpa mengucapkan terimakasih, meskipun begitu, hal itu sudah membuat Sasa senang setengah mati.
"Mel, Bara ngambil coklat pemberian gue, dia ngambil coklat pemberian gue." hebohnya setengah berbisik.
"Iya iya, biasa aja kali Sa, jangan lebay begitu, ntar Bara ilfil lagi sama lo." Melani memperingatkan sahabatnya dan itu membuat Sasa berusaha mengondisikan kehebohannya.
"Mmm, Bara, kami bolehkan minta nomer lo."
Bara sudah membuka bibirnya untuk menjawab, namun suaranya hanya sampai kerongkongan karna ada suara lain yang lebih dulu menyahut.
"Gak boleh." suara itu terdengar ketus.
Dua gadis itu otomatis menoleh ke belakang ke sumber suara yang ternyata adalah Vero, Vero menatap kedua gadis itu dengan pandangan tidak suka dan sekaligus ingin mengacak-ngacak rambut indah kedua gadis tersebut.
Vero berjalan mendekati Bara dan begitu tiba dia didekat Bara, Vero dengan posesifnya langsung melilitkan tangannya dilengan Bara, dan Bara sama sekali tidak protes seperti sebelum-sebelumnya.
Dua gadis itu juga menatap Vero tidak suka, bertanya-tanya siapah gadis yang saat ini tengah merangkul lengan Bara.
"Lo siapa." Sasa bertanya, sumpah dia rasanya ingin menepis tangan Veri dari lengan Bara.
"Ingat baik-baik, gue adalah Veronica Salim, pacarnya Bara." tukas Vero percaya diri.
"Pacar." Sasa dan Melani saling melempar pandangan satu sama lain, mereka menolak untuk percaya dengan apa yang didengarnya.
Sedangkan Bara, dia hanya diam tidak membantah sama sekali apa yang dikatakan oleh Vero.
"Iya, Bara adalah pacar gue." Vero memperjelas kebohongannya, "Jadi lo berdua, jangan coba-coba untuk mendekati pacar gue apalagi menggodanya, kalau gak, lo berdua akan berurusan dengan gue dan akan gue buat lo menyesal." ancam Vero garang dengan mata melotot
Bara hanya bisa ketawa dalam hati mendengar ocehan Vero tanpa membantah sedikitpun setiap kata yang dilontarkan oleh Vero.
Baik Sasa dan juga Melani kentara sekali kelihatan kecewa mengetahui fakta tersebut, mereka akhirnya memilih pergi dari hadapan Bara dan juga Vero yang sepertinya sudah siap untuk menerkam mereka.
Begitu kedua gadis itu telah pergi, Bara yang sejak tadi hanya bisa menahan tawanya kini mengeluarkannya, "Haha."
"Ishhh, kenapa lo malah ketawa sieh, emang ada yang lucu." rutuk Vero kesal, sumpah mood Vero memburuk setelah melihat dua gadis yang tadi mendekati Bara secara terang-terangan.
"Habisnya, wajah lo itu menyeramkan tahu gak membuat kedua gadis tadi ketakutan kayak melihat hantu."
"Lo fikir itu lucu." Vero merebut coklat yang ada ditangan Bara yang merupakan pemberian dari Sasa.
Vero kemudian berjalan menuju bak sampah dan membuang coklat mahal pemberian dari Sasa itu disana.
"Kenapa lo buang, itu coklat punya gue." protes Bara, tadi saja dia sok-sok'an jual mahal dan tidak mau ngambil tuh coklat, dan saat coklat itu dibuang dia protes.
"Lo jangan sembarangan menerima pemberian dari gadis lain, siapa tahu lewat coklat itu lo dipelet." bukan itu sieh alasan utama Vero membuang coklat tersebut, dia hanya tidak suka melihat Bara menerima pemberian dari gadis lain.
"Astagaa, lo berlebihan."
"Gak ada salahnyakan waspada, guekan gak ingin teman gue kena pelet."
"Itu coklat mahal lho, sayang banget dibuang."
"Ntar gue beliin sekalian sama pabriknya."
"Sombong, mentang-mentang kaya."
"Biarin, orang kaya sombong sieh wajar, orang miskin yang sambong itu namanya tidak tahu diri."
Bara hanya mendengus kasar menanggapi clotehan Vero.
"Kita balik yuk." ajak Bara kemudian.
Vero mengangguk, dia kembali melingkarkan tangannya dilengan Bara.
"Ini bisa gak sieh lo gak usah gandeng-gandeng lengan gue, kitakan bukan truk gandeng."
"Biarin aja kayak gini, ntar cewek-cewek ganjen yang barusan godain lo lagi."
"Emang kenapa kalau mereka godain gue."
"ya gue gak sukalah."
"Gue saja fine-fine saja tuh, kenapa malah elo yang gak suka, lokan bukan pacar gue."
"Ishhh, Bara kok genit sieh." Vero langsung melepas rangkulannya dilengan Bara.
Bara gak serius sieh mengatakan hal tersebut, tapi hal itu membuat Vero kesal dan manyun.
