Veronica

Veronica
KEDATANGAN KAFKA



Rara dan Tiar ketawa-tawa begitu keluar dari kantin setelah membelikan rujak yang dipesan oleh Vero, dan saat itu mereka berpapasan dengan Bara yang juga akan ke kantin bersama dengan Rama, kedua gadis tersebut reflek menghentikan langkah mereka dan menyapa hanya sebagai sebuah kesopanan karna mereka mengenal Bara.


"Hai Bara." sapa Tiar.


Bara hanya mengangguk singkat karna dia kenal gadis yang menyapanya itu tapi tidak ingat namanya.


"Lo pasti gak ingat nama gue ya."


"Iya." jawab Bara jujur.


Tiar mendengus kesal, tapi berusaha menyembunyikan kekesalannya, "Bara ini benar-benar deh, Tiar Tiar Tiar, cuma empat huruf doank, masak gitu doank lupa sieh." tentu saja kalimat tersebut hanya diucapkan dalam hati belaka.


"Gue Tiar Bara, ingat ya nama gue Tiar, agar lain kali gue gak perlu ngenalin diri gue lagi." Tiar berkata begitu karna agak bosan juga karna tiap kali bertemu dengan Bara terus saja memperkenalkan dirinya berulang kali.


"Hmmm." gumam Bara acuh tak acuh.


"Ya Allah ya robbi, sik Bara mah cuek banget elahh." komen Rara dalam hati.


"Kami mau ke rumahnya Vero lho Bara, lo mau ikut gak." Tiar menawarkan.


"Gak."


"Atau lo mau nitip salam gitu."


"Gak."


"Capek gue lama-lama ngajak nieh batu bicara."


"Ya udah kalau begitu, kami pergi dulu ya Bara."


"Iya." jawab Bara lempeng dan kembali memasuki kantin bersama dengan Rama.


"Etdahh sik Bara itu busett, cuek dan dingin banget, ngomongnya irit banget lagi."


"Makanya, sikapnya yang seperti itu yang membuat gue yakin kalau Vero gak bakalan berhasil menaklukkan Bara."


"Ohh ya, ngomong-ngomong itu wajahnya Bara kok bonyok-bonyok gitu ya, kayak habis berantem saja."


"Ya mungkin saja sieh dia habis berantem, tapi ya sudahlah Ra gak usah bahas tentang Bara lagi, mendingan yuk cuss kita ke rumah Vero sebelum gadis itu mati bosan."


"Oke."


****


Vero membuka lemarinya, disana, diantara pakaian-pakaiannya, tergantung dengan manis jaket milik Bara yang pernah Bara kenakan ditubuh Vero, bahkan Vero tidak mau mencuci jaket tersebut karna dia takut baunya Bara akan hilang kalau dia mencucinya.


Vero mengambil jaket tersebut dan memeluknya, "Ihhh, gue jadi kangen sama Bara, gue ingin bertemu dengan Bara, gue ingin mendengar suaranya yang jutek yang selalu ngata-ngatain gue." lirihnya, "Hanya jaket ini yang mengobati rindu gue."


Vero memang tidak ingin mengembalikan jaket tersebut kepada pemiliknya, dia ingin menyimpannya sebagai kenang-kenangan.


Dan dengan mengenakan jaket tersebut Vero kembali membaringkan tubuhnya ditempat tidur empuknya, dia meraih ponselnya dan mengetik sebuah pesan yang menggambarkan perasaanya sama Bara.


Vero : Bara, gue kangen, apa lo gak ingin tahu kabar gue, kenapa lo nyuekin gue gini sieh


Beberapa saat kemudian, Vero tersadar dengan apa yang telah dia lakukan, dia kembali mengambil ponselnya dan membaca ulang pesan yang dikirim barusan.


"Astagaa, apa yang telah gue lakukan, kenapa gue sampai ngirim pesan kayak gini, duhh dia pasti kegeeran nieh." Vero jadi panik sendiri.


Tapi, apa mau dikata, pesan yang dia kirim sudah dibaca oleh Bara, dan kembali, Bara hanya membaca pesan itu doank dan tidak membalasnya.


