
Bara membawa Vero ke unit kesehatan kampus, disana dia mengobati luka Vero, hatinya geram saat melihat perbuatan Saga yang menyebabkan Vero jadi seperti ini, apalagi saat Vero mengerang saat sudut bibirnya yang berdarah diobati dengan obat merah.
"Awwhhh."
"Perih." tanya Bara penuh perhatian.
Vero mengangguk.
"Tahan ya."
Vero kembali mengangguk, dia hanya memusatkan perhatiannya sama Bara, dia sangat suka melihat Bara dari dekat seperti ini, baginya, Bara begitu sangat tampan saat dilihat dari dekat kayak gini.
"Ya Tuhan, aku mencintai laki-laki ini, sekuat apapun aku berusaha melupakannya, aku tidak akan bisa." Vero membatin.
Bisa dibilang, Bara adalah cinta pertama Vero, karna sebelum-sebelumnya, dia tidak pernah mencintai mantan-mantannya.
"Kenapa lihatin aku terus." gumam Bara saat Vero menatapnya dengan intens.
Vero langsung menunduk, "Gak kok."
"Lihat saja kalau itu bisa menghilangkan rasa sakitmu."
Vero tersenyum simpul mendengar kata-kata Bara.
"Kenapa senyum-senyum begitu."
"Gak kok." mengelak, padahal Bara melihat dengan jelas dia senyum-senyum sendiri.
"Hmmm, ngelak terus, padahal aku bisa lihat dengan jelas kamu senyum-senyum sendiri."
"Beneran gak kok, siapa juga yang senyum-senyum." Vero masih kukuh mengelak.
"Iya iya, kamu gak senyum, cuma nyengir." ledek Bara.
"Ihhh Bara mah." rajuk Vero.
"Awhhhh." Vero kembali meringis.
"Makanya, jangan ngomong terus, sakitkan tuh."
"Hmmm."
Bara kini fokus mengobati luka Vero, dan setelah selesai, dia duduk disamping Vero.
"Terimakasih Bara."
"Gak perlu berterimakasih, setiap orang yang melihat perlakuan sik brengsek itu juga pasti tidak akan tinggal diam."
"Maksud aku, terimakasih karna telah ngobatin luka aku Bara."
"Tidak masalah, siapapun akan dengan senang hati melakukannya."
Hati Vero menghangat mendengar ucapan Bara, hal itu reflek membuat bibirnya menyunggingkan senyum manisnya, "Maksud kamu, kamu senang gitu ngobatin aku."
"Bukan aku, maksud aku cowok-cowok yang jadi penggemar kamu."
Kata-kata Bara itu membuat Vero merengut, dalam hati merutuk kesal, "Bara selalu saja begitu."
Tanpa memperhatikan raut wajah Vero, Bara kembali berkata dengan geram, "Sik brengsek itu sudah sangat keterlaluan, kamu harus melaporkan perbuatannya ke dekan dan ke polisi, hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja."
Vero mengangguk setuju dengan kata-kata Bara, apa yang dikatakan oleh Bara memang benar adanya, Saga memang sudah keterlaluan, perbuatannya tidak bisa dimaafkan, andai saja Bara tidak datang, entah apa yang terjadi dengannya, "Aku akan telpon papa dan memberitahunya akan hal ini." ujarnya.
Vero ingin Saga mendapatkan pelajaran yang setimpal, dia tidak ingin Saga hanya masuk penjara, tapi Vero juga ingin Saga dikeluarkan dari kampus.
"Bara, tolong ambilkan tas aku."
Bara meraih tas Vero dan menyerahkannya pada pemiliknya.
Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Vero mendial nomer papinya, butuh beberapa saat untuk papinya untuk menjawab panggilan dari putrinya itu.
"Kenapa sayang." suara tuan Amar Salim terdengar heran karna tidak seperti biasanya putrinya untuk menelpon dijam kerja seperti ini.
"Papi." Vero merengek.
Dan dari sana, Amar Salim tahu ada sesuatu hal yang terjadi dengan putrinya, "Kamu kenapa sayang, apa yang terjadi." Amar Salim terdengar panik.