"Ya udah kalau gitu." Vero menghentakkan kakinya dan berjalan keluar meninggalkan Bara.
"Ngambek dia, dasar manja."
Diparkiran, Vero masih bete kayaknya dengan Bara, buktinya bibirnya masih maju dua centi ke depan.
"Masih ngambek nieh ceritanya."
"Tau deh." ketusnya.
"Ayok naik."
Vero tidak menggubris kata-kata Bara, dia masih setia berdiri ditempatnya.
"Vero, ayok naik."
Vero masih tidak bergeming.
Bara turun dari motornya, melepaskan jaketnya dan menyampirkannya mengelilingi punggung Vero, perlakuan manis Bara yang tiba-tiba membuat jantung Vero rasanya jejumplitan, mantan-mantan pacar Vero yang dulu juga sering bersikap manis dan perhatian, tapi karna dia tidak betul-betul cinta sama setiap mantan pacarnya yang dulu sehingga sikap manis dan perhatian yang diberikan tidak berefek apa-apa sama Vero, tapi pada Bara, Vero merasakan sesuatu hal yang lain, laki-laki dingin dan cuek yang selalu mengata-ngatainya bodoh itu membuat jantungnya berdetak cepat, apalagi aroma tubuh Bara menempel pada jaket yang kini menempel ditubuhnya, dan bisa dipastikan, dia sangat menyukai aroma tersebut, Vero serasa dipeluk sama Bara.
Vero menoleh ke samping dimana Bara berada, netranya bertemu dengan netra Bara dari jarak dekat, dan hal itu mampu membuat Vero salting.
"Apa yang terjadi sieh dengan gue, kok gue jadi salting begini."
"Lain kali, pakai jaket kalau mau keluar, jangan pakai pakain tipis kayak gini." ujar Bara.
Vero mengangguk lemah, pandangan mata Bara membuatnya lemah dan membuatnya jadi penurut.
"Balik yuk." Bara kembali mengajak Vero.
Lagi-lagi Vero hanya bisa mengangguk.
"Baraaa." suara Vero terdengar sangat lembut.
"Bar."
"Hmmmm."
"Kalau gue pakai jaket lo, lonya gimana."
"Sudah gak usah fikirin gue, dikutub selatan juga sanggup gue hidup tanpa jaket."
Vero terkekeh mendengar banyolan Bara.
"Ayok naik."
"Iya." Vero mendudukkan bokongnya diboncengan motor Bara.
"Gak boleh."
Vero manyun.
"Biasanya juga lo langsung pegangan dengan ganas tanpa minta izin."
"Hmmm, ya guekan harus minta izin sekarang, siapa tahu elonya keberatan."
"Emang gue keberatan, tapikan lo gak pernah peduli."
"Ya udah, gue gak akan pegangan kok."
"Gak takut jatuh."
"Hmmm."
Tanpa peringatan Bara meraih tangan Vero dan melingkarkan tangan halus Vero diperutnya.
"Pegangan, kalau lo jatuh, gue pasti akan kena amuk sama bokap lo."
Dibelakang, Vero tersenyum, dia kemudian menyandarkan kepalanya dipunggung Bara, rasanya begitu sangat nyaman.
"Jangan ngelunjak ya Ver, lo hanya boleh pegangan, gak boleh gunain punggung gue untuk bersandar."
Namun Vero hanya tersenyum menanggapi kata-kata Bara karna dia tahu Bara tidak serius mengatakan hal tersebut.
Bara kemudian menjalankan motornya meninggalkak cafe dan tentunya terlebih dahulu akan mengantarkan Vero.
"Baraa, laperrr." dibelakang Vero merengek manja.
"Lokan tadi udah makan dicafe."
"Gue hanya makan sedikit tadi." Vero sebenarnya tidak lapar-lapar amet, dia hanya ingin berlama-lama saja dengan Bara, fikirnya, kapan lagi coba dia bisa keluar dengan Bara seperti ini lagi.
"Baraa, berhenti ya kita makan."
"Iya."
"Yessss." Vero bersorak dalam hati.
"Bara itu...." Vero menunjuk salah satu restoran namun Bara terus melajukan motornya melewati restoran yang ditunjuk oleh Vero.
"Bara, tadi itukan ada restoran, kenapa malah jalan terus sieh."
Bara diam tidak menanggapi protes Vero, sampai dia menghentikan motornya dipinggir jalan, dipedagang lontong sate abang-abang gerobakan.
"Ayok turun."
"Makan disini."
"Iya."
"Mmmm, Bara, bisa tidak kita makan direstoran saja ya." Vero memandang gerobak pedagang lontong sate tersebut dengan tidak meyakinkan, dia yang terlahir kaya tidak pernah sekalipun makan dipinggir jalan seperti ini.
"Disini enak kok Ver, dan gue jamin bersih kok." Bara memberi pengertian dengan sabar.
"Baiklah kalau begitu." ujar Vero dengan setengah hati.
"Lo duduk disana gieh." Bara menunjuk tikar yang digelar ditrotoar, "Gue mau pesan dulu oke."
"Hmmm."
