
"Bara."
Bara diam, tidak menyahut seperti kebiasaannya, dia akan menyahut kalau dipanggil dua kali.
"Bara."
"Apa."
"Ibu apa kabarnya, apa dia baik-baik saja." Vero bertanya tentang keadaan ibunya Bara.
"Tidak begitu terlalu baik."
"Apa ibu sakit lagi."
"Penyakitnya memang kadang kambuh, tapi akan sehat kembali kalau sudah minum obat dan istirahat yang cukup."
"Aku harap ibu akan selalu baik-baik saja." ujar Vero tulus.
"Amin."
"Ibu juga kadang menanyakan kamu Ver."
"Ohh ya." Vero terlihat senang saat mengetahui kalau ibunya Bara menanyakannya, Vero ingin mengatakan kalau dia ingin menjenguk ibunya Bara, tapi dia takut Bara tidak akan mengizinkannya sehingga dia mengatakan, "Sampaiin salam aku ya sama ibu."
"Salam doank, apa kamu tidak ingin melihat ibu secara langsung."
"Emang boleh." ujar Vero penuh harap.
"Kalau kamu tidak kapok ke rumah gubuk kami, tentu saja boleh."
Vero tersenyum mendengarnya, kata-kata Bara mengisyaratkan kalau Bara mengizinkannya untuk datang ke rumahnya.
"Tentu saja aku tidak akan kapok, aku malahan senang bertemu dengan ibu dan ke rumah kamu."
"Ya sudah, sepulang kuliah aku bisa nganterin kamu ke rumah."
Vero mengangguk antusias, dia bahagia banget karna kini hubungannya bisa dibilang membaik dengan Bara.
Mereka berdua berjalan dengan pelan seolah-olah tidak rela cepat-cepat sampai dikelas Vero, mereka sama-sama menikmati momen kebersamaan mereka, namun sepelan apapun mereka berjalan, toh pada akhirnya tetap sampai jugakan ditempat tujuan.
"Ihhh, kok cepat amet sieh sampainya, padahalkan gue ingin berlama-lama bersama dengan Bara." Vero mendesah dalam hati, dia benar-benar tidak ingin berpisah dengan Bara, kalau ada hal yang dia inginkan saat ini adalah dia ingin menghentikan waktu supaya dia tetap bisa bersama dengan Bara, tapi sayangnya tidak bisa.
"Udah sampai, sana masuk." Bara juga sepertinya berat untuk berpisah dengan Vero.
"Iya." jawab Vero setengah hati, "Tapi sepulang kuliah jadikan."
"Iya."
Janji Bara tersebut kembali membuat semangat Vero tumbuh, "Oke kalau begitu, aku masuk dulu Bara, bye."
Bara hanya mengangguk menanggapi kata-kata Vero.
Vero berjalan memasuki kelas, disana dia melihat kedua sahabatnya menatap keluar dengan penuh tanda tanya.
"Itu Barakan ya Ver." tanya Tiar saat Vero sudah duduk disampingnya.
Vero menjawab dengan senyum, "Iya."
"Lo udah baikkan dengan dia emangnya, bukannya dia lagi marahan ya sama elo gara-gara taruhan kita itu."
"Sepertinya sieh iya."
"Lho, kok sepertinya iya."
"Iya gue gak tahu, habisnya saat ketemu dia bersikap baik, makanya gue bilang sepertinya kami sudah baikkan."
"Sebagai pacar." cecar Rara.
Vero menggeleng, raut wajahnya yang tadi penuh senyum kini mendung, "Sebagai teman."
Tiar mengelus punggung Vero untuk menguatkan, kedua sahabatnya itu tahu kalau Vero benar-benar mencintai Bara, laki-laki yang awalnya hanya dijadikan sebagai taruhan, siapa sangka Vero cinta beneran.
"Lo yang sabar ya Vero, gak ada salahnyakan sebuah hubungan itu dimulai dari persahabatan dulu, nanti naik status sebagai pacar."
"Amin." jawab Vero penuh harap.
*****
Vero tidak menyangka kalau dia akan kembali duduk di motor butut milik Bara, dia sangat senang akhirnya dia bisa kembali duduk diboncengan motor Bara dan Bara yang akan memboncengnya, rasanya Vero ingin menangis saja.
"Kenapa Ver." tanya Bara saat melihat Vero hanya berdiri dan memandang motornya saja, "Kamu tidak mau duduk dimotor butut aku."
Vero menggeleng, "Aku....aku senang kok bisa duduk diboncengan motor kamu lagi Bar." matanya bahkan sampai berkaca-kaca saking terharunya.
Seorang tuan putri yang terbiasa duduk dijok mobil mewah dan ber ac, kini menjadi gadis yang paling bahagia duduk dimotor butut dan rela berpanas-panasan, ya itulah yang namanya keajaiban cinta.
"Terus kenapa hanya berdiri doank, ayok naik."
"Iya."
"Mana tangannya." kata Bara.
"Tangan." ulang Vero tidak mengerti, "Untuk apa."
"Gak usah banyak tanya, sini saja tangannya.
Dari samping Vero menyodorkan tangannya yang langsung diraih oleh Bara, "Satunya lagi."
Dari sisi samping satunya lagi Vero kembali menyodorkan tangannya dan kembali Bara meraihnya dan melingkarkan tangan halus itu diperutnya, "Pegangan agar gak jatuh, karna kalau kamu sampai jatuh, papi kamu yang galak itu pasti akan menjobloskan aku penjara." candanya.