"Ishhh resek memang dia, padahal gue sudah merendahkan harga diri gue lagi dengan mengatakan kangen sama dia, dia malah hanya membaca doank, pasti saat ini dia tengah mentertawakan gue." dengus Vero menyesal.


Saat tengah sibuk merutuk, pintu kamarnya diketuk dari luar.


"Nona, ini ada teman-teman nona datang untuk menjenguk nona."


"Biarkan mereka masuk."


"Baik nona."


Pintu kamar terbuka, Rara dan Tiar menyongsong masuk ke kamar luas Vero.


"Dihh yang sakit, kerjaannya tidur mulu."


"Namanya juga orang sakit, ya harus-harus banyak istirahatlah untuk mempercepat proses penyembuhan."


Vero bangun dan kini duduk, sedangkan Tiar dan Vero mendekat ke tempat tidur dan naik ke tempat tidur dan duduk bersila ditempat tidur besar Vero.


"Niehh rujak pesanan lo." Rara menyerahkan kantong plastik yang dibawanya.


Vero dengan antusias mengambilnya dan membuka bungkusan rujak dan melahapnya, dia memang benar-benar menyukai rujak buatan ibu Dian.


"Ehh, ini lo pakai jaket siapa Ver." tanya Tiar memperhatikan jaket yang saat ini membungkus tubuh Vero, menurut Tiar, tidak mungkin Vero punya jaket seperti itu karna Tiar bisa menebak kalau jaket yang saat ini dikenakan oleh Vero adalah jaket murahan, mengingat barang-barang yang dimiliki oleh Vero adalah barang-barang branded semua.


"Bukan punya lokan." simpulnya sebelum Vero sempat menjawab.


"Emang bukan, ini jaketnya Bara."


"Ehh, jaketnya Bara, kok bisa jaketnya Bara ada sama lo."


Sebelum menjawab keingintahuan kedua sahabatnya itu, Vero tersenyum mengingat malam itu, dimana Bara bersikap sangat manis kepadanya.


"Heii, malah senyum-senyum sendiri lo."


"Gimana gak senyum kalau mengingat bagaimana Bara memakaikan jaket ini ke tubuh gue, dia bilang udara malam gak bagus, bisa membuat gue sakit, manis bangetkan."


"Bara ngelakuin itu ke elo."


Vero mengangguk.


Tiar dan Rara saling lirik satu sama lain, dalam benak mereka memikirkan hal yang sama yaitu, "Kayaknya kita bakalan kalah taruhan."


"Kami ketemu Bara lho tadi Ver dikampus." Rara memberitahu.


Mendengar nama Bara disebut-sebut membuat jantung Vero berdetak cepat, dia menghentikan melahap rujaknya.


"Kalian ketemu Bara."


"Hmmm, wajahnya itu babak belur, kayak habis berantem gitu Ver."


"Sama siapa."


"Ya mana kami tahu."


"Bara berantem, dengan siapa."


"Jadi gimana kronologis lo kecelakaan bersama dengan Bara Ver." Tiar mengalihkan topik pembicaraan.


Vero kemudian menceritakan apa yang terjadi sehingga membuat motor yang dikendarai Bara dan dirinya sampai terjatuh.


"Tapi untungnya deh Ver luka lo gak parah-parah amet."


"Iya, lusa juga gue sudah bisa masuk kuliah kok."


"Eh ngomong-ngomong sik Agus kangen tuh sama lo katanya Ver." goda Tiar.


Pak Agus adalah dosen mereka, dia adalah duda anak satu.


"Ishh, diakan pacar lo Tiar."


"Elahh pak Agus itu sukanya sama lo kali."


"Dia sukanya sama lo."


"Sama lolah."


"Lo."


"Lo berdua ya, pacar saja malu lo akuin."


Ketiga gadis itu terkekeh dengan kekonyolan mereka sendiri.


****


Vero : Bara, gue kangen, apa lo gak ingin tahu kabar gue


Dan seperti sebelum-sebelumnya, kali ini juga Bara berusaha mati-matian untuk menahan dirinya untuk tidak membalas pesan Vero tersebut, sampai kembali pesan dari Vero kembali masuk.


Vero : Tiar bilang, wajah lo babak belur kayak habis berantem, lo berantem dengan siapa


Kali ini Bara membalas pesan Vero.


