Veronica

Veronica
APA GADIS ITU PACAR ABANG



Pada dasarnya Vero memanglah cantik secara alami sehingga tidaklah heran saat mengenakan make up meskipun dengan make up natural dia begitu sangat cantik, ditambah dengan mengenakan gaun yang diberikan oleh Kafka sehingga membuat kecantikan seorang Veronica Salim bak Dewi sehingga tidak heran sejak tadi Vero masih betah menatap pantulan dirinya didepan cermin.


"Aihhh, cantik banget sieh gue." dia memuji diri sendiri.


"Apa kalau Bara melihat gue, apa dia akan terpesona gak ya sama gue." gumamnya mengingat Bara.


"Ishhh." Vero memukul kepalanya pelan, "Apa sieh yang gue fikirkan, ya gak mungkin bangetlah Bara terpesona sama gue, diakan cuma nganggep gue murni sebagai temannya doank, gak lebih." saat mengatakan hal tersebut wajah Vero yang sejak tadi dihiasi senyum ceria terlihat murung.


"Oke Vero, lo jangan bergalau ria oke." Vero berusaha untuk menghibur dirinya, "Dimulai dari berteman dan nanti lama-lama berstatus sebagai kekasih."


Sebelum keluar dari kamarnya, Vero meraih ponselnya, dia ingin mengirim pesan pada Bara.


"Gak apa-apakan ngirim pesan, Bara bilang bolehkan gue menggubunginya." Vero bicara sendiri sambil mengetik pesan dikeypad ponselnya.


Vero : Bara, kamu lagi apa, kamu lagi kerja ya.


Vero : Malam ini, aku dan papi diundang untuk makan malam oleh keluarganya kak Kafka.


Lapor Vero meskipun dia yakin kalau Bara tidak akan membalas pesannya, namun dia hanya ingin sekedar memberitahu saja.


Tok


Tok


Suara ketukan dari luar pintu kamarnya disertai dengan suara sebuah panggilan.


"Nona, nona Vero." itu panggilan dari salah satu pelayan dirumah besarnya.


"Iya."


"Tuan besar sudah menunggu nona dibawah."


"Suruh papi nungguin gue sebentar."


"Baik nona."


Vero mengambil tas tangannya, dan memakai sepatu yang senada dengan gaun yang kini dia kenakan sebelum dia keluar dari kamarnya.


****


Saat ini Bara tengah beristirahat setelah setelah tadi menghibur pengunjung cafe dengan membawakan 3 buah lagu, dan Bara langsung memeriksa ponselnya, bibirnya melengkung saat melihat adanya chat masuk dari nomer Vero.


Bara membukanya, dan agak kesal juga sieh saat membaca pesan yang dikirim oleh Vero yang memberitahunya kalau dia akan makan malam ke rumah Kafka, meskipun begitu, Bara membalas pesan Vero tersebut.


Bara : Iya, gue lagi kerja.


Bara : Semoga makan malamnya menyenangkan.


Sementara itu Vero yang saat ini tengah berada didalam mobilnya saat dalam perjalanan menuju rumah Kafka mengambil ponselnya dari tas tangannya begitu mendengar suara chat masuk, dia tidak pernah berfikir kalau pesan tersebut ternyata dikirim oleh Bara, dan begitu mengetahui kalau itu pesan balasan dari Bara, bibir Vero melengkung sempurna dan langsung membalas pesan tersebut.


Vero : Yang semangat kerjanya Bara, aku yakin kamu nantinya akan sukses.


Bara : Amin


Amar Salim yang duduk disamping putrinya melihat kelakuan putrinya, dia bertanya-tanya dalam hati siapa gerangan yang mengirim pesan kepada putrinya sehingga membuat putri kesayangannya itu senyum-senyum begitu, "Siapa yang mengechat Vero, apa jangan-jangan sik Bara itu." duganya dan dugaannya ternyata benar.


Amar Salim fikir langkah yang dia ambil sudah benar dengan berniat menjodohkan Vero dengan Kafka sebelum perasaan putrinya itu benar-benar dalam sama Bara.


****


Katya memasuki kamar abangnya tanpa permisi, abang yang dia cari ternyata tidak ada dikamarnya, namun dia bisa mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang membuatnya yakin kalau abangnya itu ada dikamar mandi saat ini.


Mata Katya terhenti pada ponsel abangnya yang tergeletak begitu saja ditempat tidur, Katya menjulurkan tangannya untuk meraih benda tersebut, Katya kepo dengan isi ponsel sang abang.