"Hiks hikss." Vero malah menjawab pertanyaan papinya dengan isakan dan itu sukses membuat papinya semakin khawatir.
"Kamu kenapa sayang, bilang sama papi, jangan buat papi khawatir."
"Vero hampir diperkosa pi oleh laki-laki brengsek bernama Saga."
"Apa." mendengar pengaduan putrinya membuat Amar Salim langsung murka, "Tapi sekarang kamu baik-baik sajakan sayang, sik brengsek itu tidak sampai melakukan niatnyakan." cecar Amar Salim.
"Sekarang kamu ada dimana, papi akan menemuimu."
"Sekarang Vero ada diunit kesehatan kampus pi, bersama dengan Bara."
"Papi akan segera kesana sayang, kamu tunggu papi ya, papi akan memberi pelajaran untuk anak yang telah berani-beraninya menyentuh putri papi."
"Iya pi."
Setelah memberitahu papinya, Vero memutus sambungan dan kembali memasukkan ponselnya ditas.
"Papi akan datang dan akan memberikan pelajaran untuk sik brengsek itu." adu Vero.
"Aku tahu, kan aku sudah dengar tadi kamu ngobrol sama papi kamu." jawab Bara lempeng.
"Hmmmm." gumam Vero, "Bara selalu saja begitu, cuek, dingin, dan datar, tapi sayangnya aku suka banget sama cowok dingin, datar dan cuek itu." Vero membatin.
"Baraa."
"Hmmm."
"Tetap disini ya, jangan tinggalin aku, aku takut sendirian soalnya, aku takut sil brengsek itu datang lagi." suara Vero manja.
"Kamu gak perlu takut, kamu tidak lihat apa kalau aku sudah menghajar sik brengsek itu sampai gak berdaya, tadinya mau aku bunuh, tapi sayangnya kamu ternyata masih mencintai mantan kekasihmu itu sehingga kamu menahanku untuk menghabisinya." ledek Bara.
"Siapa yang masih cinta, aku hanya tidak ingin kamu masuk penjara hanya gara-gara sik brengsek itu." Vero merengut, tidak terima dibilang kalau dirinya masih mencintai Saga, meskipun dulu status mereka pacaran, tapi Vero tidak pernah mencintai Saga, dia hanya memanfaatkan Saga untuk mengerjakan tugas-tugasnya saja.
"Kenapa kamu tidak ingin aku masuk penjara hemm."
"Itu karna...karna..." Vero ingin mengatakan kalau dia tidak ingin orang yang dia cintai masuk penjara, namun disaat dalam kondisi normal seperti ini dia tidak mungkin mengatakannya, oleh karna itu dia berusaha untuk mencari alasan.
"Karna apa." kejar Bara.
"Hmmm, ya karna aku tidak ingin saja kamu masuk penjara, kalau kamu masuk penjara, ibu sama siapa nantinya, dan kuliah kamu gimana coba." alasan masuk akal yang membuat Bara mengangguk pelan.
Setelah itu tidak ada percakapan diantara kedua insan tersebut, namun bagi Vero, meskipun tidak berbicara dan hanya diam-diaman bak patung, itu sudah bisa membuatnya senang, senang karna Bara ada didekatnya dan tidak berniat meninggalkannya itu sudah lebih cukup untuk Vero, sampai 15 menit kemudian pintu terbuka dengan kasar yang menampakkan tuan Amar Salim dengan raut wajah khawatir diambang pintu, dan dibelakangnya, tampak juga Kafka, raut wajah laki-laki itu juga terlihat khawatir.
"Laki-laki itu, kenapa dia juga datang kemari." batin Bara saat melihat Kafa yang datang bersama papinya Vero, Bara rasanya tidak suka melihat Kafka.
"Papiiii." rengek Vero manja saat melihat papinya.
"Sayanggg." Amar Salim menyongsong ke arah putrinya yang duduk dibankar.
Amar Salim langsung memeluk putri kesayangannya tersebut, "Astaga apa yang terjadi sayang, siapa sik brengsek yang telah melakukan hal ini kepadamu." murka Amar Salim saat melihat wajah putrinya.