Bara : Pacar lo


Vero : Akhirnya lo balas juga setelah sekian purnama, gue senang ternyata lo masih bernafas, tapi Bara, satu hal yang harus gue perjelas sama lo, gue gak punya pacar


Bara : Ingat-ingat, jangan sampai anak orang gak lo akui


Vero : Beneran, gue gak ada pacar, emang dengan siapa sieh lo berantem


Bara : Saga


Vero : Saga, asataga, keterlaluan sekali laki-laki itu, awas saja kalau gue ketemu sama dia


Bara : Bilang sama pacar lo itu, kalau kita tidak punya hubungan apa-apa agar dia tidak salah paham dan memukul orang sembarangan lagi


Vero : Gue sudah putus dengan cowok itu Bar, gue sudah gak punya hubungan sama dia


Vero menjelaskan, dia tidak ingin Bara salah paham.


Bara : Lo mau putus kek atau bagaimana, tapi gue harap lo kasih tahu sama sik Saga itu, jangan melampiaskan amarahnya sama orang yang salah


Vero : Sorry ya Bara, gara-gara gue lo kayak gini


Bara tidak membalas, dia memilih menutup buku yang saat ini tengah dia baca dan pergi dari perpustakaan.


****


"Nona Vero."


Malam itu, Vero tengah menonton serial drama di TV layar datar dikamarnya saat mendengar suara pelayan dirumah besar memanggil namanya dari luar kamarnya.


"Apa." sahut Vero berteriak karna kesal karna merasa terganggu.


"Nona, tuan menyuruh nona turun ke bawah."


"Ngapain, kaki guekan lagi sakit, ya gak bisalah jalan terlalu jauh."


"Ada yang mau ketemu sama nona dibawah."


"Siapa."


"Saya tidak tahu nona, tuan hanya meminta saya memanggil nona saja."


"Bilang sama papi kalau gue tidak mau nemuin orang itu."


"Tapi nona..."


"Lo budek ya, kalau gue bilang tidak mau ya tidak mau, bilang sama papi kalau gue lagi belajar karna besok gue sudah akan masuk kuliah."


"Tapi saya takut nona, tuan bilang kalau nona harus turun dan menemui tamu tersebut."


Sik pelayan itu terus berdiri didepan pintu nona mudanya, takut dia turun tanpa membawa nona mudanya, bisa-bisa dia kena semprot oleh tuan besarnya, parahnya kalau sampai dipecat, dia lebih baik menghadapi Vero yang marah-marah daripada sang tuan besar yang mara-marah.


"Astagaa, siapa sieh tamu itu, harus banget gitu gue temuin, apa dia presiden, BTS atau blackpink."


"Bukan nona." sik pelayan meladeni lagi ucapan Vero yang ngaur.


Vero turun dengan ogah-ogahan dari tempat tidurnya, berjalan dengan agak terpincang-pincang menuju pintu karna kakinya belum sembuh sempurna.


Vero membuka pintu dengan kasar, wajahnya masam sebagai protes kalau dia sebenarnya sangat ogah untuk turun menuruti keinginan papinya, tapi kalau dia tidak turun, sik pelayan yang saat ini ada didepan pintunya akan terus menerornya.


"Ayok nona saya bantu." sik pelayan berusaha untuk membantu Vero, namun tangannya dengan kasar dihempaskan oleh Vero.


"Gue gak butuh bantuan lo."


"Maaf nona."


Vero berjalan didepan sedangkan pelayannya berjalan dibelakang, sambil jalan Vero terus saja ngomel-ngomel sama papinya.


"Tahu putrinya sakit, masih saja dipaksa turun, emang penting banget ya sik tamu itu sampai gue harus nemuin dia."


"Laki-laki nona, masih muda dan orangnya tampan." sik pelayan yang berjalan dibelakang menimpali.


"Laki-laki, siapa sieh, gak mungkin Barakan." Vero tidak punya bayangan siapa-siapa laki-laki tersebut, karna malas menerka-nerka toh pada akhirnya dia akan lihat secara langsung nantinya juga fikirnya.


"Itu orangnya nona."


Posisi laki-laki itu membelakangi Vero sehingga dia tidak bisa mengetahui siapa laki-laki itu sebenarnya, Vero berjalan mendekat.