Ponsel tersebut ternyata terkunci, perlu kata sandi untuk membukanya, "Kira-kira apa ya kata sandinya." Katya menduga-duga, "Ahh, mungkin tanggal lahirku, abangkan sayang banget sama aku."


Dan setelah memasukkan sederat angka yang merupakan tanggal lahirnya, ponsel milik Kafka tersebut dengan sangat mudahnya terbuka, "Yeyyy berhasil." soraknya dengan suara tertahan, "Ternyata abang benar-benar sesayang itu sama aku sampai menggunakan tanggal lahirku sebagai kata sandi ponselnya."


Dan mulailah Katya memeriksa ponsel sang kakak, tentu saja dimulai dari membuka galeri, hanya ada beberapa foto disana, maklumlah cowok, tidak doyan foto-foto, tidak seperti cewek yang galeri ponselnya pasti full oleh foto-foto selvi, dan kebanyakan foto-foto tersebut adalah foto pemandangan, beberapa foto keluarga dan foto Katya sendiri, tapi ada satu foto yang merupakan foto seorang perempuan yang sangat cantik, sampai Katya berfikir kalau foto tersebut adalah foto artis.


"Siapa nieh, artis ya, tapi kok aku gak pernah lihat ditv ya." Katya mencoba mengingat-ngingat, siapa tahu dia pernah melihat cewek difoto tersebut disebuah sinetron atau film yang pernah ditontonnya, "Apa ini pacarnya abang, tapi gak mungkin, selama ini abang tidak pernah menampakkan wajah seperti orang yang kasmaran."


Saat tengah asyik dengan fikirannya sendiri, pintu kamar mandi terbuka, Kafka tentu saja mengerutkan keningnya saat melihat adiknya tahu-tahu ada dikamarnya.


"Kat, kamu ngapain dikamar abang." mata Kafka terarah pada tangan sang adik yang menggenggam ponselnya, "Itu ponsel abangkan."


"Iya, hehe." Katya cengengesan karna kepergok oleh sang kakak mengutak-atik ponsel milik sang kakak.


Kafka mendekat ke arah adiknya, "Sini ponsel abang." pintanya.


Katya menyerahkan ponsel milik sang kakak.


Kafka tidak marah dengan kelakuan adiknya, dia hanya memperingatkan, "Lain kali jangan sembarangan membuka ponsel orang Kat, tiap orangkan butuh privasi yang tidak ingin orang lain ketahui tentang dirinya."


"Hehe, sorry abang, tapi bang, siapa sieh perempuan cantik yang ada dihp abang itu, pacar abang ya." kepo Katya.


"Gadis yang mana."


"Itu lho abang, gadis cantik yang memiliki mata besar kayak boneka dengan hidung lancip."


Dari penjabaran Katya tersebut, Kafka tahu siapa yang dimaksud oleh adiknya itu, dia bukannya menjawab, malah tersenyum.


"Jadi benar ya itu pacarnya abang." simpul Katya saat melihat senyum sang abang, biasanya senyum berarti iya.


"Kepo saja kamu."


"Ihhh abang, jawab donk, siapa gadis itu abang, Katyakan benar-benar penasaran."


Mana mungkin Kafka bilang kalau Vero adalah kekasihnya karna memang bukan kekasihnya, "Nanti kamu tahu sendiri." jawabnya yang semakin membuat adiknya semakin penasaran saja.


"Kasih tahu donk abang." rengek Katya, dia benar-benar penasaran, pasalnya abangnya yang super ganteng itu sebelumnya tidak pernah dekat dengan seorang perempuan, apalagi pacaran, tentu saja dia adalah orang yang paling senang kalau benar gadis tersebut adalah pacar abang kesayangannya itu.


"Katyaaaa, Katyaaaa." terdengar suara teriakan Mahima sang mami dari bawah.


"Nahh, tuh mami manggil kamu." beritahu Kafka, dia bersykur maminya memanggil Katya karna dia tidak perlu menjawab pertanyaan l.


"Iya mi."


"Dimana kamu, ayok cepat kesini bantuin mami."


"Iya mi."


"Nahh sana bantuin mami." Kafka membalikkan tubuh adiknya dan mendorongnya pelan.


"Ingat ya abang, abang berhutang penjelasan sama Katya." gumamnya sebelum benar-benar keluar dari kamar Kafka.


Kafka hanya menggeleng melihat tingkah sang adik.


*****