Bara berjalan mendekati Vero setelah memesan dua lontong sate dan wedang jahe untuk menghangatkan tubuh mereka, Bara mengambil tempat duduk disamping Vero.
"Ini untuk pertama kalinya gue makan dipinggir jalan, biasanya sieh gue makannya direstoran, papi gue sangat memperhatikan kebersihan dan kesehatan gue." curhat Vero.
"Dasar manja."
"Gue gak manja."
"Lo itu manja."
"Gak."
"Manja."
"Ihhh terserah lo deh."
Setelah menunggu beberapa menit, pesanan mereka diantarkan oleh sik pedagang.
Bara langsung menyantap sate lontongnya, tapi berbeda dengan Vero yang terlihat ragu memandang lontong sate dipiringnya.
"Ayok makan, enakk kok." Bara meyakinkan.
"Hmmm." Vero menggigit sate ayam yang di lumuri oleh saus kacang.
"Mmmm, enak ya." pujinya saat sate itu berpindah ke mulutnya.
Vero langsung memakan lontong satenya dengan lahap.
"Tadinya saja sok-sok'an gak mau, padahal mah makannya rakus." ledek Bara.
"Baraaa, jangan ngeledek gue deh."
"Iya iya, ayok makan lagi."
Setelah menghabiskan makanan mereka, Bara kembali menjalankan motornya untuk mengantarkan Vero ke rumahnya.
Dalam perjalanan, Vero kembali menyadarkan kepalanya dipunggung kokoh Bara, "Ya Tuhan, kok rasanya gue nyaman bersama dengan Bara, rasanya aku ingin berlama-lama dengannya." gumamnya dalam hati.
Dan tidak seperti pertama kali mengantar Vero, kali ini Bara mengantarkan Vero sampai depan rumah utama.
Vero rasanya tidak ingin turun dari motor Bara.
"Sudah sampai tuh, ayok turun."
"Kok cepet banget sieh sampainya, padahal gue masih mau bersama dengan elo." Vero menyuarakan isi hatinya.
"Apaan sieh lo, ngelantur ya."
"Baraa."
"Hmmm."
"Besok jemput ya."
"Gue bukan ojek pribadi lo ya Ver."
Vero terkekeh.
"Makasih ya Bara karna ngajakin gue ikut ke tempat kerja elo, hari ini gue seneng banget."
"Hmmm."
"Sebagai rasa terimakasih gue, besok gue bawain bekal ya untuk lo, bekal spesial karna gue yang akan masakin."
"Lo yang masak, emang bisa." jelas saja Bara tidak percaya kalau Vero bisa masak, gadis inikan manja dan selalu dilayani.
"Gak bisa sieh, tapi demi elo, gue akan berusaha."
"Gak usah deh, gue gak mau mengambil resiko keracunan gara-gara menyantap masakan elo."
"Bara kok gitu sieh, tenang saja, masakan gue pasti enak meskipun ini untuk pertama kalinya gue masak, guekan masaknya dengan perasaan."
"Hmmm." gumam Bara pasrah.
"Udah sana mending lo masuk."
"Iya, tapi besok gue ikut lo kerja lagi boleh."
"Lebih baik lo turun gieh, gue mau balik, supaya cepat istirahat." tandas Bara mulai agak kesal dengan tingkah Vero.
"Bawa gue ke rumah lo juga."
"Ya Tuhan, benar-benar ngelantur lo ya, ayok cepetan turun."
Vero turun dengan terpaksa.
"Makasih ya Bara atas hari ini."
"Iya, sudah sana masuk."
"Hmmm."
Entah dorongan darimana, sehingga Vero memajukan bibirnya dan dengan cepat mengecup pipi Bara, dan setelah melakukan hal itu, dia langsung ngacir masuk ke rumahnya tanpa menoleh sedikitpun ke belakang atau hanya sekedar melambaikan tangan sebagai ucapan perpisahan.
Begitu pintu tertutup, Vero bersandar dipintu, memegang dadanya yang berdetak sangat cepat, Vero kemudian menguburkan wajahnya dengan telapak tangannya dan menggeleng.
"Ya Tuhan, apa yang telah gue lakukan barusan, ihh kenapa gue bisa mencium Bara, kalau dia ilfil sama gue gimana, ya Tuhan, gue malu banget."
****
Sementara itu, Bara terpaku ditempatnya dan memegang pipinya yang tadi dikecup oleh Vero.
"Apa yang gadis itu lakukan." ucapnya setengah sadar.
Tidak hanya Vero, Bara juga merasakan jantungnya berdetak cepat, Bara meletakkan tangannya diarea dimana jantungnya berada.
"Apa yang terjadi, kenapa jantungku berdetak dengan sangat cepat begini."
Setelah beberapa menit hanya bisa terpaku ditempatnya dan bertanya pada diri sendiri tentang apa yang terjadi dengan dirinya dan sama sekali dia tidak kunjung mendapatkan jawabannya, akhirnya Bara memutuskan untuk pulang, mengistirahatkan tubuh dan juga jantungnya yang kini masih berdetak hebat.
****