"Nahh itu dia putriku Kafka." Amar Salim memberitahu saat melihat kedatangan putrinya tersebut.


Laki-laki yang ternyata Kafka itu membalikkan tubuhnya, Laki-laki dewasa dan tampan itu tersenyum saat melihat kedatangan Vero.


"Kak Kafka." gumam Vero, dia benar-benar tidak menyangka kalau laki-laki yang ingin bertemu dengannya itu adalah Kafka, rekan bisnis papinya, Vero hanya pernah sekali bertemu dengan Kafka dikantor papinya, dan saat itu Vero sempat berfikir yang tidak-tidak tentang Kafka.


"Hai Vero." sapa Kafka, "Sudah lama ya kita tidak pernah bertemu."


"Iya." jawab Vero singkat .


"Duduk disini sayang." Amar Salim menepuk ruang kosong yang ada disampingnya.


Vero sebenarnya malas berdekatan dengan papinya itu, Vero masih marah dengan papinya karna menyuruhnya untuk menjauhi Bara, namun Vero tidak mungkin menampakkan kalau dia marah kepada papinya didepan Kafka, oleh karna itu Vero berjalan mendekati papinya dan duduk ditempat yang disarankan oleh Amar Salim.


Mata Vero melebar saat melihat dua paperbag berlogo brand-brand ternama yang ada dimeja, brand yang sudah tidak asing untuknya karna dia sudah sering membeli barang bermerk seperti itu.


"Saya dengar dari om Amar kalau kamu katanya habis kecelakaan ya."


Pertanyaan itu membuat Vero mengalihkan perhatiannya dari paperbag tersebut dan menjawab pertanyaan Kafka.


"Iya kak, aku memang habis mengalami kecelakaan, jatuh dari motor."


Pembawaan Kafka yang berwibawa, kharismatik dan dewasa membuat Vero jadi segan sehingga membuatnya memanggil Kafka dengan panggilan kakak.


"Tapi kamu gak apa-apakan."


"Yang namanya kecelakaan ya pastilah kenapa-napa, kakiku tertimpa badan motor sehingga kerjaanku selama dua hari ini hanya bisa rebahan ditempat tidur, tapi sekarang sudah agak membaik meskipun belum sepenuhnya." Vero menjelaskan kondisinya.


"Syukurlah kalau begitu, aku senang dengernya."


Karna melihat Vero terus memandang paperbag yang ada diatas meja, Kafka berkata, "Vero, itu hadiah untukmu."


"Untukku." ulang Vero tidak percaya.


"Iya, kebetulan aku habis melakukan perjalanan bisnis keluar negeri dan kebetulan aku teringat sama kamu, makanya aku beliin itu untuk kamu."


Setelah mendengar penjelasan Kafka, mata Vero berbinar, dia langusung meraih kedua paperbag tersebut dan mengeluarkan isinya, makin cerialah wajahnya saat mengetahui kalau isinya adalah tas yang memang dia inginkan.


"Terimakasih Kafka karna dalam perjalanan bisnismu kamu sempat-sempatnya mengingat putriku ini dan membelikannya hadiah mahal seperti ini." Amar Salim mewakili putrinya untuk berterimakasih karna saking sibuknya dengan tas-tas tersebut sehingga membuat putrinya itu lupa untuk mengucapkan terimakasih.


Mendengar kata-kata papinya membuat Vero menoleh ke arah Kafka dan juga mengatakan hal yang sama seperti papinya.


"Terimakasih kak tasnya, bagus banget, aku sangat suka."


"Aku rasa, kamu akan lebih cepat sembuh dengan adanya tas-tas ini Vero."


Vero terkekeh menanggapi candaan Kafka, "Tentu saja, barang mewah selalu membuat kondisi wanita menjadi lebih baik, baik secara fisik dan juga hati."


Kafka tertawa mendengar jawaban Vero, "Kamu bisa saja Vero."


"Oh ya Kafka, berhubung kamu sudah ada disini, kamu sebaiknya bergabung makam malam bersama kami." Amar Salim menawarkan.


"Apa tidak merepotkan om."


"Tentu saja tidak kak Kafka." jawab Vero cepat.


"Baiklah, aku akan bergabung makan malam dengan kalian." putus Kafka.


****