"Saga papi." adu Vero.
Vero kemudian menceritakan apa yang dilakukan oleh Saga kepadanya dengan detail tanpa ada yang ditambah atau dikurangi.
Amar Salim mengepalkan tangannya, wajahnya mengeras karna amarah, dia sudah sangat marah saat melihat kondisi putrinya yang seperti ini, ditambah mendengarkan cerita Vero, "Berani-beraninya dia menyakiti putriku seperti ini, akan papi buat dia menyesal telah dilahirkan didunia ini." orang tua mana coba yang tidak emosi saat melihat wajah putrinya lebam dan luka begini, apalagi Amar Salim yang selalu memperlakukan putrinya bak porselen dan tidak pernah menyakitinya sedikitpun.
Kafka juga yang melihat kondisi wanita yang dia cintai tentu saja murka, tadi, dia telpon oleh Amar Salim dan memberitahukannya kalau Vero mengalami hal buruk, informasi tersebut tentu saja membuatnya khawatir dan rela meninggalkan pekerjaannya untuk melihat kondisi Vero.
"Om benar, laki-laki itu harus diberi pelajaran om." timpal Kafka mendukung.
"Tapi Bara telah menghajarnya sampai babak belur dan tidak berkutik." lapor Vero memandang ke arah Bara.
Mendengar nama Bara disebut-sebut oleh Vero membuat Amar Salim dan Kafka menoleh ke arah pandangan Vero, mereka baru menyadari kalau diruangan tersebut juga ada Bara.
"Laki-laki itu, bukankah dia laki-laki yang disukai oleh Vero." gumam Kafka dalam hati.
Amar Salim melihat Bara tidak suka, laki-laki miskin yang tidak jelas asal-usulnya yang telah membuat putrinya sakit hati, kalau kalian ingin tahu siapa yang mencabut beasiswa Bara, Amar Salimlah dalang dibalik semua itu, hal itu dilakukan untuk membalas rasa sakit hati putrinya. Amar Salim dengan sangat mudah melakukan hal tersebut karna dia salah satu penyumbang dana terbesar dikampus elit tersebut.
Dan sebisa mungkin, untuk saat ini Amar Salim berusaha untuk menghilangkan ketidaksukaannya, karna biar bagaimanapun, laki-laki itulah yang telah menyelamatkan putrinya, "Terimakasih karna kamu telah menyelamatkan putri saya." ujarnya datar.
Bara mengangguk, "Itu memang sudah seharusnya saya lakukan." jawabnya tidak kalah datar, memang Bara adalah Batu sejati.
"Terimakasih Bara karna kamu telah menyelamatkan Vero." Kafka juga merasa perlu mengucapkan terimakasih.
Bara hanya mengangguk untuk menanggapi ucapan terimakasih dari Kafka, meskipun begitu, dalam hati dia berkata, "Kenapa dia juga mengucapkan terimakasih, emang Vero siapanya dia."
"Sayang, papi pastikan sik brengsek yang telah melakukan hal ini akan mendapatkan pelajaran yang setimpal." ujar Amar Salim kembali kepada putrinya, "Bila perlu, keluarganya juga akan mendapatkan ganjaran atas perbuatannya." kata-kata Amar Salim penuh dengan amarah, dia akan benar-benar akan melaksanakan apa yang dia katakan, kekuasaannya membuatnya bisa melakukan apapun yang dia inginkan.
"Iya pi, hukum dia seberat-beratnya."
"Kamu jangan khawatir sayang, dia dan keluarganya akan papi buat menyesal karna telah berani menyentuh putri kesayangan papi."
Meskipun Bara tidak setuju dengan apa yang akan dilakukan oleh Amar Salim dengan melibatkan keluarga Saga yang tidak tahu apa-apa atas perbuatan Saga, tapi toh Bara diam sama tidak menyuarakan keberatannya, fikirnya orang yang lagi emosi bisa melakukan apa saja, termasuk dirinya yang juga hampir membunuh Saga, untungnya Vero menahannya sehingga dia tidak melakukan hal tersebut, dan kalau hal itu sampai terjadi, entah bagaimana dengan ibunya.
****