Vero tersenyum bahagia saat Bara melakukan hal tersebut, "Baraaa, aku mencintaimu." ucapnya dalam hati.
Bara kemudian menjalankan motornya keluar dari area kampus menuju rumahnya.
Vero sangat menikmati saat perjalanan menuju rumah Bara, dia menyandarkan kepalanya dipunggung kokoh Bara sampai pada akhirnya Bara menghentikan motornya dirumah kontrakan sederhana yang dia tinggali bersama dengan ibunya.
Bara hanya mengantarkan Vero bertemu dengan ibunya, sedangkan dia harus bekerja, dia berjanji sore nanti akan kembali dan mengantarkan Vero pulang.
Kini hanya tinggal Vero dan ibu Hamidah ibunya Bara dirumah, dua wanita yang disayangi oleh Bara itu duduk sofa sederhana yang ada diruang tamu, dua wanita berbeda generasi itu kini terlibat obrolan seru.
"Terimakasih ya nak Vero sudah mau datang lagi ke rumah ibunya yang sederhana ini." ujar ibu Hamidah, dia begitu senang melihat Vero, "Ibu kangen lho sama kamu nak." rupanya ibu Hamidah benar-benar menyukai Vero.
"Iya ibu, aku juga kangen sama ibu, aku sangat bahagia saat Bara ngajakin aku kemari untuk bertemu ibu."
Ibu Hamidah terlihat senang mendengar kata-kata Vero.
"Nak, apa ibu boleh bertanya."
"Emangnya ibu mau bertanya apa."
"Apa hubungan kamu dengan Bara itu sebagai sepasang kekasih." ibu Hamidah bertanya ragu.
"Penginnya aku begitu ibu, tapi sayangnya anak ibu sik batu bara itu tidak menyukaiku." jawabannya dalam hati, jawabnya dilisan, "Kami hanya teman ibu." jawabnya menunduk.
"Ohh teman ya." ujar ibu Hamidah agak kecewa mendengar jawaban Vero.
"Apa Bara pernah membawa pacarnya kemari ibu." Vero bertanya meskipun sebenarnya dia takut mendengar jawaban ibu Hamidah, dia takut mendengar jawaban 'iya' dari bibir ibunya Bara itu karna itu pasti akan membuatnya sakit hati.
Ibu Hamidah menggeleng, "Bara tidak punya pacar nak Vero, tadinya ibu fikir nak Verolah pacar anaknya ibu."
Vero terlihat lega mendengar jawaban ibu Hamidah, itu berarti dia masih memiliki kesempatan untuk bisa bersama dengan Bara.
Vero menggeleng, "Bara hanya menganggap Vero hanya sebatas teman saja ibu."
"Apa nak Vero sudah punya pacar."
Kembali Vero menggeleng untuk menjawab pertanyaan ibu Hamidah.
"Aku hanya mencintai anakmu ibu, sayangnya dia tidak pernah melirikku sedikitpun." ingin rasanya Vero meneriakkan kata-kata tersebut, namun masih bisa ditahannya.
Ibu Hamidah tidak percaya mendengar jawaban Vero, baginya mustahil wanita secantik Vero tidak memiliki pacar, "Masak sieh nak wanita secantik kamu tidak punya pacar, ibu tidak percaya."
"Beneran aku tidak punya pacar ibu." Vero nyengir, Vero menambahkan jawabannya dalam hati, "Aku inginnya anak ibu, tapi sayangnya cintaku bertepuk sebelah tangan."
Ibu Hamidah ingin rasanya mengatakan 'Sama Bara mau tidak' namun kata-katanya yang sudah sampai tenggorokan tersebut kembali ditelannya karna fikirnya, wanita cantik dan kaya seperti Vero tidak mungkin mau sama putranya yang hanya seorang anak dari janda miskin, emang apa yang bisa mereka tawarkan untuk Vero nantinya, putranya tidak mungkin bisa menawarkan kemewahan untuk Vero, hal itulah yang membuat ibu Hamidah sadar diri dan tidak jadi mengungkapkan apa yang ada difikirannya tersebut sehingga dia mengalihkan topik pembicaraan, dan kembali mereka mengobrol tentang banyak hal sampai mereka tidak sadar waktu berlalu dengan begitu cepat sampai kedatangan Bara mengintrupsi obrolan mereka.
"Wah wahh, apa yang kalian bicarakan, sepertinya sangat seru."
Kedua wanita tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Bara." gumamnya.
Vero tersenyum melihat Bara, memang ya, hanya melihat laki-laki yang kita cintai itu bisa membuat seseorang bahagia.
"Kamu sudah pulang nak." ibu Hamidah bertanya.
Bara mendekati ibunya dan mencium punggung tang sang ibu, "Mau jemput Vero ibu, Bara akan mengantarnya pulang, setelah itu Bara akan ke cafe."
Ibu Hamidah mengangguk.
"Tidak terasa ya nak Vero, kita ngobrolnya sudah cukup lama."
"Iya."
"Emang apa yang ibu dan Vero bicarakan sampai bisa lupa waktu begini."
"Rahasia donk, itu urusan perempuan."
"Akhh ibu pakai main rahasia segala."
Hari sudah menjelang sore saat Bara mengantarkan Vero pulang ke istananya.
******